Japan Trip – Part 3 : Tokyo Tourist Mode

It was my 4th day. RP had 2 fansigns that day, but I’ve had enough CDs and only had 2 more days in Tokyo before moving to Kyoto. So, I started my tourist mode. My first destination of the day is Asakusa area. I went to Sensoji Temple and Asakusa Shrine. Near the Kaminarimon gate, there’s Nakamise Shopping Street where we can find a lot of food and unique stuffs for omiyage (souvenir). When I was taking picture near Kaminarimon gate, someone approached me and asked if I’m Indonesian. And we ended up taking picture for each other. Haha. Her name is Mbak Dewi and currently taking course in Nara Woman University. She was also there by herself. But too bad she already entered the temple area and need to move to next destination, so we can’t travel around together. But we exchanged facebook friend request. Hehe.

Continue reading

Japan Trip – Part 2 : Fujiko F. Fujio Museum & All Royal Pirates Stuffs

It’s the second day! As you know, one of my (strongest) reason to come to Japan is to watch RP concert. Haha. The concert was in Kawasaki area. So I couldn’t really use my Tokyo Subway Ticket that day, I only used Suica. And since Fujiko F. Fujio Museum (Doraemon Museum) is also in Kawasaki, I went to the museum in the morning. I already bought the ticket for 10am in the airport. Learn how to buy the ticket for Fujiko F. Fujio museum here. The admission to the museum is maximum 30 minutes after the time on the ticket. But, I was kinda late that day. I arrived at the Noborito Station around 10.25am. I run to find the shuttle bus to the museum. I was worried if I can’t make it before 10.30am. But at the end. I arrived at the museum around 10.35am and they still let me in. Fyuhhh.

Continue reading

Japan Trip – Part 1: The VISA Drama and Arrival

How are you guyss? I hope you’re doing well!

Sooo, last month I finally went to Japan. And it’s all because of Royal Pirates (RP). Haha. When they announced that they will have concert in Japan, and that time there’s still no news about Korean concert, I was very tempted to go. And yeah you know how it ended up, I impulsively bought my plane ticket to Japan. Since the concert is on February 11th & 12th, I bought my ticket for February 11th and planned to come to their concert in 12th and then traveling around. I booked my flight back from Osaka for February 19th. It’s 9 days in total, the longest trip I’ve ever done.

Continue reading

Chuseok Getaway: Around Gyeongbokgung

Gyeongbokgung (경복궁) adalah istana terbesar dari 5 istana di Seoul. Lokasinya tidak jauh dari Cheonggyecheon Stream. Hal yang pertama saya kagumi saat sampai di area ini adalah Gunung Bugak atau Bugaksan yang menjadi latar belakang Gyeongbokgung.

Gerbang utama Gyeongbokgung adalah Gwanghwamun. Di depan gerbang inilah terdapat Gwanghwamun Plaza. Gwanghwamun Plaza (광화문광장) merupakan ruang terbuka publik yang dibuka pada tahun 2009 dan merupakan bagian dari proyek renovasi ramah lingkungan seperti Cheonggyecheon Stream dan Seoul Plaza. Di bagian depan Gwanghwamun Plaza terdapat patung Admiral Yi Sun Shin, komandan angkatan laut yang terkenal akan kemenangannya melawan angkatan laut Jepang di perang Imjin pada dinasti Joseon. Di sekitarnya terdapat floor water fountain seperti yang terdapat di Seoul Plaza, namun disini jumlahnya lebih banyak. Ada pula patung King Sejong, raja yang menciptakan abjad korea (hangeul) yang saat ini digunakan. Di belakang patung King Sejong terdapat pintu masuk ke bangunan di bawahnya yang berisi koleksi mengenai sejarah King Sejong.

Area ini selalu ramai pengunjung. Bayangkan saja, jalan di seberang Gwanghwamun merupakan jalan 10 jalur. Tapi setiap lampu penyeberangan berwarna hijau, penyeberang akan memenuhi jalan tersebut. Di sekitar lampu penyeberangan terdapat penjual street food khas korea seperti fried sweet potato stick, dried squid, dan beondegi (larva).

