Mission Accomplished: Naik Puncak Monas

Saya pertama kali ke Monas tahun 2010. Kesana bareng sepupu saya yang waktu itu masih kuliah di Jakarta. Berangkat naik kereta pagi harinya dari Bandung, saya kemudian dijemput di Stasiun Gambir dan lihat-lihat Kota Tua Jakarta. Siang menuju sore, kami baru ke Monas. Sekalian menunggu kereta balik ke Bandung. Saat itu kami nggak masuk ke dalam. Cuma muter-muter dan (pastinya) foto-foto di sekitaran halaman Monas.

struktur monas. source: link

Kedua kalinya, kalau nggak salah pas Februari 2013. Kesana buat meetup sama jikung dan apin. Dan kebetulan waktu itu ada temen kissme-nya jikung dari singapura yang ke indonesia. Sayangnya pas itu nggak bisa naik ke puncaknya. Kami cuma keliling Museum Sejarah Nasional yang berada di bagian paling bawah dan mengunjungi Ruang Kemerdekaan. Museum ini berisi diorama mulai dari zaman kerajaan sampai pasca kemerdekaan di Indonesia.

Belum menyerah untuk naik ke puncak Monas, sekitar bulan Februari 2014 saya kembali lagi ke Monas. Sayangnya kali ini saya juga gagal naik ke puncak Monas karena lift-nya belum selesai diperbaiki. Saya cuma naik sampai cawan bawah Monas. Lumayanlah ada peningkatan dari sebelumnya. πŸ˜› Selain naik cawan bawah Monas, saya juga berkeliling untuk melihat relief yang berada di pagar keempat sisi Monas. Relief ini menggambarkan tentang sejarah, berbagai suku dan budaya Indonesia, berbagai agama, flora & fauna, profesi, olahraga, dll.

Beberapa saat setelah kunjungan saya yang ketiga, saya baca berita kalau perbaikan lift monas sudah hampir selesai. Saya pun meniatkan untuk kembali lagi ke Monas. Dan akhirnya bulan lalu saya ke Monas untuk yang keempat kalinya. Dan kali ini, sesuai judul post ini: saya berhasil naik ke puncak Monas! Yeayy! Biaya masuk Monas untuk umum kalau nggak salah 4000, ditambah sumbangan 1000. Kalau mau naik ke puncak tambah 10.000 lagi. Nanti kita dikasih gelang dengan warna tertentu yang menentukan jam naik. Tapi kayaknya pada prakteknya waktu naik belum tentu sama dengan yang tertera di gelang.

Karena sudah 2 kali mampir ke museum, saya pun nggak kesana lagi dan langsung saja menuju pintu dekat lift menuju puncak. Ternyata sudah banyak yang antre untuk naik ke atas. Sekali naik, lift hanya mampu mengangkut maksimal sekitar 11 orang. Pantes aja antreannya panjanggg. Setelah lumayan lama antre, sampai juga giliran saya. Selain saya, di dalam lift ada rombongan keluarga dan rombongan turis asing yang kalau nggak salah dari Finlandia.

Sampai di atas, saya memperhatikan sekitar. Ternyata puncak monas tidak seluas yang saya kira. Dari hasil googling, saya mendapatkan bahwa lebarnya adalah 11×11 m. Dikurangi area yang digunakan sebagai lift, dikira-kira saja lebarnya berapa. Ada beberapa teropong yang disediakan di puncak Monas. Kita bisa menggunakannya setelah memasukkan koin. Di setiap sisi puncak monas ada foto gedung-gedung yang tampak dari sana. Sayangnya tidak ada penjelasan itu gedung apa saja, padahal ada nomor di foto-foto gedung tersebut. Selain itu, pagar puncak Monas terlalu tinggi buat saya. Hahaha //itu sih saya aja yang pendek xD// Jadinya saya harus jinjit-jinjit untuk lihat ke luar. Sebenarnya ada beberapa tangga kecil buat anak-anak atau orang pendek seperti saya. Tapi pada dipake duduk, jadi nggak naik deh.

Berikut ini adalah foto-foto yang saya ambil dari puncak Monas.

Angin di puncak Monas cukup kencang. Karena takut masuk angin kalo kelamaan disana, saya pun kemudian turun. Tapi untuk turun, lagi-lagi perlu antre lift. Fyuhh.

Jadi, gimana kesannya setelah berhasil naik ke puncak Monas? Karena ini hiburan murah meriah, tentu saya nggak bisa berharap macem-macem. Mau minta kapasitas lift ditingkatkan, kayaknya nggak mungkin. xD Saya cuma minta bangku-bangku kecilnya aja deh buat ditambah. Hahaha. Trus semoga pengunjungnya juga pengertianlah satu sama lain, gantian kalo pake teropong atau bangkunya. Hehe. Dan terakhir, semoga lift Monas sehat selalu walaupun setiap hari dipake naik turun terus. \o/

#BdgBucketList: Bandung City Tour

I’ve been living in Bandung for almost 7 years. That’s quite a long time but there are so many places i haven’t visited yet. I only write down those places on my bucket list. And before i leave this town (for good, sooner or later), i want to fulfill my bucket list.

May 24th, 2014
It was saturday, most of the time I spend my weekend on my room. But that day, I was bored and since the night before I was thinking about my bucket list. So I opened kiri.travel, searching all angkot route I need. And I managed to arrange the itinerary in less than 10 minutes. lol.

Museum of Geology

Museum of Geology

My first stop was Geology Museum. I took Dago-Riung Bandung angkot from Pasar Simpang Dago. Ticket for public visitor costs IDR 3000. It’s superrr cheap. But I guess the price for foreign tourists will be different and slightly more expensive. There was an officer checking my ticket and then she asked me to put my bag on baggage storage. I was impressed because i didn’t think that this museum will be that well-organized.

Right in front of the main door, I saw giant ancient elephant fossil. It’s reaally big. Turn right, I entered a room with History of Life theme. In this room, we can find explanation about early life on earth and the evolution process. There’s also explanation about ancient Bandung, fossils of ancient animals, early humans, and wood fossils. And the most interesting, there’s tyrannosaurus fossil in this room. Actually, there’s a room on the left side but it was being renovated at that time. That room’s theme is Geology of Indonesia.

Heading upstairs, there are 2 rooms. First room’s theme is mainly about disaster mitigation. There’s earthquake simulator in this room. There are some collections related to Merapi eruption: motorbike & tv that burned by the pyroclastic flow. A video about signs of tsunami also played in this room.

SAM_4453

from merapi eruption

Another room shows mineral collection. There’s explanation about metal, non metal, gemstones, oil and gas, and coal. There’s also explanation about geothermal and water power plant.

In front of the museum, there’s Rock Cycle Park. This park describes the dynamic transitions through geologic time among the three main rock types: sedimentary, metamorphic, and igneous.

My next destination was Rasa Bakery & Cafe. This old bakery is famous for its home-made ice cream. From geology museum, i walked to Dukomsel Dago. Actually, from the museum i could also take Cicaheum-Ledeng angkot to Dukomsel. In front of Dukomsel, I took Kalapa-Dago angkot. Rasa Bakery & Cafe is located in Jl. Tamblong. I ordered Belgian Waffle and Coconut Royale. I love the Belgian Waffle, the waffle is soft and the ice cream has right amount of sweetness. The Coconut Royale, even though so many people recommended it, is not my favorite. The chocolate ice cream is too bitter for my liking. But overall, it’s too sweet for me.

Next, I walked to Museum of Asia-Africa Conference. I saw some old and historical building during the walk: Grand Preanger Hotel, Bank Pacific, Bandung 0 km, Pikiran Rakyat office, Savoy Homann Hotel, and Warenhuis de Vries. When I arrived at the museum, it was closed for break time. So I continue walking to Masjid Raya (Grand Mosque) to pray. I saw other old buildings near there. After praying, I walked to the museum again and fortunately it’s already open. I entered the museum, wrote my name on the guest book, and looked around the collections. Looking at those collection makes me realize that Asia-Africa Conference was really a huge event at that time. Especially when I was in the conference hall. I can imagine all those leaders were once there.

From Museum of Asia-Africa Conference, I walked to Jl. Braga. My next destination is Sumber Hidangan, an old bakery that still keeps its vintage feels. I bought 2 sweet cakes and pastel there. I struggled eating the cakes because I don’t really like sweet things. But I really love the pastel.

After that I walked to Braga Permai. On the street, I saw some people preparing their stalls for Braga Culinary Night. In Braga Permai, I ordered crab meat fried noodles and lemon tea. The price for fried noodles is similar to the one in S*laria so I thought the portion will be similar. But when the food was coming, I was really surprised. The portion was super big: I was alone and not that hungry. So I called my friends to help me eat it, but nobody could come. T_T I finally took the food home.

