Menyusuri Pantai di Gunungkidul

Ini merupakan salah satu agenda dari rangkaian liburan akhir tahun di Jogja. Yang ikut adalah saya, ananti, gisca, adik saya: tika dan lia, serta alvin yang baru sampai pagi harinya di jogja. Kami pergi ke Gunungkidul menggunakan mobil ananti. Karena jaraknya cukup jauh, kami menggunakan jasa sopir. Perjalanan ke gunungkidul kalau tidak salah memakan waktu sekitar 2 jam.

Untuk masuk ke pantai-pantai yang ada, cukup bayar sekali saja. Seingat saya bayarnya 4ribu per orang. Pantai yang pertama kali kami kunjungi adalah Pok Tunggal. Lokasinya cukup jauh dibandingkan pantai yang lain. Beberapa kali kami bertanya ke orang, selalu dijawab ‘setunggal kilo malih’ yang artinya ‘1 km lagi’. Disini jauh dekat disebut 1 km mungkin ya. πŸ˜› Dari jalan raya menuju pok tunggal, kami perlu melewati jalan tanah naik turun yang hanya cukup untuk satu mobil dan lumayan jauh. Mungkin sekitar 1 km juga. Melihat kondisi jalan yang begini, saya sarankan jangan ke tempat ini setelah hujan. Jalannya pasti licin banget. Tapi perjalanan yang bikin deg-degan itu pun terbayar setelah sampai di pantainya. Pantai Pok Tunggal ini relatif baru dan mungkin karena cukup jauh juga, makanya saat kami kesana pantai ini sangat sepi pengunjung.Β  Di pinggir pantai ada hamparan pasir yang luas. Disana, banyak payung-payung pantai yang disewakan ke pengunjung. Airnya jernih. Tapi karena banyak karang dan ombaknya besar, tidak bisa berenang disini. Di pantai ini juga ada bukit yang bisa kita naiki. Karena malas capek, kami nggak naik kesana. Haha.

Puas main-main di pok tunggal, kami pindah ke pantai selanjutnya: Pantai Sundak. Pantainya mirip pok tunggal: air jernih, banyak karang, ombak besar, dan diapit tebing. Tapi Pantai Sundak jauh lebih ramai. Meskipun ada papan larangan tidak boleh berenang, tapi nyatanya banyak juga yang nyemplung ke air. Karena cuacanya sangat panas, kami cuma lihat-lihat dari pinggir.

Dari sundak, kami lompat ke Pantai Krakal. Disini tidak seramai di Sundak tapi bisa dibilang cukup ramai. Matahari super menyengat, jadi kami cuma melihat-lihat dari pinggir juga. Banyak yang main-main di pinggir pantai. Banyak yang main layangan juga disini.

Setelah itu, kami lanjut ke Pantai Drini. Nggak terlalu berharap banyak karena pantai-pantai sebelumnya bisa dibilang mirip. Tapi saya justru jatuh cinta sama Pantai Drini. Di Pantai Drini ada kios ikan yang menjual ikan dan hasil laut lain yang masih segar atau sudah diolah. Disini juga banyak perahu nelayan yang sedang diparkir. Pantai Drini juga jernih. Berbeda dengan pantai sebelumnya yang banyak karang disini tidak tampak batu karang di pinggir pantai. Selain itu, ombak yang sampai ke pinggir pantai juga tidak terlalu besar. Tampaknya cukup aman untuk bermain-main. Dibuktikan dengan adanya anak-anak yang berenang di pinggir pantai. Saya jadi tergoda untuk main air juga, sayangnya memang sengaja nggak bawa baju ganti. Jadi nggak bisa main-main air deh. πŸ˜›

Dari Pantai Drini, kami pindah ke Pantai Sepanjang. Sesuai dengan namanya, pantai ini panjangggg sekali. Di pinggir jalan, berderet pondok-pondok yang menjual makanan ataupun yang disewakan. Banyak karang di pinggir pantai, airnya dangkal, dan meskipun di kejauhan ombaknya besar tapi sampai ke pinggir pantai ombaknya sudah mengecil. Ngeliatin ombak disini lumayan bikin rileks. πŸ˜€

Pantai terakhir: Pantai Kukup. Pantainya ramai, banyak kios-kios juga. Karena saat itu pantai mulai pasang, kami malas jalan mendekati pantai. Di Pantai Kukup, kami menikmati kelapa muda. Enak banget di cuaca panas seperti saat itu. Setelah itu kami mampir di kios yang menjual olahan hasil laut. Ada udang goreng, cumi goreng, rempeyek udang, dan yang pasti ada keripik rumput laut. Proses penggorengannya juga langsung di kios itu, jadi bisa kita lihat dan kita bisa memilih yang baru selesai digoreng. Makanan tersebut dijual dengan harga kiloan. Harganya standarlah. Saya beli udang, rempeyek, dan rumput lautnya. Setelah itu kami makan siang disana. Makannya pun hasil laut juga. Setelah makan, kami pun pulang. Capek dan kenyang sukses membuat kami tidur saat perjalanan pulang. xD

Advertisements

Dataran Tinggi Dieng: Sehari di Negeri Kahyangan

Dataran Tinggi Dieng sudah lama ada di daftar wish list traveling saya. Dan akhirnya saya bisa mengunjungi tempat ini saat liburan akhir tahun lalu. Dari agenda 5 hari liburan, 1 hari dialokasikan khusus untuk Dieng. Hal ini berdasarkan pertimbangan perjalanan Jogja-Dieng yang lumayan memakan waktu dan banyaknya situs wisata yang bisa dikunjungi di Dieng. Sebelum berangkat ke Jogja, kami sudah membooking mobil yang akan kami gunakan. Situs yogyes.com sangat membantu kami dalam mencari rental mobil dengan harga dan kapasitas sesuai yang diinginkan. Kami menyewa mobil Avanza berkapasitas 7 orang dengan harga 600ribu/12 jam. Harga normalnya 550ribu tapi karena libur natal jadi nambah 50ribu. Itu sudah termasuk sopir dan bensin. Untuk overtime, dikenakan biaya tambahan 10% per jam. Belum termasuk tips ke supir, kalau mau ngasih. πŸ˜› Itinerary untuk di Dieng saya comot dari agen wisata yang menawarkan paket ke Dataran Tinggi Dieng.