Saat saya sampai di Gyeongbokgung, pas sekali sedang ada royal guard changing ceremony. Saya pun menonton upacara ini walaupun hanya sebentar karena memang sudah mau selesai. Setelah upacara selesai, saya masuk ke dalam. Antrean tiket ramainya bukan main, saya pun mengurungkan niat untuk masuk ke dalam. Lagipula Gyeongbokgung ini luasnya luar biasa, sepertinya lebih baik kalau saya mengalokasikan waktu khusus untuk mengeksplorasi seluruh bagian istana. Di Gyeongbokgung ini kita juga bisa mencoba pakaian penjaga istana. Tapi karena pendaftaran untuk batch selanjutnya baru akan dibuka setengah jam lagi, saya pun tidak mencoba. Saya pun cuma berkeliling di area depan.

Setelah puas, saya pun keluar. Saya berjalan menuju sisi kiri istana. Di tengah jalan, saya menemukan taman kecil. Saya kemudian mampir ke taman ini dan makan bekal roti dan telor ceplok yang saya bawa. Ya, saya sengaja membawa bekal karena saya nggak tahu bakal makan dimana dan cukup susah mencari makanan yang bisa saya makan disini. Taman ini cukup kecil tapi asri. Disini juga terdapat alat olahraga yang memang sering ditemukan di taman-taman umum. Selesai makan, saya pun lanjut jalan lagi sampai menemukan patung-patung di depan sebuah museum. Nama museum ini adalah Cheongwadae Sarangchae. Museum ini merupakan museum kepresidenan korea. Rupanya di belakang Gyeongbokgung terdapat Cheongwadae (Blue House) yang merupakan istana kepresidenan. Pantas saja pengamanan di jalan yang saya lewati tadi cukup ketat. Saya sempat ditanya akan kemana oleh seorang polisi. Untuk mendapatkan foto Cheongwadae terbaik, berjalanlah ke arah gerbang belakang Gyeongbokgung. Disitu kita bisa mendapatkan foto dengan latar belakang Cheongwadae.

Saya memutari Gyeongbokgung dan menemukan banyak penjual street food di sisi satunya. Ada penjual waffle, dakkochi (chicken on stick), dan macam-macam lagi. Disana juga terdapat beberapa museum, antara lain National Folk Museum, Children Museum, Kumho Museum, dan World Jewellery Museum.

Tadinya saya juga mau ke Bukchon Hanok Village dan mencari Sanggojae, rumah yang menjadi lokasi shooting drama Personal Taste. Sayangnya karena sudah capek dan jalan menuju kesana lumayan menanjak, kejadian pas di Bukit Bintang terulang lagi, saya jadi bodoh baca peta dan nyasar balik lagi ke Gyeongbokgung. Akhirnya saya memutuskan pulang saja. Hahaha. Mungkin bisa sekalian kesana saat mengunjungi Gyeongbokgung lagi. 😀

Chuseok Getaway: KTO & Cheonggyecheon Stream

Dari Deoksugung, saya kemudian berjalan menuju Tourist Information Center-nya Korea Tourism Organization. Untuk kesana, saya perlu melewati gedung Seoul City Hall lama dan baru yang letaknya persis banget di seberang Deoksugung. Seoul City Hall yang lama saat ini difungsikan sebagai Seoul Library. Bangunan ini berarsitektur gaya Renaissance. Sedangkan Seoul City Hall baru terletak tepat di sebelahnya. Arsitekturnya lebih modern dan futuristik, dengan bangunan yang berbentuk bulat dan terbuat dari kaca di bagian depannya. Di depan kedua gedung ini terdapat Seoul Plaza, taman dengan padang rumput hijau yang dilengkapi floor water fountain di sekitarnya. Saya melewati tempat ini tepat pukul 12 siang sehingga saya sempat mendengar suara lonceng Fala, jam dinding besar yang berada di depan Seoul City Hall lama. Tidak lama kemudian, air mancur juga menyala. Air disemprotkan naik turun dari lubang-lubang yang ada di lantai. Saya merasa beruntung berada disana pada jam tersebut karena sebelumnya saya sama sekali nggak tahu tentang keberadaan jam dinding atau air mancur ini.

