#BdgBucketList: Lembang dan sekitarnya

Holaaa, apa kabar semuaa?? Post ini harusnya diberesin 2 bulan lalu. Tapi karena males dan keterbatasan laptop/internet akhirnya baru bisa beresin sekarang. Hahaha

Another edition of #BdgBucketList. Yeayyy \o/ Mungkin pada bertanya-tanya kenapa saya nyebut-nyebut bucket list melulu di beberapa posting terakhir. //pede// Hmm, jadi gini ceritanya… Saya akhirnya nggak tinggal di Bandung lagi… ihiks T.T Karena beberapa pertimbangan, sudah agak lama saya berpikir untuk meninggalkan Bandung. Nggak betah? Bukan pastinya. Kalo nggak betah nggak mungkin saya bisa tahan 7 tahun di Bandung. Mulai makanan, orang-orangnya, tempat, suasana, dll… Semua menyenangkan. Tapi saya merasa butuh petualangan baru //sok iyes// xD Maklum, sebenernya saya orangnya bosenan banget. Waktu saya pertama kali bilang soal bucket list di blog ini, saya belum tau kapan dan kemana saya akan pindah. Tapi saat saya merencanakan eksekusi bucket list ini, saya sudah tahu tanggal kepindahan saya. Dan eksekusi bucket list ini dilakukan 2 hari sebelum saya berangkat. Semacam farewell gitu deh jadinya 😀

5 Juli 2014

Dusun Bambu

Pernah denger Dusun Bambu? Kalo nggak pernah, plis deh googling dulu.

Dusun Bambu terletak di Lembang. Lembang memang bukan di Kota Bandung, tapi di Kabupaten Bandung Barat. Jadi masih valid kan kalo saya masukin sebagai bagian dari #BdgBucketList. 😛

Sejak dibuka awal tahun 2014 lalu, Dusun Bambu langsung nge-hits banget. Pengennya sih ikutan ngehits dan dateng kesana dari dulu-dulu. Tapi karena jauh dan kayaknya ribet dan maksa banget kalo kesana sendirian naik kendaraan umum, akhirnya saya baru kesana awal Juli lalu. Kesananya sama siapa? Yak, seperti biasa ada iponk, ananti, gisca, icha, dan apin. Dan sebagai bintang tamu ada bella dan adik saya, lia.

Apa sih sebenernya Dusun Bambu ini? Kalo dari websitenya sih dibilangnya Dusun Bambu ini adalah Family Leisure Park. Konsepnya adalah gabungan budaya sunda dan alam terbuka. Yang menarik dan saya baru tau setelah saya baca websitenya, dulunya lokasi Dusun Bambu ini adalah lahan pertanian yang nggak begitu bagus. Tapi setelah ditanam 100.000 pohon di lokasi ini dan sekitarnya, lalu kemudian dibangun bangunan yang merupakan perpaduan keindahan alam dan arsitektur jadilah Dusun Bambu Family Leisure Park ini.

Ongkos masuk Dusun Bambu adalah 10.000 per orang, dan parkir mobil 10.000. Setelah parkir mobil, kita bisa naik shuttle yang disediakan untuk menuju area utama. Shuttle ini penampilannya mencolok, soalnya dihias kain perca warna warni gitu. Namanya juga lucu: wara wiri. 😀

wara wiri

wara wiri

Bisa ngapain sih di Dusun Bambu? Salah satu hal yang paling hits disini adalah beberapa restoran yang punya konsep dan bangunan yang unik: Burangrang, Lutung Kasarung, dan Purbasari. Lutung Kasarung terletak di samping walkway di antara pohon-pohon, bentuknya seperti kandang burung yang ditutupi ranting-ranting kayu. //why does it sound bad? it’s actually really unique xD// Sedangkan Purbasari adalah gasebo dengan desain khas sunda yang terletak di pinggir danau. Sayangnya pas kami kesana kami sedang puasa, jadi nggak sempet nyobain makan. Tapi katanya harga makanan disini lumayan mahal juga sih, jadi belum tentu juga makan kalo nggak puasa. xD Selain restoran, ada juga pasar buah-buahan dan sayur organik yang disebut Pasar Khatulisiwa. Desainnya juga unik. Untuk aktivitas, disini kita bisa bersepeda, panen padi, nginep, nyobain egrang, panahan, atau naik hot air balloon! Biaya naik hot air balloon kalo nggak salah 175.000. Egrang, ayunan, enjotan, dll gratis. Panahan dan bersepeda saya nggak inget berapa. Soalnya kami pas kesana nggak main yang berbayar. Jadi, apa yang kami lakukan? Masih tanya? Foto foto! xD

