Backpacking Impulsif ke Jeju Island – Part III

Part I |Part II

Hari Ketiga

Hari ketiga ini saya rencananya mau eksplor bagian timur bawah dan selatan. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Gwangchigi Beach gara-gara malemnya baru tau kalo pantai ini adalah pantai yang muncul di drama Warm & Cozy.

Sayangnya pagi itu hujan lagi. Waktu saya sampai di pantai, suasananya gloomy banget. Ombaknya lagi agak gede. Pengunjungnya juga sepi banget. Jadinya saya cuma sebentar banget disana. Oh iya, lokasi Gwangchigi Beach ini nggak jauh dari Seongsan Ilchulbong. Jadi kita bisa liat Seongsan Ilchulbong dari pantai ini.

gwangchigi beach

gwangchigi beach

Agak nyesel nggak eksplor pantai ini lebih jauh. Soalnya pas liat-liat foto orang, kok bagus. Tapi waktu itu saya nggak nemu tempat-tempat itu sih. Pengennya liat ini:

#제주도#광치기해변#성산일출봉

A post shared by 지혜✌🏻 (@iam_jihye_) on

yeo yeonseok at gwangchigi beach

yeo yeonseok at gwangchigi beach

gwanchigi1

kang sora at gwangchigi beach

Udah gitu pas nunggu bis ke tempat selanjutnya ternyata bisnya lama banget. Nyesel kuadrat.

Tujuan selanjutnya adalah Seopjikoji. Untuk kesana, saya turun di Goseong-ri Gu Seongsan Nonghyeob (고성리 구 성산농협) bus stop. Dari sana saya naik taksi ke Seopjikoji. Soalnya kalo naik bis, bis yang kesana jarang dan mesti jalan sekitar 1,5 kilo lagi. Ongkos taksi 4000an KRW. Dan ternyata Seopjikoji ini cakeppp. Saya suka banget view tebing dan lautnya. Banyak haenyeo juga  di lautnya. Kerenn. Walopun bakal lebih keren lagi kalo datengnya pas musim semi, soalnya bunga rapeseed lagi pada mekar.

Nah, rumah ini katanya muncul di drama All In yang dibintangi Song Hyegyo. Tapi udah dimodifikasi gitu sekarang jadi lebih warna-warni kayak doll house. Kalo mau masuk kesini bayar, jadinya saya nggak masuk. xD Lagian nggak tau dramanya juga sih.

SAM_9391

All In house

Di dekat sini ada lighthouse. Dan belakangan saya baru tahu kalo ini muncul di Warm & Cozy pas mereka mau liat sunrise. Kyaaaaa. Gunwoo mana gunwoo.

yoo yeonseok & kang sora

yoo yeonseok & kang sora

Seongsan Ilchulbong masih keliatan juga dari Seopjikoji.

seongsan ilchulbong dari seopjikoji

seongsan ilchulbong dari seopjikoji

Saya lumayan lama di Seopjikoji. Dari Seopjikoji saya kemudian menuju ke Soesokkak Estuary. Untuk kesana saya naik taksi lagi ke bus stop sebelumnya. Saya minta tolong sama ahjumma yang jaga booth parkir buat nelpon taksi. Soalnya saya kira bakal gampang cari taksi disana, eh nggak taunya mesti manggil call taxi padahal saya nggak punya nomernya. Akhirnya ditawarin ditelponin pas saya nanya kalo mau cari taksi dimana. Makasih ahjumma <33

Soesokkak Estuary ini adalah rekomendasi temen saya. Dan yupp, ternyata emang cakep banget. Jadi Soesokkak ini adalah pertemuan sungai dan laut gitu. Disini kita bisa naik water bike, canoe, kayak, dll. Ini foto-foto Soesokkak.

Katanya ada batu yang bentuknya mirip muka jenderal, belalai gajah, dll. Kkkk.

bentuk batu

bentuk batu

Soesokkak adalah salah satu tempat favorit saya selama di Jeju. Sayangnya bagian pantainya kalah cantik, pasirnya item. Airnya juga nggak jernih.

