Danau Ranau (+ Pesisir Barat Lampung)

Danau Ranau. Ada yang tahu itu dimana? Sumatera Selatan? Lampung? Yak, yang jawab Sumatera Selatan atau Lampung, dua-duanya benar! Danau Ranau terletak di perbatasan provinsi Sumatera Selatan dan Lampung. Danau Ranau merupakan danau terluas kedua di Sumatera setelah Danau Toba.

peta lokasi danau ranau

peta lokasi danau ranau

Pada libur lebaran yang lalu, saya dan keluarga besar impulsif pergi ke Danau Ranau. Kurang lebih 4 mobil ikut dalam rombongan. Karena banyak anak-anak dan ibu-ibu yang ikut, perjalanan pun dilakukan dengan santai. Alon-alon asal kelakon istilah kerennya. Hari ketiga lebaran, pagi-pagi sekali kami berangkat ke Liwa melalui jalur pesisir barat Lampung. Dalam perjalanan, kami sempat mampir ke Pantai Melasti dan Pantai Tanjung Setia.

Melasti merupakan nama upacara agama Hindu di Bali. Loh, kok bisa-bisanya ada pantai yang namanya Melasti di Lampung? Ternyata oh ternyata, itu karena banyak orang Bali yang tinggal di dekat pantai ini. Bahkan, pantai ini dijadikan pusat pelaksanaan Melasti yang dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi bagi masyarakat Hindu di Lampung Barat. Di pantai ini juga terdapat pura yang bernama Tirta Bhuana. Pemandangan babi-bagi gemuk bukanlah hal yang langka karena masyarakat disana beternak babi. Berbeda dengan pantai di area teluk lampung yang ombaknya relatif tenang, ombak di pantai melasti ini lumayan besar. Garis pantainya juga panjang. Maklum, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Pantai Tanjung Setia merupakan pantai yang terkenal sebagai area surfing. Bahkan katanya banyak bule-bule yang sengaja datang kesini. Ekspektasi saya terhadap pantai ini sangatlah tinggi. Tapi, ketika kesana yang saya temui adalah pantai surut berombak kecil yang ramai dengan penduduk lokal. Maklum, libur lebaran. Pantai dianggap tempat liburan yang murah meriah. Tapi karena saking ramainya, pantai jadi kotor karena sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Saya pun bertanya kepada salah satu pedagang disitu, dimana pantai yang banyak bule surfing-nya. Dan ternyata kami perlu masuk lebih jauh lagi kalau mau liat area surfing. Bukan pantai yang kami datangi itu. Padahal pantai itu adalah pantai yang paling dekat dengan gerbang Pantai Tanjung Setia. Sayang, karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat mampir kesana. Tapi kelapa muda super segar dan murah meriah cukup untuk mengobati kekecewaan kami saat itu.

pantai tanjung setia (?)

pantai tanjung setia (?)

Untuk ke Liwa, kami perlu memasuki jalan di tengah hutan. Cukup menegangkan melewati jalan yang naik turun ini. Tapi di beberapa titik kami terhibur dengan pemandangan sungai ataupun air terjun mini di samping jalan. Karena jalan santai plus mampir-mampir, kami baru sampai di Liwa waktu maghrib. Kami menginap di rumah saudara dan baru keesokan harinya berangkat ke Danau Ranau. Suhu di Liwa lumayan dingin karena letaknya yang di dataran tinggi. Karena gempa besar yang mengguncang Liwa pada tahun 1994, rumah saudara kami pernah rusak parah dan sekarang dibangun kembali dengan material kayu yang lebih tahan gempa.

Perjalanan dari Liwa ke Danau Ranau memakan waktu sekitar 1,5 jam. Tetap dengan jalan yang naik turun dan kadang rusak parah. Ekspektasi kami memuncak saat Danau Ranau mulai terlihat. Ada beberapa tempat untuk menikmati Danau Ranau. Salah satunya adalah Seminung Lumbok Resort yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Saat itu kami pergi kesana. Dan ternyata, fasilitas untuk menikmati danau tidak sesuai harapan. Untuk menuju ke pinggir danau, kami perlu berjalan turun di jalan tanah yang curam. Dan begitu sampai di bawah, area pengunjungnya tidak luas. Untungnya ada warung tenda yang menjual kopi dan gorengan. Setidaknya ada yang bisa kami lakukan untuk menghabiskan waktu. Saat kami disana, ada kapal yang menepi di dermaga. Kapal ini berasal dari Banding Agung. Sayang, karena lebaran kapal ini cuma dipakai untuk keluarga mereka saja dan tidak mengangkut penumpang. Padahal katanya fasilitas di Banding Agung lebih baik daripada di Seminung Lumbok Resort.