Banyak banget bangunan unik dan pemandangan asri yang bisa jadi objek foto disini. Makanya tempat ini ngehits di kalangan anak muda yang doyan foto-foto. Ini adalah beberapa foto yang saya ambil di Dusun Bambu.

Dan ini foto-foto narsis kami:

Setelah dari Dusun Bambu, kami bingung menentukan tujuan selanjutnya. Tadinya mau ke Curug Cimahi, tapi sayang waktu itu sedang tutup. Akhirnya kami iseng ke Bosscha.

Bosscha

Tau Bosscha kan? Petualangan Sherina? Anak tahun 90an pasti tau. Sebenernya kami sudah tahu kalau Bosscha tutup selama bulan puasa dan lebaran. Tapi kami tetap aja kesana, berharap semoga gerbangnya dibuka walaupun observatoriumnya tutup. Dan untungnya gerbangnya dibuka dan ada beberapa orang juga yang datang kesana meskipun tutup. Kami diperbolehkan untuk mengunjungi bagian luarnya saja. Yeayy!

Jalan menuju ke Bosscha bisa dilihat disini. Sedangkan untuk jadwal buka dan peraturan kunjungan observatorium Bosscha bisa dilihat disini. Jadi ada 2 jenis kunjungan, kunjungan siang dan kunjungan malam. Untuk kunjungan siang rombongan, harus daftar dulu. Untuk yang keluarga/perorangan, bisa langsung datang hari Sabtu jam 9-13. Biayanya 15.000 per orang. Untuk kunjungan malam hanya dibuka pada tanggal-tanggal tertentu pada musim kemarau dari jam 17-20. Untuk bisa melakukan kunjungan malam harus mendaftar dulu. Cepat-cepat daftar karena kuotanya terbatas. Tapi katanya kalau kehabisan, bisa coba-coba tanya ke anak astronomi ITB. Katanya sih mereka dapet jatah tiket lebih 😉 Biaya kunjungan malam adalah 20.000.

Di Bosscha, kami foto-foto saja di luar observatorium utama. Itu loh, tempat Sherina & Sadam ngumpet waktu kabur abis diculik anak buahnya Kertarajasa. 😛

bosscha!

bosscha!

Menurut Ananti yang pernah ikut kunjungan malam, saat kunjungan malam kita akan dibawa berkeliling melihat teleskop-teleskop di ruangan lain. Ahh, jadi pengen ><

Dari Bosscha kami bingung mau kemana lagi. Setelah bingung bingung, kami memutuskan untuk mencari tempat petik stroberi. Saat pak sopir membawa mobil menuju tempat petik stroberi, kami pun pulas tidur. xD Sampai di tempatnya, kalo nggak salah namanya Rumah Stroberi, ternyata stroberinya sudah habis yang bisa dipetik hari itu. Harus pagi-pagi kalau mau petik stroberi. Karena tempat itu sebenarnya adalah rumah makan + kebun stroberi, cukup awkward buat kami yang hampir semuanya berjilbab (kecuali apin tentunya) seliweran disitu. Kami pun pergi dari sana.

Tujuan selanjutnya adalah Green Forest Resort. Karena katanya tempat ini bagus buat foto-foto. Sampai disana sebenarnya kami sudah kecapekan. Maklum, lagi puasa. Akhirnya disana cuma duduk-duduk dan foto di depan kapel berbentuk segitiga mirip seperti yang di Uluwatu.

