Pulau Kelagian

Salah satu hal yang saya banggakan dari Lampung itu, pantainya masih bagus. :3 Bulan lalu saya memanfaatkan long weekend untuk pulang ke Lampung. Karena kebetulan keluarga besar berkumpul, kami pun berlibur ke pantai. Kali ini kami ke Pulau Kelagian. Lokasinya di seberang Pantai Klara, sekitar daerah Hanura, tidak sampai 1 jam dari pusat kota Bandar Lampung. Kalau mau ke Teluk Kiluan, pasti lewat daerah ini.

Meskipun sudah beberapa kali ke Pantai Klara, baru kali itu saya menyeberang ke Pulau Kelagian. Airnya jernih dan bersih. Pasir pantainya putih dan lembut sekali. Pulaunya pun sepi. Saat kami baru datang, hanya kami pangunjungnya. Sayang, area berenangnya tidak terlalu luas karena berbatasan dengan palung. Tapi justru perbedaan kedalaman itu yang membuat gradasi warna air lautnya tampak sehingga pemandangannya bagus. Yang suka foto-foto pasti senang. ๐Ÿ˜›

Ini beberapa foto di Pulau Kelagian, ayo sekali-kali main kesana ^^

Pantai Klara, sebelum menyeberang

di kapal

pulau kelagian

airnya jernihhh

foto narsis adik saya -.-

BagaNite

Bulan November lalu, saya dan keluarga mencoba cara liburan yang lain dari yang lain. ๐Ÿ˜› Kami menginap di bagan selama semalam. Entah apa deskripsi yang paling cocok untuk bagan, tapi sepertinya bisa diartikan sebagai kapal penangkap ikan yang menggunakan jaring. Bagan ini milik salah satu saudara kami.

Kami berangkat sabtu sore, tanggal 17 November. Karena bagan ditinggal di tengah laut, kami naik perahu kecil dulu untuk mencapai bagan itu. Selain saya dan keluarga, pemilik bagan dan istri, ada sekitar 5 orang nelayan yang naik ke bagan. Setelah semuanya naik, bagan pun mulai dijalankan. Karena banyak perempuan yang ikut pada sat itu, maka bagan tidak dibawa terlalu jauh ke tengah laut. Padahal biasanya mereka bisa melaut sangat jauh ke tengah dan baru pulang beberapa hari kemudian.

Kira-kira setelah maghrib, jaring-jaring bagan mulai diturunkan. Lampu bagan dinyalakan untuk menarik perhatian ikan. Sambil menunggu ikan terkumpul, kami coba-coba memancing. Kebanyakan hasil pancingan yang didapatkan adalah cumi-cumi. Dan baru kali itu saya melihat cumi-cumi yang masih transparan. Biasanya kan kalau sudah di pasar, warnanya sudah menjadi putih keunguan. Cumi-cumi yang berhasil ditangkap kemudian langsung dimasak untuk makan malam saat itu. Ya, di bagan juga ada dapur. ๐Ÿ˜€ Selain ada dapur, ternyata ada tv juga. Adik saya serius nonton tv setelah capek main pancing-pancingan. Hahaha.

Kurang lebih 3-4 jam setelah jaring diturunkan, ikan sudah mulai terkumpul. Jaring ditarik naik dan lampu bagan dimatikan. Saya kaget melihat banyaknya ikan yang berhasil ditangkap. Banyaaak sekali. Tidak lama, kapal sudah penuh dengan ikan-ikan. Sebagian besar ikan yang berhasil ditangkap itu akan dijadikan ikan asin. Dan ternyata, pembeli ikanlah yang mendatangi kapal. Semua ikan yang berhasil diperoleh dibeli sampai habis. Setelah itu, jaring diturunkan lagi untuk batch selanjutnya. Sayang, batch kedua hasilnya tidak sebanyak yang pertama. Memang untung-untungan bisa dapat ikan yang banyak atau tidak. Bahkan bisa saja walau sudah pergi semalaman tapi tidak mendapatkan ikan sama sekali.

Menjelang tengah malam, saya sudah tidak sanggup mengamati proses penangkapan ikan. Saya mulai mabuk laut karena angin laut cukup kencang dan saat itu juga hujan. Saya salut kepada para nelayan seperti mereka yang bisa semalam suntuk bekerja dengan kondisi seperti itu. Malam itu, mereka melakukan penangkapan ikan sebanyak 3 batch, total ikan yang diperoleh sekitar 6 ton. Luar biasa banyaknya. Tapi setelah dikurangi biaya operasional dan bagian untuk pemilik bagan, uang yang bisa dibawa pulang oleh masing-masing nelayan tidak sampai 100ribu atau bahkan 50ribu. ๐Ÿ˜ฆ

Secara garis besar, apa saja yang saya lakukan di bagan bisa dilihat di video berikut ini:

Pulang dari sana, saya masuk angin. Hahaha. Tapi selain itu, kami dibawakan ikan dan cumi-cumi yang sangat banyak yang akhirnya dibagi-bagi ke saudara dan tetangga. What a great experience ๐Ÿ˜€

Mie Sumbrah

Mie sumbrah ini ngehitsnya udah lama, tapi nggak ada kata terlambat dalam berwiskul kan? Apalagi kalo di rumah saya jarang makan di luar ๐Ÿ˜›

Lokasi yang saya kunjungi adalah mie sumbrah yang di Jl. Zainal Abidin Pagaralam, sebelah PH. Saya kesana sama orang tua dan adik pas pulang ke lampung mau bikin e-ktp. Yang akhirnya ternyata nggak bisa karena nggak sesuai jadwal undangan dan sampai sekarang saya belum punya e-ktp. Saya pesan mie ayam special dan adik saya pesan kwetiaw goreng seafood. Ini dia tampilannya:

mie sumbrah

kwetiaw seafood

Porsi mie ayamnya besar banget. Dan mie-nya unik, kecil-kecil halus tipis gitu. Baru kali itu saya nemu mie yg begitu. Rasanya akan lebih enak seandainya saya nggak melakukan hal bodoh ini: menuangkan kecap asin super banyak ke dalamnya. ๏ผฟ|๏ฟฃ|โ—‹

Jadi waktu itu ada 2 botol kecap asin di meja. Saya pengen nuangin kecap manis dan bingung kenapa kecapnya encer semua. Biasanya kan yang encer kecap asin. Trus nanya ke ibu saya, dibilangnya emang beda kali kecap manisnya. Mungkin disini kecap manisnya encer juga kayak kecap asin. Yasudahlah saya tanpa ngerasain lagi nuang kecap itu banyak banget. Dan pas nyobain, jeng jeng jeng. Asinnnn. Hahaha. Failed. Tapi untung masih edible lah ya. Makanya saya yakin kalo saya nuangin kecap manis dengan benar, rasanya pasti bakal enak banget. Apalagi ayamnya juga banyak, trus pangsitnya enak.

Kwetiaw seafoodnya enak, porsinya besar, seafoodnya banyak banget. Buktinya saya sering nyulik udang dan cumi dari piring adek saya tapi masih tetep nemu lagi nemu lagi. xD

Harga sekitar belasan ribu – 20ribuan, standarlah ya. Sesuai kok sama makanannya, porsi dan rasa memuaskan. Ayo kalo ke lampung dicobain. Kalo nggak salah ada cabangnya juga di Jl. Wolter Monginsidi.

Mie Sumbrah
Jl. Zainal Abidin Pagaralam (sebelah Pizza Hut)

Bakso Sony

Kalo mahasiswa asal Lampung ditanya hal apa yang cuma bisa dilakukan di Lampung, kemungkinan besar jawabannya adalah nyoni. Nyoni alias makan bakso sony. Di Lampung, siapa sih yang nggak kenal bakso sony. Bisa dibilang, bakso sony adalah tempat makan yang dari dulu sampe sekarang konsisten ramenya. Tempat makan di Bandar Lampung biasanya cuma heboh sebentar, terus nggak lama kemudian nggak kedengeran lagi gaungnya. Tapi itu nggak berlaku untuk Bakso Sony. Bakso Sony sekarang punya cabang dimana-mana,ย  tapi di dalam kota Bandar Lampung aja sih. Dulu katanya sempet buka cabang di Palembang, tapi udah tutup.

bakso sony, keliatan dikit tapi lumayan bikin kenyang

Sebenernya apa sih yang bikin bakso sony rame. Kayaknya selain karena brandnya yang sudah melekat di masyarakat Lampung, bakso sony memang enak. Dagingnya beneran banyak, nggak kebanyakan tepung kayak bakso bakso lain. Dan teksturnya renyah, kres gitu kalo dimakan. Dulu ada gosip kalo pake boraks biar renyah gitu, tapi mereka udah membantah. Entahlah ya, semoga aja memang beneran nggak pake.

Dulu harganya cuma 6ribu, terus sempet 8ribu, dan kayaknya sekarang udah 10ribuan deh. Isinya ada 6 bakso, ditambah bihun dan mie kuning kalo suka. Saya sih lebih suka baksonya aja ๐Ÿ˜› Selain bakso, di bakso sony ada mie ayam dan sop buah juga. Kalo lagi berkunjung ke Lampung, sempetin deh ke Bakso Sony. ๐Ÿ˜€

Beberapa cabang Bakso Sony, nggak apal sih cabang yang ke berapa aja ๐Ÿ˜›
Jl. R.A Kartini (deket RS Bumi Waras) -> pusatnya
Jl. Z.A Pagar Alam (deket Teknokrat)
Jl. Raden Intan (sebelum Gramedia)
Jl. Cut Nyak Dien (deket RM Garuda)

*biasanya di plang ditulis Bakso Son Haji – Sony (no cabang), misalnya Bakso Son Haji – Sony IX*