Tidak lama disana, saya lanjut jalan lagi. Sekitar 15 menit, saya mulai melihat jembatan. Dan bodohnya butuh beberapa saat sampai saya akhirnya menyadari kalau di bawahnya adalah Cheonggyecheon Stream. Hahaha. Setelah tengok kanan kiri, saya pun melihat tulisan Imagine Your Korea berukuran besar di depan gedung KTO. Saya pun menuju kesana dan masuk ke basement dimana Tourist Information Center berada. Kenapa saya kesana? Karena untuk merayakan Chuseok, ada beberapa acara yang mereka selenggarakan secara gratis yaitu korean folk games, seni melukis boneka, seni melipat kertas, dan yang paling pengen saya coba: Hanbok Experience alias nyobain pakai hanbok. Di dalam TIC ini juga terdapat Tourist Information Center, K-Star Gallery, Korea Medical Tourism Information Center, Electronic Information Board, dan brosur-brosur wisata korea yang bisa kita ambil sepuasnya. Setelah muter-muter liat K-Star Gallery, saya pun mendaftarkan diri untuk njajal Hanbok Experience. Waktu tunggu untuk sampai giliran saya sekitar 60 menit katanya.

Saya pun kemudian menanyakan keberadaan ruang sholat atau prayer room. KTO adalah salah satu dari sedikit tempat di Korea yang menyediakan ruang sholat. Saya pun diantarkan ke ruang sholat dan ditunjukkan tempat wudhu yang berada di ruang itu juga. Ada beberapa sajadah dan mukena yang disediakan disana. Jangan lupa mengecek panah arah kiblat karena saya sempat salah arah mengikuti arah sajadah. Saya pikir itu sudah ke arah kiblat dan nggak ngeh kenapa masangnya aneh nggak rapat-rapat. Rupanya sajadah dipasang dengan arah memanjang sehingga bisa dipakai beberapa orang sekaligus bukan tegak untuk dipakai satu orang. Halah halah, akhirnya saya pun mengulang sholat.

Selesai sholat, masih banyak waktu untuk sampai giliran saya. Saya pun menonton anak kecil yang dengan lucunya main Tuho (arrow throwing game), permainan tradisional korea. Jadi panah dilempar supaya masuk ke target yang bentuknya seperti bolongan pot. Selain itu ada juga board game yang disebut Yutnori. Permainan ini membutuhkan 4 tongkat yang fungsinya seperti dadu. Saya juga sempat mengambil beberapa brosur wisata, salah satunya tentang Incheon, dan juga meminta form untuk Seoul Metro Stamp Event.

Setelah menunggu beberapa saat, sampailah giliran saya untuk mencoba hanbok. Karena saya pendek, hanbok yang saya pakai lumayan nglengsreh. Saat itu saya dipakaikan hanbok berwarna hijau. Petugasnya sempat menawarkan hanbok lain. Tapi karena saya suka warna hijau, saya memilih tetap memakai hanbok yang pertama. Saya pun diberi tahu kalau hanbok jenis ini biasanya dipakai oleh ratu. Huoo. Menunggu lagi sekitar beberapa menit dan akhirnya giliran saya foto. Saya minta tolong petugasnya untuk difotoin. Saya foto di depan lukisan bintang, bulan, dan 5 gunung seperti yang ada di Deoksugung dan set lain yang berupa kursi di lantai. Nggak lama foto-fotonya karena nggak enak minta tolong fotoin terus dan saya pun sudah mati gaya. Wkwkwk.

Dari KTO, saya berjalan menuju Cheonggyecheon Stream. Saya menyusuri jalan di pinggirnya menuju Cheonggye Plaza. Banyak penduduk lokal yang sekedar duduk-duduk atau main air di sekitar sana. Saking jernihnya air disini, saya bisa melihat dengan jelas ikan-ikannya. Saat saya sedang duduk, saya melihat 2 bocah yang kesusahan menyeberangi jembatan batu. Setelah takut-takut, salah satunya pun berani menyeberang dan yang satunya lagi masih kebingungan. Akhirnya saya iseng mendekati si bocah dan membantu menyeberang. Sampai di sisi satunya, saya menepi dan mengetes apakah si bocah berani menyeberang balik. Eh ternyata dia masih takut. Lucu banget liat ekspresinya liat kanan kiri kebingungan trus bilang otoke yang artinya iki piyee. //jahat// Akhirnya saya membantu dia menyeberang lagi. Sampai di ujung dia bilang annyeong alias dadah. Kyak, lucu banget.

