Jalan-jalan Jogja (Lagi)

Setelah proyek mangjoso beberapa tahun lalu, saya belum pernah kembali ke jogja. Dan lagi-lagi, karena impulsif, saya memutuskan untuk liburan ke Jogja saat libur natal tahun lalu.

25 Desember 2013

Berangkat dari Bandung pukul 07.00 dengan kereta yang alhamdulillah tepat waktu, saya sampai di Jogja sekitar pukul 15.00. Saya dijemput adik saya, Lia, yang kuliah di Jogja menuju asrama-nya. Disana sudah ada adik saya satu lagi, Tika, yang datang sehari sebelumnya. Karena kami mau pergi menggunakan motor, padahal kami ada 3 orang dan motornya cuma 1, adik saya pun sibuk telpon sana-sini mencari penyewaan motor yang masih available. Dan ujung-ujungnya malah dapet motor dari penyewaan tepat di sebelah asrama yang sebelumnya sudah didatangi tapi habis. Kalau nggak salah, harga sewanya 40ribu per hari. Kami pun segera meluncur ke Raminten, restoran yang cukup terkenal di Jogja. Terkenalnya mulai dari kemistisannya, pelayannya yang katanya banyak pria melambai, dan yang terutama karena menunya yang unik dengan harga murah meriah. Sampai di Raminten, saking ramainya kami pun masuk waiting list dulu. Setelah menunggu lumayan lama, kami akhirnya mendapatkan tempat. Bau menyan langsung tercium saat masuk ke bagian dalam restoran. Karena sudah kelaparan, langsung deh pesan makanannya. Saya pesan nasi liwet (3ribu rupiah saja sodara-sodara) dan susu jahe. Untuk rame-rame, saya pesan tempe mendoan dan ikan wader. Adik saya pesan masing-masing ayam bakar dan ayam rica-rica. Minumnya es jeruk nipis dan es krim bakar. Beginilah penampakan makanan yang kami pesan:

Susu jahe dihidangkan di gelas yang bentuknya seperti itu. Hahaha. Dan karena sudah tahu itulah sebenarnya saya pesan susu jahe. Mau nyicip susu langsung dari tempatnya. #plak Disini, makan bertiga habis 66ribu saja. Murah meriah dan rasanya juga nggak mengecewakan. Sayangnya saat itu banyak menu yang sudah habis. Jadi nggak bisa icip-icip lebih banyak lagi. Dan ternyata, mas-mas pelayannya nggak melambai seperti yang saya bayangkan. Sebelumnya saya membayangkan para pria gemulai menggunakan batik/kembenlah yang akan ditemui, tapi ternyata nggak ada tuh yang seperti itu.

Selesai makan, kami pun meluncur ke arah alun-alun utara. Kami sholat maghrib di Masjid Gedhe Kauman. Suasana alun-alun dan sekitarnya sangat ramai, apalagi saat itu ada sekaten. Saya kemudian ketemuan dengan Ananti & Gisca di sekitaran masjid. Setelah itu kami menyeberang ke area sekaten. Disana, ananti & gisca naik wahana ombak. Saya sih jadi penonton saja. Tapi kemudian setelah dibujuk-bujuk saya pun menyerah untuk ikut naik bianglala. Saya tidak terlalu takut dengan ketinggian, tapi saya sangat takut dengan kecepatan. Dan gara-gara itu setiap bianglala mulai berputar ke arah bawah, saya pun langsung merem untuk mengurangi rasa takut. Hahaha.

Selesai main-main, kami menuju rumah Ananti. Saya menginap di rumah Ananti, sedangkan adik-adik saya kembali ke asrama.

26 Desember 2013

Agenda hari ini adalah “Sehari di Dieng”. Ceritanya akan saya buatkan di post terpisah. πŸ˜›

27 Desember 2013

Karena tepar setelah perjalanan panjang di Dieng, kami pun baru memulai aktivitas menjelang siang hari. Tempat yang pertama dikunjungi adalah Benteng Vredeburg. Saya kesana bersama Ananti, Gisca, dan 2 adik Ananti. Di Vredeburg, ada ruangan khusus yang memutar video mengenai sejarah benteng ini. Ruangan lain, isinya kebanyakan adalah diorama yang menceritakan masa perjuangan.

