Mission Accomplished: Naik Puncak Monas

Saya pertama kali ke Monas tahun 2010. Kesana bareng sepupu saya yang waktu itu masih kuliah di Jakarta. Berangkat naik kereta pagi harinya dari Bandung, saya kemudian dijemput di Stasiun Gambir dan lihat-lihat Kota Tua Jakarta. Siang menuju sore, kami baru ke Monas. Sekalian menunggu kereta balik ke Bandung. Saat itu kami nggak masuk ke dalam. Cuma muter-muter dan (pastinya) foto-foto di sekitaran halaman Monas.

struktur monas. source: link

Kedua kalinya, kalau nggak salah pas Februari 2013. Kesana buat meetup sama jikung dan apin. Dan kebetulan waktu itu ada temen kissme-nya jikung dari singapura yang ke indonesia. Sayangnya pas itu nggak bisa naik ke puncaknya. Kami cuma keliling Museum Sejarah Nasional yang berada di bagian paling bawah dan mengunjungi Ruang Kemerdekaan. Museum ini berisi diorama mulai dari zaman kerajaan sampai pasca kemerdekaan di Indonesia.

Belum menyerah untuk naik ke puncak Monas, sekitar bulan Februari 2014 saya kembali lagi ke Monas. Sayangnya kali ini saya juga gagal naik ke puncak Monas karena lift-nya belum selesai diperbaiki. Saya cuma naik sampai cawan bawah Monas. Lumayanlah ada peningkatan dari sebelumnya. πŸ˜› Selain naik cawan bawah Monas, saya juga berkeliling untuk melihat relief yang berada di pagar keempat sisi Monas. Relief ini menggambarkan tentang sejarah, berbagai suku dan budaya Indonesia, berbagai agama, flora & fauna, profesi, olahraga, dll.

Beberapa saat setelah kunjungan saya yang ketiga, saya baca berita kalau perbaikan lift monas sudah hampir selesai. Saya pun meniatkan untuk kembali lagi ke Monas. Dan akhirnya bulan lalu saya ke Monas untuk yang keempat kalinya. Dan kali ini, sesuai judul post ini: saya berhasil naik ke puncak Monas! Yeayy! Biaya masuk Monas untuk umum kalau nggak salah 4000, ditambah sumbangan 1000. Kalau mau naik ke puncak tambah 10.000 lagi. Nanti kita dikasih gelang dengan warna tertentu yang menentukan jam naik. Tapi kayaknya pada prakteknya waktu naik belum tentu sama dengan yang tertera di gelang.

Karena sudah 2 kali mampir ke museum, saya pun nggak kesana lagi dan langsung saja menuju pintu dekat lift menuju puncak. Ternyata sudah banyak yang antre untuk naik ke atas. Sekali naik, lift hanya mampu mengangkut maksimal sekitar 11 orang. Pantes aja antreannya panjanggg. Setelah lumayan lama antre, sampai juga giliran saya. Selain saya, di dalam lift ada rombongan keluarga dan rombongan turis asing yang kalau nggak salah dari Finlandia.

Sampai di atas, saya memperhatikan sekitar. Ternyata puncak monas tidak seluas yang saya kira. Dari hasil googling, saya mendapatkan bahwa lebarnya adalah 11×11 m. Dikurangi area yang digunakan sebagai lift, dikira-kira saja lebarnya berapa. Ada beberapa teropong yang disediakan di puncak Monas. Kita bisa menggunakannya setelah memasukkan koin. Di setiap sisi puncak monas ada foto gedung-gedung yang tampak dari sana. Sayangnya tidak ada penjelasan itu gedung apa saja, padahal ada nomor di foto-foto gedung tersebut. Selain itu, pagar puncak Monas terlalu tinggi buat saya. Hahaha //itu sih saya aja yang pendek xD// Jadinya saya harus jinjit-jinjit untuk lihat ke luar. Sebenarnya ada beberapa tangga kecil buat anak-anak atau orang pendek seperti saya. Tapi pada dipake duduk, jadi nggak naik deh.

Berikut ini adalah foto-foto yang saya ambil dari puncak Monas.

Angin di puncak Monas cukup kencang. Karena takut masuk angin kalo kelamaan disana, saya pun kemudian turun. Tapi untuk turun, lagi-lagi perlu antre lift. Fyuhh.

Jadi, gimana kesannya setelah berhasil naik ke puncak Monas? Karena ini hiburan murah meriah, tentu saya nggak bisa berharap macem-macem. Mau minta kapasitas lift ditingkatkan, kayaknya nggak mungkin. xD Saya cuma minta bangku-bangku kecilnya aja deh buat ditambah. Hahaha. Trus semoga pengunjungnya juga pengertianlah satu sama lain, gantian kalo pake teropong atau bangkunya. Hehe. Dan terakhir, semoga lift Monas sehat selalu walaupun setiap hari dipake naik turun terus. \o/

Island Hopping Trip: Pulau Kelor, Onrust, Cipir

Bulan Oktober lalu, saya dan teman-teman mengikuti island hopping trip di kepulauan seribu. Berawal dari deal di groupon yang tampak menarik dengan harga yang tidak terlalu mahal, kami pun seperti biasa impulsif membeli deal tersebut. Dalam deal yang ditawarkan dengan harga Rp 95.000 itu, ada 3 pulau yang menjadi tujuan: Pulau Kelor, Onrust, dan Cipir.

