Danau Ranau (+ Pesisir Barat Lampung)

Danau Ranau. Ada yang tahu itu dimana? Sumatera Selatan? Lampung? Yak, yang jawab Sumatera Selatan atau Lampung, dua-duanya benar! Danau Ranau terletak di perbatasan provinsi Sumatera Selatan dan Lampung. Danau Ranau merupakan danau terluas kedua di Sumatera setelah Danau Toba.

peta lokasi danau ranau

peta lokasi danau ranau

Pada libur lebaran yang lalu, saya dan keluarga besar impulsif pergi ke Danau Ranau. Kurang lebih 4 mobil ikut dalam rombongan. Karena banyak anak-anak dan ibu-ibu yang ikut, perjalanan pun dilakukan dengan santai. Alon-alon asal kelakon istilah kerennya. Hari ketiga lebaran, pagi-pagi sekali kami berangkat ke Liwa melalui jalur pesisir barat Lampung. Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Pantai Melasti dan Pantai Tanjung Setia.

Melasti merupakan nama upacara agama Hindu di Bali. Loh, kok bisa-bisanya ada pantai yang namanya Melasti di Lampung? Ternyata oh ternyata, itu karena banyak orang Bali yang tinggal di dekat pantai ini. Bahkan, pantai ini dijadikan pusat pelaksanaan Melasti yang dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi bagi masyarakat Hindu di Lampung Barat. Di pantai ini juga terdapat pura yang bernama Tirta Bhuana. Pemandangan babi-bagi gemuk bukanlah hal yang langka karena masyarakat disana beternak babi. Berbeda dengan pantai di area teluk lampung yang ombaknya relatif tenang, ombak di pantai melasti ini lumayan besar. Garis pantainya juga panjang. Maklum, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Pantai Tanjung Setia merupakan pantai yang terkenal sebagai area surfing. Bahkan katanya banyak bule-bule yang sengaja datang kesini. Ekspektasi saya terhadap pantai ini sangatlah tinggi. Tapi, ketika kesana yang saya temui adalah pantai surut berombak kecil yang ramai dengan penduduk lokal. Maklum, libur lebaran. Pantai dianggap tempat liburan yang murah meriah. Tapi karena saking ramainya, pantai jadi kotor karena sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Saya pun bertanya kepada salah satu pedagang disitu, dimana pantai yang banyak bule surfing-nya. Dan ternyata kami perlu masuk lebih jauh lagi kalau mau liat area surfing. Bukan pantai yang kami datangi itu. Padahal pantai itu adalah pantai yang paling dekat dengan gerbang Pantai Tanjung Setia. Sayang, karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat mampir kesana. Tapi kelapa muda super segar dan murah meriah cukup untuk mengobati kekecewaan kami saat itu.

pantai tanjung setia (?)

pantai tanjung setia (?)

Untuk ke Liwa, kami perlu memasuki jalan di tengah hutan. Cukup menegangkan melewati jalan yang naik turun ini. Tapi di beberapa titik kami terhibur dengan pemandangan sungai ataupun air terjun mini di samping jalan. Karena jalan santai plus mampir-mampir, kami baru sampai di Liwa waktu maghrib. Kami menginap di rumah saudara dan baru keesokan harinya berangkat ke Danau Ranau. Suhu di Liwa lumayan dingin karena letaknya yang di dataran tinggi. Karena gempa besar yang mengguncang Liwa pada tahun 1994, rumah saudara kami pernah rusak parah dan sekarang dibangun kembali dengan material kayu yang lebih tahan gempa.

Perjalanan dari Liwa ke Danau Ranau memakan waktu sekitar 1,5 jam. Tetap dengan jalan yang naik turun dan kadang rusak parah. Ekspektasi kami memuncak saat Danau Ranau mulai terlihat. Ada beberapa tempat untuk menikmati Danau Ranau. Salah satunya adalah Seminung Lumbok Resort yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Saat itu kami pergi kesana. Dan ternyata, fasilitas untuk menikmati danau tidak sesuai harapan. Untuk menuju ke pinggir danau, kami perlu berjalan turun di jalan tanah yang curam. Dan begitu sampai di bawah, area pengunjungnya tidak luas. Untungnya ada warung tenda yang menjual kopi dan gorengan. Setidaknya ada yang bisa kami lakukan untuk menghabiskan waktu. Saat kami disana, ada kapal yang menepi di dermaga. Kapal ini berasal dari Banding Agung. Sayang, karena lebaran kapal ini cuma dipakai untuk keluarga mereka saja dan tidak mengangkut penumpang. Padahal katanya fasilitas di Banding Agung lebih baik daripada di Seminung Lumbok Resort.