Lesson learned: don’t come to this restaurant only by yourself, the portion is no joke. Braga Permai ended my journey to fulfill my bucket list for that day. πŸ™‚

Mampir ke Museum Pos Indonesia

Beberapa waktu lalu saya mau mengirim sesuatu ke luar negeri, biasanya saya ke kantor pos pusat yang di Jl. Asia Afrika karena pasti bisa EMS. Saya pernah coba yang di Dago tapi disana nggak bisa EMS. Tapi karena kejauhan, saya pun coba datang ke Kantor Pos Cilaki. Dan untungnya bisa kirim pakai EMS juga disana. Saat itu ramai anak SD, dan dari situlah saya tahu kalau disana ada Museum Pos juga. Tapi karena abis itu saya harus ke kantor, jadinya nggak sempat deh mampir ke museumnya.

Museum Pos Indonesia

Museum Pos Indonesia

Sekian minggu kemudian, saya ingin mengirim kartu pos. Saya pun ke Kantor Pos Cilaki lagi. Kali ini saya iseng mampir ke museum. Masuk ke museumnya gratis, keluarnya.. juga gratis kok. Haha.

Koleksi pertama yang dilihat adalah berbagai macam kotak pos. Ada kotak pos model jepang karena memang hadiah dari jepang, ada kotak pos yang biasa kita lihat di jalan, ada juga kotak pos yang lacinya banyak yang biasanya dipake di gedung bertingkat dan masing-masing laci digunakan untuk menampung surat untuk lantai tertentu.

kotak pos model jepang

kotak pos model jepang

Belok kiri dari situ kita bisa melihat sepeda jaman dulu yang dipakai sebagai sepeda pos. Di dekat situ ada juga koleksi perangko emas yang dibuat untuk memperingati meninggalnya ibu tien soeharto dan presiden soekarno, serta 1 abad bung hatta. Ada koleksi mesin cetak alamat juga. Dan yang paling mencolok, ada diorama pos keliling desa yang ukurannya 1:1. Tapi ya itu wig dan tampang orang-orangnya serem gitu. Haha.

Agak kesana lagi ada koleksi perangko dari berbagai negara. Dikelompokkan berdasarkan negara dan tema perangkonya. Ada koleksi mesin-mesin jadul yang dipakai dalam proses kerja pengeposan juga. Misalnya timbangan dan mesin sortir.

Kemudian ada koleksi kantong pos dan seragam pos. Ruangan gelap + sepi + bangunan tua + koleksi dari jaman dulu membuat saya agak merinding. Haha. Jadilah saya nggak lama-lama disana. Pas jalan ke arah luar, ketemu diorama lain yang serem juga. Wkwkwk. Makin cepetlah jalannya. Hahaha.

Kalau berdasarkan banner di luar, harusnya kita bisa minta pakai pemandu atau ke ruang audiovisual supaya dapat penjelasan lebih banyak. Tapi karena waktu itu saya emang iseng doang dan nggak mau lama-lama ditambah hari itu hari sabtu dan museum cuma buka setengah hari jadinya ya nggak sempet nanya soal audiovisualnya. Sayangnya pas kesana hp saya lowbat dan kamera yang dibawa juga ternyata belum dicas, alhasil cuma sedikit deh foto-fotonya.

Saran saya, kalau kesini jangan sendirian apalagi kalau penakut macam saya ini. xD

First Solo Trip Abroad: Kuala Lumpur

Jadi ceritanya gara-gara nggak kuat menahan godaan tiket murah, saya kalap beli tiket BDO-KUL. Ya gimana nggak kalap, pulang pergi 312ribu saja sodara-sodara. Karena waktu itu saya belinya bulan September sedangkan flight-nya masih bulan Maret, saya pede bisa ngajak sodara atau temen untuk diajak ngebolang bareng. Tapi nyatanya sampai hari-H saya nggak berhasil dan akhirnya berangkat sendiri. Hahaha.

14 Maret 2014

Jadwal penerbangannya jam 18.30. Saya sampai di bandara jam 16.30, langsung cus ke self-checkin machine terus bayar PSC. Kalo di Bandara Husein Sastranegara, PSC untuk penerbangan internasional 75ribu. Abis itu langsung ke imigrasi yang ternyata belum buka. Katanya bakal dibuka jam 17.30. Karena nggak ada kursi buat nunggu, yaudah saya antre aja di depannya. Pas dibuka, ternyata booth di depan saya nggak dipake. Yang dipake cuma 2 sebelah kiri. Saya bingung, mau pindah barisan berarti nyela antrean orang, kalo pindah ke belakang yang bener aja udah antre duluan malah jadi belakangan. Yang nggak jelas kan imigrasinya, nggak ngasih tau mana yang bakal dibuka. Akhirnya saya nanya sama petugasnya, ini urutannya gimana sebenernya. Baru dia ngatur urutannya selang-selang barisan sebelah dan saya. Geez, gitu aja mesti ditanya dulu. Dapet giliran imigrasi, nggak lama trus langsung masuk boarding room. Kebanyakan yang mau terbang waktu itu orang Malaysia. Alhamdulillah flightnya on time, sampai di LCCT jam 21.35 waktu setempat. Nggak bawa bagasi biar murah, jadi langsung cus ke imigrasi. Antre imigrasi lagi, lumayan panjang antreannya. Akhirnya dapet giliran. Nah, kalo di Malaysia imigrasinya ngambil fingerprint foreigner. Masalahnya adalah, fingerprint saya emang dari dulu susah diambil. Jadi pas di imigrasi itu juga berkali-kali scannernya nggak bisa baca fingerprint saya. Tadinya dikira karena tangan saya basah. Iya sih waktu itu tangan saya basah gara-gara AC. Tapi setelah dilap pun hasilnya sama aja. Udah takut gitu nggak dibolehin masuk. Tapi setelah coba beberapa kali lagi, akhirnya dibolehin masuk. Curiganya sih sebenernya belum dapet juga fingerprintnya. Hahaha. Kalau orang lain cuma habis < 3 menit, kayaknya saya hampir 10 menit sendiri di imigrasi. Untung petugas imigrasinya baik, tetep sopan & sabar walopun susah ngambil fingerprintnya.

Selesai urusan imigrasi, langsung keluar cari terminal bisnya. Sampe di terminal, langsung cari Star Shuttle yang ke Pudu Raya, soalnya itu yang paling deket ke hostel. Bayar bisnya RM 8. Di bis, ada yang ngomong pake bahasa melayu, india, mandarin, indonesia, bahkan jawa. Kerasa banget multicultural-nya. Welcome to KL pokoknya mah! Dari LCCT ke Pudu Raya makan waktu kurang lebih 1,5 jam, termasuk mampir ke KLIA juga. Turun dari bis langsung jalan cari hostelnya, untung mereka kasih penjelasannya jelas banget jadi gampang nemunya. Nama hostelnya Step Inn Guest House, lokasinya di Pudu Lama. Di meja resepsionis ada mas-mas india yang mirip sama anak pertamanya Jeremy Thomas. LOL. Dia ngasih form checkin, trus standarlah nunjukin dapur, nunjukin kamar mandi, trus nganterin ke kamar. Karena saya booking lewat hostelworld, saya baru bayar depositnya aja trus pas tanya ke si masnya kapan saya perlu bayar sisanya eh dia bilang besok juga boleh kapan-kapan aja. Widih, yaudah dibayar kok nggak mau. Haha. Kamar yang saya tempati adalah kamar single bed yang dilengkapi dengan kipas angin. Kamarnya deket sama kamar mandi, trus kalo mau ke dapur juga tinggal turun tangga. Strategislah pokoknya. Sayangnya, koneksi wi-fi nggak nyampe. Saya dapet kamar itu dengan harga sekitar 150ribu rupiah semalem.

15 Maret 2014
Saya pasang alarm jam 4, eh tapi malah kebangun lebih cepet padahal tidurnya udah tengah malem lewat. Tadinya mau berangkat jam 6 tapi pas dicek ke dapur kok belum ada sarapan. Di resepsionis juga nggak ada orang, pintu masih pada ditutup. Balik lagilah ke kamar. Jam 7, balik lagi ke dapur. Pas lagi buka-buka lemari siapa tau nemu makanan, eh mas resepsionisnya baru dateng bawa roti. Karena itu awkward banget si mas-mas masuknya pas saya ngubek lemari, saya pun ngeles nanya jalan ke stasiun LRT. Trus sama dia malah dikasih peta KL. Yeayy. Abis itu saya baru sarapan dan berangkat.