Sebenarnya, Danau Ranau ini cantik sekali. Airnya jernih, masih alami. Gunung Seminung berdiri kokoh di belakangnya. Tapi, kalau mau berkunjung bersama keluarga apalagi yang banyak anak kecilnya memang lebih baik masuk melalui Banding Agung atau Pusri yang katanya fasilitasnya lebih oke. Kalau mau traveling gaya adventure, kayaknya oke juga kalau nginap di rumah penduduk dan melihat-lihat kegiatan penduduk disini.

Dalam perjalanan kembali ke Bandar Lampung, kami melewati keramaian perayaan Sekura. Banyak pemuda bertopeng sarung. Sepertinya tiap RT merayakan festival ini, selang beberapa rumah selalu terlihat panggung atau pinang dengan hadiah di atasnya yang siap dipanjat. Ramai sekali. Baru kali ini saya melihat perayaan Sekura. πŸ˜€

Advertisements

Mission Accomplished: Naik Puncak Monas

Saya pertama kali ke Monas tahun 2010. Kesana bareng sepupu saya yang waktu itu masih kuliah di Jakarta. Berangkat naik kereta pagi harinya dari Bandung, saya kemudian dijemput di Stasiun Gambir dan lihat-lihat Kota Tua Jakarta. Siang menuju sore, kami baru ke Monas. Sekalian menunggu kereta balik ke Bandung. Saat itu kami nggak masuk ke dalam. Cuma muter-muter dan (pastinya) foto-foto di sekitaran halaman Monas.

struktur monas. source: link

Kedua kalinya, kalau nggak salah pas Februari 2013. Kesana buat meetup sama jikung dan apin. Dan kebetulan waktu itu ada temen kissme-nya jikung dari singapura yang ke indonesia. Sayangnya pas itu nggak bisa naik ke puncaknya. Kami cuma keliling Museum Sejarah Nasional yang berada di bagian paling bawah dan mengunjungi Ruang Kemerdekaan. Museum ini berisi diorama mulai dari zaman kerajaan sampai pasca kemerdekaan di Indonesia.

Belum menyerah untuk naik ke puncak Monas, sekitar bulan Februari 2014 saya kembali lagi ke Monas. Sayangnya kali ini saya juga gagal naik ke puncak Monas karena lift-nya belum selesai diperbaiki. Saya cuma naik sampai cawan bawah Monas. Lumayanlah ada peningkatan dari sebelumnya. πŸ˜› Selain naik cawan bawah Monas, saya juga berkeliling untuk melihat relief yang berada di pagar keempat sisi Monas. Relief ini menggambarkan tentang sejarah, berbagai suku dan budaya Indonesia, berbagai agama, flora & fauna, profesi, olahraga, dll.

Beberapa saat setelah kunjungan saya yang ketiga, saya baca berita kalau perbaikan lift monas sudah hampir selesai. Saya pun meniatkan untuk kembali lagi ke Monas. Dan akhirnya bulan lalu saya ke Monas untuk yang keempat kalinya. Dan kali ini, sesuai judul post ini: saya berhasil naik ke puncak Monas! Yeayy! Biaya masuk Monas untuk umum kalau nggak salah 4000, ditambah sumbangan 1000. Kalau mau naik ke puncak tambah 10.000 lagi. Nanti kita dikasih gelang dengan warna tertentu yang menentukan jam naik. Tapi kayaknya pada prakteknya waktu naik belum tentu sama dengan yang tertera di gelang.

Karena sudah 2 kali mampir ke museum, saya pun nggak kesana lagi dan langsung saja menuju pintu dekat lift menuju puncak. Ternyata sudah banyak yang antre untuk naik ke atas. Sekali naik, lift hanya mampu mengangkut maksimal sekitar 11 orang. Pantes aja antreannya panjanggg. Setelah lumayan lama antre, sampai juga giliran saya. Selain saya, di dalam lift ada rombongan keluarga dan rombongan turis asing yang kalau nggak salah dari Finlandia.

Sampai di atas, saya memperhatikan sekitar. Ternyata puncak monas tidak seluas yang saya kira. Dari hasil googling, saya mendapatkan bahwa lebarnya adalah 11×11 m. Dikurangi area yang digunakan sebagai lift, dikira-kira saja lebarnya berapa. Ada beberapa teropong yang disediakan di puncak Monas. Kita bisa menggunakannya setelah memasukkan koin. Di setiap sisi puncak monas ada foto gedung-gedung yang tampak dari sana. Sayangnya tidak ada penjelasan itu gedung apa saja, padahal ada nomor di foto-foto gedung tersebut. Selain itu, pagar puncak Monas terlalu tinggi buat saya. Hahaha //itu sih saya aja yang pendek xD// Jadinya saya harus jinjit-jinjit untuk lihat ke luar. Sebenarnya ada beberapa tangga kecil buat anak-anak atau orang pendek seperti saya. Tapi pada dipake duduk, jadi nggak naik deh.