Setelah dari Benteng Vredeburg, kami meluncur ke Taman Pintar yang lokasinya tepat di sebelahnya. Di Taman Pintar, saya bertemu dengan adik saya. Sayangnya Taman Pintar hari itu super ramai. Kami pun jadi malas masuk karena antreannya yang panjang. Akhirnya kami langsung pergi ke Jejamuran, rumah makan yang menunya adalah olahan berbagai jenis jamur. Menu di jejamuran sangat beragam sehingga membuat kami bingung saat akan memesan. Hahaha. Rekomendasi saya, jangan melewatkan sate dan sop jamurnya. Jamur goreng penyetnya juga pedas mantap, cocok buat para penggemar pedas seperti saya. Minumannya juga macam-macam sekali. Salah satu yang unik adalah Summer Breeze, di dalam minuman tersebut ada jamur enoki-nya. Menurut saya, Jejamuran sangat memuaskan dari segi rasa, harga, tempat, maupun pelayanannya. Hanya saja lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Naik motor dari Taman Pintar ke Jejamuran cukup bikin tepos, padahal saya cuma dibonceng πŸ˜›

Setelah kekenyangan di Jejamuran, kami kemudian meluncur ke Taman Pelangi. Taman Pelangi ada di komplek yang sama dengan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Tapi karena sudah sore, Monjali-nya sudah tutup. Kami pun duduk-duduk di sekitaran situ menunggu malam dan lampu-lampu dinyalakan. Taman Pelangi ini isinya lampu hias dengan berbagai bentuk. Bisa dibilang versi mini dari taman lampion yang ada di Batu Night Spectacular (BNS) Malang yang pernah saya kunjungi. Di taman pelangi ada penyewaan mainan seperti sepeda gandeng, becak-becakan, kereta-keretaan, bola air bahkan flying fox. Tapi disana kami cuma foto-foto saja.

Setelah dari Taman Pelangi, kami meluncur ke Kalimilk yang ada di Kaliurang. Kalimilk ini salah satu tempat gaul nge-hits di jogja. Menu utamanya adalah susu dengan berbagai macam rasa. Saking nge-hitsnya, kami pun harus masuk waiting list dulu untuk bisa nyusu disini. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun mendapatkan tempat. Di Kalimilk, ada 2 ukuran gelas yaitu medium dan gajah. Sesuai namanya, ukuran gelas gajah ini sangat besar. Harga susu disini sekitar belasan ribu. Selain susu, ada juga light meal seperti chicken wings, risoles, french fries, macaroni & cheese. Untuk yang agak berat, ada chicken blackpepper & beef teriyaki. Saya pesan kalimilk cookies yang ukuran medium saja karena masih cukup kenyang.

Jujur, menurut saya pribadi sih tempat ini overhyped. xD

28 Desember 2013

Hari ini hari khusus pantai. Akan saya tulis dalam 1 post khusus juga. πŸ˜€ Ceritanya malam harinya aja ya. Jadi, di jogja ada tempat makan hits yang namanya Telap 12 (baca: telap twelep). Kalo bahasa jawa, itu ungkapan buat yang makannya lahap. Nah, si Telap 12 ini menjual mie instan, iya bener mie instan, yang disajikan persis sesuai bungkusnya. Penasaran dong pastinya. Kami kesana bareng orang tuanya ananti juga. Sayangnya karena sudah malam, menu yang tersisa tinggal rasa soto dan rendang. Tapi karena sudah terlanjur kesana, kami pun memesan apa yang ada saja. Ini dia tampilannya:

Rasanya? Ya rasa mie instan. Kok tanya lagi. Hahaha. Kreatif yang bikin tempat ini. Meskipun di tempat lain ada juga yang jual mie instan sesuai dengan bungkusnya, si Telap 12 ini saya kasih nilai lebih buat brandingnya. Selesai makan, kami meluncur ke alun-alun selatan. Kami nggak lama disini. Cuma liat-liat keramaian dan nyobain jalan di antara 2 beringin lagi, tapi saya nyerah di tengah-tengah. Haha.