Kami berangkat dari Jogja sekitar jam 6.30. Yang berangkat adalah saya, ananti, mamanya ananti, jikung, dan 2 adik saya. Perjalanan ke Dieng memakan waktu sekitar 4 jam melalui jalan alternatif yang jalannya tidak semuanya mulus. Lebih baik siapkan receh untuk mas-mas yang membantu mengatur mobil di jalan rusak/tikungan. Selama perjalanan, pak Sopir sempat bercerita mengenai mistisnya Gunung Sindoro dan salah satu resort termahal di dunia di dekat Borobudur yaitu Amanjiwo Resort. Kebetulan, sehari sebelumnya saya membaca artikel mengenai Amangiri Resort di Grand Canyon, Amerika, yang dimiliki oleh orang Indonesia. Nah, kedua resort ini dimiliki orang yang sama. Karena perjalanan masih panjang, pak sopir pun menyuruh kami tidur saja dan nanti akan dibangunkan kalau sudah dekat. Katanya pemandangan saat naik sayang dilewatkan. Ibaratnya, kalau makan sate enaknya pas di mulut bukan pas sudah sampai di perut. πŸ˜€

Saat memasuki kawasan Dieng, kami dimintai retribusi sebesar 2ribu per orang. Tapi, dasar Indonesia, meskipun kami ada 6 orang mereka meminta 10ribu saja dan kemudian hanya memberi beberapa tiket. Tapi setelah dilihat tiketnya, tiket ini ternyata bukan tiket masuk tapi sejenis sumbangan. Tidak semua yang lewat diminta untuk membayar, hanya yang kebagian apes kendaraannya diberhentikan. Zzzz.

Benar kata pak sopir sebelumnya, pemandangan saat naik sangat sayang untuk dilewatkan. Dari kejauhan tampak lahan pegunungan yang digunakan sebagai tempat bercocok tanam. Kebanyakan tanamannya adalah kentang, kubis, dan daun bawang. Lahan pertanian ini bentuknya bertingkat-tingkat. Jika diperhatikan dari dekat, tampak jelas batu-batu yang disusun rapi untuk membuat tingkat-tingkat itu. Di sepanjang jalan juga sering terlihat bunga terompet. Bunga jenis ini juga saya lihat saat di Bromo. Sepertinya tanaman dengan bunga terompet ini memang jenis tanaman yang cocok tumbuh di pegunungan. Karena perjalanan yang menanjak, pak sopir sempat mematikan AC agar mobil kuat naik. Sebagai ganti AC, jendela mobil dibuka dan mulai terasa segar dan dinginnya angin pegunungan.

Gardu Pandang Tieng

Pemandangan dari Gardu Pandang Tieng

Saat mendekati Gardu Pandang Tieng, kami ditanya apa ingin mampir kesana. Di itinerary, sebenarnya ini masuk di agenda terakhir tapi karena langitnya cerah dan belum tentu sore hari juga cerah maka kami pun mampir ke Gardu Pandang Tieng. Dari sini dapat dilihat pemandangan gunung dengan gumpalan awan putih yang cantik. Nggak salah kalau sering disebut sebagai Negeri Di Atas Awan. Di sini, terasa sekali dinginnya cuaca pegunungan.

Tidak lama di Gardu Pandang Tieng, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama, sampailah kami di gerbang pembelian tiket masuk. Kalau tidak salah, harga tiket terusan adalah 18ribu. Tiket ini berlaku untuk Dieng Plateau Theater, Kawah Sikidang, Museum Kailasa, Candi Arjuna dan tidak termasuk tiket tambahan 4ribu untuk di kompleks Telaga Warna. Setelah membeli tiket, beberapa orang menawarkan masker karena katanya bau belerang kawah lumayan menyengat. Kami pun membeli beberapa masker.

Telaga Warna

Goa Pengantin

Goa Sumur

Goa Semar

Lokasi yang pertama kami kunjungi adalah kompleks Telaga Warna. Sebelumnya kami membeli tiket dari booth tiket yang ada di depannya terlebih dahulu. Hanya beberapa puluh meter dari gerbang, Telaga Warna sudah terlihat. Sayangnya saat itu warna hijau dari Telaga Warna ini tidak terlalu nampak. Setelah dari Telaga Warna, kami pun mengikuti petunjuk arah menuju goa-goa dan Telaga Pengilon. Goa yang pertama ditemui adalah Goa Pengantin. Ada dua buah pintu goa yang terlihat sehingga saya menebak-nebak goa tersebut disebut goa pengantin karena berpasangan. Mitosnya, kalau berdoa disini akan cepat ketemu jodohnya. Saya sih memilih untuk nggak percaya. πŸ˜› Tidak jauh dari Goa Pengantin, ada Goa Sumur. Ditandai dengan patung wanita memegang kendi di depan gerbangnya. Ada juga Goa Semar yang ditandai dengan patung semar di depannya. Goa Sumur dan Goa Semar sering digunakan untuk semedi. Siapa saja boleh semedi, asalkan izin dulu kepada juru kuncinya. Dengar-dengar dari guide rombongan lain, mantan presiden Soeharto pernah semedi disini.

