#BdgBucketList: Lembang dan sekitarnya

Holaaa, apa kabar semuaa?? Post ini harusnya diberesin 2 bulan lalu. Tapi karena males dan keterbatasan laptop/internet akhirnya baru bisa beresin sekarang. Hahaha

Another edition of #BdgBucketList. Yeayyy \o/ Mungkin pada bertanya-tanya kenapa saya nyebut-nyebut bucket list melulu di beberapa posting terakhir. //pede// Hmm, jadi gini ceritanya… Saya akhirnya nggak tinggal di Bandung lagi… ihiks T.T Karena beberapa pertimbangan, sudah agak lama saya berpikir untuk meninggalkan Bandung. Nggak betah? Bukan pastinya. Kalo nggak betah nggak mungkin saya bisa tahan 7 tahun di Bandung. Mulai makanan, orang-orangnya, tempat, suasana, dll… Semua menyenangkan. Tapi saya merasa butuh petualangan baru //sok iyes// xD Maklum, sebenernya saya orangnya bosenan banget. Waktu saya pertama kali bilang soal bucket list di blog ini, saya belum tau kapan dan kemana saya akan pindah. Tapi saat saya merencanakan eksekusi bucket list ini, saya sudah tahu tanggal kepindahan saya. Dan eksekusi bucket list ini dilakukan 2 hari sebelum saya berangkat. Semacam farewell gitu deh jadinya πŸ˜€

5 Juli 2014

Dusun Bambu

Pernah denger Dusun Bambu? Kalo nggak pernah, plis deh googling dulu.

Dusun Bambu terletak di Lembang. Lembang memang bukan di Kota Bandung, tapi di Kabupaten Bandung Barat. Jadi masih valid kan kalo saya masukin sebagai bagian dari #BdgBucketList. πŸ˜›

Sejak dibuka awal tahun 2014 lalu, Dusun Bambu langsung nge-hits banget. Pengennya sih ikutan ngehits dan dateng kesana dari dulu-dulu. Tapi karena jauh dan kayaknya ribet dan maksa banget kalo kesana sendirian naik kendaraan umum, akhirnya saya baru kesana awal Juli lalu. Kesananya sama siapa? Yak, seperti biasa ada iponk, ananti, gisca, icha, dan apin. Dan sebagai bintang tamu ada bella dan adik saya, lia.

Apa sih sebenernya Dusun Bambu ini? Kalo dari websitenya sih dibilangnya Dusun Bambu ini adalah Family Leisure Park. Konsepnya adalah gabungan budaya sunda dan alam terbuka. Yang menarik dan saya baru tau setelah saya baca websitenya, dulunya lokasi Dusun Bambu ini adalah lahan pertanian yang nggak begitu bagus. Tapi setelah ditanam 100.000 pohon di lokasi ini dan sekitarnya, lalu kemudian dibangun bangunan yang merupakan perpaduan keindahan alam dan arsitektur jadilah Dusun Bambu Family Leisure Park ini.

Ongkos masuk Dusun Bambu adalah 10.000 per orang, dan parkir mobil 10.000. Setelah parkir mobil, kita bisa naik shuttle yang disediakan untuk menuju area utama. Shuttle ini penampilannya mencolok, soalnya dihias kain perca warna warni gitu. Namanya juga lucu: wara wiri. πŸ˜€

wara wiri

wara wiri

Bisa ngapain sih di Dusun Bambu? Salah satu hal yang paling hits disini adalah beberapa restoran yang punya konsep dan bangunan yang unik: Burangrang, Lutung Kasarung, dan Purbasari. Lutung Kasarung terletak di samping walkway di antara pohon-pohon, bentuknya seperti kandang burung yang ditutupi ranting-ranting kayu. //why does it sound bad? it’s actually really unique xD// Sedangkan Purbasari adalah gasebo dengan desain khas sunda yang terletak di pinggir danau. Sayangnya pas kami kesana kami sedang puasa, jadi nggak sempet nyobain makan. Tapi katanya harga makanan disini lumayan mahal juga sih, jadi belum tentu juga makan kalo nggak puasa. xD Selain restoran, ada juga pasar buah-buahan dan sayur organik yang disebut Pasar Khatulisiwa. Desainnya juga unik. Untuk aktivitas, disini kita bisa bersepeda, panen padi, nginep, nyobain egrang, panahan, atau naik hot air balloon! Biaya naik hot air balloon kalo nggak salah 175.000. Egrang, ayunan, enjotan, dll gratis. Panahan dan bersepeda saya nggak inget berapa. Soalnya kami pas kesana nggak main yang berbayar. Jadi, apa yang kami lakukan? Masih tanya? Foto foto! xD

Banyak banget bangunan unik dan pemandangan asri yang bisa jadi objek foto disini. Makanya tempat ini ngehits di kalangan anak muda yang doyan foto-foto. Ini adalah beberapa foto yang saya ambil di Dusun Bambu.

Dan ini foto-foto narsis kami:

Setelah dari Dusun Bambu, kami bingung menentukan tujuan selanjutnya. Tadinya mau ke Curug Cimahi, tapi sayang waktu itu sedang tutup. Akhirnya kami iseng ke Bosscha.

Bosscha

Tau Bosscha kan? Petualangan Sherina? Anak tahun 90an pasti tau. Sebenernya kami sudah tahu kalau Bosscha tutup selama bulan puasa dan lebaran. Tapi kami tetap aja kesana, berharap semoga gerbangnya dibuka walaupun observatoriumnya tutup. Dan untungnya gerbangnya dibuka dan ada beberapa orang juga yang datang kesana meskipun tutup. Kami diperbolehkan untuk mengunjungi bagian luarnya saja. Yeayy!