Berikut ini adalah foto-foto yang saya ambil dari puncak Monas.

Angin di puncak Monas cukup kencang. Karena takut masuk angin kalo kelamaan disana, saya pun kemudian turun. Tapi untuk turun, lagi-lagi perlu antre lift. Fyuhh.

Jadi, gimana kesannya setelah berhasil naik ke puncak Monas? Karena ini hiburan murah meriah, tentu saya nggak bisa berharap macem-macem. Mau minta kapasitas lift ditingkatkan, kayaknya nggak mungkin. xD Saya cuma minta bangku-bangku kecilnya aja deh buat ditambah. Hahaha. Trus semoga pengunjungnya juga pengertianlah satu sama lain, gantian kalo pake teropong atau bangkunya. Hehe. Dan terakhir, semoga lift Monas sehat selalu walaupun setiap hari dipake naik turun terus. \o/

#BdgBucketList: Lembang dan sekitarnya

Holaaa, apa kabar semuaa?? Post ini harusnya diberesin 2 bulan lalu. Tapi karena males dan keterbatasan laptop/internet akhirnya baru bisa beresin sekarang. Hahaha

Another edition of #BdgBucketList. Yeayyy \o/ Mungkin pada bertanya-tanya kenapa saya nyebut-nyebut bucket list melulu di beberapa posting terakhir. //pede// Hmm, jadi gini ceritanya… Saya akhirnya nggak tinggal di Bandung lagi… ihiks T.T Karena beberapa pertimbangan, sudah agak lama saya berpikir untuk meninggalkan Bandung. Nggak betah? Bukan pastinya. Kalo nggak betah nggak mungkin saya bisa tahan 7 tahun di Bandung. Mulai makanan, orang-orangnya, tempat, suasana, dll… Semua menyenangkan. Tapi saya merasa butuh petualangan baru //sok iyes// xD Maklum, sebenernya saya orangnya bosenan banget. Waktu saya pertama kali bilang soal bucket list di blog ini, saya belum tau kapan dan kemana saya akan pindah. Tapi saat saya merencanakan eksekusi bucket list ini, saya sudah tahu tanggal kepindahan saya. Dan eksekusi bucket list ini dilakukan 2 hari sebelum saya berangkat. Semacam farewell gitu deh jadinya πŸ˜€

5 Juli 2014

Dusun Bambu

Pernah denger Dusun Bambu? Kalo nggak pernah, plis deh googling dulu.

Dusun Bambu terletak di Lembang. Lembang memang bukan di Kota Bandung, tapi di Kabupaten Bandung Barat. Jadi masih valid kan kalo saya masukin sebagai bagian dari #BdgBucketList. πŸ˜›

Sejak dibuka awal tahun 2014 lalu, Dusun Bambu langsung nge-hits banget. Pengennya sih ikutan ngehits dan dateng kesana dari dulu-dulu. Tapi karena jauh dan kayaknya ribet dan maksa banget kalo kesana sendirian naik kendaraan umum, akhirnya saya baru kesana awal Juli lalu. Kesananya sama siapa? Yak, seperti biasa ada iponk, ananti, gisca, icha, dan apin. Dan sebagai bintang tamu ada bella dan adik saya, lia.

Apa sih sebenernya Dusun Bambu ini? Kalo dari websitenya sih dibilangnya Dusun Bambu ini adalah Family Leisure Park. Konsepnya adalah gabungan budaya sunda dan alam terbuka. Yang menarik dan saya baru tau setelah saya baca websitenya, dulunya lokasi Dusun Bambu ini adalah lahan pertanian yang nggak begitu bagus. Tapi setelah ditanam 100.000 pohon di lokasi ini dan sekitarnya, lalu kemudian dibangun bangunan yang merupakan perpaduan keindahan alam dan arsitektur jadilah Dusun Bambu Family Leisure Park ini.