29 Desember 2013

Hari terakhir liburan. T__T Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Pabrik Cokelat Monggo. Harapannya bisa lihat proses pembuatan coklatnya di workshop, tapi sayangnya saat kami datang mereka belum mulai kerja. Akhirnya cuma beli cokelatnya saja disini.

Dari Monggo, kami meluncur ke Pasar Beringharjo. Cari-cari batik disini, tapi susah cari yang sreg. Dasar picky xD Akhirnya nemu yang lucu di toko seberangnya Beringharjo. Mampir ke Mirota juga tapi nggak beli apa-apa. Setelah itu makan siang dan kembali lagi ke rumah Ananti. Packing karena malamnya mau pulang ke Bandung. Habis maghrib ke stasiun, nunggu kereta Malabar yang ternyata delay. Dan akhirnya liburan resmi berakhir saat kereta berangkat. Liburan yang menyenangkan karena hampir semua tempat yang diinginkan bisa dikunjungi. See you next time, Jogja!

Advertisements

MangJoSo Part 2

Karena yang sebelumnya judulnya Part-1, seharusnya ada part lanjutan. Tapi karena super malasnya saya, sampe sekarang belum berlanjut ceritanya. Hahaha.. Oke, mumpung lagi mood nulis, mari kita lanjutkan

Jadi, subuh-subuh hari Kamis saya sampe di Jogja. Setelah turun dari bis, saya langsung menghubungi teman saya. Ngasih tau posisi saya dimana karena kelewatan dari tempat yang kami janjiin sebelumnya. Untungnya pas turun bis ada mas-mas baik hati yang ngasih tau itu posisinya dimana. Lagipula disitu ada pos buat orang mudik gitu. Yasudahlah saya nunggu di deket situ.Β  Aman lah yaa..

Setelah nunggu, teman saya pun datang ngejemput pake motor. Langsunglah kami menuju kosannya. Sholat dan istirahat. Kondisi saya pagi itu lumayan ngedrop. Pas bangun tidur di bis aja suara saya serak dan tenggorokan sakit gejala masuk angin. Mungkin karena kecapekan dan kemaren siangnya sempet minum es. Tapi karena nggak mau menyia-nyiakan kesempatan mumpung lagi di Jogja, saya pun menyehat-nyehatkan diri. Setelah Mutiara ngajar les, kami berangkat ke Malioboro. Di sana, kami sarapan pecel yang banyak ditemui di pinggir pasar Beringharjo. Saya makan pecel, mie, bacem tahu, dan bacem telor puyuh. Harga pecel ditambah mie atau lontongnya 6ribu, kalo pecel aja 5ribu, tahu 2ribu, sate telornya 3ribu. Lumayan murah meriah dan nyobain suasana baru. Hehehe..

Pecel di Malioboro :9

Setelah makan, kami masuk ke pasar Beringharjo. Milih-milih batik disana. Yak, saya orangnya amat sangat picky sekali. Muter berkali-kali, dengan segitu banyak pilihan, nggak ada satupun yang diminati. Begitu ada yang diminati, kata temen saya jangan yang itu. Hurr.. Akhirnya pindah ke bagian seberangnya. Tapi tetap aja nggak nemu yang sreg. Tapi sayang dong udah jauh-jauh kesana tapi nggak ada hasilnya. Akhirnya muter balik lagi ke tempat pertama. Dan teman saya pun sadar kalau selera kami emang beda. Jadilah dia nyerahin pilihan ke saya dan nggak mau komentar apa-apa lagi kalo saya milih baju. AKhirnya saya beli 2 baju batik dengan harga murah meriah berkat keahlian tawar menawar dengan bahasa jawanya teman saya. Hurrayyy