Jalan menuju ke Bosscha bisa dilihat disini. Sedangkan untuk jadwal buka dan peraturan kunjungan observatorium Bosscha bisa dilihat disini. Jadi ada 2 jenis kunjungan, kunjungan siang dan kunjungan malam. Untuk kunjungan siang rombongan, harus daftar dulu. Untuk yang keluarga/perorangan, bisa langsung datang hari Sabtu jam 9-13. Biayanya 15.000 per orang. Untuk kunjungan malam hanya dibuka pada tanggal-tanggal tertentu pada musim kemarau dari jam 17-20. Untuk bisa melakukan kunjungan malam harus mendaftar dulu. Cepat-cepat daftar karena kuotanya terbatas. Tapi katanya kalau kehabisan, bisa coba-coba tanya ke anak astronomi ITB. Katanya sih mereka dapet jatah tiket lebih πŸ˜‰ Biaya kunjungan malam adalah 20.000.

Di Bosscha, kami foto-foto saja di luar observatorium utama. Itu loh, tempat Sherina & Sadam ngumpet waktu kabur abis diculik anak buahnya Kertarajasa. πŸ˜›

bosscha!

bosscha!

Menurut Ananti yang pernah ikut kunjungan malam, saat kunjungan malam kita akan dibawa berkeliling melihat teleskop-teleskop di ruangan lain. Ahh, jadi pengen ><

Dari Bosscha kami bingung mau kemana lagi. Setelah bingung bingung, kami memutuskan untuk mencari tempat petik stroberi. Saat pak sopir membawa mobil menuju tempat petik stroberi, kami pun pulas tidur. xD Sampai di tempatnya, kalo nggak salah namanya Rumah Stroberi, ternyata stroberinya sudah habis yang bisa dipetik hari itu. Harus pagi-pagi kalau mau petik stroberi. Karena tempat itu sebenarnya adalah rumah makan + kebun stroberi, cukup awkward buat kami yang hampir semuanya berjilbab (kecuali apin tentunya) seliweran disitu. Kami pun pergi dari sana.

Tujuan selanjutnya adalah Green Forest Resort. Karena katanya tempat ini bagus buat foto-foto. Sampai disana sebenarnya kami sudah kecapekan. Maklum, lagi puasa. Akhirnya disana cuma duduk-duduk dan foto di depan kapel berbentuk segitiga mirip seperti yang di Uluwatu.

//Sebenernya dari Lembang masih lanjut ke ITB buat keliling-keliling dan malamnya buka bareng, tapi cukup jadi konsumsi pribadi aja detailnya. πŸ˜‰

Dan akhirnya selesai juga eksekusi #BdgBucketList di hari itu. Sebenernya masih banyak #BdgBucketList yang belum kesampean. Misalnya aja makan keju pake indomie di Madtari. //iya, belom pernah xD// Atau ke Bukit Moko. Atau yang baru-baru ini ngehits, Tebing Keraton. Mudah-mudahan nantinya ada kesempatan untuk main ke Bandung lagi dan mengeksekusi #BdgBucketList lainnya. πŸ™‚

Makasih Bandung untuk 7 tahun ini dan makasih teman-teman yang mau nemenin. Semoga bisa jalan-jalan bareng lagi dalam waktu dekat πŸ˜‰

Akhirnya Kawah Putih

Coba deh googling “objek wisata bandung” atau “tempat wisata bandung yang wajib dikunjungi”. Kemungkinan besar hasil teratasnya adalah Kawah Putih. Sudah lamaaa banget saya pengen kesana, mungkin sejak film Heart yang dulu sempat ngehits itu tayang. Haha. Dan setelah 6 tahun lebih di Bandung, akhirnya kesampean juga bisa kesana. :”D

Kebetulan waktu itu long weekend dan tim jakarta pengen ke bandung. Tapi bosen dong tiap kali ke bandung mainnya ke mall atau cafe terus. Saya pun mengusulkan gimana kalau ke kawah putih saja. Pertamanya agak-agak nggak setuju karena bingung siapa yang mau bawa mobil kesana. Jalannya jauh, naik turun pula, belum kalo pake macet. Males dong. Akhirnya dengan bujukan saya dan jikung yang memelas sedih belum pernah ke kawah putih, yang lain pun setuju kesana dengan menyewa sopir. Mobilnya bisa pakai mobil iponk. Yeayyy!

30 Maret 2014
Malamnya kami menginap di rumah iponk karena kami berencana berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari macet. Tapi akhirnya kami berangkat sekitar jam 7 kurang. Yang ikut waktu itu adalah saya, jikung, iponk, dan apin. Kami lebih banyak tidur di perjalanan. Haha. Perjalanan ke kawah putih lumayan lancar, kami sampai disana jam 9. Dari gerbang ke lokasi kawah bisa naik ontang-anting atau bawa mobil parkir di atas. Tapi karena kalau bawa mobil ke atas biayanya mahal (sekitar 150-250ribu, saya lupa pastinya dan belum termasuk tiket per orang), kami pun naik ontang-anting. Harga tiket ontang-anting kalau nggak salah 30-40an ribu, bolak balik. Ontang-anting ini mobil tapi nggak ada penutup sampingnya gitu. Perjalanan dari bawah ke lokasi utama dengan ontang-anting ini sensasinya kalau kata ceu syahrini mah cetar membahana. Ya bayangin aja, jalan nggak alus-alus banget, banyak tikungan, ontang-antingnya ngebut pula. Udah berasa naik roller coaster yang setting lokasinya di alam terbuka. Hasil foto saya di ontang-anting blur semua gara-gara goncangannya yang luar biasa. Hahaha.

Sampai di atas, kami langsung mengikuti jalan menuju kawah putih. Wahh, beneran keren ternyata. Dan walaupun masih pagi, kawah putih saat itu sangat ramai. Kami pun berkeliling dan foto-foto disana. Sambil memperhatikan orang-orang, kami menemukan mbak-mbak yang posenya “eksotis” gitu pas foto di dekat pohon. Ampun lah mbak, model ANTM kalah sama mbak.