//Sebenernya dari Lembang masih lanjut ke ITB buat keliling-keliling dan malamnya buka bareng, tapi cukup jadi konsumsi pribadi aja detailnya. 😉

Dan akhirnya selesai juga eksekusi #BdgBucketList di hari itu. Sebenernya masih banyak #BdgBucketList yang belum kesampean. Misalnya aja makan keju pake indomie di Madtari. //iya, belom pernah xD// Atau ke Bukit Moko. Atau yang baru-baru ini ngehits, Tebing Keraton. Mudah-mudahan nantinya ada kesempatan untuk main ke Bandung lagi dan mengeksekusi #BdgBucketList lainnya. 🙂

Makasih Bandung untuk 7 tahun ini dan makasih teman-teman yang mau nemenin. Semoga bisa jalan-jalan bareng lagi dalam waktu dekat 😉

Advertisements

#BdgBucketList: Bandung City Tour

I’ve been living in Bandung for almost 7 years. That’s quite a long time but there are so many places i haven’t visited yet. I only write down those places on my bucket list. And before i leave this town (for good, sooner or later), i want to fulfill my bucket list.

May 24th, 2014
It was saturday, most of the time I spend my weekend on my room. But that day, I was bored and since the night before I was thinking about my bucket list. So I opened kiri.travel, searching all angkot route I need. And I managed to arrange the itinerary in less than 10 minutes. lol.

Museum of Geology

Museum of Geology

My first stop was Geology Museum. I took Dago-Riung Bandung angkot from Pasar Simpang Dago. Ticket for public visitor costs IDR 3000. It’s superrr cheap. But I guess the price for foreign tourists will be different and slightly more expensive. There was an officer checking my ticket and then she asked me to put my bag on baggage storage. I was impressed because i didn’t think that this museum will be that well-organized.

Right in front of the main door, I saw giant ancient elephant fossil. It’s reaally big. Turn right, I entered a room with History of Life theme. In this room, we can find explanation about early life on earth and the evolution process. There’s also explanation about ancient Bandung, fossils of ancient animals, early humans, and wood fossils. And the most interesting, there’s tyrannosaurus fossil in this room. Actually, there’s a room on the left side but it was being renovated at that time. That room’s theme is Geology of Indonesia.

Heading upstairs, there are 2 rooms. First room’s theme is mainly about disaster mitigation. There’s earthquake simulator in this room. There are some collections related to Merapi eruption: motorbike & tv that burned by the pyroclastic flow. A video about signs of tsunami also played in this room.

SAM_4453

from merapi eruption

Another room shows mineral collection. There’s explanation about metal, non metal, gemstones, oil and gas, and coal. There’s also explanation about geothermal and water power plant.

In front of the museum, there’s Rock Cycle Park. This park describes the dynamic transitions through geologic time among the three main rock types: sedimentary, metamorphic, and igneous.

My next destination was Rasa Bakery & Cafe. This old bakery is famous for its home-made ice cream. From geology museum, i walked to Dukomsel Dago. Actually, from the museum i could also take Cicaheum-Ledeng angkot to Dukomsel. In front of Dukomsel, I took Kalapa-Dago angkot. Rasa Bakery & Cafe is located in Jl. Tamblong. I ordered Belgian Waffle and Coconut Royale. I love the Belgian Waffle, the waffle is soft and the ice cream has right amount of sweetness. The Coconut Royale, even though so many people recommended it, is not my favorite. The chocolate ice cream is too bitter for my liking. But overall, it’s too sweet for me.

Next, I walked to Museum of Asia-Africa Conference. I saw some old and historical building during the walk: Grand Preanger Hotel, Bank Pacific, Bandung 0 km, Pikiran Rakyat office, Savoy Homann Hotel, and Warenhuis de Vries. When I arrived at the museum, it was closed for break time. So I continue walking to Masjid Raya (Grand Mosque) to pray. I saw other old buildings near there. After praying, I walked to the museum again and fortunately it’s already open. I entered the museum, wrote my name on the guest book, and looked around the collections. Looking at those collection makes me realize that Asia-Africa Conference was really a huge event at that time. Especially when I was in the conference hall. I can imagine all those leaders were once there.

From Museum of Asia-Africa Conference, I walked to Jl. Braga. My next destination is Sumber Hidangan, an old bakery that still keeps its vintage feels. I bought 2 sweet cakes and pastel there. I struggled eating the cakes because I don’t really like sweet things. But I really love the pastel.

After that I walked to Braga Permai. On the street, I saw some people preparing their stalls for Braga Culinary Night. In Braga Permai, I ordered crab meat fried noodles and lemon tea. The price for fried noodles is similar to the one in S*laria so I thought the portion will be similar. But when the food was coming, I was really surprised. The portion was super big: I was alone and not that hungry. So I called my friends to help me eat it, but nobody could come. T_T I finally took the food home.