Saya pun lanjut jalan dan menemukan Palseokdam, tempat melempar koin sambil make a wish. Saya iseng nyobain walaupun cuma ngelempar 10 KRW. //pelit// Sayangnya koinnya nggak masuk lubang, haha. Di dekat situ terdapat Candle Fountain, air terjun 2 tingkat setinggi 4 meter. Di bagian atas, terdapat Cheonggye Plaza. Disanalah letak Spring Tower. Saat itu, ada beberapa permainan tradisional yang bisa dicoba disana. Selain yutnori dan tuho, terdapat juga jegichagi dan ddakjichigi. Kalau sering nonton variety show korea, pasti nggak asing dengan 2 jenis permainan ini. Jegichagi itu kalau di sepak bola seperti juggling, tapi bolanya diganti dengan jegi. Sedangkan ddakjichigi, menggunakan kertas yang dilipat (ddakji). Objektif game ini adalah membalikkan ddakji lainnya dengan melemparkan ddakji. Saya sempet diliatin ahjumma waktu nyobain jegichagi. //jadi malu//

Dari Cheonggyecheon, saya berjalan menuju Gwanghwamun Plaza. Ceritanya akan saya tulis di post terpisah ya. See you! 😀

Chuseok Getaway: Deoksugung

“Lagi apa muk? Ada kuliah nggak?” tanya ibu saya lewat fitur telpon gratisan dari LINE. “Di dorm aja. Libur sampe rabu, lebaran-nya korea” jawab saya. “Libur apa itu? apa namanya?” tanya ibu saya lagi. “Chuseok” “Nggak kemana-mana?” tanya ibu saya yang tau anaknya ini doyan mbolang. “Nggak, takutnya pada tutup”

Demikian penggalan obrolan saya dan ibu saya minggu lalu. Ya, kalau di Indonesia ada lebaran dimana para perantau berbondong-bondong pulang kampung untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Di Korea ada yang namanya Chuseok. Seperti lebaran, para perantau juga pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga dan merayakan Chuseok. Chuseok dirayakan dengan cara memberi penghormatan kepada leluhur, misalnya mengunjungi makam, dan juga makan-makan. Salah satu makanan khas Chuseok adalah songpyeon, kue dari tepung beras ketan yang biasanya diisi kacang merah atau wijen. Kalau diisi kelapa dan gula merah mah namanya bugis ya. #eh Chuseok jatuh pada setiap tanggal 15 Agustus dalam lunar calendar. Tapi seperti libur lebaran, libur Chuseok nggak cuma 1 hari itu saja. Tahun ini, Chuseok jatuh pada tanggal 8 September tapi tanggal merahnya dari tanggal 7 sampai tanggal 10.

Saya dulu sempat mendengar kalau saat Chuseok banyak tempat umum yang tutup. Makanya sampai hari Senin saat ditelpon itu saya di dorm saja, takutnya sudah terlanjur pergi eh tempat yang dituju tutup. Kan sayang ongkosnya. Saat iseng-iseng cek facebook, eh saya baca update dari Korean Tourism Organization ternyata malah ada perayaan Chuseok di beberapa objek wisata. Bahkan di hari-H chuseok, tidak dipungut biaya untuk masuk ke istana. Walah rupanya saya salah info. Saya pun langsung merencanakan untuk mbolang keesokan harinya.

9 September 2014
Saking semangatnya saya berangkat pagi-pagi sekali, setengah 8 saya sudah di Juan Station. Tempat yang saya tuju pertama kali adalah Deoksugung (덕수궁), salah satu dari 5 istana kerajaan di Seoul. Untuk kesana saya cukup naik Line 1, nggak perlu ribet pindah-pindah line. Subway station terdekat ke Deoksugung adalah City Hall Station (시청역) yang jaraknya 24 stasiun dari Juan. Saya keluar melalui exit 1 yang merupakan pintu keluar paling dekat dengan pintu masuk Deoksugung, Daehanmun. Saya sampai di Deoksugung jam setengah 9, padahal bukanya baru jam 9. Haha, kepagian rupanya. Begitu buka, saya langsung antre beli tiket. Harga tiket masuknya 1000 KRW saja.

SAM_5020

papan informasi

Oh iya, sebagai informasi “gung (궁)” itu artinya istana. Inget kan dulu ada drama korea yang dibintangi mbak Yoon Eunhye waktu masih piyik berjudul Goong. Jadi kalau ada yang menyebut Deoksugung dengan Deoksugung Palace, sebenarnya kelebihan kata. Deoksugung atau Deoksu Palace saja sudah cukup. Berlaku juga untuk istana lainnya seperti Gyeongbokgung, Changgyeonggung, Changdeokgung, dan Gyeonghuigung. 😀

Begitu masuk gerbang, saya disambut sebuah jembatan kecil yang disebut Geumcheongyo. Menyeberangi jembatan ini merupakan simbol memurnikan diri sebelum masuk ke area istana. Dan menurut penjelasan, ternyata istana-istana lain pun strukturnya begini. Wah, ini pengetahuan baru buat saya.