Ongkos masuk Dusun Bambu adalah 10.000 per orang, dan parkir mobil 10.000. Setelah parkir mobil, kita bisa naik shuttle yang disediakan untuk menuju area utama. Shuttle ini penampilannya mencolok, soalnya dihias kain perca warna warni gitu. Namanya juga lucu: wara wiri. πŸ˜€

wara wiri

wara wiri

Bisa ngapain sih di Dusun Bambu? Salah satu hal yang paling hits disini adalah beberapa restoran yang punya konsep dan bangunan yang unik: Burangrang, Lutung Kasarung, dan Purbasari. Lutung Kasarung terletak di samping walkway di antara pohon-pohon, bentuknya seperti kandang burung yang ditutupi ranting-ranting kayu. //why does it sound bad? it’s actually really unique xD// Sedangkan Purbasari adalah gasebo dengan desain khas sunda yang terletak di pinggir danau. Sayangnya pas kami kesana kami sedang puasa, jadi nggak sempet nyobain makan. Tapi katanya harga makanan disini lumayan mahal juga sih, jadi belum tentu juga makan kalo nggak puasa. xD Selain restoran, ada juga pasar buah-buahan dan sayur organik yang disebut Pasar Khatulisiwa. Desainnya juga unik. Untuk aktivitas, disini kita bisa bersepeda, panen padi, nginep, nyobain egrang, panahan, atau naik hot air balloon! Biaya naik hot air balloon kalo nggak salah 175.000. Egrang, ayunan, enjotan, dll gratis. Panahan dan bersepeda saya nggak inget berapa. Soalnya kami pas kesana nggak main yang berbayar. Jadi, apa yang kami lakukan? Masih tanya? Foto foto! xD

Banyak banget bangunan unik dan pemandangan asri yang bisa jadi objek foto disini. Makanya tempat ini ngehits di kalangan anak muda yang doyan foto-foto. Ini adalah beberapa foto yang saya ambil di Dusun Bambu.

Dan ini foto-foto narsis kami:

Setelah dari Dusun Bambu, kami bingung menentukan tujuan selanjutnya. Tadinya mau ke Curug Cimahi, tapi sayang waktu itu sedang tutup. Akhirnya kami iseng ke Bosscha.

Bosscha

Tau Bosscha kan? Petualangan Sherina? Anak tahun 90an pasti tau. Sebenernya kami sudah tahu kalau Bosscha tutup selama bulan puasa dan lebaran. Tapi kami tetap aja kesana, berharap semoga gerbangnya dibuka walaupun observatoriumnya tutup. Dan untungnya gerbangnya dibuka dan ada beberapa orang juga yang datang kesana meskipun tutup. Kami diperbolehkan untuk mengunjungi bagian luarnya saja. Yeayy!

Jalan menuju ke Bosscha bisa dilihat disini. Sedangkan untuk jadwal buka dan peraturan kunjungan observatorium Bosscha bisa dilihat disini. Jadi ada 2 jenis kunjungan, kunjungan siang dan kunjungan malam. Untuk kunjungan siang rombongan, harus daftar dulu. Untuk yang keluarga/perorangan, bisa langsung datang hari Sabtu jam 9-13. Biayanya 15.000 per orang. Untuk kunjungan malam hanya dibuka pada tanggal-tanggal tertentu pada musim kemarau dari jam 17-20. Untuk bisa melakukan kunjungan malam harus mendaftar dulu. Cepat-cepat daftar karena kuotanya terbatas. Tapi katanya kalau kehabisan, bisa coba-coba tanya ke anak astronomi ITB. Katanya sih mereka dapet jatah tiket lebih πŸ˜‰ Biaya kunjungan malam adalah 20.000.

Di Bosscha, kami foto-foto saja di luar observatorium utama. Itu loh, tempat Sherina & Sadam ngumpet waktu kabur abis diculik anak buahnya Kertarajasa. πŸ˜›

bosscha!

bosscha!

Menurut Ananti yang pernah ikut kunjungan malam, saat kunjungan malam kita akan dibawa berkeliling melihat teleskop-teleskop di ruangan lain. Ahh, jadi pengen ><

Dari Bosscha kami bingung mau kemana lagi. Setelah bingung bingung, kami memutuskan untuk mencari tempat petik stroberi. Saat pak sopir membawa mobil menuju tempat petik stroberi, kami pun pulas tidur. xD Sampai di tempatnya, kalo nggak salah namanya Rumah Stroberi, ternyata stroberinya sudah habis yang bisa dipetik hari itu. Harus pagi-pagi kalau mau petik stroberi. Karena tempat itu sebenarnya adalah rumah makan + kebun stroberi, cukup awkward buat kami yang hampir semuanya berjilbab (kecuali apin tentunya) seliweran disitu. Kami pun pergi dari sana.