Setelah dari Soesokkak saya lanjut menuju Jeongbang Waterfall. Lokasinya di Jeju bagian selatan. Untuk kesana, saya turun di Dongmun Rotary Bus Stop. Dari sana masih jalan sekitar 1,5 kilo. //tepar//

Untungnya di Jeongbang Waterfall ada locker gratis, jadi saya bisa naro bawaan saya dan dengan bebas menikmati pemandangan air terjunnya. Minta aja kuncinya sama petugas tiket. Nah, Jeongbang Waterfall ini adalah satu-satunya air terjun di Asia yang airnya jatuh di laut. Tingginya sekitar 23m dan lebarnya 8m. Sebenernya nggak ke laut langsung juga sih. Kayak ada cerukan di pinggir laut. Disini banyak batu-batu kali besar. Jadi hati-hati, apalagi kalau abis ujan. Licin. Di Jeju bagian selatan sebenernya ada 2 air terjun lagi, Cheonjiyeon dan Cheonjeyeon. Sayangnya nggak sempet kesana.

Dari Jeongbang Waterfall saya ke penginapan untuk malam itu di daerah Seogwi-dong. Namanya Namguk Hotel. Pas booking lewat booking.com, saya pilih female dorm dengan harga 17000 KRW per malam. Eh pas dateng ternyata saya dapet kamar untuk saya sendiri. Isinya 2 single bed tapi satunya kosong. Ada tv juga di kamarnya. Haha. Kamarnya agak keliatan tua sih, tapi nggak masalah. Setelah istirahat beberapa lama, saya pun panik buru-buru berangkat ke Teddy Bear Museum. Soalnya penjualan tiket cuma buka sampe jam 7 malem sedangkan kalo pake bis, untuk kesana butuh waktu sekitar 1 jam dan bisa nggak kekejer. Setelah lari-lari ke bus stop terdekat, ujung-ujungnya saya pun naik taksi kesana. Haha. Pokoknya hari itu saya berkali-kali naek taksi. Untungnya di naver ataupun daum map udah keliatan biaya taksi kira-kira berapa.

Teddy Bear Museum ini lokasinya di area Jungmun Resort. Disini banyak banget hotel-hotel mewah. Orang asing bukan pemandangan langka, berasa bukan lagi di Korea. Hehe. Harga tiket masuk ke Teddy Bear Museum adalah 9500 KRW.

teddy bear museum

teddy bear museum

Ruang pertama yang saya kunjungi isinya tentang sejarah gitu, tapi tokoh-tokohnya jadi teddy bear. Terus kalo kita mendekat ke kacanya, boneka-bonekanya bakal bergerak. Lucuu.

bergerak!

Di ruang kedua ada miniatur pernikahan tradisional Korea, replika lukisan-lukisan terkenal yang tokohnya berubah jadi teddy bear, teddy bear swarovski & louis vuitton, dan yang paling pengen diliat: miniatur teddy bear dari drama Goong (Palace) yang dulu ngetop banget.

Terus lagi ada pameran khusus yang temanya adalah kesehariannya Soonsim dalam SNS. Hihi, konsepnya lucu.

soonsim

soonsim

Di bagian bawah ada souvenir shopnya. Banyak banget pilihan souvenir lucu, harganya kalo nggak salah mulai belasan ribu won. Ada juga life-sized teddy bear dengan berbagai kostum. Yang bahkan di bagian pamerannya malah jarang. Ada steve jobs, marlyn monroe, PSY, michael jackson  dll disini.

Ada juga ruang pertunjukan Elvis Presley. Jadi di teaternya bakal ada teddy bear berbentuk elvis presley dkk perform lengkap dengan perlatan bandnya. Naiseuu! Selain di Jeju, ada juga Museum Teddy Bear di Seorak & Gyeongju. Info lengkap bisa liat di situsnya.

Dari Teddy Bear Museum saya pun kembali ke penginapan dengan menggunakan bis. //nggak mau rugi bandar// Tapi nunggu bisnya lamaaa banget. Haha.

Hari keempat Ini adalah hari terakhir. Hiks hiks. Sekitar jam 7 saya sudah meninggalkan hotel. Dan lagi-lagi hujan. Rencana saya hari ini adalah mengunjungi Jeju bagian barat yang nggak keburu saya eksplor di hari pertama. Jadi rute saya selama di jeju ini thawaf 1 puteran. Kkkk. Tempat yang pertama kali saya kunjungi adalah Bomnal Cafe! Kafe ini muncul di Warm & Cozy sebagai restoran 맨도롱 또똣 tempatnya Gunwoo & Jungjoo.