Untuk oleh-oleh adik saya, saya rencananya pengen beliin gelang kayu batik gitu. Diajaklah saya ke tempat grosir aksesoris. Tapi disitu, ke-picky-an saya tetap muncul. Walopun pilihannya super beragam, saya nggak tertarik. Tintanya kurang teranglah, terlalu mencoloklah, apalah, apalah… Hahaha.. Teman saya desperado. Karena nggak enak udah muter-muter disitu lama, yasudah saya beli 3 gelang disana. Yak, sekedar melaksanakan kewajiban. πŸ˜›

Abis itu, pergi ke Keraton. Tapi karena kesorean jadinya udah tutup. Hiks. Yasudah akhirnya ke Tamansari. Pemandiannya keraton gitu. Ngeliat kolamnya kayaknya seger banget gitu airnya biru. Jadi pengen nyebur deh. Hoho.. Muter-muter agak lama disana. Oiya, pas jalan menuju sana, dimampirin ke tempat yang jualan kaos Dagadu. Tempatnya bukan yang official gitu. Padahal saya pengen ke tempat yang officialnya karena kata Ananti tokonya lucu. Saya syok aja tiba-tiba diturunin disana terus dibilang tuh katanya mau beli kaos dagadu. Dan bapak-bapak penjaga tokonya pun langsung menyambut dan nganter ke dalem toko. Karena bingung, saya pun milih satu kaos dan secepatnya pergi. Ah, agak nyesel beli disitu. 😦

segernyaa

Spanya keraton kali ya

Setelah dari Tamansari, kami ke Alun-Alun yang ada pohon beringin itu. Katanya kalo bisa jalan dengan mata tertutup melewati tengah-tengah pohon beringin, harapan kita bakal terkabul. Hohoho.. Saya sih nggak mau nyobain. Disitu ada anak kecil yang emang anak sana gitu nyobain jalan dan berhasil. Hehehe, semoga harapanmu terkabul Nak. πŸ˜€

Hore, berhasil!

Pulangnya, melewati wijilan karena saya pengen beli gudeg. Saya beli Gudeg Paha + Telor di Gudeg Yu Djum. Harganya 17ribu kalo nggak salah. Abis itu, ke Stasiun Tugu buat beli tiket balik ke Bandung. Niatnya sih hari minggunya pulang, tapi apa daya.. Karena itu akhir tahun, penumpang lumayan ramai. Akhirnya saya beli buat yang hari Senin malam. Nambah deh liburannya. πŸ˜› Saya beli tiket Lodaya malam yang eksekutif. Hoho, saya emang lebih suka pilih yang eksekutif karena lebih nyaman jadinya di kereta bisa istirahat dengan tenang. Harganya 200ribu.

Gudeg Yu Djum

Kemudian lanjut ke kosannya Mutiara. Melewati Kali Code. Kami berhenti sebentar disana. Di kali code terlihat aliran lahar dinginnya Merapi. Huee, serem juga ya.. Sampai di kosan, kami tepar. Saya minum obat lagi dan istirahat. Soalnya besok paginya kami berencana untuk pergi ke Solo.

Lahar Dingin di Kali Code

Hari kedua, sekitar jam 9 saya dan Mutiara berangkat ke staiun Lempuyangan. Kami beli tiket kereta Prameks menuju Solo. Harganya 9ribu saja. πŸ˜€ Saat itu saya sudah smsan sama Bhella yang bakal jadi guide kami di Solo. Hehehe.. Harusnya jam 9.41 tapi kenyataannya lebih beberapa menit, kereta berangkat. Lucunya, kereta prameks yang kami naiki saat itu warnanya pink. Kyakyakya.. Nggak sampe satu jam, kami sampai di stasiun Purwosari. Turun disitu karena lebih dekat dengan rumah Bhella. Dan ternyata, mobilnya bhella lagi dipake bapaknya jadinya nggak bisa langsung ngejemput. Kami diminta ke rumahnya dulu aja naek becak. Yasudah, akhirnya kami ke rumah Bhella sesuai rute yang dikasih tau. Di depan rumahnya Bhella sudah nunggu.