Di beberapa titik bisa terlihat asap muncul dari permukaan kawah. Namun bau belerangnya tidak terlalu tercium, jadi walaupun kami sudah menyiapkan masker ujung-ujungnya malah lebih sering tidak dipakai. Setelah puas berjalan-jalan di sekitar kawah, kami pun naik ke atas. Saat pertama turun tadi, kami sempat melihat papan penunjuk arah “Hutan Cantigi” di dekat tangga. Kami pun penasaran dan akhirnya berbelok kesana. Tapi setelah diikuti, di ujungnya tidak ada jalur yang di paving block lagi. Malah ada 2 jalur ke kiri dan ke kanan seperti jalan setapak. Karena sepertinya sepi dan tidak tahu harus kemana, kami pun akhirnya memilih balik lagi saja. Setelah itu kami keluar dan naik ontang-anting lagi menuju ke tempat parkir di bawah. Di dekat tempat parkir banyak penjual makanan dan oleh-oleh. Dari jauh tampak menarik, tapi saya nggak sempat mampir.

Dari kawah putih, kami pun melanjutkan perjalanan ke Situ Patengan. Sayang dong sudah jauh-jauh sampai sana nggak sekalian ke situ patengan. Saya suka banget view situ patengan yang terlihat dari atas. Sampai di situ patengan, kami jalan-jalan di sekitar danaunya. Disana kita bisa naik perahu atau naik bebek-bebekan yang dikayuh sendiri. Banyak yang menawari kami untuk naik perahu, tapi pada nggak berminat jadinya cuma lihat-lihat danau saja. Danaunya bening. Kami nggak begitu lama disana.

Dari situ patengan kami mampir ke perkebunan teh yang ada di pinggir jalan. Foto-foto alay disana, haha. Baru deh abis itu pulang. Nah, perjalanan pulang ini macetnya luar biasa karena rame banget mobil yang ke arah atas. Kalo nggak salah perjalanan pulang memakan waktu hampir 6 jam, fiuhh untung pake sopir. Walaupun capek tapi senangg, akhirnya salah satu bucket list terpenuhi juga. πŸ˜€

Bali For Dummies – Part 2

2 Mei 2014
Hari ini saya menggunakan jasa rental mobil dari Pondok 2A. Rekomendasi rental dari teman saya setelah saya menyerah kebingungan cari rental yang cocok. Haha. Untuk avanza dengan sopir dan bbm untuk 10 jam, ongkos rentalnya 400ribu. Saya minta dijemput jam setengah 9 di hotel. Pak Putu, sopir kami untuk hari itu, datang on time. Bahkan malah kami yang ngaret belum selesai sarapan saat pak putu datang.

Selesai sarapan kami langsung berangkat ke Tanah Lot. Harga tiket masuk untuk wisatawan domestik, dewasa 10000, anak-anak 7500. Kalau wisatawan asing, dewasa 30000, anak-anak 15000. Dari gerbang utama ke pura, kami berjalan melewati deretan toko souvenir. Tapi kami nggak membeli apa-apa disana, hehe. Sampai di komplek pura, kami berjalan ke arah pura batu bolong atau pura karang bolong. Lokasinya di ujung batu karang yang bolong di tengahnya, makanya dinamakan seperti itu. Saat kami datang, laut sedang pasang dan ombaknya besar sekali. Bahkan sesekali batu karang ikut bergetar saat ombak datang. Bikin deg-degan gimanaa gitu.

Dari batu bolong, kami pindah ke pura enjung galuh. Disini kami foto-foto lagi.

pura tanah lot as seen from pura enjung galuh

pura tanah lot as seen from pura enjung galuh

Kemudian pindah ke pura jro kandang. Sama seperti pura lainnya, hanya yang akan sembahyang saja yang boleh masuk ke dalam pura. Jadi kami melihat dari luar saja. Ada yang sedang sembahyang disana. Menurut vita, biasanya yang sembahyang di pura besar di hari biasa seperti ini sedang punya permintaan khusus. Karena untuk sehari-hari, mereka sembahyangnya bisa di rumah saja. Kalau berdasarkan booklet informasi, pura jro kandang dibangun untuk memuja dewa penguasa berbagai jenis hama dan penyakit agar ternak dan tanaman terhindar dari hama dan penyakit.

Dari sana kami kemudian berjalan ke arah pura penataran dan pura tanah lot. Sayangnya karena air laut sedang pasang kami tidak bisa ke pura tanah lot. Padahal kalau bisa turun, kita bisa melihat ular dan mata air disana. Harusnya survei dulu kapan waktu pasang dan surutnya air laut kalau mau kesini. Oh iya kalau kesini jangan lupa ambil booklet informasi di bagian depan tempat pengecekan tiket. Cukup informatif isinya ^^

pura tanah lot

pura tanah lot

Dari tanah lot, kami kemudian menuju bedugul. Perjalanan memakan waktu 1,5 jam lebih. Melewati gerbang kebun raya dan pasar candi kuning. Saya sempat melihat masjid dan madrasah juga, pemandangan langka di sini. Di bedugul, tujuan kami adalah mengunjungi pura ulun danu beratan. Ulun berarti di atas, danu berarti danau jadi secara literal artinya adalah pura di atas danau beratan. Begitu sampai di pura, yang pertama saya lakukan adalah meminjam uang 50ribu. Loh, kenapa? Karena gambar di uang 50ribu adalah pura ulun danu beratan ini. Haha. Saya pun membandingkan gambar yang ada di uang dengan aslinya. Yeayy, mission completed.

tadaa

tadaa

Menurut vita, pura ulun danu ini justru bukan pura utama di komplek pura disitu. Pura utama tepat berada di seberang pura ulun danu. Di danau ini ada penyewaan bebek-bebekan. Kami berjalan ke dermaga tempat si bebek-bebek diparkir. Duduk-duduk disitu sambil melihat pemandangan pura, danau, dan bukit di sekitarnya. Udara di bedugul lumayan sejuk karena posisinya yang di dataran tinggi. Dari sana kemudian kami pindah ke lapangan rumput gitu. Foto-foto disana karena dari situ view ke danau dan bukitnya bagus banget.