WarmAndCozyPoster

맨도롱 또똣

Lokasinya pas banget sebelah pantai. Gara-gara muncul di drama, kafe ini jadi makin tenar. Pas saya kesana banyak yang antre gitu. Yang jaga pun tanya ke saya butuh kursi buat berapa orang. Setelah saya jawab kalo cuma 1, dia sempet nyuruh saya nunggu. Tapi untungnya nggak lama. Yeayy. Disana saya pesen vanilla latte & cheese cake yang kalo ditotal harganya 10000 KRW. Padahal saya nggak seberapa doyan kopi dan kalo diajak ke coffee shop pun saya selalu pesen smoothie. Wkwkwkw. Oh iya, sebenernya kafe ini cuma dipake bagian luarnya aja kalo di drama. Bagian dalem restoran pake drama set. Setelah menghabiskan si cheese cake dan menyerah ngabisin kopi, saya pun foto-foto bagian belakang yang ada guesthousenya juga. Tadinya saya pengen nginep disini, sayangnya lagi nggak buka karena masih dipake syuting dan mau renovasi. Huhuhu.

Bagian belakangnya cakeppp.

Dari sana, saya lanjut ke Iho Taewoo Beach. Ternyata jalan dari bus stop ke pantainya lumayan jauh. Tujuan saya di pantai ini adalah pengen liat lighthouse berbentuk kuda poni. Demi ya demii. Hahaha. Hujan-hujanan sampe sepatu basah. Dan ternyata si lighthouse juga lumayan jauh dari entrance pantai. Ini dia lighthouse kudanya. Kkkk. Ada yang merah dan putih.

Setelah rasa penasaran terbayar saya pun kembali ke bus stop. Dan akhirnya kembali ke bandara naik taksi karena bisnya lama.

Nggak kerasa udah 4 hari aja di Jeju, tapi kayaknya masih banyak banget yang belum dikunjungi, makanan yang masih pengen dicoba dan hal yang pengen dilakuin.

Semoga ada kesempatan buat main kesini lagi. Dan semoga nggak sendirian lagi biar bisa nyewa mobil. Hahaha. Meskipun naik kendaraan umum selama di Jeju bukanlah hal yang mustahil, tapi capeknya luar biasa karena dari bus stop ke tempat tujuannya biasanya masih perlu jalan lagi. Selain itu, jarak antar bus biasanya sekitar 15-20 menit jadi banyak waktu yang kebuang buat nunggu bis. But, it was a super fun journey! Goodbye and thank you Jeju!

Backpacking Impulsif ke Jeju Island – Part II

Baca Part I disini.

Hari Kedua
Yuhuu, di hari kedua ini (niatnya) saya mau mengeksplor Jeju bagian timur. Niatnya (lagi) sih mau berangkat pagi-pagi banget. Tapi ujung-ujungnya baru berangkat jam 8 karena malemnya tidur telat abis browsing-browsing buat nentuin jalur. Saya sarapan di guesthouse. Mereka nyediain roti, selai, telor, teh, dan jus jeruk. Tinggal pilih mau yang mana. Saya suka guesthouse ini soalnya tempatnya rapi & bersih. Internetnya lancar jaya. Yang jaga juga ramah.

Pas keluar, eh ternyata hujan… Haduhh. Tadinya tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah Manjanggul Cave. Tapi ditunggu sejam lebih, bis yang menuju Manjanggul Cave kok nggak dateng juga. Akhirnya saya mengubah rencana dan langsung ke Woljeongri Beach dengan bis lain. Saya kesini berdasarkan rekomendasi temen saya yang orang Korea. Dia bilang wajib banget ke pantai ini. Kan saya jadi penasaran. Mendekati pemberhentian bis untuk ke Woljeongri Beach, saya baru sadar ternyata bis ini juga melewati pemberhentian bis untuk ke Manjanggul Cave. Jengjengjeng. Tapi melihat jam saat itu dan masih banyak tujuan lain di hari itu, saya pun tetap nggak jadi ke Manjanggul Cave. Nggak mungkin cuma sebentar sih disana, minimal 1 jam. Jadi pass dulu.

Untuk mengeksplor Jeju bagian timur ini saya mengandalkan bis #701. Tarifnya sama seperti bis #702, dan mesti ngasih tahu juga ke sopir mau turun dimana buat nentuin tarifnya. Oh iya, untuk naik bis ini bisa pake uang cash juga sih selain pake T-money. Untuk ke Woljeongri Beach, turun di Woljeongri Bus Stop. Dari sana mesti jalan lagi sekitar 700m.

Ini dia Woljeongri Beach. Sayangnya masih mendung pas sampe sana. Huhuhu.

Di sekitar Woljeongri Beach banyak kafe-kafe lucu.Salah satunya Moraebi. Mereka menyediakan kursi warna warni gitu di deket pantai. Dan akhirnya kursi ini jadi objek foto favorit pengunjung. Hahaha. Saya belagak ikutan foto pake timer. Tapi berkali-kali nyoba timingnya nggak pas juga dan akhirnya nyerah. Wkwkwk.