SAM_5030

Geumcheongyo

SAM_5027

Informasi mengenai Daehanmun Area

Saya pun berjalan mengikuti jalan besar yang kanan kirinya ditanami pohon. Asri banget deh suasananya.

Adem

Adem

Nggak terlalu jauh, ada ruang singgasana utama yang namanya Junghwajeon. Di depan Junghwajeon ini ada gerbang beratap yang disebut Junghwamun. Dan saya pun terkagum-kagum dengan pintu besar gerbangnya, saya otomatis membayangkan gimana jaman dulu para pengawal kerajaan membuka tutup pintu ini. Hihihi. Tadinya Junghwajeon ini punya atap 2 tingkat, sayangnya habis terbakar pada tahun 1904 dan direkonstruksi hanya 1 tingkat seperti yang bisa dilihat sekarang. Di dalam Junghwajeon ada singgasana yang di belakangnya dipasang lukisan matahari, bulan, dan 5 gunung. Matahari melambangkan raja, bulan melambangkan ratu, sedangkan 5 gunung melambangkan daerah yang dipimpin. Gemesnya, saking hijaunya tempat ini di depan junghwajeon saya sempat melihat tupai sedang lompat-lompat. Lucu banget.

Nggak jauh dari Junghwajeon ada Gwangmyeongmun Gate yang sebelumnya merupakan gerbang selatan dari Hamnyeongjeon, bangunan tempat tidurnya raja, tapi kemudian dipindahkan ke lokasinya yang sekarang. Di dalam gerbang ini ada jam air yang disebut Jagyeokru, lonceng dari kuil Heungcheonsa, dan meriam beroda yang bisa menembakkan 100 panah sekaligus menggunakan bubuk mesiu. //Sebenernya mun (문) artinya sudah gate sih, tapi karena ditulisnya Gwangmyeongmun Gate saya ngikut aja deh. 😛

Dari Gwangmyeongmun, saya ke Seokjojeon Area. Nah, area ini lain daripada yang lain nih. Kalau bangunan sebelumnya punya arsitektur yang khas tradisional korea, bangunan di area ini berarsitektur bangunan khas barat. Arsiteknya, J.R. Harding, berasal dari Belanda. Disini juga ada taman yang dilengkapi dengan air mancur. Ada 2 bangunan disini. Salah satunya digunakan sebagai National Museum of Art. Saat itu disana sedang ada pameran karya pelukis abstrak Korea yang bernama Jung Yung Yul. Karya-karyanya berupa lukisan di atas kertas korea yang kalau menurut saya orang awam ini teksturnya mirip kertas daur ulang serta lukisan cat minyak di atas kanvas yang kebanyakan berupa pola-pola berulang. Di lantai atas juga ada pameran dengan tema berbeda, yaitu “Three Eyes I do have” yang maksudnya adalah menggambarkan dunia dari mata para seniman yang melihat dunia secara berbeda atau lebih dalam dari orang kebanyakan. Dan, well, seperti biasa saya masih nggak paham seni. Hahaha.

Di belakang Seokjojeon Area ada Seonwonjeon Site, sayangnya bangunan di area ini sudah diratakan untuk dijadikan jalan baru. Area ini sekarang isinya hanya pohon-pohon saja. Adem tapi agak-agak horor ya. //Dasar si saya anaknya penakut. 😛

Nah selanjutnya ada Jeukjodang area. Lokasinya berada di samping Seokjojeon dan di belakang Junghwajeon. Ada 3 bangunan di area ini, yaitu Junmyeongdang, Jeukjodang, dan Seogeodang. Jeukjodang adalah bangunan dimana Raja Gwanghaegun dan Raja Injo dinobatkan. Junmyeongdang adalah tempat dimana Raja Gojong melaksanakan tugas negaranya. Jeukjodang dan Junmyeongdang ini dihubungkan oleh sebuah koridor. Di bagian bawah kita bisa melihat lubang-lubang bahan bakar untuk ondol, sistem pemanas tradisional korea. Seogeodang adalah tempat dimana Raja Seonjo tinggal dan meninggal dunia. Berbeda dengan 2 bangunan sebelumnya yang dicat warna-warni dan dihiasi motif tradisional, Seogeodang dibiarkan polos begitu saja seperti rumah biasa.