Telaga Pengilon

Di dekat goa-goa tersebut ada Telaga Pengilon. Pengilon merupakan bahasa jawa yang berarti cermin. Berbeda dengan telaga warna yang katanya airnya bisa berubah-ubah warna, telaga pengilon airnya jernih. Dari jauh airnya tampak keruh tapi setelah didekati sepertinya itu adalah warna tanah di dasarnya. Kami tidak berlama-lama di telaga pengilon karena suasananya yang sepi. Apalagi itu di dekat goa-goa yang mistis tadi.

Dieng Plateau Theater

Keluar dari kompleks Telaga Warna kami mencari bapak sopir dan mobil yang kami sewa. Setelah membayar parkir 5000 kami pindah ke tujuan berikutnya, Dieng Plateau Theater. Di teater ini diputar video mengenai Dataran Tinggi Dieng. Menunggu pertunjukan selanjutnya, kami jajan dulu. Kebetulan di sekitarnya banyak penduduk yang menjual jamur & kentang crispy. Maknyus rasanya makan jamur & kentang yang baru digoreng di cuaca yang dingin seperti itu. Saat pertunjukan selanjutnya akan dimulai, kami pun masuk ke dalam teater. Video yang diputar menceritakan asal mula terbentuknya dataran tinggi Dieng yang merupakan hasil letusan dahsyat gunung berapi. Letusan ini menghasilkan kompleks gunung berapi dan kerucut-kerucutnya. Disini juga terdapat banyak kawah & danau vulkanik. Salah satu peristiwa penting adalah saat kawah sinila mengeluarkan gas beracun dan menimbulkan banyak korban pada tahun 1979.

Nama Dieng berasal dari kata “di” (tempat) dan “hyang” (dewa) yang jika digabung berarti tempatnya para dewa. Video ini juga membahas penduduk Dieng dan kebudayaannya. Video ini menurut saya cukup informatif, tapi background musiknya agak-agak horor apalagi kalau sudah membahas letusan gunung. Jadi berasa mistis. πŸ˜› Oh iya, katanya di bulan juli-agustus kawasan Dieng bisa menjadi sangat dingin dengan suhu di bawah 0ΒΊ C. Bahkan embun di daun waktu pagi bisa menjadi es. Jadi kalau ingin merasakan winter tanpa ke luar negeri, bisa dicoba ke Dieng pada waktu tersebut. Lebih oke lagi kalau sekalian pas ada festival dieng. πŸ˜€

Setelah selesai pertunjukan, kami sholat dulu di musholla dekat teater. Dan saat wudhu itulah pertama kalinya saya bersentuhan dengan air dieng. Dinginnya luarrrr biasa, seperti air es. Begitu kena air, langsung mati rasa. Haha. Belum dingin yang paling maksimal saja sudah begini apalagi bulan juli-agustus itu ya. Brrrr.

crater hole

Kawah Sikidang

Setelah dari teater, kami menuju Kawah Sikidang. Dari tempat parkir ke kawah, jalannya cukup jauh. Di sepanjang jalan, banyak ditemukan lubang yang mengeluarkan gas ataupun air panas. Sampai di kawah, ternyata kawah ini berbeda dengan kawah yang pernah saya lihat di tangkuban perahu ataupun bromo. Kawah sikidang seperti kolam lumpur hitam yang mendidih. Untuk keselamatan pengunjung, ada pagar bambu di sekitarnya. Di kawah ini ada pula yang menjual telur rebus yang direbus langsung di kawah. Pengen nyobain tapi sayang nggak nemu penjualnya yang mana. Cuma ada tangkai-tangkai bambu yang sedang dipakai merebus telur. πŸ˜€ Menurut saya bau sulfurnya tidak terlalu menyengat, tapi nggak ada salahnya sih kalau pake masker. Selain itu, buat yang pakai kerudung mendingan cari masker yang ikatannya di belakang bukan yang dicantel ke kuping.

Forever Mbak Nar. Sekali Mbak Nar tetap Mbak Nar. Merdeka!

Mie Ongklok

Puas foto-foto di Kawah Sikidang, kami pindah ke lokasi berikutnya: Kompleks Candi Arjuna. Sebelum masuk kompleks candi, kami makan dulu di warung makan di depannya. Kami mencoba mie ongklok, makanan khas wonosobo. Isinya mie dengan kuah kental campuran saus kacang dan entah apa, kemudian ditambahkan sate ayam. Disini kami juga membeli oleh-oleh khas dieng seperti manisan carica, kacang dieng, dan keripik jamur.

Komplek Candi Arjuna

Selesai makan, kami pun masuk kompleks candi. Beberapa candi yang ada disini antara lain candi arjuna, candi semar, dan candi srikandi. Latar belakang pegunungan menjadikan pemandangan disini sangat cantik. Cuma disini ada yang bikin saya cukup kesal, banyak pengunjung yang naik ke sisi candi untuk mendapatkan foto yang mereka anggap bagus. Entah ya sebenarnya naik-naik begitu boleh atau nggak, tapi itu bikin saya greget karena seperti nggak menjaga peninggalan sejarah.

Museum Kailasa

Setelah dari kompleks candi arjuna, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ada 1 tempat lagi yang belum dikunjungi: Museum Kailasa. Museum ini letaknya tepat di depan kompleks candi. Tapi sayangnya waktu itu sudah sore dan kami berusaha agar sewa mobilnya tidak overtime. Selain itu, lebih baik turun sebelum gelap. Tapi ujung-ujungnya kami tetap dihitung overtime 2 jam karena memang sempat macet dan kemudian sopir meminta berhenti sholat maghrib kemudian saat ketemu jalan yang nggak macet lagi sopirnya malah seperti melambat-lambatkan perjalanan. Padahal paginya dia terlambat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Kami pun sempat curiga kalau ini adalah triknya supir dan pihak rental. Tapi ya mau gimana lagi. Pelajaran untuk kalau mau sewa mobil nanti, harus ditanya perhitungan overtime dan tegur saja sopirnya kalau sengaja dilambat-lambatkan. πŸ˜›

Jalan-jalan Jogja (Lagi)

Setelah proyek mangjoso beberapa tahun lalu, saya belum pernah kembali ke jogja. Dan lagi-lagi, karena impulsif, saya memutuskan untuk liburan ke Jogja saat libur natal tahun lalu.