Lempuyangan

Tiket di tangan (literally) XD

Stasiun Purwosari, Solo

Sampai di rumah Bhella, kami dikenalkan ke mamanya Bhella. Rumahnya Bhella unik deh, rumah tua dengan arsitektur khas Jawa gitu. Keren deh πŸ˜€ Disitu kami disuguhin makanan macem-macem sama mamamnya Bhella. Hoho.. Ada serabi solo yang gurih dan lembut banget padahal nggak ditambahin kuah macem-macem. Ada emping dan kacang mete gurih juga. Nyamnyamnyam.. Ditambah lagi disuruh ngabisin semangka sepiring. Waduh, padahal masih mau makan timlo lagi. Hehehe..

Naek Becak Ke Rumah Bhella

Karena bapaknya Bhella sudah pulang, kami pun dikenalkan. Dan setelah sholat dzuhur, berangkatlah saya, Mutiara, Bhella, dan adik-adik Bhella, Ira dan Aan ke Timlo bu Sastro. Timlo itu makanan khas Solo gitu. Isinya ternyata sosis solo (kayak lumpia) dikasih kuah gurih, terus bisa ditambah telor yang dibumbuin seperti dibacem, jeroan kayak ati, ampela gitu juga. Di Timlo Sastro, saya pesan Timlo Komplit, harganya 14ribu, dan Es Beras Kencur, harganya 3.500. Pas pertama di liat, kayaknya porsinya sedikit. Tapi, pas udah dimakan, itu super ngenyangin. Hahaha.. Soal rasa, ya lumayanlah walopun bukan favorit saya. πŸ˜›

Timlo & Es Beras Kencur

Daftar Menu Timlo Sastro

Setelah makan, kami diajak ke Keraton Kasunanan. Harga tiket masuknya 8ribu, ditambah tiket kamera 3ribu. Muter-muter disana. Ternyata kalo abdi dalem nggak boleh pake alas kaki. Terus, kalo pake sendal, pengunjung juga disuruh copot alas kaki. Kalo pake sepatu boleh dipake aja. Di keraton kasunanan banyak patung porselen yang kayak malaikat-malaikat gitu. Agak anaeh sih mengingat itu di Solo. Hehehe.. Katanya sih itu hadiah dari luar negeri. Di halamannya banyak pohon sawo yang bikin rindang. Abis itu ngelilingin museumnya. Sayangnya, ini bukan keraton tempat tinggalnya Paundarakarna. Eaaa..

Patung Porselen

Setelah dari sana, kami diantar Bhella kembali ke Purwosari. Hoho, tengkyu so much Bhella udah jadi guide πŸ˜€ Di purwosari, kami beli tiket kereta prameks selanjutnya yang ke Jogja. Sambil nunggu jadwal, kami sholat di stasiun. Toiletnya sumpah nggak nyaman banget deh.

Sampai di Jogja, saya beli nasi kucing. Niatnya beli di Angkringan 17 karena yang punya itu orang yang aktif di koprol dan sering banget jadi tempat kopdar. Tapi karena mutiara nggak tau tempatnya, akhirnya belinya cuma di gerobak angkringan deket kampusnya. Murah banget deh.

Bakmi Jawa

Malamnya kami makan bakmi jawa di pinggir jalan. Sambil menikmati ramenya jalan gitu maksudnya. Ahaha.. Habis itu ke mall cari coklat Monggo yang terkenal itu. Huee mahalll.. Sekitar 70ribu habis cuma buat beli 1 coklat ukuran lumayan besar dan 2 yang ukuran kecil. Tapi enak sih. Ada harga ada kualitas emang. Hohoho. Kalo ke Jogja laen kali kayaknya mesti ke pabriknya deh πŸ˜€

Coklat Monggo. Mau lagiii.. tapi mahall πŸ˜›

Hari ketiga, kami ke Prambanan. Mutiara nggak mau ikut masuk ke dalam. Bosen katanya. Jadinya dia nunggu di luar. Yasudah saya masuk ke sendiri. Pertama ke kompleks candi Loro Jonggrang. Udah pernah sih, tapi tetep aja nyenengin. Candinya masih belum selesai dibenerin pasca gempa jogja. Ada yang dikasih pager karena masih dibenerin. Di kompleks candi prambanan ada 4 kompleks candi, tapi yang rame cuma si Loro Jonggrang aja. Dengan jiwa bolang, saya berniat untuk mengunjungi semua kompleks candi itu. Saya foto peta yang ada di papan petunjuk supaya nggak nyasar.