my simple hostel room

Tujuan pertama adalah Batu Caves. Saya ke Plaza Rakyat LRT Station untuk naik LRT ke KL Sentral. Di depan Plaza Rakyat banyak sejenis calo bis gitu, jadi kayaknya di bawahnya itu ada terminal bis. Pas saya bilang ke KL Sentral, saya malah diarahin keluar. Trus jadi bingung sendiri. Padahal udah bener jalan saya sebelumnya, kayaknya saya dikira mau naik bis padahal mah mau naik LRT. Akhirnya balik lagi ke jalan yang benar. Jadi kalo ditanya-tanya ato ditawarin, bilang aja mau naik LRT biar nggak salah ditunjukin jalannya. Sampai di stasiun, saya mau beli tiketnya pake mesin. Eh ternyata mesinnya cuma terima uang pecahan tertentu. Sedangkan saya nggak punya pecahan segitu. Setelah celingak celinguk, saya pun ke bagian informasi. Njelasin maksud dan tujuan panjang lebar dengan campur-campur bahasa inggris, melayu, dan indonesia yang bapaknya nggak ngerti, akhirnya si bapak ngerti intinya waktu saya bilang “boleh tukar?”. Wkwkwk. Setelah dapet pecahan yang diinginkan, saya balik lagi ke mesin dan beli tokennya. Jadi, kalo di Singapur kan kita bisa sekali beli EZ-Link card gitu buat naik kereta kalo disini selain ada kartu seperti itu ada juga token yang bisa dibeli buat sekali jalan. Bentuknya mirip koin plastik gitu. Setelah beli token, masuk ke gerbang. Buka gerbangnya dengan menge-tap si token di gerbang. Ada petunjuknya lah, yang kampungan kayak saya aja ngerti. Hahaha. Ikutin petunjuk, naik LRT yang ke KL Sentral. Nah, pas keluar masukkan si token tadi di gerbangnya kayak masukin koin ke celengen gitu. Nanti gerbangnya kebuka gitu deh. Di KL Sentral, saya cari tempat buat beli tiket KTM Komuter ke Batu Caves. Kali ini nggak pake mesin, langsung ke loket tiket gitu. Ada sih mesinnya, tapi mesin jenis lama. Uang yang diterima juga uang cetakan lama. Tiket KTM Komuter bukan token, tapi kertas biasa gitu. Ke Batu Caves, bayar RM 2 saja. Muraaah banget.

KTM Komuter-nya sepi, karena weekend mungkin ya. Trus tempat duduknya ada busanya gitu. Nyamanlah pokoknya. Perjalanan ke Batu Caves yang merupakan stasiun terakhir memakan waktu kurang lebih 1 jam. Dari stasiun, tinggal nyeberang sampe deh ke gerbang Batu Caves. Di dekat situ ada patung Hanoman raksasa. Terus ada kuil yang kebetulan waktu itu lagi ada acara. Jalan masuk terus, nanti kelihatan patung Murugan emas yang tingginya 42.7 meter itu. Di depan situ juga banyak burung-burung beterbangan. Oh iya, masuk ke Batu Caves ini gratis sodara-sodara. Jujur ya saya mau ke tempat ini udah lama gara-gara waktu itu nonton minidramanya abang pilipin yang salah satu lokasi syutingnya adalah disini. Hahaha. Nggak buang-buang waktu, saya pun naik ke guanya. Jadi, menuju gua-nya itu kita mesti naik 272 anak tangga. Lumayanlah bikin dengkul kliyengan. Di tangga itu, kita bakal menemui monyet yang lalu lalang. Tenang aja, asalkan kita nggak bawa makanan yang mencolok mereka nggak bakal nggangguin kok. Sampai di mulut gua, rasanya… capek banget. Haha. Saya sempat melihat mas-mas india yang langsung sujud begitu sampai di tangga paling atas. Mas-mas itu juga langsung sembahyang di kuil yang ada di mulut gua. Mau ngefoto tapi nggak enakeun takut ketauan, jadinya fotonya blur deh. πŸ˜›

Jalan masuk ke gua, di kanan kirinya banyak patung-patung. Trus ada kuil utama yang lagi rame dipake sembahyang juga. Trus ada tangga lagi di dalamnya, ada kuil lagi. Nama kuilnya Sri Valli Deivanai Murugan Temple. Dan tepat di atas kuil itu guanya nggak ada atap alias bolong. Puas lihat-lihat gua, saya keluar dan turun. Nggak enak juga lama-lama disini, soalnya kuilnya lagi dipake. Pas turun, kita bisa liat pemandangan kota. Di bawah, foto-foto sekitarnya lagi. Trus baru deh beranjak keluar. Eh, pas lagi jalan keluar ada bule yang lagi main alat musik. Saya kira itu alat musik dari India gitu soalnya bunyinya mirip musik india, eh nggak taunya dari Swiss. Bentuknya mirip 2 wajan yang ditangkup. Nama alat musiknya Hang, baru dibuat pada tahun 2000. Saya suka sih suaranya, menenangkan gitu. Ceileh. Kalo mau denger suaranya kira-kira kayak apa bisa lihat di video ini.

Playing Hang

Dari Batu Caves, saya balik lagi ke KL Sentral. Disana, naik LRT lagi ke Dang Wangi station. Tujuan selanjutnya adalah Menara KL alias KL Tower. Ke KL Tower bisa turun di Dang Wangi naik LRT atau di Bukit Nanas naik monorail. Karena LRT lebih murah, makanya saya naik yang ke Dang Wangi. Jarak dari Dang Wangi ke Bukit Nanas nggak terlalu jauh kok. Dari stasiun, ikutin petunjuk ke KL Tower. Lumayan juga jalannya, apalagi matahari lagi eksis banget siang-siang gitu. Sampe di gerbang KL Tower, tunggu aja disitu nanti ada shuttle yang mengantar kita ke tower-nya nggak pake bayar alias gratis. Lumayan banget karena jalannya menanjak. Sampe di tower, langsung menuju ke penjualan tiketnya. Buat turis asing, harga tiket observation deck-nya adalah RM 49. Mahal sih, tapi sekali-sekali nggak apa-apalah. Jadi kan kalo di KL itu yang terkenal adalah KL Tower dan Petronas Twin towers, setelah baca-baca di situsnya dan membandingkan keduanya saya memutuskan untuk naik KL Tower saja. Pertama, karena harganya lebih murah. Kedua, karena nggak ada aturan cuma boleh naik berapa lama dan hanya boleh sesuai jam yang tiketnya sudah dibeli.

Sebelum masuk, difoto dulu dengan latar belakang gambar KL Tower. Foto ini hasil cetakannya bisa dibeli di booth di depannya. Pas masuk, antre naik lift. Lift-nya cepat, trus dia ngasih tau gitu kita udah ada di ketinggian berapa. Sampai di atas, langsung masuk ke observation deck-nya. Wahhh, seru banget bisa liat view KL 360ΒΊ. Dari sana bisa kelihatan Petronas Twin Towers, Dataran Merdeka, dan berbagai tempat lain yang saya nggak ingat namanya. Di setiap sisi ada tulisannya kok itu view ke daerah mana. Trus ada teropong juga, nggak perlu bayar lagi kalau mau pake. Saya nyobain teropong untuk lihat ke arah Petronas Twin Towers. Karena tiketnya lumayan mahal, saya berlama-lama disini. Sayang dong udah beli mahal disini cuma sebentar. Pokoknya disitu saya muter-muter lihat pemandangan, trus duduk-duduk santai, nggak jelas deh. Setelah bosen, baru saya turun. Naik shuttle lagi ke gerbangnya, trus jalan lagi ke Dang Wangi. Dari Dang Wangi naik LRT lagi ke Masjid Jamek station. Dari Masjid Jamek station, saya jalan ke Masjid Jamek yang berada tepat di sebelahnya. Tadinya mau sholat disana tapi waktu dzuhur masih 1 jam lagi, akhirnya nggak jadi deh. Lanjut jalan ke arah kawasan Dataran Merdeka. Jadi Dataran Merdeka itu adalah lapangan tempat pertama kalinya Malaysia mendeklarasikan kemerdekaannya. Disana juga ada tiang bendera setinggi 95 m, salah satu yang tertinggi di dunia. Juga ada Victorian Sanitary Board Fountain. Di sekitarnya banyak bangunan-bangunan tua bersejarah. Antara lain, St. Mary Cathedral, Sultan Abdul Samad Building, KL City Gallery, dan Old Seasons & Magistrates Court Building. Untuk yang relatif baru, ada KL Library.

Di KL City Gallery, kita bisa mendapatkan penjelasan mengenai kota Kuala Lumpur. Ada juga miniatur Dataran Merdeka dan penjelasan mengenai gedung-gedung yang ada di sekitarnya. Di lantai 2, kita akan masuk ke sebuah ruangan gelap untuk menyaksikan pertunjukan laser yang dimainkan di atas miniatur kota Kuala Lumpur. Ada penjelasan melalui video juga. Kita boleh mengambil gambar, tapi tidak boleh menggunakan flash. Keren deh pokoknya. Sayang suaranya nggak terlalu jelas. Saat menunggu pertunjukan berikutnya, saya sempat ketemu ibu-ibu TKW yang kerja disitu. Jadi pertamanya si ibu lagi ngobrol sama temen kerjanya yang orang malaysia ngasih tau bahasa indonesia jalan-jalan atau apa gitu. Trus saya nyamber aja “bu, dari indonesia? saya juga”. Trus si temennya bilang “wah, sekampung”. Pffttt. Agak-agak sebel juga sih dibilang sekampung. Hahaha. Berasanya semua orang Indonesia itu dari kampung terpelosok gitu. Intinya sih cuma ngobrol sebentar sama si ibu. Trus ya si ibu walopun baru setahun disana, logatnya udah melayu gitu jadi awkward pas ngobrol karena saya pake bahasa indonesia sehari-hari gitu. Hahaha.