Tujuan selanjutnya adalah Green Forest Resort. Karena katanya tempat ini bagus buat foto-foto. Sampai disana sebenarnya kami sudah kecapekan. Maklum, lagi puasa. Akhirnya disana cuma duduk-duduk dan foto di depan kapel berbentuk segitiga mirip seperti yang di Uluwatu.

//Sebenernya dari Lembang masih lanjut ke ITB buat keliling-keliling dan malamnya buka bareng, tapi cukup jadi konsumsi pribadi aja detailnya. πŸ˜‰

Dan akhirnya selesai juga eksekusi #BdgBucketList di hari itu. Sebenernya masih banyak #BdgBucketList yang belum kesampean. Misalnya aja makan keju pake indomie di Madtari. //iya, belom pernah xD// Atau ke Bukit Moko. Atau yang baru-baru ini ngehits, Tebing Keraton. Mudah-mudahan nantinya ada kesempatan untuk main ke Bandung lagi dan mengeksekusi #BdgBucketList lainnya. πŸ™‚

Makasih Bandung untuk 7 tahun ini dan makasih teman-teman yang mau nemenin. Semoga bisa jalan-jalan bareng lagi dalam waktu dekat πŸ˜‰

Semua Karena Kamu, Iyaaa Kamuu

Iya AirAsia, kamu loh kamuuuu

Duluu, kalo mau jalan-jalan sebisa mungkin deh saya menghindari yang namanya naik pesawat. Mahal bo! Maklum, budget tipis. Padahal naik pesawat bisa menghemat banyak waktu buat yang jatah liburnya terbatas. Impian menginjakkan kaki di luar negeri juga cuma jadi impian aja, lagi-lagi karena masalah fulus. Tapiii itu dulu. Setelah kenal AirAsia begitu ada pikiran impulsif buat jalan-jalan, websiteΒ yang pertama saya buka malah website-nya AirAsia. Bahkan lebih sering kebalikannya, saya jalan-jalan karena nemu tiket murah meriah di AirAsia. Murah dapet, hemat waktu juga dapet. Hahahahaha.

Semua berawal pada Maret 2013, saat itu ada promo AirAsia dan saya berhasil mendapatkan tiket murah ke Singapura untuk bulan Oktober 2013. Percaya atau tidak itu adalah tiket yang membawa saya ke luar negeri untuk pertama kalinya. Paspor yang saya bikin 2 tahun sebelumnya pun akhirnya ada capnya. Terharu :” Lebih terharu lagi karena saya kesana bareng partner in crimes. Setelah berkali-kali merencanakan traveling bareng dan berkali-kali pula hanya berakhir sebagai wacana. Ya ndilalah kok berhasilnya pas ke singapura ini. Dan semuanya terbang pakai AirAsia. Maklum, yang paling murah dan cocok waktunya ya AirAsia. Apalagi AirAsia juga punya direct flight ke singapura dari kota asal kami yang berbeda-beda: Jakarta, Bandung, dan Medan. Jodoh banget lah pokoknya.

pertama kali ke luar negeri, pertama kali naik AirAsia~~

pertama kali ke luar negeri, pertama kali naik AirAsia~~

20131006_091320

bersama partner in crimes bergaya chibi chibi di depan universal studios singapore

Berhasil mendapatkan tiket murah ternyata bikin ketagihan. Bulan September 2013 (bahkan sebelum saya berangkat ke Singapura), AirAsia ada promo lagi. Kali ini saya mencoba peruntungan dengan persiapan yang lebih matang. Saya list tanggal-tanggal merah di tahun 2014. Saya buat daftar kombinasi tanggal dan tujuan yang bisa dicoba. Dengan semangat 45 saya buka beberapa browser dan tab untuk mencoba kombinasi itu saat promo dimulai. Hahaha. Dan saat itu saya akhirnya tergoda membeli tiket untuk ke Kuala Lumpur dan Bali. Tentunya dengan harga murah meriah. Masing-masing hanya 300ribuan untuk tiket pp. Kurang murah apalagi coba. Ongkos saya bandung-bandar lampung naik bis pp aja lebih mahal dari itu.