Di sebelah Jeukjodang Area, ada Hamnyeongjeon dan Deokhongjeon. Hamnyengjeon merupakan tempat tidur untuk King Gojong. Dan di sekeliling komplek ini terdapat bangunan yang menjadi tempat tidur bagi para pelayan. Dari hasil intip-intip, saya bisa melihat kalau ruangan pada bangunan-bangunan ini dibatasi pintu yang bisa dilipat ke atas. Jadi di bagian atap kita bisa melihat lipatan pintu-pintu pembatas itu. Ngerti? Kalo nggak ngerti ya udah. Saya bingung mau njelasinnya gimana. Haha. Semoga ngerti pas liat fotonya.

Di bukit bagian belakang komplek ini terdapat Jeonggwanheon. Tempat ini dibangun sebagai tempat istirahat dan hiburan. Karena bentuknya yang terbuka, dari sini kita bisa melihat area lain istana. Bangunan ini dirancang oleh arsitek asal Rusia, A.I. Sabatin. Pilar-pilar di sekelilingnya bergaya romawi tapi di atasnya dihias dengan ukiran tradisional korea. Katanya Raja Gojong sering menikmati kopi atau menerima tamu asing disini. Kita juga bisa kok masuk dan duduk-duduk di area ini, tapi lepas sepatu dulu dan ganti dengan sandal yang tersedia disana.

Menjelang jam 11, terdengar suara musik tradisional. Itu tandanya upacara pergantian penjaga istana segera dimulai. Saya pun berjalan menuju Daehanmun, tempat upacara akan dilaksanakan. Upacara berjalan sekitar 20-30 menit. Dan di tengah-tengah acara, ada waktu khusus dimana kita diperbolehkan berfoto dengan penjaga-penjaga itu.

Melihat saya sendirian, ada seorang ahjussi yang menawarkan diri untuk membantu memfoto. Saya mengerti maksud si ahjussi cuma karena saya mendengar kata ‘sajin’ yang berarti gambar atau foto. Hahaha. Karena waktu fotonya sudah hampir selesai, si ahjussi pun agak-agak ngeyel waktu saya disuruh minggir sama petugas istana. Wkwkwk. Selesai moto-moto, dia pun asik ngerekam upacara masih pake hp saya. Padahal saya udah bilang nggak usah (karena takut memori dan batere abis) tapi dia masih maksa mau ngerekam. Karena ahjussi-nya nggak bisa bahasa inggris dan saya juga nggak bisa bahasa korea saya pun bingung mesti ngapain. Saya ikutin aja ahjussi-nya karena takut hp saya dibawa lari. //padahal disini katanya aman banget loh// Saking bingungnya saya hampir bilang “geuman jom” yang setahu saya artinya kalo di bahasa indonesiain mungkin “udah woy”. Hahaha. Saya juga udah bilang kalo saya mau ke Cheonggyecheon, eh dia masih aja ngerekam. Sebentar lagi katanya. Akhirnya upacara selesai dan hp saya pun dibalikin, dia ngerekam buat seonmul (hadiah) katanya. Ya ampun saya udah berburuk sangka aja. Ampun ahjussi. xD

Yang saya senang dari Deoksugung, dan mungkin istana lainnya disini, adalah ada penjelasan yang jelas mengenai bangunan yang ada. Coba keraton-keraton di Indonesia juga detail seperti ini penjelasannya. Selain itu, kita juga bisa menggunakan aplikasi Augmented Reality (AR) untuk mendapatkan informasi lebih banyak.

SAM_5105

salah satu AR zone

Kalau ingin mendapatkan tour guide berbahasa inggris secara gratis, datanglah pada jam-jam berikut ini:

SAM_5031

Free Guiding Service Time

Royal Guard Changing Ceremony selesai, saya pun berjalan menuju tujuan selanjutnya? Kemana? Tunggu part selanjutnya. Semoga saya nggak males nulisnya. Wkwkwk
See you on the next post 😉

Cube Studio & Cafe

안녕하세요! Hi! Halooo!