Dari situ kami berjalan ke arah lain, ternyata ada atraksi foto bareng binatang disini. Binatang yang bisa diajak foto antara lain kelelawar dan burung hantu mini. Tentunya nggak gratis. Kasihan melihat binatang-binatang jadi objek seperti itu. >_<

Puas muter-muter, kami pun makan siang. Oh iya sebelumnya saya sempat beli kartu pos juga di toko suvenir dekat tempat parkir. Kami makan siang di warung muslim taliwang hj. marfuah. Lokasinya persis di seberang gerbang utama. Disana saya pesan ayam betutu, ayamnya besar sekali. Dilengkapi dengan sambal matah dan sambal merah yang oily. Saya juga pesan plecing kangkung dan beberok terong untuk dimakan beramai-ramai. Tapi sayangnya karena semua sudah kerepotan menghabiskan makanannya masing-masing, pelecing dan beberok terongnya nggak habis. Padahal plecingnya enak banget, segerr banget bumbunya. *kan jadi ngiler lagi* Disini ada musholla, jadi saya numpang sholat disini.

Dari bedugul, rencana awal tadinya mau ke kintamani untuk melihat danau dan gunung batur. Tapi begitu bilang ke pak putu, beliau bilang nggak bisa karena beda jalur. Lagipula sudah siang, sampai kesana sudah sore nggak bisa lihat apa-apa karena awan sudah turun. Yahh. Salah saya juga sih nggak konfirmasi jalur dulu. Vita memang sudah menyarankan ke saya untuk menanyakan bisa nggak rental mobilnya mengikuti jalur yang saya rencanakan. Tapi saya kemudian nggak mengkonfirmasikan jalurnya karena saya pikir ya rental mobil harusnya ikut saja jalur yang saya tentukan dan kalau overtime ya tinggal tambah biayanya.

Pak putu pun menyarankan ke pura taman ayun dan pantai seminyak, biasanya jalur kalau dari bedugul kesana. Yasudah akhirnya kami ke pura taman ayun. Pura Taman Ayun terletak di daerah Mengwi. Pura ini adalah pura ibu bagi kerajaan mengwi. Di sekitarnya terdapat kolam ikan besar.

IMG_4163

taman

Di dekat gerbang masuk, kita bisa melihat taman yang ada air mancurnya. Masuk lebih dalam, ada pura di tengah-tengah. Di depannya ada gerbang besar yang ditutup. Pada saat tertentu saja gerbang ini dibuka. Di dekatnya ada semacam gazebo yang berisi lukisan. Di area ini juga ada menara yang ada kentongan di bagian atasnya. Saya lupa apa namanya. Kita bisa naik ke atasnya, tapi hati-hati tangganya licin.

Di bagian lebih dalam, kita bisa melihat komplek pura-pura utama. Tentu dari luar pagar saja. Pura disini bentuknya macam-macam. Oh iya sayangnya saat kami kesana, tiba-tiba turun hujan. Jadi kami nggak lama disana.

Dari pura taman ayun, kami minta diantar ke pusat oleh-oleh Krisna. Disana banyak sekali pilihan oleh-oleh dengan harga murah. Buat orang yang nggak bisa nawar seperti saya, tempat ini cocokk banget. Disana saya beli kacang disco, pie susu, dan keripik ceker. Keripik cekernya buat saya sendiri, haha. Saya juga beli kaos dan batik buat oleh-oleh. Lumayan lama disini, bukan karena banyak yang dibeli tapi karena bingung saking banyaknya pilihan mau beli apa. Haha. Kami selesai belanja sekitar jam 6 sore. Sampai di hotel jam setengah 7, pas sekali sesuai jatah rental.

2014-05-02 18.02.29

krisna

Malam itu kami makan malam di hotel karena di voucher yang kami beli, dapat compliment 1x makan malam di hotel. Sayang pilihan makanan di paket ini cuma sedikit: nasi goreng, mie goreng, dan capcay. Saya pilih mie goreng, iponk pilih capcay. Setelah makan, kami ke minimarket. Saya gagal membujuk iponk ke ground zero malam itu karena jam segitu club di sekitar sana sudah mulai rame. Haha.

3 Mei 2014
Hari terakhir. Paginya kami berenang di hotel. Dari kemarin kolam renangnya seperti memanggil-manggil kami. πŸ˜› Kami pun berfoto-foto alay underwater menggunakan kamera yang dibungkus plastik khusus. Beres renang kami pun packing dan sarapan. Hari itu kami tidak punya rencana khusus, cuma jalan-jalan di sekitar kuta-legian saja.

Setelah sarapan, kami jalan ke pantai kuta. Akhirnya saya ke pantai kuta. Yeayy. Ekspektasi saya terhadap pantai kuta sangatlah rendah karena di review trip advisor semuanya bilang kuta itu terlalu rame dan kotor. Tapi untungnya pas saya kesana tidak separah yang saya bayangkan. Di kuta banyak yang sedang berselancar. Seru juga melihatnya. Siang itu panasnya luarr biasa, tapi para peselancar tetap semangat.

Tujuan kami selanjutnya adalah beachwalk mall. Letaknya tidak jauh dari pantai kuta. Saya ada janji ketemuan dengan teman sma saya yang sekarang kerja di bali. Kami makan siang disana. Untungnya kami diberi jatah late checkout sampai jam 2 oleh hotel.

ground zero

ground zero

Selesai makan, kami sempat mampir ke monumen ground zero sebelum pulang ke hotel. Dari daftar nama disana, mayoritas korban kebanyakan orang australia. Orang indonesia yang jadi korban sepertinya banyak yang pekerja. Sampai di hotel eh pintu kamarnya sudah nggak bisa dibuka karena kuncinya otomatis diset nggak bisa dipakai setelah jam 12. Kami pun minta dibukakan pintu. Siap-siap berangkat sambil menunggu vita dan ulan yang akan mengantar kami ke bandara.

Flight iponk jam 4 ke jakarta dulu karena nggak dapet tiket murah ke bandung sedangkan flight saya jam 6 langsung ke bandung. Menunggu waktu checkin saya duduk di ruang tunggu sambil ngemil-ngemil. Gedung bandaranya masih baru dan luas. Tapi pengalokasian boarding roomnya masih kurang oke. Sepertinya 1 boarding room menampung terlalu banyak flight. Banyak yang nggak kebagian kursi. Belum lagi kalau flightnya delay. Makin rame tuh boarding roomnya.