Tiket ke KL itu akhirnya membuat saya jalan-jalan sendirianΒ di luar negeri untuk pertama kalinya. Bujuk rayu saya ternyata kurang manjur. Nggak ada teman atau saudara yang berhasil dibujuk untuk ikut. Haha. Padahal saya sudah membayangkan batu caves, dataran merdeka, dan petronas towers di depan mata. Sayang banget kalau nggak jadi berangkat, nanti dedek bayinya ileran #eh. Dan ya itu akhirnya saya berangkat sendiri. Kalau bukan karena AirAsia entah kapan saya bisa menantang diri saya sendiri untuk survive di negeri orang (walaupun cuma sebentar :P). Baca peta sendiri, susun rute sendiri, jalan sendiri, makan sendiri… Kok kalo disebut-sebut gitu melas ya, padahal sendirian itu ternyata fun loh. Mau kemana mau ngapain kita sendiri yang ngatur. Bebas merdeka. πŸ˜›

2014-03-14 18.09.43

detik-detik menuju perbolangan ke KL

Sebulan setelah ke KL, saya berangkat ke Bali. Dan percaya atau nggak juga, ini adalah pertama kalinya saya ke Bali. Iya saya yang orang Indonesia asli ini baru pertama kali ke Bali. Kalau bukan karena AirAsia entah kapan saya bisa ke Bali. Akhirnya saya bisa membuktikan sendiri keindahan pulau Bali yang dipuja-puja seluruh dunia. Yang bahkan lebih dikenal daripada Indonesianya sendiri. :”)

tadaa

misi utama!

Memang baru 3 kali saya naik AirAsia, tapi masing-masing menciptakan pengalaman “pertama” buat saya. Pengalaman yang akan terus saya ulang-ulang ceritanya sampe yang dengar bosan. Pengalaman yang mungkin nggak akan terjadi kalau saya nggak kenal AirAsia. Semua karena kamu, AirAsia. Iyaa, kamuu. :*

p.s: tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia. *siapa tau bisa ke nepal ato penang untuk pertama kalinya karena airasia* xP

#BdgBucketList: Bandung City Tour

I’ve been living in Bandung for almost 7 years. That’s quite a long time but there are so many places i haven’t visited yet. I only write down those places on my bucket list. And before i leave this town (for good, sooner or later), i want to fulfill my bucket list.

May 24th, 2014
It was saturday, most of the time I spend my weekend on my room. But that day, I was bored and since the night before I was thinking about my bucket list. So I opened kiri.travel, searching all angkot route I need. And I managed to arrange the itinerary in less than 10 minutes. lol.

Museum of Geology

Museum of Geology

My first stop was Geology Museum. I took Dago-Riung Bandung angkot from Pasar Simpang Dago. Ticket for public visitor costs IDR 3000. It’s superrr cheap. But I guess the price for foreign tourists will be different and slightly more expensive. There was an officer checking my ticket and then she asked me to put my bag on baggage storage. I was impressed because i didn’t think that this museum will be that well-organized.

Right in front of the main door, I saw giant ancient elephant fossil. It’s reaally big. Turn right, I entered a room with History of Life theme. In this room, we can find explanation about early life on earth and the evolution process. There’s also explanation about ancient Bandung, fossils of ancient animals, early humans, and wood fossils. And the most interesting, there’s tyrannosaurus fossil in this room. Actually, there’s a room on the left side but it was being renovated at that time. That room’s theme is Geology of Indonesia.

Heading upstairs, there are 2 rooms. First room’s theme is mainly about disaster mitigation. There’s earthquake simulator in this room. There are some collections related to Merapi eruption: motorbike & tv that burned by the pyroclastic flow. A video about signs of tsunami also played in this room.

SAM_4453

from merapi eruption

Another room shows mineral collection. There’s explanation about metal, non metal, gemstones, oil and gas, and coal. There’s also explanation about geothermal and water power plant.

In front of the museum, there’s Rock Cycle Park. This park describes the dynamic transitions through geologic time among the three main rock types: sedimentary, metamorphic, and igneous.

My next destination was Rasa Bakery & Cafe. This old bakery is famous for its home-made ice cream. From geology museum, i walked to Dukomsel Dago. Actually, from the museum i could also take Cicaheum-Ledeng angkot to Dukomsel. In front of Dukomsel, I took Kalapa-Dago angkot. Rasa Bakery & Cafe is located in Jl. Tamblong. I ordered Belgian Waffle and Coconut Royale. I love the Belgian Waffle, the waffle is soft and the ice cream has right amount of sweetness. The Coconut Royale, even though so many people recommended it, is not my favorite. The chocolate ice cream is too bitter for my liking. But overall, it’s too sweet for me.

Next, I walked to Museum of Asia-Africa Conference. I saw some old and historical building during the walk: Grand Preanger Hotel, Bank Pacific, Bandung 0 km, Pikiran Rakyat office, Savoy Homann Hotel, and Warenhuis de Vries. When I arrived at the museum, it was closed for break time. So I continue walking to Masjid Raya (Grand Mosque) to pray. I saw other old buildings near there. After praying, I walked to the museum again and fortunately it’s already open. I entered the museum, wrote my name on the guest book, and looked around the collections. Looking at those collection makes me realize that Asia-Africa Conference was really a huge event at that time. Especially when I was in the conference hall. I can imagine all those leaders were once there.