Sebenarnya, Danau Ranau ini cantik sekali. Airnya jernih, masih alami. Gunung Seminung berdiri kokoh di belakangnya. Tapi, kalau mau berkunjung bersama keluarga apalagi yang banyak anak kecilnya memang lebih baik masuk melalui Banding Agung atau Pusri yang katanya fasilitasnya lebih oke. Kalau mau traveling gaya adventure, kayaknya oke juga kalau nginap di rumah penduduk dan melihat-lihat kegiatan penduduk disini.

Dalam perjalanan kembali ke Bandar Lampung, kami melewati keramaian perayaan Sekura. Banyak pemuda bertopeng sarung. Sepertinya tiap RT merayakan festival ini, selang beberapa rumah selalu terlihat panggung atau pinang dengan hadiah di atasnya yang siap dipanjat. Ramai sekali. Baru kali ini saya melihat perayaan Sekura. 😀

Advertisements

Pulau Kelagian

Salah satu hal yang saya banggakan dari Lampung itu, pantainya masih bagus. :3 Bulan lalu saya memanfaatkan long weekend untuk pulang ke Lampung. Karena kebetulan keluarga besar berkumpul, kami pun berlibur ke pantai. Kali ini kami ke Pulau Kelagian. Lokasinya di seberang Pantai Klara, sekitar daerah Hanura, tidak sampai 1 jam dari pusat kota Bandar Lampung. Kalau mau ke Teluk Kiluan, pasti lewat daerah ini.

Meskipun sudah beberapa kali ke Pantai Klara, baru kali itu saya menyeberang ke Pulau Kelagian. Airnya jernih dan bersih. Pasir pantainya putih dan lembut sekali. Pulaunya pun sepi. Saat kami baru datang, hanya kami pangunjungnya. Sayang, area berenangnya tidak terlalu luas karena berbatasan dengan palung. Tapi justru perbedaan kedalaman itu yang membuat gradasi warna air lautnya tampak sehingga pemandangannya bagus. Yang suka foto-foto pasti senang. 😛

Ini beberapa foto di Pulau Kelagian, ayo sekali-kali main kesana ^^

Pantai Klara, sebelum menyeberang

di kapal

pulau kelagian

airnya jernihhh

foto narsis adik saya -.-

BagaNite

Bulan November lalu, saya dan keluarga mencoba cara liburan yang lain dari yang lain. 😛 Kami menginap di bagan selama semalam. Entah apa deskripsi yang paling cocok untuk bagan, tapi sepertinya bisa diartikan sebagai kapal penangkap ikan yang menggunakan jaring. Bagan ini milik salah satu saudara kami.

Kami berangkat sabtu sore, tanggal 17 November. Karena bagan ditinggal di tengah laut, kami naik perahu kecil dulu untuk mencapai bagan itu. Selain saya dan keluarga, pemilik bagan dan istri, ada sekitar 5 orang nelayan yang naik ke bagan. Setelah semuanya naik, bagan pun mulai dijalankan. Karena banyak perempuan yang ikut pada sat itu, maka bagan tidak dibawa terlalu jauh ke tengah laut. Padahal biasanya mereka bisa melaut sangat jauh ke tengah dan baru pulang beberapa hari kemudian.

Kira-kira setelah maghrib, jaring-jaring bagan mulai diturunkan. Lampu bagan dinyalakan untuk menarik perhatian ikan. Sambil menunggu ikan terkumpul, kami coba-coba memancing. Kebanyakan hasil pancingan yang didapatkan adalah cumi-cumi. Dan baru kali itu saya melihat cumi-cumi yang masih transparan. Biasanya kan kalau sudah di pasar, warnanya sudah menjadi putih keunguan. Cumi-cumi yang berhasil ditangkap kemudian langsung dimasak untuk makan malam saat itu. Ya, di bagan juga ada dapur. 😀 Selain ada dapur, ternyata ada tv juga. Adik saya serius nonton tv setelah capek main pancing-pancingan. Hahaha.

Kurang lebih 3-4 jam setelah jaring diturunkan, ikan sudah mulai terkumpul. Jaring ditarik naik dan lampu bagan dimatikan. Saya kaget melihat banyaknya ikan yang berhasil ditangkap. Banyaaak sekali. Tidak lama, kapal sudah penuh dengan ikan-ikan. Sebagian besar ikan yang berhasil ditangkap itu akan dijadikan ikan asin. Dan ternyata, pembeli ikanlah yang mendatangi kapal. Semua ikan yang berhasil diperoleh dibeli sampai habis. Setelah itu, jaring diturunkan lagi untuk batch selanjutnya. Sayang, batch kedua hasilnya tidak sebanyak yang pertama. Memang untung-untungan bisa dapat ikan yang banyak atau tidak. Bahkan bisa saja walau sudah pergi semalaman tapi tidak mendapatkan ikan sama sekali.