Untungnya flight saya on time. Dari boarding room disediakan bis untuk mengantar ke pesawat. Rupanya peswat baru benar-benar mendarat. Penumpangnya sedang turun. Agak serem juga ya, waktu istirahatnya nggak lama. Tapi untung saya selamat sampai di bandung. ^^

See you again Bali! Thank you for your hospitality πŸ˜€

Bali For Dummies – Part 1

Sudah baca cerita saya ngebolang sendirian di KL? Disitu saya bilang kalau saya kalap beli tiket ke KL karena dapet harga murah meriah. Pengakuan, sebenarnya saat itu saya nggak cuma beli tiket ke KL tapi saya beli tiket untuk ke Bali juga. Hahahaha. Kalap kuadrat. Saya dapet tiket pp BDO-DPS dengan harga 364ribu saja, termasuk bagasi 15kg (yang terpaksa saya beli karena tidak ada pilihan tanpa bagasi untuk penerbangan domestik =_=).

Saat itu, saya berhasil membujuk gisca untuk membeli tiket juga. Dan belakangan, iponk pun tergoda untuk ikut trip ini dan akhirnya beli tiket. Fufufu. Mendekati hari-H, ternyata malah saya yang nggak yakin bisa pergi karena kerjaan lagi banyak-banyaknya. Begitu juga dengan gisca. Bahkan iponk sudah siap-siap kemungkinan terburuk bakal liburan sendirian. Tapi alhamdulillah akhirnya saya dapat izin. Sayangnya gisca nggak dapet izin cuti. Akhirnya cuma saya dan iponk yang berangkat.

Perjalanan kali ini adalah pertama kalinya saya ke Bali. Cupu ya? Biarin πŸ˜› Iponk kalau nggak salah pernah ke Bali saat study tour bareng sekolahnya. Nggak tau dulu kenapa saya bawaannya males banget kalau ikut study tour sekolah, akhirnya nggak pernah deh ikut study tour. Terlalu ansos kayaknya. Hahaha.

30 April 2014

Jadwal berangkat jam 15.05, saya sampai di bandara sekitar jam setengah 2. Walaupun sama-sama berangkat dari Bandung, flight saya dan iponk beda. Iponk sudah berangkat duluan pagi harinya. Karena iponk bilang sudah nggak ada lagi mesin self-checkin, saya pun mencari booth checkin. Tapi ternyata belum ada yang untuk flight saya. Saya pun bertanya kepada salah seorang satpam disitu. Saya pun diarahkan ke salah satu booth, si pak satpam bilang nantinya disitulah saya bisa checkin. Dari pak satpam juga saya mendapat penjelasan bahwa pembayaran PSC sekarang dilakukan langsung di booth checkin, makanya tidak ada lagi mesin self-checkin. Oalah, gitu toh. Saya pun antre di booth yang ditunjukkan bapak satpam, menunggu dibuka. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya proses checkin pun dimulai. Selesai checkin dan bayar PSC, saya langsung cabut ke boarding room. Oh iya, walaupun saya sudah beli jatah bagasi, akhirnya saya nggak naro tas di bagasi karena males ribet.

Sampai di boarding room, saya bingung mesti duduk dimana. Nggak ada tulisan gate berapa-berapanya. Setelah memperhatikan sekitar dan tanya ke iponk, barulah saya paham kalau gate-nya cuma ada 1. Jadi duduk dimana pun sama saja. Hmmm, kok nggak keren gini. Mesti pasang kuping lebih tajam mendengarkan pengumuman yang kadang nggak jelas itu. Kalo untuk international flight masih mendinglah soalnya flightnya lebih sedikit. Nah yang domestic flight kan banyak, kok nggak teratur gitu. Oh iya, btw ini adalah penerbangan domestik pertama saya dari Bandara Husein Sastranegara.

Saat di boarding room, saya sempat mengobrol dengan seorang ibu asal Bali. Saya pun menanyakan soal makanan halal di Bali, si ibu menyarankan saya untuk mencari makan di warung jawa muslim. Si ibu juga bilang kalau makanan padang di Bali belum tentu halal karena yang punya belum tentu orang padang. Fiuhh, susah juga ya. Paling gampang sih KFC atau McD, haha.

Setelah cukup bosan menunggu, tiba-tiba saya mendengar nama saya dipanggil. Selain saya, ada beberapa orang lagi yang dipanggil. Saat menemui petugas, mereka minta ditunjukkan boarding pass. Setelah mencatat sesuatu, petugas kemudian melayani penumpang yang lain. Nggak dikasih tau tuh kenapa dipanggil. Setelah itu, para penumpang pun dipersilakan untuk naik ke pesawat. Senangnya dapat posisi di pinggir dekat jendela. Lumayan bisa foto-foto awan yang lucu-lucu kayak pop corn. Hehe.

popcorn

popcorn

jalan tol + kapal

jalan tol + kapal

Perjalanan dari bandung ke bali memakan waktu kurang lebih 1 jam 40 menit. Saya mendarat di bandara Ngurah Rai sekitar pukul 17.45 waktu setempat. Langsung keluar terus nelpon iponk. Karena lagi nggak terlalu jauh dari bandara, iponk pun bilang bakal ngejemput saya. Cari spot buat nunggu deh. Selama jalan, banyak sopir taksi pake seragam yang nawarin. Setelah nunggu, akhirnya iponk dateng dianter vita. Vita ini temen ELF iponk. Kkkk, itulah salah satu manfaat per-kpop-an: bisa punya temen dimana aja. Nawar taksi ke legian, dapet harga 85ribu. Wew, mahal ya. Vita juga sudah wanti-wanti ke sopirnya jangan ngebawa kami mampir kemana-mana. Kan kadang ada aja supir nakal yang udah kerja sama dengan toko atau atraksi tertentu supaya dapet upah kalo bisa bawa orang kesana. Pas ke parkiran ternyata mobilnya bukan sedan kayak taksi biasanya, tapi sejenis avanza gitu. Dan itu katanya taksi resmi bandara, baiklah.

kfc ftw!

kfc ftw!