Lesson learned: don’t come to this restaurant only by yourself, the portion is no joke. Braga Permai ended my journey to fulfill my bucket list for that day. 🙂

Mampir ke Museum Pos Indonesia

Beberapa waktu lalu saya mau mengirim sesuatu ke luar negeri, biasanya saya ke kantor pos pusat yang di Jl. Asia Afrika karena pasti bisa EMS. Saya pernah coba yang di Dago tapi disana nggak bisa EMS. Tapi karena kejauhan, saya pun coba datang ke Kantor Pos Cilaki. Dan untungnya bisa kirim pakai EMS juga disana. Saat itu ramai anak SD, dan dari situlah saya tahu kalau disana ada Museum Pos juga. Tapi karena abis itu saya harus ke kantor, jadinya nggak sempat deh mampir ke museumnya.

Museum Pos Indonesia

Museum Pos Indonesia

Sekian minggu kemudian, saya ingin mengirim kartu pos. Saya pun ke Kantor Pos Cilaki lagi. Kali ini saya iseng mampir ke museum. Masuk ke museumnya gratis, keluarnya.. juga gratis kok. Haha.

Koleksi pertama yang dilihat adalah berbagai macam kotak pos. Ada kotak pos model jepang karena memang hadiah dari jepang, ada kotak pos yang biasa kita lihat di jalan, ada juga kotak pos yang lacinya banyak yang biasanya dipake di gedung bertingkat dan masing-masing laci digunakan untuk menampung surat untuk lantai tertentu.

kotak pos model jepang

kotak pos model jepang

Belok kiri dari situ kita bisa melihat sepeda jaman dulu yang dipakai sebagai sepeda pos. Di dekat situ ada juga koleksi perangko emas yang dibuat untuk memperingati meninggalnya ibu tien soeharto dan presiden soekarno, serta 1 abad bung hatta. Ada koleksi mesin cetak alamat juga. Dan yang paling mencolok, ada diorama pos keliling desa yang ukurannya 1:1. Tapi ya itu wig dan tampang orang-orangnya serem gitu. Haha.

Agak kesana lagi ada koleksi perangko dari berbagai negara. Dikelompokkan berdasarkan negara dan tema perangkonya. Ada koleksi mesin-mesin jadul yang dipakai dalam proses kerja pengeposan juga. Misalnya timbangan dan mesin sortir.

Kemudian ada koleksi kantong pos dan seragam pos. Ruangan gelap + sepi + bangunan tua + koleksi dari jaman dulu membuat saya agak merinding. Haha. Jadilah saya nggak lama-lama disana. Pas jalan ke arah luar, ketemu diorama lain yang serem juga. Wkwkwk. Makin cepetlah jalannya. Hahaha.

Kalau berdasarkan banner di luar, harusnya kita bisa minta pakai pemandu atau ke ruang audiovisual supaya dapat penjelasan lebih banyak. Tapi karena waktu itu saya emang iseng doang dan nggak mau lama-lama ditambah hari itu hari sabtu dan museum cuma buka setengah hari jadinya ya nggak sempet nanya soal audiovisualnya. Sayangnya pas kesana hp saya lowbat dan kamera yang dibawa juga ternyata belum dicas, alhasil cuma sedikit deh foto-fotonya.

Saran saya, kalau kesini jangan sendirian apalagi kalau penakut macam saya ini. xD

Akhirnya Kawah Putih

Coba deh googling “objek wisata bandung” atau “tempat wisata bandung yang wajib dikunjungi”. Kemungkinan besar hasil teratasnya adalah Kawah Putih. Sudah lamaaa banget saya pengen kesana, mungkin sejak film Heart yang dulu sempat ngehits itu tayang. Haha. Dan setelah 6 tahun lebih di Bandung, akhirnya kesampean juga bisa kesana. :”D

Kebetulan waktu itu long weekend dan tim jakarta pengen ke bandung. Tapi bosen dong tiap kali ke bandung mainnya ke mall atau cafe terus. Saya pun mengusulkan gimana kalau ke kawah putih saja. Pertamanya agak-agak nggak setuju karena bingung siapa yang mau bawa mobil kesana. Jalannya jauh, naik turun pula, belum kalo pake macet. Males dong. Akhirnya dengan bujukan saya dan jikung yang memelas sedih belum pernah ke kawah putih, yang lain pun setuju kesana dengan menyewa sopir. Mobilnya bisa pakai mobil iponk. Yeayyy!