Dari Dataran Merdeka, saya lanjut jalan ke arah Central Market. Tujuannya apa lagi kalau tidak lain dan tidak bukan untuk cari oleh-oleh. Tapi saya sholat dulu disana trus karena laper makan dulu di Food Courtnya. Sayangnya makanan di food court jarang yang khas malaysia, akhirnya saya pesan chicken rice. Wkwkwk. Untuk minuman, saya nyicip jus belimbing. Nggak ada kan tuh di Indonesia. Rasanya sepet-sepet gimanaa gitu.

Selesai makan, muter-muter cari oleh-oleh. Akhirnya dapet pajangan petronas yang kecil seharga RM 5, yang besar RM 10, dan pena lucu gitu. Beli postcard juga. Trus masuk toko coklat, udah dikasih tester macem-macem nggak enak kalo nggak beli akhirnya beli coklat juga 3 kotak disitu. Hahahaha, nasib nggak bisa nolak. Udah capek muter-muter, keluar dari Central Market. Tujuan selanjutnya sebenernya adalah kawasan China Town: Jl. Petaling, Sri Mahamariamman Temple, dan sekitarnya. Tapi karena saya nggak jago baca peta, kok malah jalan ke arah Pasar Seni station. Karena capek dan males balik lagi, akhirnya saya masuk aja ke stasiun, trus naik ke KLCC station. Menuju Petronas Twin Towers!

Jadi keluarnya KLCC station itu langsung masuk mall di bawah Petronas Twin Towers: Suria KLCC. Mallnya besar banget dan bikin bingung. Cari-cari papan petunjuk yang ke arah luar, kok bingung. Akhirnya saya liat ada yang tulisannya nunjukin ke arah Galeri Petronas. Karena itu adalah salah satu tujuan saya, yaudah saya kesana dulu aja. Masuk kesana gratis, tapi perlu daftar dulu di depannya. Trus kita dikasih nomer loker buat naro barang bawaan. Jadi nggak boleh bawa apa-apa gitu pas masuk. Setelah taro barang di loker, saya masuk ke area galeri. Lagi ada pameran yang temanya New Olds: Design Between Tradition and Innovation. Begitu masuk, yang ada di pikiran saya adalah “Saya nggak ngerti seni!”. Hahahah. Benda pertama yang saya temui disana adalah hammock yang di atasnya ada benda mirip rantai berukuran besar yang sepertinya bahannya adalah busa diletakkan secara asal. Kemudian ada kursi-kursi berbentuk aneh. Di bagian lain, ada 1 set perabot. Salah satunya adalah lemari yang di pintunya ditempel berbagai benda. Ya gitulah, seni kontemporer gitu yang saya nggak ngerti. Karena galerinya nggak besar dan koleksinya nggak banyak, saya juga nggak berlama-lama disitu. Setelah jalan kesana kemari, akhirnya saya nemu brosur peta petunjuk mall-nya. Fiuhh.

Karena sudah masuk waktu ashar, saya pun sholat dulu di mushollanya. Setelah itu baru ke arah luar untuk melihat Petronas Twin Towers. Foto-foto disitu, nggak lama kemudian eh ujan. Akhirnya duduk-duduk di pinggir nunggu hujannya reda sekalian nunggu malam. Jadi ceritanya saya sengaja ke petronas pas udah sore karena emang nunggu view malamnya juga. Setelah hujannya agak reda, saya jalan ke arah KLCC Park. Lokasinya di sisi lain petronas. Begitu keluar, kita bisa melihat kolam yang ada permainan air mancurnya. Banyak yang duduk-duduk sekitar kolam, saya pun ikutan. Habis itu, baru jalan ke arah tamannya. Disana ada taman bermain anak, track lari, dan kolam renang. Eh, nggak berapa lama disana turun hujan lagi. Akhirnya masuk lagi ke Suria. Nunggu maghrib, sholat, kemudian balik lagi ke depan Petronas. Setelah ambil foto Petronas Twin Towers versi malam, lanjut cari jalan ke Bukit Bintang. Jadi, rencana selanjutnya adalah makan di Jl. Alor.

Untuk ke Bukit Bintang dari KLCC, bisa naik bis Go KL gratis atau jalan di walkway ber-ac yang menghubungkan Suria KLCC dan Pavilion di Bukit Bintang. Tapi saya nggak nemu pemberhentian Go KL, jadinya yaudah cari walkway aja. Begitu masuk walkway, karena udah capek jalan seharian dan ngebayangin jalannya masih jauh, rasanya saya pengen ngesot aja. Sekitar setengah jam baru sampe ujungnya di Pavilion. Masuk ke dalam mall, cari jalan keluar. Begitu keluar, bingung mesti kemana. Saya mengabaikan kata hati saya yang bilang “ikutilah kemana banyak orang pergi”. Akhirnya jalan melawan keramaian, begitu sampe titik tertentu saya hilang arah. Saya lihat stasiun monorail, dan saya kira saya nyasar jauh. Akhirnya balik lagi ke Pavilion. Lagi-lagi sotoy jalan ke arah lain. Dan itu makin nggak jelas dimana. Banyak makanan sih disitu, tapi saya harus tetap ke Jalan Alor. Karena dari sanalah saya bakal tahu jalan pulang. Akhirnya balik lagi ke Pavilion, sekarang mengikuti kemana orang-orang rame jalan. Hmm, ternyata sama dengan arah pertama tadi. Dan seharusnya dari sana saya tinggal nyeberang. Duhh. Udah capek & laper jadi nggak bisa baca peta dengan benar. Dari nyeberang tadi, masih jalan lumayan jauh. Dan akhirnya saya melihat papan petunjuk Jl. Alor. Akhirnyaaaa. Karena haus, saya pun langsung beli Air Mata Kucing. Not as good as I expected sih, cuma ya karena haus apapun terasa enak. Pas saya kesana lagi ada perayaan gitu, entah perayaan apa yang pasti ada ondel-ondel serem versi chinese gitu. Sambil nonton itu, saya pun cari makanan yang bisa dimakan. Ekspektasinya, saya bakal nemu makanan melayu ataupun india disini. Tetapi oh tetapi, dari ujung ke ujung, yang saya temukan hanya restoran chinese food. Mana saya bisa makan disitu. Udah mau nangislah. Udah kesananya penuh perjuangan, sampe tempatnya nggak ada yang bisa dimakan. Sedih nggak sih. Untungnya ada satu kios yang jualnya pake jilbab, yaudah saya kesana aja. Makanannya standar ada sayur kangkung, kari ayam, ikan, kayak warteg gitu lah. Akhirnya saya beli makanan disitu dan minta dibungkus.

Dari situ saya cari jalan pulang, dan dengan bodohnya nyasar lagi dong. Malah menjauhi jalan seharusnya. Setelah baca ulang peta, akhirnya menemukan jalan yang benar. Lumayan juga ternyata jalannya. Dan saya masuk Jl. Pudu Lama dari ujung yang satunya, bukan dari jalan yang sama pas saya pergi. Jalan lumayan lama kok nggak sampe-sampe hostel, padahal kalo di peta si hostel malah lebih deket ke ujung yang ini. Untungnya ternyata jalannya benar walopun ternyata si peta salah menggambarkan posisi si hostel. Harusnya lebih dekat ke ujung satunya. Fiuhhh. Sampe hostel, saya tepar. Makan udah nggak nafsu lagi. Hahaha. Habis itu istirahat untuk hari besoknya.

16 Maret 2014

Yak, saya bangun kesiangan. Dan di luar pun hujan deras. Mulai susun rencana, mana yang nggak perlu dikunjungi dan mana yang dikunjungi. Sarapan dan packing. Abis itu ke bawah jam 9 kok nggak ada resepsionisnya. Balik lagi ke kamar, turun lagi sekitar jam setengah 10 baru ada orang di depan. Trus dia memperkenalkan diri sebagai Malik. Oalah, yang bales email kemaren-kemaren itu ternyata ini orangnya. Langsung bayar dan checkout. Selesai checkout langsung cao ke KL Sentral. Di KL Sentral, cari locker buat naro barang. Lokasinya nggak susah dicari kok. Pas lagi baca-baca ketentuannya, disamperin sama petugasnya. Trus langsung aja deh bayar ke dia dan dibantuin buat taro barang ke locker, nggak perlu tuker koin ke mesin.