25 Desember 2013

Berangkat dari Bandung pukul 07.00 dengan kereta yang alhamdulillah tepat waktu, saya sampai di Jogja sekitar pukul 15.00. Saya dijemput adik saya, Lia, yang kuliah di Jogja menuju asrama-nya. Disana sudah ada adik saya satu lagi, Tika, yang datang sehari sebelumnya. Karena kami mau pergi menggunakan motor, padahal kami ada 3 orang dan motornya cuma 1, adik saya pun sibuk telpon sana-sini mencari penyewaan motor yang masih available. Dan ujung-ujungnya malah dapet motor dari penyewaan tepat di sebelah asrama yang sebelumnya sudah didatangi tapi habis. Kalau nggak salah, harga sewanya 40ribu per hari. Kami pun segera meluncur ke Raminten, restoran yang cukup terkenal di Jogja. Terkenalnya mulai dari kemistisannya, pelayannya yang katanya banyak pria melambai, dan yang terutama karena menunya yang unik dengan harga murah meriah. Sampai di Raminten, saking ramainya kami pun masuk waiting list dulu. Setelah menunggu lumayan lama, kami akhirnya mendapatkan tempat. Bau menyan langsung tercium saat masuk ke bagian dalam restoran. Karena sudah kelaparan, langsung deh pesan makanannya. Saya pesan nasi liwet (3ribu rupiah saja sodara-sodara) dan susu jahe. Untuk rame-rame, saya pesan tempe mendoan dan ikan wader. Adik saya pesan masing-masing ayam bakar dan ayam rica-rica. Minumnya es jeruk nipis dan es krim bakar. Beginilah penampakan makanan yang kami pesan:

Susu jahe dihidangkan di gelas yang bentuknya seperti itu. Hahaha. Dan karena sudah tahu itulah sebenarnya saya pesan susu jahe. Mau nyicip susu langsung dari tempatnya. #plak Disini, makan bertiga habis 66ribu saja. Murah meriah dan rasanya juga nggak mengecewakan. Sayangnya saat itu banyak menu yang sudah habis. Jadi nggak bisa icip-icip lebih banyak lagi. Dan ternyata, mas-mas pelayannya nggak melambai seperti yang saya bayangkan. Sebelumnya saya membayangkan para pria gemulai menggunakan batik/kembenlah yang akan ditemui, tapi ternyata nggak ada tuh yang seperti itu.

Selesai makan, kami pun meluncur ke arah alun-alun utara. Kami sholat maghrib di Masjid Gedhe Kauman. Suasana alun-alun dan sekitarnya sangat ramai, apalagi saat itu ada sekaten. Saya kemudian ketemuan dengan Ananti & Gisca di sekitaran masjid. Setelah itu kami menyeberang ke area sekaten. Disana, ananti & gisca naik wahana ombak. Saya sih jadi penonton saja. Tapi kemudian setelah dibujuk-bujuk saya pun menyerah untuk ikut naik bianglala. Saya tidak terlalu takut dengan ketinggian, tapi saya sangat takut dengan kecepatan. Dan gara-gara itu setiap bianglala mulai berputar ke arah bawah, saya pun langsung merem untuk mengurangi rasa takut. Hahaha.

Selesai main-main, kami menuju rumah Ananti. Saya menginap di rumah Ananti, sedangkan adik-adik saya kembali ke asrama.

26 Desember 2013

Agenda hari ini adalah “Sehari di Dieng”. Ceritanya akan saya buatkan di post terpisah. πŸ˜›

27 Desember 2013

Karena tepar setelah perjalanan panjang di Dieng, kami pun baru memulai aktivitas menjelang siang hari. Tempat yang pertama dikunjungi adalah Benteng Vredeburg. Saya kesana bersama Ananti, Gisca, dan 2 adik Ananti. Di Vredeburg, ada ruangan khusus yang memutar video mengenai sejarah benteng ini. Ruangan lain, isinya kebanyakan adalah diorama yang menceritakan masa perjuangan.

Setelah dari Benteng Vredeburg, kami meluncur ke Taman Pintar yang lokasinya tepat di sebelahnya. Di Taman Pintar, saya bertemu dengan adik saya. Sayangnya Taman Pintar hari itu super ramai. Kami pun jadi malas masuk karena antreannya yang panjang. Akhirnya kami langsung pergi ke Jejamuran, rumah makan yang menunya adalah olahan berbagai jenis jamur. Menu di jejamuran sangat beragam sehingga membuat kami bingung saat akan memesan. Hahaha. Rekomendasi saya, jangan melewatkan sate dan sop jamurnya. Jamur goreng penyetnya juga pedas mantap, cocok buat para penggemar pedas seperti saya. Minumannya juga macam-macam sekali. Salah satu yang unik adalah Summer Breeze, di dalam minuman tersebut ada jamur enoki-nya. Menurut saya, Jejamuran sangat memuaskan dari segi rasa, harga, tempat, maupun pelayanannya. Hanya saja lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Naik motor dari Taman Pintar ke Jejamuran cukup bikin tepos, padahal saya cuma dibonceng πŸ˜›

Setelah kekenyangan di Jejamuran, kami kemudian meluncur ke Taman Pelangi. Taman Pelangi ada di komplek yang sama dengan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Tapi karena sudah sore, Monjali-nya sudah tutup. Kami pun duduk-duduk di sekitaran situ menunggu malam dan lampu-lampu dinyalakan. Taman Pelangi ini isinya lampu hias dengan berbagai bentuk. Bisa dibilang versi mini dari taman lampion yang ada di Batu Night Spectacular (BNS) Malang yang pernah saya kunjungi. Di taman pelangi ada penyewaan mainan seperti sepeda gandeng, becak-becakan, kereta-keretaan, bola air bahkan flying fox. Tapi disana kami cuma foto-foto saja.