salah satu candi di komplek loro jonggrang

Akibat gempa

Hati-hati nak

Peta Peta *diucapkan ala Dora The Explorer*

Di tengah jalan menuju komplek candi selanjutnya, saya ketemu ibu-ibu. Ditanyain mau ke komplek candi yang laen ya, terus mereka bilang kalo sebenernya mau kesana tapi jalannya sepi jadinya mereka balik lagi. Agak keder juga sih, tapi nekat juga akhirnya ngikutin jalannya. Sampelah ke candi Lumbung. Agak nggak terawat gitu ya. Sepi. Ada bambu-bambunya gitu. Entah karena efek gempa juga atau gimana.

Candi Lumbung

Candi Lumbung

Nggak jauh dari situ, ada candi bubrah. Dannn, papannya dicoret-coret pake piloks dong. Dasar orang Indonesia, nggak bisa ngerawat deh. Graoo. Candi Bubrah malah nggak tampak bentuk candinya. Batu-batu ngegeletak gitu aja disana.

Candi Bubrah

Candi Bubrah

Terus, agak jauh kesana ada Candi Sewu. Oiya, ternyata biasanya candi-candi ini emang jarang dikunjungi dan cuma dilewatin sama kereta-keretaan yang muterin kompleks candi prambanan. Saya suka banget sama Candi Sewu ini. Lebih eksotis deh. Halahh.. Di depan setiap gerbangnya ada sepasang patung Dwarapala. Keterangan tentang candi sewu liat di gambar aja ya πŸ˜€

Candi Sewu

Informasi tentang candi sewu

Eksotisnya Candi Sewu

Abis dari candi sewu, saya coba cari jalan keluar. Tapi apa daya saya nampaknya nyasar ke museumnya. Yasudahlah muter-muter dulu disitu. Apalagi saat itu tiba-tiba hujan. Sambil neduh disana. Ternyata ada yang namanya ruang Audio Visual. Disitu diputer cerita mengenai candi prambanan. Yasudah saya masuk kesana. Bayar tiketnya 5ribu. Nontonnya agak geje karena itu udah mulai duluan. Cuma ada saya dan satu keluarga pengunjung disana. Sebelum filmnya selesai, keluarga itu pada keluar. Terus ada keluarga laen yang masuk. Dan petugasnyapun semena-mena muter ulang filmnya dari awal. Graoo, yasudah saya keluar darisana.

Di Museum. Dompet Emas. Wew

Audio Visual

Cari cari jalan ke pintu keluar, akhirnya nemu. Tapi sebelumnya saya nyangkut dulu nonton pertunjukkan kuda lumping. Hahaha.. Kasian si Mutiara nunggu di luar berjam-jam. *nggak tau diri* πŸ˜› Karena saya jalan-jalan di Prambanannya sendirian, nggak punya foto diri sendiri deh disana. Hahaha

Kuda Lumping

Di jalan dekat prambanan banyak yang jual dawet, baik yang biasa atau yang hitam. Kami pun nyobain dawet disana. Lumayan seger abis capek ngelilingin prambanan. Abis itu pergi ke Ayam Goreng Bu Ninit buat makan. Laperrr. Ayam gorengnya simpel, nggak pake bumbu macem-macem. Lumayan enak dan murah. Makan berdua udah pake minum cuma abis 21ribu.