Selain Moraebi, ada kafe ini juga: 고래가 될 cafe.

고래가 될 카페

고래가 될 카페

Lucu ada piano di atasnya. Dan baru-baru ini saya sadar kalo kafe ini muncul di The Romantic & Idol pas iseng nonton ulang.

Puas main di Woljeongri Beach, saya menuju ke tempat selanjutnya: Haenyeo Museum. Haenyeo adalah penyelam wanita yang mencari hasil laut secara tradisional. Nah, di Jeju ini Haenyeo-nya banyak banget. Bahkan kalo ngomongin Haenyeo, yang kebayang langsung Jeju. Ada yang bilang juga kalo Haenyeo adalah Jeju Mermaid. Kalo mau liat documentary-nya, silakan nonton ini.

Tapi oh tapi, pas saya sampe Museumnya ternyata mereka lagi tutup. Hahaha. Salah saya juga sih nggak ngecek. Mereka tutup tiap tahun baru, Seollal, Chuseok, dan Senin minggu pertama dan ketiga setiap bulannya. Yah, nggak jodoh deh. Akhirnya saya cuma foto-foto di luar museum.  😦

Lanjut ke tujuan berikutnya, Udo Island! Untuk kesini, saya perlu naik kapal dari Seongsan Harbor (성산항). Kalau naik bis 701, turun di Seongsan Harbour Entrance Bus Stop (성산항입구) . Dari sana, jalan kira-kira 700m untuk sampai ke Seongsan Harbour. Begitu sampe sana saya langsung buru-buru beli tiket karena jadwal keberangkatan kapal yang paling cepet tinggal 10 menit lagi. Harga tiket pulang pergi dan tiket masuk untuk ke pulau 5500 KRW. Perlu nulis nama dan kontak kita juga di form khusus. Nanti form ini dikasih ke petugas yang ngecek tiket.

Perjalanan ke Udo memakan waktu sekitar 15-20 menit. Udo adalah pulau kecil di sekitar Jeju. Bentuknya mirip sapi yang sedang berbaring, makanya dinamakan Udo yang artinya literally cow island. Udo ini kadang disebut juga miniaturnya Jeju karena kondisi alam dan budayanya yang persis banget dengan Jeju. Kalo di Jeju ada Seongsan Ilchulbong (Seongsan Sunrise Peak), di Udo ada Udo Peak. Disini juga ada haenyeo, jalan batu, dan makam batu seperti di Jeju. Ada sekitar 700 rumah dan 1800 penduduk di Udo. Mata pencahariannya kebanyakan sebagai petani dan nelayan.

Ada 2 course untuk mengeksplor Udo. Pertama, hiking trail menuju Udo Peak (2km) : Udo Peak – Deungdae (Lighthouse) Museum – Jiducheongsa – Jeonjingwansan Mountain. Yang kedua, Beachside road mengelilingi Udo (13km). Saya pilih yang kedua.

Untuk mengelilingi Udo ada beberapa cara. Pertama, cara gampang, bisa naik shuttle bus (per 30 menit) atau tour bus (all day ticket 5000 KRW). Kedua, bisa nyewa motor, ATV, atau sepeda. Banyak banget penyewaan di sekitar Udo. Harganya juga rata-rata sama antara satu dan yang lainnya. Saya nyewa sepeda  dengan harga 10000 KRW/3 jam. Kata yang punya, dalam 3 jam itu kita bisa muterin pulau sambil moto-moto, mampir ke restoran buat makan juga cukup. *kecanduan setelah naek sepeda keliling 3 pulau*

Kalo mau nginep di Udo juga bisa. Banyak banget penginapan disini. Oh iya, jadwal kapal dari Seongsan ataupun Udo beda-beda tiap bulan. Jan/Feb/Nov/Dec 08.00-17.00, Mar/Oct 07.30-17.30, Apr/Sep 07.30/18.00 dan May/Jun/Jul/Aug 07.30-18.30. Masing-masing tiap setengah jam sekali. Tapi ada kemungkinan ada jadwal yang diilangin. Pas saya kesana kemaren, kapal jam 14.30 dan 15.30 nggak ada. Jadi pastiin dulu ke petugasnya.

one of hotel in udo

salah satu penginapan di udo

Baru jalan sedikit, saya liat ada batu yang disusun seperti piramid-piramid kecil dan patung kerang besar. Saya pun berhenti untuk foto-foto. Eh ternyata di dekat situ banyak haenyeo. Saya pun asyik memperhatikan mereka bekerja. Ini adalah pengalaman pertama melihat haenyeo secara langsung. \o/ Nggak apa-apa nggak jadi ke Haenyeo Museum xD

haenyeo in action

haenyeo in action

Belakangan, saya baru tahu kalau kerang berbentuk turban itu adalah salah satu produk khas Udo. Selain kerang, kacang dan bawang adalah produk khas udo lainnya.