Di hotel, istirahat sampe jam 8 terus baru keluar cari makan. Saya laper banget seharian belum makan berat. Jalan kaki di legian menjauhi arah ground zero a.k.a monumen bom bali kok nggak terlalu rame. Kami pun bertanya-tanya, mana legian yang katanya rame 24 jam. Dan akhirnya karena bingung mau makan apa, kami pun makan di KFC. Hahaha, feels like home.

Selesai makan, jalan ke arah pantai kuta. Karena malam, dari luar aja keliatan gelap banget jadinya nggak masuk deh. Belanja cemilan buat besoknya di minimarket. Abis itu cari poppies lane 2 yang merupakan jalan tembus ke legian biar nggak usah muter. Pas ke hotel naik taksi lewat jalan ini soalnya. Pas ketemu, karena udah malem eh jalannya gelap banget. Toko-toko disitu udah pada tutup semua. Kami pun jalan cepat-cepat. Ngikutin jalan kok nggak sampe-sampe, padahal pas naik taksi kayaknya nggak jauh. Udah takut salah jalan aja, mana di jalan ketemu banyak bule yang udah bawa botol bir. Ada lagi bule-bule alay yang ngebut-ngebutan motor di gang sempit, boti pula. Tambah aneh karena kita berdua pake jilbab. Haha. Sampe di legian, ujungnya poppies lane 2 ini deket ground zero. Dan di daerah situlah yang ternyata rame pas malem karena banyak club, bar, dan sejenisnya. Jalan cepet-cepet ke hotel, pas jalan ada aja yang nawarin “happy hour happy hour”. Yaelah mbak yang bener aja =_=

Oh iya, kami nginep di legian bukan nyari yang kayak gitu. Haha. Kebetulan nemu promo hotelnya di groupon, dapet harga 350ribu semalem. Nama hotelnya Aquarius Star Hotel. Lumayan bangetlah kalo dibandingin fasilitasnya. Dan mikirnya kalo di legian lokasinya di tengah-tengah, jadi mau ke daerah utara atau selatan nggak terlalu jauh.

1 Mei 2014

Selesai sarapan, kami dijemput vita dan ulan. Ulan ini juga temen ELFnya iponk. Tujuan pertama adalah Tanjong Benoa. Watersport! Dan biar lebih murah, vouchernya sudah kami beli di groupon juga. Pokoknya liburan kali ini disponsori oleh groupon, wkwkwk. Kami sudah beli voucher untuk parasailing, snorkel, dan donut boat. Nama tempatnya BMR Dive & Watersport. Tempatnya bagus, bukan tempat abal-abal gitu. Waktu pertama datang kami dipersilakan duduk, trus bli-nya nawarin watersport yang lain. Karena cemen, saya pun nggak berminat nyoba yang lain. Abis itu, kita dikasih formulir persetujuan tentang risiko, asuransi, dll. Abis itu, kita bisa taro tas di loker tapi bayar 20ribu per loker. Baru deh jalan ke pantainya.

Begitu sampe area watersport, aduh makin serem liat speedboat rame banget. Ada yang narik parasailing, ada yang narik banana boat, donut boat, flying fish, dsb. Makin deg-deganlah pokoknya. xD. Yang pertama kami coba adalah parasailing. Pertamanya kami disuruh pake sarung tangan. Warna merah di kanan, biru di kiri. Trus pakai pelampung dan tali pengait ke parasailing juga. Abis itu, kami dikasih petunjuk tentang cara “lepas landas” dan pendaratannya. Makin deg-degan, saya kan orangnya panikan. Ntar kalo di atas lupa caranya gimana. Heuuu.

Nunggu giliran, sambil dengerin bli-bli ngasih aba-aba untuk yang parasailing duluan. Keren juga mereka bisa bahasa macem-macem. Ada mandarin, jepang, inggris, dll. Inggris pun macem-macem banget, ada yang singlish, indian english. Niruin logatnya jago-jago.

parasailing

parasailing (bukan saya)

Iponk dapet giliran duluan. Nggak lama setelah iponk naik, saya dapet giliran. Mengikuti aba-aba, saya pegang tali sesuai warna sarung tangan. Lari. Dan syooo terbang~~. Karena takut, talinya saya tarik kencang. Dari jauh, saya denger aba-aba “talinya jangan ditarik!”. Haha. Pelan-pelan saya lepaskan tarikan. Cuma dipegang saja. Di atas, perasaannya campur aduk. Antara takut tapi seru. Makin deg-degan pas speedboat yang narik makin ngebut atau muter. Mungkin sekitar 2 putaran, parasailing pun selasai. Waktunya mendarat. Dari atas saya bingung mana bli yang aba-abanya mesti diikuti. Nggak keliatan bo, kecil banget. Setelah ketemu, saya langsung menarik tali sebelah kanan dengan kedua tangan. Terdengar aba-aba dari jauh “tarik yang kuat, lebih kuat!”. Berasa orang mau ngelahirin. Haha. Dan akhirnya saya pun mendarat dengan selamat dan mulus. 1 beres, 2 lagi. Fiuhhh.

Tadinya mau donut boat dulu, tapi karena antreannya rame kami pun ditawari snorkeling duluan. Yasudah kami pun ikut aja. Dikasih fin, goggles, dan roti buat ngasih makan ikan. Dikasih tau cara pakenya juga. Kami kemudian dibawa ke pantai, nunggu kapal yang akan membawa kami ke area snorkel. Akhirnya kapalnya datang. Menuju area snorkel, ombaknya cukup besar. Beberapa kali kapal seperti menabrak ombak. Saya pun nanya ke bapak yang nyetir kapal, apakah di tempat snorkel ombaknya gini juga. Dan beliaupun menjawab iya. Degg. Nasib awak.