Setelah dari Taman Pelangi, kami meluncur ke Kalimilk yang ada di Kaliurang. Kalimilk ini salah satu tempat gaul nge-hits di jogja. Menu utamanya adalah susu dengan berbagai macam rasa. Saking nge-hitsnya, kami pun harus masuk waiting list dulu untuk bisa nyusu disini. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun mendapatkan tempat. Di Kalimilk, ada 2 ukuran gelas yaitu medium dan gajah. Sesuai namanya, ukuran gelas gajah ini sangat besar. Harga susu disini sekitar belasan ribu. Selain susu, ada juga light meal seperti chicken wings, risoles, french fries, macaroni & cheese. Untuk yang agak berat, ada chicken blackpepper & beef teriyaki. Saya pesan kalimilk cookies yang ukuran medium saja karena masih cukup kenyang.

Jujur, menurut saya pribadi sih tempat ini overhyped. xD

28 Desember 2013

Hari ini hari khusus pantai. Akan saya tulis dalam 1 post khusus juga. πŸ˜€ Ceritanya malam harinya aja ya. Jadi, di jogja ada tempat makan hits yang namanya Telap 12 (baca: telap twelep). Kalo bahasa jawa, itu ungkapan buat yang makannya lahap. Nah, si Telap 12 ini menjual mie instan, iya bener mie instan, yang disajikan persis sesuai bungkusnya. Penasaran dong pastinya. Kami kesana bareng orang tuanya ananti juga. Sayangnya karena sudah malam, menu yang tersisa tinggal rasa soto dan rendang. Tapi karena sudah terlanjur kesana, kami pun memesan apa yang ada saja. Ini dia tampilannya:

Rasanya? Ya rasa mie instan. Kok tanya lagi. Hahaha. Kreatif yang bikin tempat ini. Meskipun di tempat lain ada juga yang jual mie instan sesuai dengan bungkusnya, si Telap 12 ini saya kasih nilai lebih buat brandingnya. Selesai makan, kami meluncur ke alun-alun selatan. Kami nggak lama disini. Cuma liat-liat keramaian dan nyobain jalan di antara 2 beringin lagi, tapi saya nyerah di tengah-tengah. Haha.

29 Desember 2013

Hari terakhir liburan. T__T Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Pabrik Cokelat Monggo. Harapannya bisa lihat proses pembuatan coklatnya di workshop, tapi sayangnya saat kami datang mereka belum mulai kerja. Akhirnya cuma beli cokelatnya saja disini.

Dari Monggo, kami meluncur ke Pasar Beringharjo. Cari-cari batik disini, tapi susah cari yang sreg. Dasar picky xD Akhirnya nemu yang lucu di toko seberangnya Beringharjo. Mampir ke Mirota juga tapi nggak beli apa-apa. Setelah itu makan siang dan kembali lagi ke rumah Ananti. Packing karena malamnya mau pulang ke Bandung. Habis maghrib ke stasiun, nunggu kereta Malabar yang ternyata delay. Dan akhirnya liburan resmi berakhir saat kereta berangkat. Liburan yang menyenangkan karena hampir semua tempat yang diinginkan bisa dikunjungi. See you next time, Jogja!

MangJoSo Part 2

Karena yang sebelumnya judulnya Part-1, seharusnya ada part lanjutan. Tapi karena super malasnya saya, sampe sekarang belum berlanjut ceritanya. Hahaha.. Oke, mumpung lagi mood nulis, mari kita lanjutkan

Jadi, subuh-subuh hari Kamis saya sampe di Jogja. Setelah turun dari bis, saya langsung menghubungi teman saya. Ngasih tau posisi saya dimana karena kelewatan dari tempat yang kami janjiin sebelumnya. Untungnya pas turun bis ada mas-mas baik hati yang ngasih tau itu posisinya dimana. Lagipula disitu ada pos buat orang mudik gitu. Yasudahlah saya nunggu di deket situ.Β  Aman lah yaa..

Setelah nunggu, teman saya pun datang ngejemput pake motor. Langsunglah kami menuju kosannya. Sholat dan istirahat. Kondisi saya pagi itu lumayan ngedrop. Pas bangun tidur di bis aja suara saya serak dan tenggorokan sakit gejala masuk angin. Mungkin karena kecapekan dan kemaren siangnya sempet minum es. Tapi karena nggak mau menyia-nyiakan kesempatan mumpung lagi di Jogja, saya pun menyehat-nyehatkan diri. Setelah Mutiara ngajar les, kami berangkat ke Malioboro. Di sana, kami sarapan pecel yang banyak ditemui di pinggir pasar Beringharjo. Saya makan pecel, mie, bacem tahu, dan bacem telor puyuh. Harga pecel ditambah mie atau lontongnya 6ribu, kalo pecel aja 5ribu, tahu 2ribu, sate telornya 3ribu. Lumayan murah meriah dan nyobain suasana baru. Hehehe..