Menjelang tengah malam, saya sudah tidak sanggup mengamati proses penangkapan ikan. Saya mulai mabuk laut karena angin laut cukup kencang dan saat itu juga hujan. Saya salut kepada para nelayan seperti mereka yang bisa semalam suntuk bekerja dengan kondisi seperti itu. Malam itu, mereka melakukan penangkapan ikan sebanyak 3 batch, total ikan yang diperoleh sekitar 6 ton. Luar biasa banyaknya. Tapi setelah dikurangi biaya operasional dan bagian untuk pemilik bagan, uang yang bisa dibawa pulang oleh masing-masing nelayan tidak sampai 100ribu atau bahkan 50ribu. 😦

Secara garis besar, apa saja yang saya lakukan di bagan bisa dilihat di video berikut ini:

Pulang dari sana, saya masuk angin. Hahaha. Tapi selain itu, kami dibawakan ikan dan cumi-cumi yang sangat banyak yang akhirnya dibagi-bagi ke saudara dan tetangga. What a great experience 😀

Teluk Kiluan: Superb!

Nah, kalo yang ini ceritanya masih baru banget. Baru 2 minggu yang lalu. Jadi, seharusnya saya masuk kuliah setelah libur lebaran adalah tanggal 20 September. Tapi, karena saya terlambat beli tiket balik ke Bandung, akhirnya dapet yang malam selasa alias bolos sehari. Nah, kebetulan saat itu saya ngeliat di fb bahwa Ayoo Travelling yang mau ke Teluk Kiluan tanggal 18-19 September masih ada jatah untuk satu orang lagi. Langsunglah saya pengen ikut, hahaha.. Saya langsung tanya, apa saya bisa ikut langsung dari Bandar Lampung (kebetulan mereka dari Jakarta). Dan ternyata bisa! 😀

Masalah lain adalah, saya harus izin dulu ke orang tua. Aduh susah ya.. Masa’ perlu bilang kalo nggak diizinin, besok-besok kalo mau pergi nggak usah izin sekalian. *dasar anak bandel* Dan ujung-ujungnya diizinin sih. Saya yakin kok, jalan-jalan ini bakalan safe. Apalagi ternyata di rombongan itu banyak ceweknya. Orang tua saya khawatir karena di rombongan nggak ada yang dikenal. -.-” Oke, akhirnya saya fix ikut. DP udah ditransfer. *muhaha, untuk hal-hal kayak ginilah saya cari kerja part time. biar pas pengen pergi, nggak perlu ngebujuk ortu buat minta uang. fufufu*

Hari Sabtu pagi, jam 6 saya kumpul dengan rombongan AT. Ketemuan di deket kantor walikota. Abis itu langsung berangkat menuju Teluk Kiluan. Btw, buat yang belum tau, Teluk Kiluan itu ada di Provinsi Lampung dan terkenal dengan lumba-lumba hidung botolnya. Sempet berhenti sebentar di Way Ratai buat sarapan. Sampe di Teluk Kiluan sekitar jam 11. Jalannya nggak begitu bagus, terutama pas udah deket. Naik turun, pinggirnya jurang, tikungan, jalan berbatu dan jeglok sana sini, berasa off road gitu deh. Apalagi ada jembatan yang rusak, jadinya ngelewatin jalur sungai yang kering gitu. -.-“

Tapi, pas udah sampe.. Huaaa, perjalanan tadi terlupakan deh. Pantainya sepi, tenang, masih alami deh. Yang ngurus emang warga-warga situ. Nah, anggota rombongan yang cewek ditempatin di pondokan bambu di pinggir pantai. Dan disitu ada dermaganya. Huaa, asikk.. Yang suka foto-foto pasti seneng deh. 😀 Kami pun istirahat dan kemudian sholat. Abis sholat, makan siang pun disajikan. Hidangannya? Ikan pastinya. Ikan yang masih segar karena baru ditangkap. Hmmm, mantap.. Entah kenapa makanan yang sederhana, tapi pas makan disitu nikmatnya jadi berlipat ganda. Hahaha lebay 😛