Setelah taro barang, langsung beli tiket KTM Komuter lagi. Kali ini nggak jauh-jauh, ke stasiun Kuala Lumpur. Jadi sebelumnya stasiun pusat kereta sebelum dipindah ke KL Sentral ya di stasiun Kuala Lumpur itu. Bangunan stasiun Kuala Lumpur itu bangunan tua gitu dengan arsitektur yang berkubah-kubah mirip dengan Sultan Abdul Samad building. Dari stasiun Kuala Lumpur, saya cari jalan menuju Masjid Negara (National Mosque). Saat cari jalan itu, saya ketemu dengan turis perempuan asal Amerika yang mau ke Islamic Arts Museum. Karena saya tahu itu searah, saya pun ikut dia tanya jalan ke arah sana. Setelah dikasih petunjuk sama sekumpulan ibu-ibu, kami pun jalan ke arah yang benar. Sambil jalan saya SKSD gitu nanya-nyanya ke dia, dia bilang dia ngajar bahasa inggris di Bangkok. Tapi dudulnya saya lupa tanya nama. Hahaha.

Untuk ke Masjid Negara, kita perlu nyeberang dengan melewati terowongan. Asal ada peta, gampang kok dicari. Papan petunjuk juga relatif jelas. Di Masjid Negara, cuma liat depannya aja karena mau nunjukin jalan ke Islamic Arts Museum. Sampe di Islamic Arts Museum, beli tiket. Kalo nggak salah harganya RM 18. Di lantai pertama dan kedua lagi ada pameran kaligrafi. Lihat-lihat kaligrafi disana. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah kaligrafi karya kaligrafer dari cina. Kalau dari jauh, karena saya nggak mengerti tulisan kanji, kaligrafinya tampak seperti kaligrafi cina. Padahal itu sebenarnya adalah tulisan arab.

Di lantai 2, ada koleksi perkembangan islam di cina, malaysia, dan india. Selain itu ada juga koleksi manuskrip dan miniatur masjid dari berbagai belahan dunia. Di lantai 3, ada koleksi koin, pakaian, perhiasan, dan alat perang. Koleksi museum ini cukup banyak, worth it lah. Cukup lama saya berada di museum ini.

Setelah dari museum, saya jalan ke Masjid Negara. Saya sholat disana. Cuma yang mau sholatlah yang boleh masuk ke ruangan utama. Pengunjung lain cuma boleh di luar saja. Kalau pakaiannya kurang sopan, pengunjung harus memakai jubah untuk menutupi aurat. Di depan masjid ada brosur dengan berbagai bahasa asing, seperti inggris, mandarin, dan jepang yang berisi informasi mengenai islam. Saya mengambil beberapa brosur disana.

Karena sudah sore, akhirnya saya memutuskan nggak jadi ke Lake Garden dan sekitarnya. Apalagi saya nggak melihat tram yang katanya bisa digunakan untuk kesana. Akhirnya setelah beristirahat di masjid, saya pun kembali ke stasiun Kuala Lumpur. Saat jalan itulah saya ketemu orang Bangladesh yang menanyakan arah ke Masjid Negara. Dengan senang hati, saya pun membantu menunjukkan arah. Eh, kok lama-lama dia jadi minta nomor kontak. Haduh, takut juga ya. Akhirnya saya kasih email saya saja. Hahaha. Dia sempat bilang kalau 1 jam lalu dia juga ketemu orang Indonesia dan minta kontaknya, trus dia nunjukin nomor telpon orang itu dan menanyakan kalau itu benar kode Indonesia atau bukan. Tapi tetep aja saya nggak mau ngasih nomor telpon. Trus dia sempet nanya saya mau kemana trus mau ikut saya. Matilah awak. Untung saat itu saya mau balik ke bandara, jadinya nggak perlu bohong ngarang mau kemana gitu. Wkwkwk. Tapi ya saya iri sama si bangladesh, dia lagi jalan-jalan 15 hari. Abis dari ke malaysia, dia mau ke singapur dan bangkok juga. Asyiknyaa.

Lepas dari si orang bangladesh, saya lanjut ke stasiun. Waduh, antrenya lumayan panjang ternyata. Untung saya memutuskan untuk langsung balik aja, nggak mampir kemana-mana dulu. Sebenarnya ada mesin tiket juga, tapi sama seperti di KL Sentral, mesin untuk KTM Komuter adalah mesin jenis lama yang menerima uang cetakan lama. Dan ternyata saya nggak punya uang jenis tersebut, jadinya antre deh. Begitu dapat tiket, langsung masuk dan menunggu kereta. Keretanya datang, langsung ke KL Sentral. Ambil tas di locker, kemudian cari makanan. Karena ribet bawaan, akhirnya saya cuma beli makanan di minimarket. Saya beli nasi lemak kotakan gitu. Yah, sayang kan ke malaysia tapi belum makan nasi lemak. Hasil dari minimarket, jadilah. Cari-cari tempat duduk kok nggak nemu, jadinya langsung ke terminal buat cari bis yang ke bandara. Tadinya mikir, di terminal ada tempat duduklah bisa makan dulu disana. Eh ternyata begitu sampai bawah langsung ditawari naik bis. Yaudah langsung naik aja, daripada buang waktu bingung mau ngapain. Naik SkyBus, bayar RM 10.

Sampai di bandara masih jam 17.30, sedangkan flight saya jam 22.00. Akhirnya ke foodcourt dulu. Dan bukannya makan si nasi lemak yang udah dibeli, saya malah makan di KFC. Hahaha. Oh iya nasi di KFC sana dimasak pake kaldu gitu bukan nasi polos kayak di Indonesia, mirip nasinya Chicken Rice gitulah. Setelah berjuang ngabisin nasi dan 2 potong ayam, jam 19.30 saya beranjak ke musholla. Sholat disana, trus baru deh checkin. Checkin-nya cepet tapi antre imigrasinya lamaaa. Bersyukur lagi tadi nggak main-main kemana dulu, jadi nggak keburu-buru deh di bandara. Nunggu pesawat trus resmi selesai deh liburannya.

Jadi, gimana perasaannya setelah ngebolang sendirian di negeri orang? Bangga. Hahaha. Tapi ya emang Kuala Lumpur itu bukan kota yang ribet sih ya, transportasinya udah gampang banget mau kemana aja bisa dicapai pake kereta plus jalan kaki. Papan petunjuk juga banyak dan nggak membingungkan. Aman. Ya buktinya saya perempuan sendirian jalan malem-malem tapi alhamdulillah nggak kenapa-kenapa. Pokoknya selalu jalan di tempat rame dan waspada aja. Trus banyak tempat yang gratis, cocok bangetlah buat traveler tipe kere macam saya ini. Bolehlah lain kali main kesini lagi, toh belum sempet main ke China Town, Brickfields, Lake Garden, Putrajaya, de el el. Yuk ah cari tiket murah lagi. xD

MangJoSo Part 2

Karena yang sebelumnya judulnya Part-1, seharusnya ada part lanjutan. Tapi karena super malasnya saya, sampe sekarang belum berlanjut ceritanya. Hahaha.. Oke, mumpung lagi mood nulis, mari kita lanjutkan

Jadi, subuh-subuh hari Kamis saya sampe di Jogja. Setelah turun dari bis, saya langsung menghubungi teman saya. Ngasih tau posisi saya dimana karena kelewatan dari tempat yang kami janjiin sebelumnya. Untungnya pas turun bis ada mas-mas baik hati yang ngasih tau itu posisinya dimana. Lagipula disitu ada pos buat orang mudik gitu. Yasudahlah saya nunggu di deket situ.Β  Aman lah yaa..

Setelah nunggu, teman saya pun datang ngejemput pake motor. Langsunglah kami menuju kosannya. Sholat dan istirahat. Kondisi saya pagi itu lumayan ngedrop. Pas bangun tidur di bis aja suara saya serak dan tenggorokan sakit gejala masuk angin. Mungkin karena kecapekan dan kemaren siangnya sempet minum es. Tapi karena nggak mau menyia-nyiakan kesempatan mumpung lagi di Jogja, saya pun menyehat-nyehatkan diri. Setelah Mutiara ngajar les, kami berangkat ke Malioboro. Di sana, kami sarapan pecel yang banyak ditemui di pinggir pasar Beringharjo. Saya makan pecel, mie, bacem tahu, dan bacem telor puyuh. Harga pecel ditambah mie atau lontongnya 6ribu, kalo pecel aja 5ribu, tahu 2ribu, sate telornya 3ribu. Lumayan murah meriah dan nyobain suasana baru. Hehehe..