Setelah itu saya pun lanjut. Seorang pangeran ahjussi berkuda menyapa saya. Oh rupanya kita juga bisa naik kuda disini. Tarifnya mulai 5000-10000 KRW tergantung jalur yang dipilih.

horse riding (승마)

Ini pantai pertama yang saya temui di Udo. Namanya Seobinbaeksa. Pasirnya putih tapi kasar karena banyak koralnya.

Setelah lanjut jalan lagi, saya nemu patung batu khas jeju (dol hareubang – 돌 하르방). Ada tulisan 소원을 말해봐 (sowon-eul malhaebwa) di badan patungnya. Artinya “tell me your wish”. Kkkk. Itu judul asli dari lagunya SNSD yang judul inggrisnya jadi Genie.

dol hareubang (돌 하르방)

dol hareubang (돌 하르방)

Ada lagi Bongsoo (literally smoke beacon), yang merupakan fasilitas komunikasi militer yang digunakan untuk menyampaikan pesan selama Dinasti Joseon. Di Udo sendiri, Bongsoo punya nama lokal yaitu Mangroo. Di dekat bongsoo, ada lighthouse kecil. Ada lagi batu yang disusun menyerupai piramida kecil. Mungkin ada kepercayaan khusus tentang batu-batu ini. Soalnya nggak cuma disini saya menemukan susunan batu seperti ini. Saat saya ke Land of Morning Calm, ada juga susunan batu seperti ini di sungai yang sedang kering. Dan pengunjung lain pun ikut menyusun piramida kecil baru atau menambah batu di susunan yang sudah ada. Entah cuma iseng atau ada maksud tertentu.

Ini pantai selanjutnya yang saya temui. IMHO, pemandangannya lebih cantik dari Seobinbaeksa. Nama pantainya Hagosu-dong Beach. Warna air lautnya cantik, pasirnya putih, dan garis pantainya panjang. Lebih rame juga pengunjungnya.

Setelah jalan lumayan jauh, akhirnya sampe juga di deket Udo Peak. Viewnya cakep banget. Ada lighthouse juga di atasnya. Saya nggak naek ke puncaknya sih. Di deket situ, ada penyewaan speed boat/jetski. Agak serem juga liatnya. Disini saya beli es krim kacang khas udo. Es krimnya rasa jeruk, trus dikasih taburan kacang gitu. Harganya 5000 KRW buat 1 cup kecil. Mahalll. Tapi lumayan enak sih. Haha.

Puas menikmati view Udo Peak, saya pun kembali ke arah pelabuhan dan mengembalikan sepeda. Tadinya mau makan dulu. Pengen nyicip abalone dan makanan khas lainnya. Tapi udah ada kapal yang dateng. Karena saya males nunggu 1 jam lagi kalo mau naik kapal selanjutnya, saya pun nggak jadi makan dan buru-buru antre kapal.

cheonjin port 우도천진항

cheonjin port 우도천진항

Sesampainya di Seongsan Harbour, saya kembali ke bus stop dan menuju tujuan selanjutnya: Seongsan Ilchulbong (Seongsan Sunrise Peak). Seongsan Ilchulbong merupakan puncak yang terbentuk dari ledakan gunung berapi bawah laut 100.000 tahun yang lalu. Kawahnya memiliki diameter 600m dan tinggi 90m. Bentuknya menyerupain mahkota raksasa. Katanya sunrise view dari kawahnya ini keren banget. Makanya banyak yang pengen liat. Jam bukanya 1 jam sebelum matahari terbit. Saya sempet pengen liat juga sih, tapi karena penginapan saya lumayan jauh dari sini dan pas saya tanya temen saya gimana cara kesana pagi-pagi buta, dia nyaranin naek call taxi akhirnya saya nyerah. Selain mahal, saya juga nggak yakin bisa bangun pagi-pagi banget. Hahaha. Oh iya, Seongsan Ilchulbong ini adalah salah satu UNESCO World Heritage dan juga World New7Wonders of Nature.

seongsan ilchulbong dari gerbang

seongsan ilchulbong dari gerbang

Harga tiket masuk ke Seongsan Ilchulbong adalah 2000 KRW. Yak, mari kita naik ke puncaknya.

naik naikk

naik naikk

Perjalanan naik ke puncak memakan waktu sekitar 40 menit.