eits, bukan ini ikan yang dimasak 😛

Sorenya, kami pun naik jukung untuk snorkelling. Satu jukung isinya 5 orang. Nah, karena nggak ada yang nyewain alat snorkelling sebaiknya kalo mau kesini bawa alat sendiri deh. Tapi kalo life jacket sih ada yang nyewain. Kalo nggak bisa ngusahain alat snorkel, coba aja pake kaca mata renang biasa dan jangan lupa sandal travelling (sandal yang ada talinya, biar nggak copot dan kaki nggak terluka kena terumbu karang). Kerennn.. Sayangnya saya nggak jago snorkelan, jadinya cuma ngeliat ke bawah sebentar, terus gelantungan di jukung aja. Huhuhu, sayang banget.. Tapi, emang keren deh.. Apalagi buat saya yang sebelumnya belum pernah snorkelling. (blush) Oiya, airnya jernih banget, dari atas pun sebenernya udah lumayan keliatan terumbu karangnya. Tapi sayangnya, ada beberapa spot yang kotor karena sampah. Grrr.. Setelah beberapa lama snorkelling, kami pun menepi dan main-main di pantai pasir putihnya. Karena udah sore, ombaknya lagi pasang dan itu lumayan besar. Jadinya pada maen ombak deh. Hehehe..

Pulang dari snorkelling, kami bilasan di kamar mandi umum. Dan malamnya makan malam donggg. Kali ini makan ikan bakar dengan bumbu seruit, khas Lampung. Yang pasti enakk, apalagi abis kecapekan snorkelling. 😛 Dan setelah itu kembali ke pondokan karena paginya bakal ngejar lumba-lumba di samudra hindia. 😀


Paginya, sekitar jam setengah 6 kami sudah siap. Tapi baru naik jukungnya sekitar jam 6. Padahal, katanya sih waktu yang cocok untuk berangkat adalah jam 5 pagi. Tapi yasudahlah, yang penting nanti ketemu lumba-lumba. Hahaha.. Kali ini, penumpang jukung cuma 2 sampai 3 orang karena jukung bakal dibawa ke Samudera Hindia dan ngejer lumba-lumba. Jadi, kalo penumpang kebanyakan ntar pengemudinya kesusahan. Deg-degan banget pas jukung mulai masuk ke Samudera Hindia. Bayangin aja perahu sekecil itu di tengah Samudera yang entah dimana ujungnya. Huaa, ngeri dehh.. Tapi pas udah agak lama dan kelihatan jukung-jukung lain yang sama-sama lagi ngejer lumba-lumba, deg-degannya lumayan berkurang. Apalai pas ngeliat lumab-lumba pertama lewat. Huaa, girangnya bukan main.. Mas pengemudi jukung dengan lincah mengarahkan jukung ke dekat lumba-lumba supaya kami bisa melihat lumba-lumba lebih dekat. Berkali-kali begitu. Kadang-kadang si mas pengemudi jukung mengeluarkan bunyi mirip peluit untuk memancing lumba-lumba supaya mendekat. Huaa, bener-bener seru deh..

huaaa, lumba-lumba

Setelah beberapa jam, lumba-lumba pun mulai jarang. Kami kembali menuju teluk kiluan. Nah, jalur pulang agak berbeda dengan jalur berangkat. Kami diajak memutari Cengkalit. Sejenis batu candi gitu mungkin ya. Kerennn.. Dan disitu ada batu yang bentuknya mirip kepala orang. Kemudian, kami berhenti dulu di Pulau Kelapa. Pulaunya kecil. Dan kami keliling pulau itu. Oiya, ada biaya masuk pulau 5 ribu aja. Sayangnya nggak terlalu terurus sekarang, padahal dulu katanya bagus.

Nih foto-foto pantai di pulau kelapa. Cantik banget kan? Padahal itu cuma diambil pake hp gara-gara batre digicam habis. 😀

Setelah itu, kami kembali ke penginapan dan sarapan. Kali ini bukan ikan, mungkin karena si ibu yang masak takut kami bosen. 😛 Setelah beres-beres dan pamitan, rombongan pun pulang. Saya turun di teluk betung, sementara yang lain makan dan kembali ke Jakarta.

Photo credit : Duto Seto

Huaaa, super nice trip 😀

Jalan-jalan begini bikin saya tambah pengen pergi ke tempat lain seperti Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Sawarna, Ujung Kulon, Bromo, Bali, Lombok, Bangka Belitung, Raja Ampat. Huaaa, tambah banyak aja yang dipengenin. Mudah-mudahan bisa pergi kesana. Aminnn