Pada hari-H, saya, ananti, apin, dan rizky berkumpul di halte dukuh atas untuk naik taksi ke Muara Kamal yang merupakan meeting point trip ini. Dari Sudirman ke Muara Kamal dan sempat nyasar sedikit, tarif taksi sekitar 120ribu. Kami turun di depan Pasar Ikan Muara Kamal dan kemudian berjalan ke arah pelabuhan untuk mencari tour leader dari pihak Shine Tour & Travel sebagai penyelenggara. Kami menelepon mbak Pipih yang sehari sebelumnya menghubungi saya lewat sms memberitahukan bahwa dia yang akan menjadi tour leader. Ternyata peserta tour kali ini cukup banyak dan ada beberapa tour leader di sekitar kami. Kami sempat tebak-tebakan mana yang mbak Pipih. Haha. Dan ternyata benar, mbak Pipih adalah salah satu tour leader yang ada di situ. Setelah ketemu dengan mbaknya, kami ditanya, apakah mau menunggu disitu atau langsung ke kapal. Kami pun memilih ke kapal saja. Mbak pipih kemudian mengantar kami ke kapal. Agak serem pas mau naik ke kapal ternyata jembatannya adalah jembatan bambu kecil. Selain itu untuk mencapai kapal, kami perlu melewati kapal lain. Setelah menunggu 1 jam lebih, termasuk menunggu 1 peserta tour yang datang terlambat tapi nggak mau ditinggal, kami pun berangkat.

Pulau pertama adalah Pulau Kelor. Pulau ini ukurannya sangat kecil. Di pulau ini terdapat reruntuhan benteng berbentuk lingkaran. Meskipun cuaca saat itu cukup panas, udara di dalam benteng ini tetap adem. Kami pun berlama-lama istirahat di dalam benteng sambil foto-foto. Setelah itu kami pun mengelilingi pulau. Karena ukurannya yang kecil, tidak sampai 15 menit pulau ini berhasil dikelilingi.

Setelah Pulau Kelor, kami kemudian naik kapal lagi ke Pulau Onrust yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pulau Kelor. Pulau Onrust merupakan salah satu situs cagar budaya. Di pulau ini terdapat museum kecil yang menceritakan sejarah Pulau Onrust. Ada petugas yang menjadi guide. Petugas memandu kami mengelilingi pulau, dimulai dengan bercerita mengenai reruntuhan bangunan yang tadinya merupakan rumah sakit dan karantina haji, kemudian masuk ke museum, melewati bekas penjara, dan terakhir ke makam yang dianggap keramat. Sayangnya saya ada di barisan belakang rombongan, jadi penjelasan dari guide kurang terdengar. Satu lagi yang saya sayangkan adalah pulau ini tampak kotor dan tidak terurus. Setelah keliling pulau, kami mengambil jatah makan siang dari penyelenggara tur kemudian sholat di musholla kecil yang ada di pulau ini.

Setelah dari Pulau Kelor, kami ke pulau di seberangnya yaitu Pulau Cipir. Mirip dengan Pulau Kelor, di Pulau Cipir juga terdapat reruntuhan bekas rumah sakit dan barak karantina haji. Pulau ini lebih tidak terurus daripada Pulau Kelor, banyak tumpukan sampah dan coretan di dinding. Di pulau ini, banyak yang main air di pantai. Tapi karena saya tidak membawa baju ganti dan pantainya pun tidak terlalu menarik, saya dan teman-teman malah main kartu. Haha. Tadinya kami bingung mau ngapain di pulau ini padahal masih ada sekitar 1-2 jam sampai waktu pulang. Akhirnya rizky ke warung yang ada di pulau dan menanyakan apakah mereka menjual kartu, dan ternyata ada. Haha. Disana saya malah belajar macam-macam game kartu seperti setanan dan seven spade. Biasanya cuma bisa main cangkul. xD Sekitar jam 3 sore, kapal pun berangkat pulang ke Muara Kamal. Saat menunggu yang lain naik ke kapal, mas-mas perahu menakut-nakuti kami bahwa benteng di pulau Kelor dulunya tempat pembantaian. Nggak tau deh bener atau nggak xD Mbak Pipih juga memberikan dvd mengenai Pulau Kelor, Onrust, dan Cipir tapi saya nggak tahu isinya bagaimana karena rizky yang membawa pulang dvd itu. πŸ˜€ Dari muara kamal ada angkutan yang membawa kami menuju cengkareng dengan tarif 6000 per orang. Dari sana kami kemudian pulang dengan bus transjakarta dari halte busway Rawa Buaya. πŸ˜€