Saya nyesel dateng kesini abis dari Udo. Tenaga saya sudah habis buat keliling Udo. Belum makan pula. Naik ke puncak jadi penuh perjuangan, kaki udah gemeteran. Wkwkwkwk. Untung saya nggak jadi kesini buat liat sunrise. Bayangin pagi-pagi buta naik tangga yang kadang terjal banget. Ini adalah view dari puncaknya, padang rumput di bagian kawah:

Bagian lainnya adalah view ke arah pantai. Saya lebih suka view ini xD

Di kompleks Seongsan Ilchulbong juga ada Haenyeo House. Disana ada performance haenyeo 2 kali sehari, jam 13.30 dan 15.00.

Oh iya, kalo ada yang tetep penasaran pengen liat sunrise dari Seongsan Ilchulbong dan nggak nyewa mobil/motor sendiri, saya saranin untuk nginep di sekitar sana. Banyak penginapan (민박) di sekitar sana. Tapi saya kurang tahu soal harga. Foto-foto sunrise dari Seongsan Ilchulbong : 1, 2.

Dari Seongsan Ilchulbong, saya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Saat jalan dari bus stop ke penginapan, saya melewati Dongmoon Market. Saya pun penasaran masuk kesana. Ternyata banyak yang jual oleh-oleh khas jeju disini. Saya akhirnya beli cokelat dan crunch khas Jeju seharga 10000 KRW/6 kotak. Lumayan murah meriah. Dan enak pula. Penjualnya ngasih sample waktu saya tanya crunch itu apa. Ternyata crunch itu snack beras yang dikasih rasa macem-macem. Ada rasa hallabong (jeruk khas jeju), kaktus jeju, green tea, blueberry, dll. Kalo di Indonesia, mirip jipang. Cuma yang di jeju bentuknya bukan panjang-panjang kayak bentuk beras asli, tapi bulet-bulet.

Setelah dari pasar, saya pun cari restoran di dekat penginapan dan akhirnya nemu yang menarik. Saya pesan 해물 뚝배기 (seafood hotpot). Harganya 8000 KRW. Dan pas banchan-nya mulai dikeluarin, saya pun cukup shock. Banyak banget dan itu merupakan banchan termewah yang pernah saya dapet. Haha. Ada telur rebus full, tahu, tumis jamur, kimchi, dan 1 lagi entah apa tapi enak rasanya mirip asinan kedondong. Selain itu porsi seafood hotpotnya pun besar banget. Isinya ada kepiting, udang, dan kerang. Enakkk. Yang punya juga ramah. Ngeliat saya yang kayaknya kecapekan dan kepanasan, dia nawarin kipas anginnya diidupin. Tentu saja dengan senang hati saya terima tawarannya. xD

Setelah kenyang, saya pun akhirnya kembali ke penginapan~

Backpacking Impulsif ke Jeju Island – Part I

Busan dan Jeju adalah 2 tujuan wisata Korea yang populer selain Seoul. Mumpung lagi di Korea, saya pengen dong paling nggak mengunjungi kedua kota itu. Dan akhirnya di suatu malam galau, saya iseng-iseng cek harga tiket promo pesawat ke Jeju dan seperti biasa dengan impulsifnya membooking tiket pp ke Jeju dengan keberangkatan…. esok harinya. Hahaha. Ya gimana ya dapet cuma seharga ~61.000 KRW termasuk pajak & fuel surcharge. Itupun sebenernya bisa lebih murah kalo bookingnya dari beberapa hari sebelumnya.

Saya hampir nggak pernah pergi jalan tanpa persiapan dari jauh-jauh hari. Tapi karena minggu depannya saya mesti pulang ke Indonesia dan baru balik ke Korea lagi bulan Agustus sedangkan promo cuma sampe bulan Juli, mau nggak mau saya harus berangkat minggu itu juga. Sebagai orang dengan tipe golongan darah A yang katanya perfeksionis dan rempongan, jadilah malam itu saya nggak tidur karena sibuk cari info tentang tempat yang bisa dikunjungi dan cari-cari penginapan lewat booking.com. Ujung-ujungnya baru bisa tidur setelah subuh dan itupun cuma kurang dari 4 jam karena belum packing sama sekali. xD

Hari Pertama
Flight saya jam 12.40 dari Gimpo Airport, Seoul. Saya berangkat ke airport naik AREX (airport line) dan sampe di bandara sekitar jam 12. Saya langsung check in dan masuk boarding room. Dan flight-nya on time *emangnya di Indonesia delay mulu*

Ini dia pesawat yang saya naiki, Jeju Air.