Pecel di Malioboro :9

Setelah makan, kami masuk ke pasar Beringharjo. Milih-milih batik disana. Yak, saya orangnya amat sangat picky sekali. Muter berkali-kali, dengan segitu banyak pilihan, nggak ada satupun yang diminati. Begitu ada yang diminati, kata temen saya jangan yang itu. Hurr.. Akhirnya pindah ke bagian seberangnya. Tapi tetap aja nggak nemu yang sreg. Tapi sayang dong udah jauh-jauh kesana tapi nggak ada hasilnya. Akhirnya muter balik lagi ke tempat pertama. Dan teman saya pun sadar kalau selera kami emang beda. Jadilah dia nyerahin pilihan ke saya dan nggak mau komentar apa-apa lagi kalo saya milih baju. AKhirnya saya beli 2 baju batik dengan harga murah meriah berkat keahlian tawar menawar dengan bahasa jawanya teman saya. Hurrayyy

Untuk oleh-oleh adik saya, saya rencananya pengen beliin gelang kayu batik gitu. Diajaklah saya ke tempat grosir aksesoris. Tapi disitu, ke-picky-an saya tetap muncul. Walopun pilihannya super beragam, saya nggak tertarik. Tintanya kurang teranglah, terlalu mencoloklah, apalah, apalah… Hahaha.. Teman saya desperado. Karena nggak enak udah muter-muter disitu lama, yasudah saya beli 3 gelang disana. Yak, sekedar melaksanakan kewajiban. πŸ˜›

Abis itu, pergi ke Keraton. Tapi karena kesorean jadinya udah tutup. Hiks. Yasudah akhirnya ke Tamansari. Pemandiannya keraton gitu. Ngeliat kolamnya kayaknya seger banget gitu airnya biru. Jadi pengen nyebur deh. Hoho.. Muter-muter agak lama disana. Oiya, pas jalan menuju sana, dimampirin ke tempat yang jualan kaos Dagadu. Tempatnya bukan yang official gitu. Padahal saya pengen ke tempat yang officialnya karena kata Ananti tokonya lucu. Saya syok aja tiba-tiba diturunin disana terus dibilang tuh katanya mau beli kaos dagadu. Dan bapak-bapak penjaga tokonya pun langsung menyambut dan nganter ke dalem toko. Karena bingung, saya pun milih satu kaos dan secepatnya pergi. Ah, agak nyesel beli disitu. 😦

segernyaa

Spanya keraton kali ya

Setelah dari Tamansari, kami ke Alun-Alun yang ada pohon beringin itu. Katanya kalo bisa jalan dengan mata tertutup melewati tengah-tengah pohon beringin, harapan kita bakal terkabul. Hohoho.. Saya sih nggak mau nyobain. Disitu ada anak kecil yang emang anak sana gitu nyobain jalan dan berhasil. Hehehe, semoga harapanmu terkabul Nak. πŸ˜€

Hore, berhasil!

Pulangnya, melewati wijilan karena saya pengen beli gudeg. Saya beli Gudeg Paha + Telor di Gudeg Yu Djum. Harganya 17ribu kalo nggak salah. Abis itu, ke Stasiun Tugu buat beli tiket balik ke Bandung. Niatnya sih hari minggunya pulang, tapi apa daya.. Karena itu akhir tahun, penumpang lumayan ramai. Akhirnya saya beli buat yang hari Senin malam. Nambah deh liburannya. πŸ˜› Saya beli tiket Lodaya malam yang eksekutif. Hoho, saya emang lebih suka pilih yang eksekutif karena lebih nyaman jadinya di kereta bisa istirahat dengan tenang. Harganya 200ribu.

Kemudian lanjut ke kosannya Mutiara. Melewati Kali Code. Kami berhenti sebentar disana. Di kali code terlihat aliran lahar dinginnya Merapi. Huee, serem juga ya.. Sampai di kosan, kami tepar. Saya minum obat lagi dan istirahat. Soalnya besok paginya kami berencana untuk pergi ke Solo.

Hari kedua, sekitar jam 9 saya dan Mutiara berangkat ke staiun Lempuyangan. Kami beli tiket kereta Prameks menuju Solo. Harganya 9ribu saja. πŸ˜€ Saat itu saya sudah smsan sama Bhella yang bakal jadi guide kami di Solo. Hehehe.. Harusnya jam 9.41 tapi kenyataannya lebih beberapa menit, kereta berangkat. Lucunya, kereta prameks yang kami naiki saat itu warnanya pink. Kyakyakya.. Nggak sampe satu jam, kami sampai di stasiun Purwosari. Turun disitu karena lebih dekat dengan rumah Bhella. Dan ternyata, mobilnya bhella lagi dipake bapaknya jadinya nggak bisa langsung ngejemput. Kami diminta ke rumahnya dulu aja naek becak. Yasudah, akhirnya kami ke rumah Bhella sesuai rute yang dikasih tau. Di depan rumahnya Bhella sudah nunggu.

Lempuyangan

Stasiun Purwosari, Solo

Sampai di rumah Bhella, kami dikenalkan ke mamanya Bhella. Rumahnya Bhella unik deh, rumah tua dengan arsitektur khas Jawa gitu. Keren deh πŸ˜€ Disitu kami disuguhin makanan macem-macem sama mamamnya Bhella. Hoho.. Ada serabi solo yang gurih dan lembut banget padahal nggak ditambahin kuah macem-macem. Ada emping dan kacang mete gurih juga. Nyamnyamnyam.. Ditambah lagi disuruh ngabisin semangka sepiring. Waduh, padahal masih mau makan timlo lagi. Hehehe..

Naek Becak Ke Rumah Bhella

Karena bapaknya Bhella sudah pulang, kami pun dikenalkan. Dan setelah sholat dzuhur, berangkatlah saya, Mutiara, Bhella, dan adik-adik Bhella, Ira dan Aan ke Timlo bu Sastro. Timlo itu makanan khas Solo gitu. Isinya ternyata sosis solo (kayak lumpia) dikasih kuah gurih, terus bisa ditambah telor yang dibumbuin seperti dibacem, jeroan kayak ati, ampela gitu juga. Di Timlo Sastro, saya pesan Timlo Komplit, harganya 14ribu, dan Es Beras Kencur, harganya 3.500. Pas pertama di liat, kayaknya porsinya sedikit. Tapi, pas udah dimakan, itu super ngenyangin. Hahaha.. Soal rasa, ya lumayanlah walopun bukan favorit saya. πŸ˜›

Timlo & Es Beras Kencur

Daftar Menu Timlo Sastro

Setelah makan, kami diajak ke Keraton Kasunanan. Harga tiket masuknya 8ribu, ditambah tiket kamera 3ribu. Muter-muter disana. Ternyata kalo abdi dalem nggak boleh pake alas kaki. Terus, kalo pake sendal, pengunjung juga disuruh copot alas kaki. Kalo pake sepatu boleh dipake aja. Di keraton kasunanan banyak patung porselen yang kayak malaikat-malaikat gitu. Agak anaeh sih mengingat itu di Solo. Hehehe.. Katanya sih itu hadiah dari luar negeri. Di halamannya banyak pohon sawo yang bikin rindang. Abis itu ngelilingin museumnya. Sayangnya, ini bukan keraton tempat tinggalnya Paundarakarna. Eaaa..

Patung Porselen

Setelah dari sana, kami diantar Bhella kembali ke Purwosari. Hoho, tengkyu so much Bhella udah jadi guide πŸ˜€ Di purwosari, kami beli tiket kereta prameks selanjutnya yang ke Jogja. Sambil nunggu jadwal, kami sholat di stasiun. Toiletnya sumpah nggak nyaman banget deh.

Sampai di Jogja, saya beli nasi kucing. Niatnya beli di Angkringan 17 karena yang punya itu orang yang aktif di koprol dan sering banget jadi tempat kopdar. Tapi karena mutiara nggak tau tempatnya, akhirnya belinya cuma di gerobak angkringan deket kampusnya. Murah banget deh.

Malamnya kami makan bakmi jawa di pinggir jalan. Sambil menikmati ramenya jalan gitu maksudnya. Ahaha.. Habis itu ke mall cari coklat Monggo yang terkenal itu. Huee mahalll.. Sekitar 70ribu habis cuma buat beli 1 coklat ukuran lumayan besar dan 2 yang ukuran kecil. Tapi enak sih. Ada harga ada kualitas emang. Hohoho. Kalo ke Jogja laen kali kayaknya mesti ke pabriknya deh πŸ˜€

Hari ketiga, kami ke Prambanan. Mutiara nggak mau ikut masuk ke dalam. Bosen katanya. Jadinya dia nunggu di luar. Yasudah saya masuk ke sendiri. Pertama ke kompleks candi Loro Jonggrang. Udah pernah sih, tapi tetep aja nyenengin. Candinya masih belum selesai dibenerin pasca gempa jogja. Ada yang dikasih pager karena masih dibenerin. Di kompleks candi prambanan ada 4 kompleks candi, tapi yang rame cuma si Loro Jonggrang aja. Dengan jiwa bolang, saya berniat untuk mengunjungi semua kompleks candi itu. Saya foto peta yang ada di papan petunjuk supaya nggak nyasar.

salah satu candi di komplek loro jonggrang

Akibat gempa

Di tengah jalan menuju komplek candi selanjutnya, saya ketemu ibu-ibu. Ditanyain mau ke komplek candi yang laen ya, terus mereka bilang kalo sebenernya mau kesana tapi jalannya sepi jadinya mereka balik lagi. Agak keder juga sih, tapi nekat juga akhirnya ngikutin jalannya. Sampelah ke candi Lumbung. Agak nggak terawat gitu ya. Sepi. Ada bambu-bambunya gitu. Entah karena efek gempa juga atau gimana.