Pecel di Malioboro :9

Setelah makan, kami masuk ke pasar Beringharjo. Milih-milih batik disana. Yak, saya orangnya amat sangat picky sekali. Muter berkali-kali, dengan segitu banyak pilihan, nggak ada satupun yang diminati. Begitu ada yang diminati, kata temen saya jangan yang itu. Hurr.. Akhirnya pindah ke bagian seberangnya. Tapi tetap aja nggak nemu yang sreg. Tapi sayang dong udah jauh-jauh kesana tapi nggak ada hasilnya. Akhirnya muter balik lagi ke tempat pertama. Dan teman saya pun sadar kalau selera kami emang beda. Jadilah dia nyerahin pilihan ke saya dan nggak mau komentar apa-apa lagi kalo saya milih baju. AKhirnya saya beli 2 baju batik dengan harga murah meriah berkat keahlian tawar menawar dengan bahasa jawanya teman saya. Hurrayyy

Untuk oleh-oleh adik saya, saya rencananya pengen beliin gelang kayu batik gitu. Diajaklah saya ke tempat grosir aksesoris. Tapi disitu, ke-picky-an saya tetap muncul. Walopun pilihannya super beragam, saya nggak tertarik. Tintanya kurang teranglah, terlalu mencoloklah, apalah, apalah… Hahaha.. Teman saya desperado. Karena nggak enak udah muter-muter disitu lama, yasudah saya beli 3 gelang disana. Yak, sekedar melaksanakan kewajiban. πŸ˜›

Abis itu, pergi ke Keraton. Tapi karena kesorean jadinya udah tutup. Hiks. Yasudah akhirnya ke Tamansari. Pemandiannya keraton gitu. Ngeliat kolamnya kayaknya seger banget gitu airnya biru. Jadi pengen nyebur deh. Hoho.. Muter-muter agak lama disana. Oiya, pas jalan menuju sana, dimampirin ke tempat yang jualan kaos Dagadu. Tempatnya bukan yang official gitu. Padahal saya pengen ke tempat yang officialnya karena kata Ananti tokonya lucu. Saya syok aja tiba-tiba diturunin disana terus dibilang tuh katanya mau beli kaos dagadu. Dan bapak-bapak penjaga tokonya pun langsung menyambut dan nganter ke dalem toko. Karena bingung, saya pun milih satu kaos dan secepatnya pergi. Ah, agak nyesel beli disitu. 😦

segernyaa

Spanya keraton kali ya

Setelah dari Tamansari, kami ke Alun-Alun yang ada pohon beringin itu. Katanya kalo bisa jalan dengan mata tertutup melewati tengah-tengah pohon beringin, harapan kita bakal terkabul. Hohoho.. Saya sih nggak mau nyobain. Disitu ada anak kecil yang emang anak sana gitu nyobain jalan dan berhasil. Hehehe, semoga harapanmu terkabul Nak. πŸ˜€

Hore, berhasil!

Pulangnya, melewati wijilan karena saya pengen beli gudeg. Saya beli Gudeg Paha + Telor di Gudeg Yu Djum. Harganya 17ribu kalo nggak salah. Abis itu, ke Stasiun Tugu buat beli tiket balik ke Bandung. Niatnya sih hari minggunya pulang, tapi apa daya.. Karena itu akhir tahun, penumpang lumayan ramai. Akhirnya saya beli buat yang hari Senin malam. Nambah deh liburannya. πŸ˜› Saya beli tiket Lodaya malam yang eksekutif. Hoho, saya emang lebih suka pilih yang eksekutif karena lebih nyaman jadinya di kereta bisa istirahat dengan tenang. Harganya 200ribu.

Gudeg Yu Djum

Kemudian lanjut ke kosannya Mutiara. Melewati Kali Code. Kami berhenti sebentar disana. Di kali code terlihat aliran lahar dinginnya Merapi. Huee, serem juga ya.. Sampai di kosan, kami tepar. Saya minum obat lagi dan istirahat. Soalnya besok paginya kami berencana untuk pergi ke Solo.

Lahar Dingin di Kali Code

Hari kedua, sekitar jam 9 saya dan Mutiara berangkat ke staiun Lempuyangan. Kami beli tiket kereta Prameks menuju Solo. Harganya 9ribu saja. πŸ˜€ Saat itu saya sudah smsan sama Bhella yang bakal jadi guide kami di Solo. Hehehe.. Harusnya jam 9.41 tapi kenyataannya lebih beberapa menit, kereta berangkat. Lucunya, kereta prameks yang kami naiki saat itu warnanya pink. Kyakyakya.. Nggak sampe satu jam, kami sampai di stasiun Purwosari. Turun disitu karena lebih dekat dengan rumah Bhella. Dan ternyata, mobilnya bhella lagi dipake bapaknya jadinya nggak bisa langsung ngejemput. Kami diminta ke rumahnya dulu aja naek becak. Yasudah, akhirnya kami ke rumah Bhella sesuai rute yang dikasih tau. Di depan rumahnya Bhella sudah nunggu.

Lempuyangan

Tiket di tangan (literally) XD

Stasiun Purwosari, Solo

Sampai di rumah Bhella, kami dikenalkan ke mamanya Bhella. Rumahnya Bhella unik deh, rumah tua dengan arsitektur khas Jawa gitu. Keren deh πŸ˜€ Disitu kami disuguhin makanan macem-macem sama mamamnya Bhella. Hoho.. Ada serabi solo yang gurih dan lembut banget padahal nggak ditambahin kuah macem-macem. Ada emping dan kacang mete gurih juga. Nyamnyamnyam.. Ditambah lagi disuruh ngabisin semangka sepiring. Waduh, padahal masih mau makan timlo lagi. Hehehe..