30 Maret 2014
Malamnya kami menginap di rumah iponk karena kami berencana berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari macet. Tapi akhirnya kami berangkat sekitar jam 7 kurang. Yang ikut waktu itu adalah saya, jikung, iponk, dan apin. Kami lebih banyak tidur di perjalanan. Haha. Perjalanan ke kawah putih lumayan lancar, kami sampai disana jam 9. Dari gerbang ke lokasi kawah bisa naik ontang-anting atau bawa mobil parkir di atas. Tapi karena kalau bawa mobil ke atas biayanya mahal (sekitar 150-250ribu, saya lupa pastinya dan belum termasuk tiket per orang), kami pun naik ontang-anting. Harga tiket ontang-anting kalau nggak salah 30-40an ribu, bolak balik. Ontang-anting ini mobil tapi nggak ada penutup sampingnya gitu. Perjalanan dari bawah ke lokasi utama dengan ontang-anting ini sensasinya kalau kata ceu syahrini mah cetar membahana. Ya bayangin aja, jalan nggak alus-alus banget, banyak tikungan, ontang-antingnya ngebut pula. Udah berasa naik roller coaster yang setting lokasinya di alam terbuka. Hasil foto saya di ontang-anting blur semua gara-gara goncangannya yang luar biasa. Hahaha.

Sampai di atas, kami langsung mengikuti jalan menuju kawah putih. Wahh, beneran keren ternyata. Dan walaupun masih pagi, kawah putih saat itu sangat ramai. Kami pun berkeliling dan foto-foto disana. Sambil memperhatikan orang-orang, kami menemukan mbak-mbak yang posenya “eksotis” gitu pas foto di dekat pohon. Ampun lah mbak, model ANTM kalah sama mbak.

Di beberapa titik bisa terlihat asap muncul dari permukaan kawah. Namun bau belerangnya tidak terlalu tercium, jadi walaupun kami sudah menyiapkan masker ujung-ujungnya malah lebih sering tidak dipakai. Setelah puas berjalan-jalan di sekitar kawah, kami pun naik ke atas. Saat pertama turun tadi, kami sempat melihat papan penunjuk arah “Hutan Cantigi” di dekat tangga. Kami pun penasaran dan akhirnya berbelok kesana. Tapi setelah diikuti, di ujungnya tidak ada jalur yang di paving block lagi. Malah ada 2 jalur ke kiri dan ke kanan seperti jalan setapak. Karena sepertinya sepi dan tidak tahu harus kemana, kami pun akhirnya memilih balik lagi saja. Setelah itu kami keluar dan naik ontang-anting lagi menuju ke tempat parkir di bawah. Di dekat tempat parkir banyak penjual makanan dan oleh-oleh. Dari jauh tampak menarik, tapi saya nggak sempat mampir.

Dari kawah putih, kami pun melanjutkan perjalanan ke Situ Patengan. Sayang dong sudah jauh-jauh sampai sana nggak sekalian ke situ patengan. Saya suka banget view situ patengan yang terlihat dari atas. Sampai di situ patengan, kami jalan-jalan di sekitar danaunya. Disana kita bisa naik perahu atau naik bebek-bebekan yang dikayuh sendiri. Banyak yang menawari kami untuk naik perahu, tapi pada nggak berminat jadinya cuma lihat-lihat danau saja. Danaunya bening. Kami nggak begitu lama disana.

Dari situ patengan kami mampir ke perkebunan teh yang ada di pinggir jalan. Foto-foto alay disana, haha. Baru deh abis itu pulang. Nah, perjalanan pulang ini macetnya luar biasa karena rame banget mobil yang ke arah atas. Kalo nggak salah perjalanan pulang memakan waktu hampir 6 jam, fiuhh untung pake sopir. Walaupun capek tapi senangg, akhirnya salah satu bucket list terpenuhi juga. 😀