Candi Lumbung

Nggak jauh dari situ, ada candi bubrah. Dannn, papannya dicoret-coret pake piloks dong. Dasar orang Indonesia, nggak bisa ngerawat deh. Graoo. Candi Bubrah malah nggak tampak bentuk candinya. Batu-batu ngegeletak gitu aja disana.

Candi Bubrah

Terus, agak jauh kesana ada Candi Sewu. Oiya, ternyata biasanya candi-candi ini emang jarang dikunjungi dan cuma dilewatin sama kereta-keretaan yang muterin kompleks candi prambanan. Saya suka banget sama Candi Sewu ini. Lebih eksotis deh. Halahh.. Di depan setiap gerbangnya ada sepasang patung Dwarapala.

Candi Sewu

Abis dari candi sewu, saya coba cari jalan keluar. Tapi apa daya saya nampaknya nyasar ke museumnya. Yasudahlah muter-muter dulu disitu. Apalagi saat itu tiba-tiba hujan. Sambil neduh disana. Ternyata ada yang namanya ruang Audio Visual. Disitu diputer cerita mengenai candi prambanan. Yasudah saya masuk kesana. Bayar tiketnya 5ribu. Nontonnya agak geje karena itu udah mulai duluan. Cuma ada saya dan satu keluarga pengunjung disana. Sebelum filmnya selesai, keluarga itu pada keluar. Terus ada keluarga laen yang masuk. Dan petugasnyapun semena-mena muter ulang filmnya dari awal. Graoo, yasudah saya keluar darisana.

Cari cari jalan ke pintu keluar, akhirnya nemu. Tapi sebelumnya saya nyangkut dulu nonton pertunjukkan kuda lumping. Hahaha.. Kasian si Mutiara nunggu di luar berjam-jam. *nggak tau diri* πŸ˜› Karena saya jalan-jalan di Prambanannya sendirian, nggak punya foto diri sendiri deh disana. Hahaha

Kuda Lumping

Di jalan dekat prambanan banyak yang jual dawet, baik yang biasa atau yang hitam. Kami pun nyobain dawet disana. Lumayan seger abis capek ngelilingin prambanan. Abis itu pergi ke Ayam Goreng Bu Ninit buat makan. Laperrr. Ayam gorengnya simpel, nggak pake bumbu macem-macem. Lumayan enak dan murah. Makan berdua udah pake minum cuma abis 21ribu.

Darisana, lanjut ke Museum Affandi. Bangunannya unik. Disana ngeliat hasil lukisannya Affandi dan ada gedung yang isinya lukisan koleksi dari pelukis lain. Ada lukisan yang dijual juga. Dan yang bikin saya kaget, ada lukisan yang harganya sampe 1,5 Miliar. Udah nggak paham lagi. Abis dari Affandi, ke Malioboro sebentar. Mampir ke Mirota, iseng beli lulur-lulur gitu. Aheheu

Salah satu bangunan

Iconnya Affandi

Affandi, Istri, dan Ibu

Patung mirip Affandi

Abis itu menantang perut dengan beli oseng-oseng mercon yang ternyata tidak sepedas yang saya bayangkan. Hahahah.. Beli Mr. Burger juga, penasaran pengen nyobain karena outletnya dimana-mana di Jogja. EnakanΒ  burger daripada si oseng-oseng mercon. πŸ˜› Malemnya di kosan aja, nonton bola sambil ngobrol-ngobrol girl’s talk gitu. Aheyyy..

Hari keempat, pagi-pagi banget saya di drop di Malioboro. Malioboro masih sepi banget. Jalanan sepi, toko-toko belum pada buka. Yasudah saya jalan-jalan aja. Niatnya ke Vredeburg, tapi belum buka. Dan ternyata karena itu hari Senin, Vredeburg nggak buka. Grao. Yasudah saya muter-muter perempatan disitu. Dari Bank Indonesia Jogja, jalan ke Kantor Pos, nyebrang ke BNI yang gedugnya unik, terus ke Istana. Karena bingung mesti ngapain dan banyak yang belum buka. Akhirnya saya ke McD Malioboro.. Eaaa, ujung-ujungnya McD juga. Hahaha. Agak lama ngabisin waktu disana. Ditelpon sama pakde disuruh ke rumahnya aja sorenya.

malioboro pagi hari

BI Jogja

Vredeburg

Monumen Batik

Istana

Bosen di McD, akhirnya muter-muter Malioboro lagi. Lumayan dapet kaos Dagadu palsu dan pensil hias lucu buat oleh-oleh Megi dan Putri anak ibu kos. Entah saat itu saya udah muter malioboro berapa kali. Akhirnya naek becak ke Keraton Jogja. Hurrayy.. Another keraton. Bedanya keraton jogja sama keraton solo, pengunjung nggak usah lepas alas kaki karena dianggap tamu. Saya tau dari guidenya. Hahaha, saya ngikut aja rombongan yang ada disitu. Akhirnya lepas dari rombongan, masuk ke museum batiknya dan museum yang ada foto-foto orang keraton dan silsilahnya gitu. Hawanya bikin merinding. πŸ˜›

Wek

Museum Batik

Abis dari situ, cari-cari jalan keluar. Dan entah kenapa tiba-tiba saya sampe di Tamansari. Wew. Yaudah saya minta jemput sama Mutiara. Langsung ke kosannya, packing karena bakal ke rumah Pakde dan langsung ke stasiun tugu malemnya. Sekitar jam setengah 4, berangkat ke masjid kampus UGM, ketemuan sama Ayu, sepupu saya. Walopun belum pernah ketemu, tau mukanya sih soalnya udah jadi friend di fb. Ahaha.. Yasudah ikut motornya berangkat ke rumah pakde yang lumayan jauh. Dan tiba-tiba di tengah perjalanan, turun hujan deres banget dong. Kami neduh dulu agak lama. Mendekati maghrib baru sampe rumahnya. Kebetulan pakde dan bude abis pulang haji jadi di rumahnya ditawarin kacang arab dan air zam-zam gitu. Nunggu isya disana terus berangkat ke stasiun. Tapi makan dulu di Papa Ron’s, dahsyat kenyangnya.

Sampe di stasiun, masih agak lama sebelum keretanya dateng. Setelah kereta dateng, pakde dan ayu pulang. Saya naek ke kereta. Dan sialnya, dapetnya di ujung. Sempit banget, harusnya harganya beda dongs. Nggak nyaman banget deh. Di jalan saya cuma tidur. Nyampe Bandungnya lumayan telat, harusnya jam 5 tapi waktu itu baru sampe jam 7.

Dan berakhirlah MangJoSo Trip ini dengan membawa segudang pengalaman dan makin menipisnya saldo di rekening, Hahaha, dasar traveler kere πŸ˜›

MangJoSo Part 1

Di tengah kegalauan menjelang uas, tiba-tiba saya impulsif pengen jalan-jalan menghabiskan liburan akhir tahun sebelum pulang ke rumah. Dan yang terpikir saat itu adalah Malang dan Jogja. Kenapa? Karena ada teman yang memang pengen saya kunjungi di kedua kota itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengirim message fb ke kedua teman saya tersebut. Saya tanya kapan mereka uas, bakal sibuk nggak sekitar akhir Desember, dan yang paling penting adalah saya tanya apa mereka bisa nemenin kalo saya jalan-jalan kesana. Dan jawaban yang saya dapatkan nggak mengecewakan, keduanya oke-oke aja kalo saya datang ke tempat mereka. Yihaa..

Jadi, saya pun mematangkan rencana. Saya memutuskan bahwa rutenya adalah Malang, Jogja, terus lanjut Solo dan saya sebut sebagai proyek MangJoSo. πŸ˜› Hal yang saya kira paling sulit, yaitu minta izin ortu, ternyata bisa didapatkan dengan mudah. Padahal saya belum cerita detail rencana perjalanannya gimana. Beda banget sama pas saya mau ke Kiluan. πŸ˜›

Saya berangkat ke Malang tanggal 20 Desember naek kereta Malabar bareng kak Restya yang kebetulan memang mau pulang ke Malang. Naek yang eksekutif, jadinya lumayan mahal, 230ribu. T_T Berangkat jam 15.30. Sampe di Malang sekitar jam 9 pagi keesokan harinya. Teman saya, Dewi, yang kuliah di UnBraw udah nunggu di stasiun. πŸ˜€ Kami pun ke kosannya.

Hari pertama di Malang belum kemana-mana sih. Cuma di kosannya aja. Dan bisa dibilang,Β  di hari pertama ini saya nggak ngeluarin biaya apa-apa. Makan pagi tiba-tiba udah disediain. Dan makan malam pun ditraktir nasi ayam sama temen sekosannya dewi, yusrina yang sering juga dipanggil ncus, karena dia lagi ulang tahun.