Naek Becak Ke Rumah Bhella

Karena bapaknya Bhella sudah pulang, kami pun dikenalkan. Dan setelah sholat dzuhur, berangkatlah saya, Mutiara, Bhella, dan adik-adik Bhella, Ira dan Aan ke Timlo bu Sastro. Timlo itu makanan khas Solo gitu. Isinya ternyata sosis solo (kayak lumpia) dikasih kuah gurih, terus bisa ditambah telor yang dibumbuin seperti dibacem, jeroan kayak ati, ampela gitu juga. Di Timlo Sastro, saya pesan Timlo Komplit, harganya 14ribu, dan Es Beras Kencur, harganya 3.500. Pas pertama di liat, kayaknya porsinya sedikit. Tapi, pas udah dimakan, itu super ngenyangin. Hahaha.. Soal rasa, ya lumayanlah walopun bukan favorit saya. πŸ˜›

Timlo & Es Beras Kencur

Daftar Menu Timlo Sastro

Setelah makan, kami diajak ke Keraton Kasunanan. Harga tiket masuknya 8ribu, ditambah tiket kamera 3ribu. Muter-muter disana. Ternyata kalo abdi dalem nggak boleh pake alas kaki. Terus, kalo pake sendal, pengunjung juga disuruh copot alas kaki. Kalo pake sepatu boleh dipake aja. Di keraton kasunanan banyak patung porselen yang kayak malaikat-malaikat gitu. Agak anaeh sih mengingat itu di Solo. Hehehe.. Katanya sih itu hadiah dari luar negeri. Di halamannya banyak pohon sawo yang bikin rindang. Abis itu ngelilingin museumnya. Sayangnya, ini bukan keraton tempat tinggalnya Paundarakarna. Eaaa..

Patung Porselen

Setelah dari sana, kami diantar Bhella kembali ke Purwosari. Hoho, tengkyu so much Bhella udah jadi guide πŸ˜€ Di purwosari, kami beli tiket kereta prameks selanjutnya yang ke Jogja. Sambil nunggu jadwal, kami sholat di stasiun. Toiletnya sumpah nggak nyaman banget deh.

Sampai di Jogja, saya beli nasi kucing. Niatnya beli di Angkringan 17 karena yang punya itu orang yang aktif di koprol dan sering banget jadi tempat kopdar. Tapi karena mutiara nggak tau tempatnya, akhirnya belinya cuma di gerobak angkringan deket kampusnya. Murah banget deh.

Bakmi Jawa

Malamnya kami makan bakmi jawa di pinggir jalan. Sambil menikmati ramenya jalan gitu maksudnya. Ahaha.. Habis itu ke mall cari coklat Monggo yang terkenal itu. Huee mahalll.. Sekitar 70ribu habis cuma buat beli 1 coklat ukuran lumayan besar dan 2 yang ukuran kecil. Tapi enak sih. Ada harga ada kualitas emang. Hohoho. Kalo ke Jogja laen kali kayaknya mesti ke pabriknya deh πŸ˜€

Coklat Monggo. Mau lagiii.. tapi mahall πŸ˜›

Hari ketiga, kami ke Prambanan. Mutiara nggak mau ikut masuk ke dalam. Bosen katanya. Jadinya dia nunggu di luar. Yasudah saya masuk ke sendiri. Pertama ke kompleks candi Loro Jonggrang. Udah pernah sih, tapi tetep aja nyenengin. Candinya masih belum selesai dibenerin pasca gempa jogja. Ada yang dikasih pager karena masih dibenerin. Di kompleks candi prambanan ada 4 kompleks candi, tapi yang rame cuma si Loro Jonggrang aja. Dengan jiwa bolang, saya berniat untuk mengunjungi semua kompleks candi itu. Saya foto peta yang ada di papan petunjuk supaya nggak nyasar.

salah satu candi di komplek loro jonggrang

Akibat gempa

Hati-hati nak

Peta Peta *diucapkan ala Dora The Explorer*

Di tengah jalan menuju komplek candi selanjutnya, saya ketemu ibu-ibu. Ditanyain mau ke komplek candi yang laen ya, terus mereka bilang kalo sebenernya mau kesana tapi jalannya sepi jadinya mereka balik lagi. Agak keder juga sih, tapi nekat juga akhirnya ngikutin jalannya. Sampelah ke candi Lumbung. Agak nggak terawat gitu ya. Sepi. Ada bambu-bambunya gitu. Entah karena efek gempa juga atau gimana.

Candi Lumbung

Candi Lumbung

Nggak jauh dari situ, ada candi bubrah. Dannn, papannya dicoret-coret pake piloks dong. Dasar orang Indonesia, nggak bisa ngerawat deh. Graoo. Candi Bubrah malah nggak tampak bentuk candinya. Batu-batu ngegeletak gitu aja disana.

Candi Bubrah

Candi Bubrah

Terus, agak jauh kesana ada Candi Sewu. Oiya, ternyata biasanya candi-candi ini emang jarang dikunjungi dan cuma dilewatin sama kereta-keretaan yang muterin kompleks candi prambanan. Saya suka banget sama Candi Sewu ini. Lebih eksotis deh. Halahh.. Di depan setiap gerbangnya ada sepasang patung Dwarapala. Keterangan tentang candi sewu liat di gambar aja ya πŸ˜€

Candi Sewu

Informasi tentang candi sewu

Eksotisnya Candi Sewu

Abis dari candi sewu, saya coba cari jalan keluar. Tapi apa daya saya nampaknya nyasar ke museumnya. Yasudahlah muter-muter dulu disitu. Apalagi saat itu tiba-tiba hujan. Sambil neduh disana. Ternyata ada yang namanya ruang Audio Visual. Disitu diputer cerita mengenai candi prambanan. Yasudah saya masuk kesana. Bayar tiketnya 5ribu. Nontonnya agak geje karena itu udah mulai duluan. Cuma ada saya dan satu keluarga pengunjung disana. Sebelum filmnya selesai, keluarga itu pada keluar. Terus ada keluarga laen yang masuk. Dan petugasnyapun semena-mena muter ulang filmnya dari awal. Graoo, yasudah saya keluar darisana.