If you’re following me on instagram, you maybe already now that I’m currently in South Korea. Yup, I arrived last week. I’m here to attend graduate school. There are a lot of stories about it, but I’ll talk about it later. 😉

I’m a big fan of Korean boy band BEAST, especially member Lee Gikwang. If you can read hangeul, you can read on my profile picture before this current picture that I was holding a cheering towel with Lee Gikwang name written on it.

taken on Beautiful Show in Indonesia, 2012

BEAST is managed by Cube Entertainment. And if you’re following k-pop or BEAST or Cube, you should already know that Cube has Cube Studio and Cafe (큐브스튜디오) which opens for public. I really really want to go to that place. I live in Incheon and Cube Cafe is in Seoul. Incheon-Seoul is around 1 hour by car. But because I took public transportation (bus + subway) + walk, It took almost 2 hour to reach Cube Cafe from my place. lol. And what’s crazier is that was my first experience of taking bus and subway in Korea. I did it all by myself. //proud//

If you’re in Korea, forget google maps, you better look at this Naver Map. It gives detailed direction, expected time, and fee information. It’s written in Korean, but you could easily navigate it. If you need translation, open google translate. lol.

So, from my university back gate (인하대후문) i took bus 511 to Juan Station (주안역). Don’t forget to tap the transportation card when you enter and exit the bus. You can also pay by cash, but it’s a little bit more expensive than using card (~200 KRW more). I then took the subway to Onsu Station (온수역), and transferred to Line 7 (Green). If you need subway map, you can download it here or click this picture below to get larger image.

Subway Map

Subway Map

I took off at Cheongdam Station (청담역) which is 21 stations away from Onsu Station. I go to exit 13. For the direction / how to get to cube cafe, I read it from a blog here.

direction

direction

I just walked until I saw Hotel Riviera then turned left.

Hotel Riviera

Hotel Riviera

Then walked again, that time I saw Hotel Prima. If you watch BEAST Showtime, it was the place on the first episode where Junhyung was waiting and then picked up by Doojoon, Gikwang, and Dongwoon. Do you know that kind of feeling I got when passing this place? lol.

this place, hotel prima!

this place, hotel prima!

Walked again until I can find Baskin Robins across the street.

BR

BR

Crossed the street, walked through the alley until intersection and then turned right. Cube Studio & Cafe is not that far from the intersection. I can easily recognize the place because there are fans in front of the cafe.

Cube Cafe

Cube Cafe

But unfortunately, when I went there, Cube Cafe was closed for public because of 4Minute Sohyun’s birthday party. Only invited fans are allowed to attend. I didn’t know about this. I’ve should known earlier that Cube Cafe has a twitter account that gives update about opening/closing time, merchandise, event, etc. I missed that info.

But even though it’s closed, I saw BEAST Dongwoon went out from Cube Cafe. Too bad, he closed his face with hands. I can recognize him from his height and hair color. And I also saw BTOB Changseob. He was walking to the training center which is just some buildings away and then to Cube Cafe.

Dongwoon entering the van

It was around 4 PM and Cube Cafe will open again for public at 7 PM. Because it’s too long, i just walked around there. I bought donuts at Dunkin Donuts nearby. It’s in front of JYP Entertainment Building. Yes, Cube Cafe and JYP is really close. JYP is veryyy quiet. There are big posters of the artists shown. It gives me old cinema vibe. lol.

JYP Entertainment

JYP Entertainment

While eating, I saw some people waiting in front of a building. And then I realized that that building is Cube Entertainment Office. I passed the building while walking to Cube Cafe but I didn’t realize it.

Cube Entertainment

Later, I  also waited in front of the building. Suddenly APink Namjoo walked from the building, followed by a camera. I think she is recording for APink showtime. She’s so kind, She asked us fans to love APink and waved her hand.

I then walked to the main street, thinking of going back. But because I found public wi-fi (yah, it’s quite difficult to find public wifi), I stopped for awhile. Talked to my friend and tweeted. And you know who was coming? APink visual, Son Naeun. She walked from the alley, also followed by a camera. I recorded it with my digicam. We were really close. I hope I’m not getting recorded on her camera. lol. But if you see a small girl using scarf on APink Showtime, you know who she is. I followed Naeun crossing the street and watched her taking a taxi.

After that, I went back to Incheon. Kinda sad that Cube Cafe were closed that time, but I promise I’ll visit it again. And I hope I can see my bb Gikwang. T.T