From Museum of Asia-Africa Conference, I walked to Jl. Braga. My next destination is Sumber Hidangan, an old bakery that still keeps its vintage feels. I bought 2 sweet cakes and pastel there. I struggled eating the cakes because I don’t really like sweet things. But I really love the pastel.

After that I walked to Braga Permai. On the street, I saw some people preparing their stalls for Braga Culinary Night. In Braga Permai, I ordered crab meat fried noodles and lemon tea. The price for fried noodles is similar to the one in S*laria so I thought the portion will be similar. But when the food was coming, I was really surprised. The portion was super big: I was alone and not that hungry. So I called my friends to help me eat it, but nobody could come. T_T I finally took the food home.

Lesson learned: don’t come to this restaurant only by yourself, the portion is no joke. Braga Permai ended my journey to fulfill my bucket list for that day. πŸ™‚

Mampir ke Museum Pos Indonesia

Beberapa waktu lalu saya mau mengirim sesuatu ke luar negeri, biasanya saya ke kantor pos pusat yang di Jl. Asia Afrika karena pasti bisa EMS. Saya pernah coba yang di Dago tapi disana nggak bisa EMS. Tapi karena kejauhan, saya pun coba datang ke Kantor Pos Cilaki. Dan untungnya bisa kirim pakai EMS juga disana. Saat itu ramai anak SD, dan dari situlah saya tahu kalau disana ada Museum Pos juga. Tapi karena abis itu saya harus ke kantor, jadinya nggak sempat deh mampir ke museumnya.

Museum Pos Indonesia

Museum Pos Indonesia

Sekian minggu kemudian, saya ingin mengirim kartu pos. Saya pun ke Kantor Pos Cilaki lagi. Kali ini saya iseng mampir ke museum. Masuk ke museumnya gratis, keluarnya.. juga gratis kok. Haha.

Koleksi pertama yang dilihat adalah berbagai macam kotak pos. Ada kotak pos model jepang karena memang hadiah dari jepang, ada kotak pos yang biasa kita lihat di jalan, ada juga kotak pos yang lacinya banyak yang biasanya dipake di gedung bertingkat dan masing-masing laci digunakan untuk menampung surat untuk lantai tertentu.

kotak pos model jepang

kotak pos model jepang

Belok kiri dari situ kita bisa melihat sepeda jaman dulu yang dipakai sebagai sepeda pos. Di dekat situ ada juga koleksi perangko emas yang dibuat untuk memperingati meninggalnya ibu tien soeharto dan presiden soekarno, serta 1 abad bung hatta. Ada koleksi mesin cetak alamat juga. Dan yang paling mencolok, ada diorama pos keliling desa yang ukurannya 1:1. Tapi ya itu wig dan tampang orang-orangnya serem gitu. Haha.

Agak kesana lagi ada koleksi perangko dari berbagai negara. Dikelompokkan berdasarkan negara dan tema perangkonya. Ada koleksi mesin-mesin jadul yang dipakai dalam proses kerja pengeposan juga. Misalnya timbangan dan mesin sortir.

Kemudian ada koleksi kantong pos dan seragam pos. Ruangan gelap + sepi + bangunan tua + koleksi dari jaman dulu membuat saya agak merinding. Haha. Jadilah saya nggak lama-lama disana. Pas jalan ke arah luar, ketemu diorama lain yang serem juga. Wkwkwk. Makin cepetlah jalannya. Hahaha.

Kalau berdasarkan banner di luar, harusnya kita bisa minta pakai pemandu atau ke ruang audiovisual supaya dapat penjelasan lebih banyak. Tapi karena waktu itu saya emang iseng doang dan nggak mau lama-lama ditambah hari itu hari sabtu dan museum cuma buka setengah hari jadinya ya nggak sempet nanya soal audiovisualnya. Sayangnya pas kesana hp saya lowbat dan kamera yang dibawa juga ternyata belum dicas, alhasil cuma sedikit deh foto-fotonya.