Jeju Air

Jeju Air

Ada Kim Soohyun, ambassador Jeju Air, di cover majalahnya.

Kim Soohyun, Jeju Air Ambassador

Kim Soohyun, Jeju Air Ambassador

Ada coverage soal Siti Sarah (restoran Indonesia di Itaewon) & rendang di dalam majalah.

Siti Sarah

Siti Sarah

Flight-nya nggak lama, satu jam aja. Jam 13.45 saya sudah sampai di Jeju. Yeayyy, petualangan dimulai!

Di bandara saya dapet hand sanitizer yang dibagikan gratis karena kasus MERS yang lagi merebak di Korea. Saya sih awalnya sempat agak parno soal MERS ini karena di subway banyak yang pake masker, trus katanya penyebarannya cepat dan sudah ada korban meninggal. Tapi setelah tau kalau penyebarannya lebih banyak di rumah sakit dan kebanyakan korban meninggal sudah tua dan memang punya penyakit lain yang bikin daya tahan tubuhnya lemah, sayapun jadi lebih santai. Jaga kebersihan, rajin cuci tangan aja, dan pake masker kalo perlu.

Karena belum makan dari pagi, saya pun menuju lantai 4 bandara. Disana ada beberapa restoran dan foodcourt. Saya pun pergi ke foodcourt dan memesan hoedeopbab (회덮밥) alias nasi campur ikan mentah. Agak-agak serem ya kedengerannya. Saya pun baru pertama kali makan ini.

Ini dia tampilannya sebelum diaduk: nasi + irisan selada + timun + kecambah + irisan ikan mentah + gochujang + gim.

Hoedeopbab

Hoedeopbab

Porsinya standar restoran sini alias porsi super besar. Sempat khawatir kalo ikannya bakal amis, untungnya nggak. Yeayy. Saya sih doyan-doyan aja. Enak kok. Mangkok saya bersih tuntas. *pemakan segala*

Setelah kenyang, sayapun meluncur ke tempat nunggu bis. Tujuan pertama saya adalah Sinchang Windmill Coastal Road yang ada di Jeju bagian barat. Yup, hari pertama ini saya bakal mengeksplor West Jeju. Untungnya karena lagi musim panas, matahari baru terbenam jam 8 malam. Jadi walaupun saya mulai jalan agak sore, masih ada waktu sekitar 5 jam sebelum gelap. Dari bandara ke Sinchang, memakan waktu sekitar 2,5 jam. Termasuk drama salah bis akibat buru-buru naik bis takut kelamaan nunggu bis selanjutnya. Wkwkwk. Selama mengeksplor bagian barat Jeju ini saya mengandalkan bis nomor 702. Kalau naik bis ini, pastikan sudah tau mau turun dimana karena kita perlu ngasih tau ke supir supaya dia bisa menentukan tarif yang perlu kita bayar. Tarif mulai 1300 KRW untuk jarak  < 20km sampai 3300 KRW untuk jarak > 40km.

Ini dia Sinchang Windmill Farm. Wind turbine sih harusnya, bukan windmill.

Sinchang Windmill Farm

Sinchang Windmill Farm

Sebenernya tempat ini bukanlah tempat wisata populer. Dan yang kesini pun biasanya bawa mobil karena tempat ini adalah salah satu recommended driving course. Saya kesini gara-gara jadi korban drama. LOL. Tempat ini, lebih tepatnya lighthouse-nya, muncul di drama yang saya lagi gandrungi, Warm & Cozy (맨도롱 또똣). Drama ini lokasi syutingnya di Jeju dan itinerary perjalanan saya kali ini kurang lebihnya bakal mengunjungi lokasi-lokasi itu. Hahaha.

Lighthouse yang muncul di drama

Warm & Cozy

Warm & Cozy

Di sini terdapat Wondam, susunan batu yang digunakan masyarakat setempat untuk menangkap ikan secara tradisional.

Wondam

Wondam

Ada juga jembatan panjang di atas laut dan patung ikan yang bisa nyala kalau malem. Saya sempat naik jembatannya, dan agak-agak horor karena anginnya kenceng banget. Haha.