Di Museum. Dompet Emas. Wew

Audio Visual

Cari cari jalan ke pintu keluar, akhirnya nemu. Tapi sebelumnya saya nyangkut dulu nonton pertunjukkan kuda lumping. Hahaha.. Kasian si Mutiara nunggu di luar berjam-jam. *nggak tau diri* πŸ˜› Karena saya jalan-jalan di Prambanannya sendirian, nggak punya foto diri sendiri deh disana. Hahaha

Kuda Lumping

Di jalan dekat prambanan banyak yang jual dawet, baik yang biasa atau yang hitam. Kami pun nyobain dawet disana. Lumayan seger abis capek ngelilingin prambanan. Abis itu pergi ke Ayam Goreng Bu Ninit buat makan. Laperrr. Ayam gorengnya simpel, nggak pake bumbu macem-macem. Lumayan enak dan murah. Makan berdua udah pake minum cuma abis 21ribu.

Ngedawet

Darisana, lanjut ke Museum Affandi. Bangunannya unik. Disana ngeliat hasil lukisannya Affandi dan ada gedung yang isinya lukisan koleksi dari pelukis lain. Ada lukisan yang dijual juga. Dan yang bikin saya kaget, ada lukisan yang harganya sampe 1,5 Miliar. Udah nggak paham lagi. Abis dari Affandi, ke Malioboro sebentar. Mampir ke Mirota, iseng beli lulur-lulur gitu. Aheheu

Salah satu bangunan

Tangga Spiral Unik

Iconnya Affandi

Affandi, Istri, dan Ibu

Patung mirip Affandi

Abis itu menantang perut dengan beli oseng-oseng mercon yang ternyata tidak sepedas yang saya bayangkan. Hahahah.. Beli Mr. Burger juga, penasaran pengen nyobain karena outletnya dimana-mana di Jogja. EnakanΒ  burger daripada si oseng-oseng mercon. πŸ˜› Malemnya di kosan aja, nonton bola sambil ngobrol-ngobrol girl’s talk gitu. Aheyyy..

Oseng-oseng Mercon

Hari keempat, pagi-pagi banget saya di drop di Malioboro. Malioboro masih sepi banget. Jalanan sepi, toko-toko belum pada buka. Yasudah saya jalan-jalan aja. Niatnya ke Vredeburg, tapi belum buka. Dan ternyata karena itu hari Senin, Vredeburg nggak buka. Grao. Yasudah saya muter-muter perempatan disitu. Dari Bank Indonesia Jogja, jalan ke Kantor Pos, nyebrang ke BNI yang gedugnya unik, terus ke Istana. Karena bingung mesti ngapain dan banyak yang belum buka. Akhirnya saya ke McD Malioboro.. Eaaa, ujung-ujungnya McD juga. Hahaha. Agak lama ngabisin waktu disana. Ditelpon sama pakde disuruh ke rumahnya aja sorenya.

malioboro pagi hari

BI Jogja

Kantor Pos Jogja

Vredeburg

Tutup. Grao

Monumen Batik

Istana

Bosen di McD, akhirnya muter-muter Malioboro lagi. Lumayan dapet kaos Dagadu palsu dan pensil hias lucu buat oleh-oleh Megi dan Putri anak ibu kos. Entah saat itu saya udah muter malioboro berapa kali. Akhirnya naek becak ke Keraton Jogja. Hurrayy.. Another keraton. Bedanya keraton jogja sama keraton solo, pengunjung nggak usah lepas alas kaki karena dianggap tamu. Saya tau dari guidenya. Hahaha, saya ngikut aja rombongan yang ada disitu. Akhirnya lepas dari rombongan, masuk ke museum batiknya dan museum yang ada foto-foto orang keraton dan silsilahnya gitu. Hawanya bikin merinding. πŸ˜›

Wek

Bagus

Ada simbolnya

Museum Batik

Abis dari situ, cari-cari jalan keluar. Dan entah kenapa tiba-tiba saya sampe di Tamansari. Wew. Yaudah saya minta jemput sama Mutiara. Langsung ke kosannya, packing karena bakal ke rumah Pakde dan langsung ke stasiun tugu malemnya. Sekitar jam setengah 4, berangkat ke masjid kampus UGM, ketemuan sama Ayu, sepupu saya. Walopun belum pernah ketemu, tau mukanya sih soalnya udah jadi friend di fb. Ahaha.. Yasudah ikut motornya berangkat ke rumah pakde yang lumayan jauh. Dan tiba-tiba di tengah perjalanan, turun hujan deres banget dong. Kami neduh dulu agak lama. Mendekati maghrib baru sampe rumahnya. Kebetulan pakde dan bude abis pulang haji jadi di rumahnya ditawarin kacang arab dan air zam-zam gitu. Nunggu isya disana terus berangkat ke stasiun. Tapi makan dulu di Papa Ron’s, dahsyat kenyangnya.

Sampe di stasiun, masih agak lama sebelum keretanya dateng. Setelah kereta dateng, pakde dan ayu pulang. Saya naek ke kereta. Dan sialnya, dapetnya di ujung. Sempit banget, harusnya harganya beda dongs. Nggak nyaman banget deh. Di jalan saya cuma tidur. Nyampe Bandungnya lumayan telat, harusnya jam 5 tapi waktu itu baru sampe jam 7.

Dan berakhirlah MangJoSo Trip ini dengan membawa segudang pengalaman dan makin menipisnya saldo di rekening, Hahaha, dasar traveler kere πŸ˜›