Entah setelah berapa lama, sampailah kami di area snorkeling. Supaya turunnya lebih gampang, dikasih tangga. Begitu turun ke air, saya kelabakan. Muter-muter nggak jelas. Bapak supir kapal pun ngebantu ngebenerin goggles saya. Ampunlah saya cupu. Wkwkwk. Sayangnya di tempat ini nggak terlihat apa-apa. Batu-batuannya sedikit. Ikannya juga. Bahkan setelah saya tabur roti juga nggak ada ikan yang mendekat. Ditambah lagi, karena kecupuan saya entah berapa kali saya meminum air laut. Sampai akhirnya saya nggak kuat lagi, mual banget rasanya. Saya mengajak iponk untuk menyudahi sesi snorkel. Saya melambai-lambai ke arah kapal tanda menyerah. Dan begitu sampai di kapal, keluarlah itu angin lewat mulut. Hghhhh. Wanita macam apa. Huahaha. Bodo amat diliat bapak kapal, abisnya udah nggak enak banget perutnya. Kami pun kembali ke sisi pantai.

stres di donut boat

stres di donut boat

Di pantai, rasanya pengen banget ngeluarin air laut di perut ini. Sambil menunggu giliran donut boat, saya mencoba mengembalikan “kesadaran”. Akhirnya dapet giliran naik donut boat. Karena kapasitas donut boat adalah 4 orang sedangkan kami cuma berdua jadi duduknya 1 di depan 1 di belakang dan di sisi yang berbeda. Saya memilih donut boat supaya nggak ada adegan cebur-ceburan di laut semacam banana boat. Dan ternyata, walaupun nggak ada cebur-ceburan donut boat ini nggak kalah gilanya. Donut boat ditarik speed boat super kenceng. Bahkan saking kencengnya, kadang-kadang boatnya lompat. Pertama ditarik, punggung saya seperti dibenturkan ke tembok. Langsung sadar dari mabok laut akibat snorkel. Hahaha. Karena kenceng banget si donut boat ditarik, saya pun meracau nggak jelas dengan intonasi ala penyiar untuk mengurangi ketakutan. Meracau apa, saya pun sudah lupa. Setelah sekitar 3-5 menit, donut boat pun beres. Akhirnya selesai agenda watersport hari ini. *sujud syukur* xDD

Setelah watersport, agenda kami adalah pantai pandawa. Jadi sebelumnya, saya mengagendakan beberapa pantai: pantai padang-padang, dreamland, dan pecatu. Tapi berdasarkan saran vita dan ulan, lebih baik 1 pantai saja dan menurut mereka pantai pandawa wajib untuk dikunjungi. Tapi sebelum ke pantai pandawa, kami makan bakso dulu di dekat Sekolah Tinggi Pariwisata Bali, kampus ulan.

Mendekati pantai pandawa, kami bisa melihat bukit-bukit kapur. Kemudian ada pula patung raksasa pandawa dan ibunya di cerukan bukit. Oh, mungkin karena ini dinamakan pantai pandawa. Seingat saya, tidak semua pandawa ada disana. Kalau tidak salah, tidak ada yudistira. Malah ada patung tikus, entah kenapa. Dari atas bukit mulai terlihat pantainya. Bagus sekali. Setelah parkir mobil, kami pun berjalan mendekati pantai. Karena saat itu cuacanya panas luar biasa, beberapa dari kami membawa payung. Haha, bukan bali kalo nggak panas.

Pantai pandawa cukup luas. Pantai ini ramai oleh pengunjung domestik ataupun internasional, tapi tidak terlalu padat sehingga masih nyaman untuk dikunjungi. Yang bermain di air kebanyakan bule, banyak juga yang berjemur saja. Di pantai pandawa, kami cuma menyusuri pantai dan foto-foto. Menikmati pemandangan πŸ˜€

Puas di pantai pandawa, kami kemudian meluncur ke uluwatu. Jalannya lumayan sepi dan naik turun. Saat melewati salah satu jalan, di samping kami ada kuburan. Ulan dan vita pun membahas kalau di desa adat itu mayatnya tidak di-aben tetapi dikubur. Ini nih enaknya jalan sama orang lokal, bisa dapet cerita-cerita begini. Hehe. Sampai di uluwatu, kami langsung ke loket tiket. Di depan, ada yang mengikatkan kain ke pinggang. Karena saya pakai celana panjang, kain yang diikatkan ke saya adalah ikat pinggang saja. Kalau pakai bawahan pendek, kain yang diikatkan adalah kain panjang yang menutupi kaki. Di loket tiket itu juga ada penjual pisang. Saya sempat ditawari untuk membeli pisang untuk makanan monyet. Tapi karena takut didekati monyet, saya pun menolak.

Sampai di dalam, kami berjalan menuju tebing. Berjalan sambil was-was didekati monyet. Semua gadget sudah diamankan di tas karena saya parno. Habisnya saya baca di beberapa blog, banyak yang jadi korban monyet disini. Ada yang makanan, kaca mata, ataupun hp-nya yang dirampas monyet. Tapi saat disana saya nggak melihat monyet yang berlaku separah itu sih. Kebanyakan sedang asyik sendiri manjat pura, main dengan teman-temannya, makan ataupun tidur. Tapi tetap aja takut kalau tiba-tiba mereka mendekat, monyet disini gemuk-gemuk sih. >_<

Begitu sampai di tebing, terlihatlah pura uluwatu dari jauh. Oh rupanya itu yang sering muncul di foto. Dari tebing juga bisa terlihat lautan di bawah, suara ombak yang menabrak tebing pun bisa terdengar. Waahh benar-benar berada di pinggir pulau Bali.