Ngedawet

Darisana, lanjut ke Museum Affandi. Bangunannya unik. Disana ngeliat hasil lukisannya Affandi dan ada gedung yang isinya lukisan koleksi dari pelukis lain. Ada lukisan yang dijual juga. Dan yang bikin saya kaget, ada lukisan yang harganya sampe 1,5 Miliar. Udah nggak paham lagi. Abis dari Affandi, ke Malioboro sebentar. Mampir ke Mirota, iseng beli lulur-lulur gitu. Aheheu

Salah satu bangunan

Tangga Spiral Unik

Iconnya Affandi

Affandi, Istri, dan Ibu

Patung mirip Affandi

Abis itu menantang perut dengan beli oseng-oseng mercon yang ternyata tidak sepedas yang saya bayangkan. Hahahah.. Beli Mr. Burger juga, penasaran pengen nyobain karena outletnya dimana-mana di Jogja. EnakanΒ  burger daripada si oseng-oseng mercon. πŸ˜› Malemnya di kosan aja, nonton bola sambil ngobrol-ngobrol girl’s talk gitu. Aheyyy..

Oseng-oseng Mercon

Hari keempat, pagi-pagi banget saya di drop di Malioboro. Malioboro masih sepi banget. Jalanan sepi, toko-toko belum pada buka. Yasudah saya jalan-jalan aja. Niatnya ke Vredeburg, tapi belum buka. Dan ternyata karena itu hari Senin, Vredeburg nggak buka. Grao. Yasudah saya muter-muter perempatan disitu. Dari Bank Indonesia Jogja, jalan ke Kantor Pos, nyebrang ke BNI yang gedugnya unik, terus ke Istana. Karena bingung mesti ngapain dan banyak yang belum buka. Akhirnya saya ke McD Malioboro.. Eaaa, ujung-ujungnya McD juga. Hahaha. Agak lama ngabisin waktu disana. Ditelpon sama pakde disuruh ke rumahnya aja sorenya.

malioboro pagi hari

BI Jogja

Kantor Pos Jogja

Vredeburg

Tutup. Grao

Monumen Batik

Istana

Bosen di McD, akhirnya muter-muter Malioboro lagi. Lumayan dapet kaos Dagadu palsu dan pensil hias lucu buat oleh-oleh Megi dan Putri anak ibu kos. Entah saat itu saya udah muter malioboro berapa kali. Akhirnya naek becak ke Keraton Jogja. Hurrayy.. Another keraton. Bedanya keraton jogja sama keraton solo, pengunjung nggak usah lepas alas kaki karena dianggap tamu. Saya tau dari guidenya. Hahaha, saya ngikut aja rombongan yang ada disitu. Akhirnya lepas dari rombongan, masuk ke museum batiknya dan museum yang ada foto-foto orang keraton dan silsilahnya gitu. Hawanya bikin merinding. πŸ˜›

Wek

Bagus

Ada simbolnya

Museum Batik

Abis dari situ, cari-cari jalan keluar. Dan entah kenapa tiba-tiba saya sampe di Tamansari. Wew. Yaudah saya minta jemput sama Mutiara. Langsung ke kosannya, packing karena bakal ke rumah Pakde dan langsung ke stasiun tugu malemnya. Sekitar jam setengah 4, berangkat ke masjid kampus UGM, ketemuan sama Ayu, sepupu saya. Walopun belum pernah ketemu, tau mukanya sih soalnya udah jadi friend di fb. Ahaha.. Yasudah ikut motornya berangkat ke rumah pakde yang lumayan jauh. Dan tiba-tiba di tengah perjalanan, turun hujan deres banget dong. Kami neduh dulu agak lama. Mendekati maghrib baru sampe rumahnya. Kebetulan pakde dan bude abis pulang haji jadi di rumahnya ditawarin kacang arab dan air zam-zam gitu. Nunggu isya disana terus berangkat ke stasiun. Tapi makan dulu di Papa Ron’s, dahsyat kenyangnya.

Sampe di stasiun, masih agak lama sebelum keretanya dateng. Setelah kereta dateng, pakde dan ayu pulang. Saya naek ke kereta. Dan sialnya, dapetnya di ujung. Sempit banget, harusnya harganya beda dongs. Nggak nyaman banget deh. Di jalan saya cuma tidur. Nyampe Bandungnya lumayan telat, harusnya jam 5 tapi waktu itu baru sampe jam 7.

Dan berakhirlah MangJoSo Trip ini dengan membawa segudang pengalaman dan makin menipisnya saldo di rekening, Hahaha, dasar traveler kere πŸ˜›