Saran saya, kalau kesini jangan sendirian apalagi kalau penakut macam saya ini. xD

Akhirnya Kawah Putih

Coba deh googling “objek wisata bandung” atau “tempat wisata bandung yang wajib dikunjungi”. Kemungkinan besar hasil teratasnya adalah Kawah Putih. Sudah lamaaa banget saya pengen kesana, mungkin sejak film Heart yang dulu sempat ngehits itu tayang. Haha. Dan setelah 6 tahun lebih di Bandung, akhirnya kesampean juga bisa kesana. :”D

Kebetulan waktu itu long weekend dan tim jakarta pengen ke bandung. Tapi bosen dong tiap kali ke bandung mainnya ke mall atau cafe terus. Saya pun mengusulkan gimana kalau ke kawah putih saja. Pertamanya agak-agak nggak setuju karena bingung siapa yang mau bawa mobil kesana. Jalannya jauh, naik turun pula, belum kalo pake macet. Males dong. Akhirnya dengan bujukan saya dan jikung yang memelas sedih belum pernah ke kawah putih, yang lain pun setuju kesana dengan menyewa sopir. Mobilnya bisa pakai mobil iponk. Yeayyy!

30 Maret 2014
Malamnya kami menginap di rumah iponk karena kami berencana berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari macet. Tapi akhirnya kami berangkat sekitar jam 7 kurang. Yang ikut waktu itu adalah saya, jikung, iponk, dan apin. Kami lebih banyak tidur di perjalanan. Haha. Perjalanan ke kawah putih lumayan lancar, kami sampai disana jam 9. Dari gerbang ke lokasi kawah bisa naik ontang-anting atau bawa mobil parkir di atas. Tapi karena kalau bawa mobil ke atas biayanya mahal (sekitar 150-250ribu, saya lupa pastinya dan belum termasuk tiket per orang), kami pun naik ontang-anting. Harga tiket ontang-anting kalau nggak salah 30-40an ribu, bolak balik. Ontang-anting ini mobil tapi nggak ada penutup sampingnya gitu. Perjalanan dari bawah ke lokasi utama dengan ontang-anting ini sensasinya kalau kata ceu syahrini mah cetar membahana. Ya bayangin aja, jalan nggak alus-alus banget, banyak tikungan, ontang-antingnya ngebut pula. Udah berasa naik roller coaster yang setting lokasinya di alam terbuka. Hasil foto saya di ontang-anting blur semua gara-gara goncangannya yang luar biasa. Hahaha.

Sampai di atas, kami langsung mengikuti jalan menuju kawah putih. Wahh, beneran keren ternyata. Dan walaupun masih pagi, kawah putih saat itu sangat ramai. Kami pun berkeliling dan foto-foto disana. Sambil memperhatikan orang-orang, kami menemukan mbak-mbak yang posenya “eksotis” gitu pas foto di dekat pohon. Ampun lah mbak, model ANTM kalah sama mbak.

Di beberapa titik bisa terlihat asap muncul dari permukaan kawah. Namun bau belerangnya tidak terlalu tercium, jadi walaupun kami sudah menyiapkan masker ujung-ujungnya malah lebih sering tidak dipakai. Setelah puas berjalan-jalan di sekitar kawah, kami pun naik ke atas. Saat pertama turun tadi, kami sempat melihat papan penunjuk arah “Hutan Cantigi” di dekat tangga. Kami pun penasaran dan akhirnya berbelok kesana. Tapi setelah diikuti, di ujungnya tidak ada jalur yang di paving block lagi. Malah ada 2 jalur ke kiri dan ke kanan seperti jalan setapak. Karena sepertinya sepi dan tidak tahu harus kemana, kami pun akhirnya memilih balik lagi saja. Setelah itu kami keluar dan naik ontang-anting lagi menuju ke tempat parkir di bawah. Di dekat tempat parkir banyak penjual makanan dan oleh-oleh. Dari jauh tampak menarik, tapi saya nggak sempat mampir.

Dari kawah putih, kami pun melanjutkan perjalanan ke Situ Patengan. Sayang dong sudah jauh-jauh sampai sana nggak sekalian ke situ patengan. Saya suka banget view situ patengan yang terlihat dari atas. Sampai di situ patengan, kami jalan-jalan di sekitar danaunya. Disana kita bisa naik perahu atau naik bebek-bebekan yang dikayuh sendiri. Banyak yang menawari kami untuk naik perahu, tapi pada nggak berminat jadinya cuma lihat-lihat danau saja. Danaunya bening. Kami nggak begitu lama disana.

Dari situ patengan kami mampir ke perkebunan teh yang ada di pinggir jalan. Foto-foto alay disana, haha. Baru deh abis itu pulang. Nah, perjalanan pulang ini macetnya luar biasa karena rame banget mobil yang ke arah atas. Kalo nggak salah perjalanan pulang memakan waktu hampir 6 jam, fiuhh untung pake sopir. Walaupun capek tapi senangg, akhirnya salah satu bucket list terpenuhi juga. πŸ˜€