Hari kedua di Malang, saya, dewi, dan ncus pergi ke Toko Oen yang terkenal itu. Tapi sebelumnya kami ke UnBraw dulu. Btw, saya sebenernya bingung nyebutnya UnBraw apa bukan. Saya keseringan nyebut UnBraw atau UniBraw, tapi disana tulisannya UB dan orang-orangpun kayaknya lebih suka nyebut UB. Entahlah πŸ˜›

Toko Oen merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalo lagi ke Malang. Tempatnya jadul, desain interiornya unik dan jadul juga. Mereka ngejual home made ice cream, cake, dan juga oleh-oleh khas malang. Selain itu ada juga european food, chinese food, dan indonesian food. Hati-hati buat yang muslim, mereka juga jual B2.

welkom in malang

oleh-oleh malang

Di Toko Oen, saya pesan es krimnya. Saya milih Oen’s Special. Dewi & ncus milih yang isinya 1 scoop. Dan pas dateng, betapa kecewanya mereka karena ukuran scoopnya bener-bener kecil. Hahaha.. Yak, sekali-sekali nggak apa-apa lah ya.. Apalagi saya, yang lagi belagak jadi turis. Kalo es krim yang saya pilih sih nggak mengecewakan. Saya dapet 3 scoop es krim berbagai rasa, ditambah potongan cherry, wafer, dan 2 stik astor. Es krimnya enak :9 Buat turis dengan kantong cekak macem saya ini emang nggak disarankan untuk makan banyak-banyak disana, mahilll.

Oen’s Special

Setelah dari Toko Oen, kami melipir ke Alun-Alun yang nggak jauh dari situ. Di dekat situ ada gereja dan juga masjidΒ  Kami pun muter-muter di alun-alun. Di tengahnya ada kolam dan di sekitarnya banyak burung dara. πŸ˜€ Sayangnya kolamnya nggak keurus. Airnya aja warna ijo 😦

Burung dara di sekitar kolam πŸ™‚

Setelah dari alun-alun, kami kembali ke kosan Dewi naek angkot. Ongkos angkotnya sama rata, jauh deket 2500. Lumayan mahal ya kalo naeknya nggak terlalu jauh. Abis itu, kami pesan makanan di warung sebelah kosan Dewi. Dan saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk makan makanan khas daerah di tempat asalnya. Saya memesan rujak uleg, yang bisa dibilang rujak cingur juga sih. *karena saya nggak tau bedanya dengan rujak cingur apa* Harganya cuma 4ribu, tapi kenyangnya bukan maen.

Agak siang, saya ke Universitas Muhammadiyah Malang. Ketemu sama temen kuliah ibu saya. Betapa cengoknya ketika teman ibu saya bilang kalo ibu saya bilangnya mau kesana mau tau UnMuh itu gimana. Wheww.. Saya merasa dijebak T_T Padahal ibu saya nyuruh kesana katanya biar menyambung silaturahim. Dan saya sempat kebingungan mau ngomong apa pas ketemu. Tau apa yang terjadi selanjutnya? Saya muter-muter geje fakultas teknik informatikanya sama beberapa mahasiswa disitu karena temen ibu saya mau rapat. Kenapa dibilang geje? Karena saya nggak tau mesti ngomong apa, dan mereka yang nganterin pun bingung mau cerita apa. Salah saya juga sih datengnya kesiangan. 😦 Btw, kampus UnMuh Malang luas banget deh.

Plang namanya aja segede gini

Dibelah kali, dan di ujung sana ada Dome

Malamnya, kami ke Batu Night Spectacular (BNS). Sebelumnya ada wacana bakal nggak jadi ke BNSnya, tapi untungnya jadi juga. πŸ˜› Ke BNS bareng temen-temen sekosannya Dewi, yaitu Nia, Arum, Ncus, dan Mbak Galuh. πŸ˜€ Batu itu lumayan jauh dari pusat kota, kami kesana naik mobilnya Rendy, pacarnya Nia. Dan sebenernya ada rencana lain, yaitu ngasih surprise ulang tahun ke Arum. Pas kami lagi jalan di Lampion Garden, tiba-tiba pacarnya Arum dateng bawa kue ulang tahun. Ihiyyy…

Batu Night Spectacular (BNS)

full team

Tiket masuk BNS sebenernya 10ribu, tapi karena saat itu libur akhir tahun harga tiketnya naik jadi 12500. Tiket masuk Lampion Garden harganya 10ribu. Di BNS ada banyak wahana, beberapa diantaranya Rumah Hantu, Bioskop 4D, Go Kart, Rumah Kaca, Bom-Bom Car, dll. Selain BNS, di daerah Batu ada Jatim Park & Jatim Park 2. Yang  kemarin dilewatin pas jalan ke BNS cuma Jatim Park 2 sih, dan itu keren banget. Sayangnya kemaren saya nggak sempet kesana. 😦

Pulang dari BNS, kami kelaparan dan pengen makan. Tadinya mau ke nasi kucing, tapi tempatnya penuh banget dan isinya kebanyakan cowok. Cecewek di rombongan pun nggak mau makan disitu, untungnya nasinya pun udah abis. Jadinya kami cari tempat makan lain. Kami pergi ke warung lalapan. Apa yang terbayang saat mendengar lalapan? Saya sih ngebayangin timun, kol, kemangi, dan berbagai sayuran lain yang biasa dijadiin lalap. Bahkan, sebelumnya saya pengen nyeletuk “makan rumput yang di pager aja” pas mereka bilang mau makan lalapan. (doh) Hahaha.. Untungnya saya nggak jadi nyeletuk begitu. Karena yang dimaksud lalapan adalah pecel. Bukan pecel yang pake sayuran itu. Tapi istilah pecel dalam pecel lele, pecel ayam, dan lain sebagainya. Mereka menyebutnya lalapan ayam, lalapan lele, lalapan bebek. Begitchu.. Pahamlah saya pas sampe ke tempat makannya yang berupa warung tenda di pinggir jalan. Karena pas saya perhatiin, emang warung tenda lain juga nyebutnya lalapan. πŸ˜€ Saya pesan lalapan bebek. Enak, kering, gurih, potongan bebeknya juga nggak kecil-kecil amat. πŸ˜›

Habis makan, kami pun pulang. Pas saya tidur, ternyata ada ronde 2 surprise ulang tahun Arum. Dia disiram kopi dan berbagai campuran yang bikin dia harus mandi tengah malem. Hehehe

Hari ketiga, hari terakhir di Malang. Pagi-pagi, saya sarapan tahu telor. Harganya cuma 5ribu, dan itu super ngenyangin. Abis sarapan, saya dan dewi berangkat ke terminal buat ngambil tiket bis Handoyo ke Jogja yang udah dipesen kemaren sorenya. Lumayan lama disana karena ternyata tiketnya baru mau diambil ke kantornya. Harga tiketnya 72ribu. Kenapa naik bis? Karena sampe di jogjanya subuh. Kalo naik kereta kan sampenya tengah malem, kasian temen saya yang mau ngejemput.

Setelah itu kami ke Matos, disana muter-muter sebentar terus lanjut ke foodcourtnya dan nyobain Cui Mie. Saya milih Cui Mie Udang. Porsinya besar banget, padahal saya masih kenyang. Tapi, akhirnya bisa diabisin juga sih πŸ˜› Di plangnya dibilang mangkok cui mienya bisa dimakan, ternyata itu karena ada mangkok pangsitnya. Hehehe..

mangkoknya pun bisa dimakan

Cui Mie Udang

Abis dari Matos, kami ke Museum Brawijaya. Sayangnya udah tutup karena datengnya kesorean. Jadinya ya cuma di depannya aja. Belum beruntung nih 😦

Museum Brawijaya

Setelah puas, kami pun kembali ke kosan. Tapi sebelumnya beli oleh-oleh dulu. Nggak beli terlalu banyak, soalnya saya males ribet bawa macem-macem. Pas di kosan, saya packing lagi karena habis maghrib harus cepet berangkat ke terminal.

Bis harusnya berangkat jam 7 dan saya ternyata sampe disana mepet banget jam 7. Untungnya belum ditinggal, dan karena ini masih di Indonesia bisnya pun baru berangkat sekitar jam 7.15 (baca: budaya ngaret). Nggak apa-apa sih soalnya semakin telat berangkatnya, berarti semakin telat juga saya sampe di Jogja yang berarti nggak terlalu pagi sampe sananya.Β  Saya disuruh turun di jembatan Janti sama temen saya dan disuruh sms pas sampe daerah Prambanan karena terminalnya jauh banget. Tapi saking pulesnya tidur saya, saya baru kebangun pas pak kondekturnya bilang Janti. Hadehhh.. Saya pun maju ke depan deket supir siap-siap turun. Saya bingung, udah agak lama kok nggak ada yang turun. Saya kira, bakal banyak yang turun disitu. Saya pun nanya, Jembatan Janti dimana. Eh, malah dimarahin. Dibilangnya tadi dia udah bilang janti berkali-kali tapi kok nggak turun. Ya mana saya tau, itu kan pertama kalinya saya kesono naik bis. Saya nggak tau, pas dia nyebut janti itu maksudnya udah di jembatannya ato belum. *dongdong* Akhirnya saya minta diturunin deket situ aja. Kyaa.. Gimana nasib saya selanjutnya? Tunggu postingan berikutnya ya πŸ˜€