Sinchang Windmill Coastal Road
Bus stop terdekat: 구 한경의원 앞

Di dekat windmill farm, terdapat pemandian yang disebut Shingaemul. Ada 2 pemandian, masing-masing untuk pria dan wanita yang dibatasi dengan pagar batu khas Jeju. Airnya berasal dari laut, tapi saat saya coba pegang walaupun ada bau asin ternyata airnya nggak amis dan lengket.

Setelah puas keliling-keliling disana, saya pun melanjutkan ke tujuan berikutnya: Wolryeong-ri Cactus Village (월령리 선인장마을). Saya emang doyan kaktus, bahkan dulu sempet pelihara di kosan. Jadi pas saya lihat ada tempat ini di peta wisata yang saya donlot di official website-nya Jeju, saya pun mewajibkan diri untuk ke tempat ini. Bus stop terdekat adalah Wolryeong-ri (월령리). Dari jalan pun sudah mulai keliatan banyak kaktus yang tumbuh di daerah ini.

Wolryeongri Cactus Village

Wolryeongri Cactus Village

Tapi jalan sedikit lagi, dan jengjengjeng ketemulah tempat ini.

Pantai + batu + kaktus yang tumbuh di sekitaran batu + jembatan kayu + matahari yang mulai terbenam. Cakep!

Saya baru tau kalau ternyata kaktus bisa tumbuh di sela-sela batu kayak gitu. Makin terpesonalah saya sama si kaktus. Ada kaktus yang lagi berbuah juga karena lagi musim panas.

buah kaktus

buah kaktus

Kaktus yang tumbuh disini bisa dimanfaatkan sebagai obat anti inflamasi. Penduduk sini juga menanam kaktus di sekitar rumah mereka untuk menghalangi masuknya tikus & ular.

kaktus di rumah penduduk

kaktus di rumah penduduk

Pengennya sih lama-lama ya disini, tapi masih ada tempat lain yang harus saya kunjungi jadi mau nggak mau lanjut jalan lagi deh.

Tujuan selanjutnya adalah Geumneung Euddeum Beach (금능으뜸해변). Nama bus stop-nya sama. Udah lama banget saya nggak ke pantai yang berpasir putih, jadinya seneng banget pas sampe disini. Tapi emang kalo dibandingin dengan pantai di Indonesia, tetep lebih bagus pantai kita sih. xD Karena udah malem, pantainya sepi.

Saya jalan menyusuri pantai ini sampai ketemu lagi pantai lainnya: Hyeopjae Beach (협재해변). Hyeopjae ternyata lebih rame daripada Geumneung Euddeum. Ada anak-anak kecil yang asik berenang. Ada yang lagi pre-wedding. Ada juga yang cuma duduk-duduk pacaran. Pemandangan di Geumneung Euddem lebih oke dari Hyeopjae sih menurut saya. Cuma Hyeopjae lebih ramah pengunjung, fasilitasnya lebih lengkap. Ada penyewaan ban, area main pasir buat anak-anak, dan restoran juga. Ini hampir jam 8 malem.

Dari Hyeopjae Beach, saya kembali naik bis menuju penginapan. Penginapan saya sekitar 15 menit dari bandara, jadi balik lagi ke daerah utara. Sampe di halte terdekat sekitar jam 10 malem. Apesnya batre hape saya habis setelah itu. Padahal selama perjalanan saya selalu mengandalkan aplikasi peta di hp. Akhirnya saya pun minta tolong sama orang yang saya temui di halte bis dan akhirnya ditunjukin jalannya. Untung memang nggak terlalu jauh dari sana. Saya nginep di Yellow Guesthouse. Untuk tipe kamar female dorm 6 orang, harganya 16.000 KRW per malam. Saya nginep 2 malam disana. Malam itu di kamar cuma ada 1 orang lagi selain saya. Dan dia sudah tidur pas saya datang dan besoknya pergi pagi-pagi banget. Ada kejadian lucu pas check in. Begitu saya bayar pake kartu bank Korea, yang jaga langsung tanya “Do you live in Korea?” dan begitu saya jawab iya dia langsung bilang 영어 잘못해요 (saya nggak lancar bahasa inggris). Dan saya pun bilang 한국말 잘못해요 (saya juga nggak lancar ngomong korea) wkwkwk. Dan akhirnya dia terpaksa jelasin soal sarapan, laundry, dll pake bahasa inggris. Lancar kok menurut saya. Cuma abis ngejelasin itu dia kayak kecapekan dan senyum lega. Hahaha. Saya jadi kasian. Padahal kayaknya kalo dia jelasin pake bahasa Korea, 70-80% saya masih bisa paham sih. *kayaknya lho* xD

Cerita hari selanjutnya di post berikutnya ya 😉