Kami kemudian naik menuju kompleks pura utama. Tapi hanya yang akan sembahyang saja yang boleh masuk pura utama, kami hanya foto-foto di sekitarnya, mengintip-intip sedikit, dan menonton kelakuan monyet-monyet gendut. Setelah itu kami pun berjalan keluar. Saat itu, kami bertemu rombongan karyawan facebook yang dengan bangganya memakai kaos “facebook got me hired”. Hahaha. *langsung jiper*

Tujuan selanjutnya adalah GWK! Katanya sih belum ke Bali kalau belum kesini. Harga tiket GWK cukup mahal dibandingkan tempat wisata lainnya disini. Untuk wisatawan lokal harganya 50ribu per orang. Disini kita bisa melihat bukit-bukit kapur yang dibelah. Dan yang pasti bisa melihat patung garuda & wisnu raksasa yang terkenal itu. Besar sih, tapi nggak sebesar ekspektasi saya. Di dekat patung wisnu ada mata air yang katanya nggak pernah kering dan sering jadi tempat meminta permohonan. Di sekitar situ juga ada teropong yang bisa kita gunakan untuk melihat sekitar. Tapi bayar lagi ke petugas, kalau nggak salah 5000 untuk 3 menit.

Setelah itu kami pun turun mendekati ampitheater. Saya pun sempat membeli minuman di kantin GWK. Dan harganya bikin melongo, 1 botol aqua dan 1 botol nu greentea total harganya 25ribu. Yang bener ajaa. Nggak lagi-lagi deh.

Mendekati jam 6, kami masuk ke amphiteater. Jadi disini ada pertunjukan tari tanpa dipungut biaya lagi. Jadwal tari terpampang di luar ampitheater. Tari kecak biasanya jam 6 sore. Selain di GWK, bisa juga menonton tari kecak di uluwatu tapi harus bayar lagi 100ribu. Lumayan yaaa.

Pertunjukan tari kecak pun dimulai. Kalau tidak salah tari kecak yang ditampilkan disini sudah dimodifikasi. Untuk hari itu, ceritanya tentang garuda wisnu kencana. Di tengah-tengah tarian, si garuda ataupun makhluk-makhluk jahat kadang mendekati penonton. Area yang didekati biasanya langsung jadi heboh, hehe. Durasi pertunjukan ini kira-kira 1 jam. Secara keseluruhan, pertunjukan tarinya menghibur. Di akhir, penonton bisa berfoto dengan para penari. Tapi karena antreannya panjang, kami pun memutuskan untuk tidak ikut berfoto. Apalagi kami sudah berfoto dengan mbak penari dari pertunjukan sebelumnya. πŸ˜€

Agenda selanjutnya adalah makan malam. Kami sudah membeli voucher makan di restoran daerah jimbaran dari groupon. Yup lagi-lagi groupon, hehe. Sampai di tempatnya, kami memilih duduk di dekat pantai. Tapi karena malam, percuma saja pantainya nggak terlihat sama sekali. Oh iya, ternyata restoran yang kami datangi tepat bersebelahan dengan Kafe Nyoman yang pernah dibom tahun 2005. Sesuai yang tertera di groupon, makanan yang kami pesan adalah paket seafood yang terdiri dari ikan, kerang, udang, sate cumi, dan sayuran. Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya makanan datang juga. Kerangnya favorit saya deh, bumbunya enakkk banget. Udangnya juga besar. Dapat sambal matah juga, karena saya suka bawang jadi saya suka banget sambal matah ini. Kalau dari segi makanan, puas lah makan disini. Tapi sabar aja kalo sebelahan dengan rombongan yang berisikk banget. xD

Dari jimbaran, kami pun pulang ke hotel. Istirahat, menyiapkan tenaga buat esok harinya. πŸ˜€

Menyusuri Pantai di Gunungkidul

Ini merupakan salah satu agenda dari rangkaian liburan akhir tahun di Jogja. Yang ikut adalah saya, ananti, gisca, adik saya: tika dan lia, serta alvin yang baru sampai pagi harinya di jogja. Kami pergi ke Gunungkidul menggunakan mobil ananti. Karena jaraknya cukup jauh, kami menggunakan jasa sopir. Perjalanan ke gunungkidul kalau tidak salah memakan waktu sekitar 2 jam.

Untuk masuk ke pantai-pantai yang ada, cukup bayar sekali saja. Seingat saya bayarnya 4ribu per orang. Pantai yang pertama kali kami kunjungi adalah Pok Tunggal. Lokasinya cukup jauh dibandingkan pantai yang lain. Beberapa kali kami bertanya ke orang, selalu dijawab ‘setunggal kilo malih’ yang artinya ‘1 km lagi’. Disini jauh dekat disebut 1 km mungkin ya. πŸ˜› Dari jalan raya menuju pok tunggal, kami perlu melewati jalan tanah naik turun yang hanya cukup untuk satu mobil dan lumayan jauh. Mungkin sekitar 1 km juga. Melihat kondisi jalan yang begini, saya sarankan jangan ke tempat ini setelah hujan. Jalannya pasti licin banget. Tapi perjalanan yang bikin deg-degan itu pun terbayar setelah sampai di pantainya. Pantai Pok Tunggal ini relatif baru dan mungkin karena cukup jauh juga, makanya saat kami kesana pantai ini sangat sepi pengunjung.Β  Di pinggir pantai ada hamparan pasir yang luas. Disana, banyak payung-payung pantai yang disewakan ke pengunjung. Airnya jernih. Tapi karena banyak karang dan ombaknya besar, tidak bisa berenang disini. Di pantai ini juga ada bukit yang bisa kita naiki. Karena malas capek, kami nggak naik kesana. Haha.

Puas main-main di pok tunggal, kami pindah ke pantai selanjutnya: Pantai Sundak. Pantainya mirip pok tunggal: air jernih, banyak karang, ombak besar, dan diapit tebing. Tapi Pantai Sundak jauh lebih ramai. Meskipun ada papan larangan tidak boleh berenang, tapi nyatanya banyak juga yang nyemplung ke air. Karena cuacanya sangat panas, kami cuma lihat-lihat dari pinggir.

Dari sundak, kami lompat ke Pantai Krakal. Disini tidak seramai di Sundak tapi bisa dibilang cukup ramai. Matahari super menyengat, jadi kami cuma melihat-lihat dari pinggir juga. Banyak yang main-main di pinggir pantai. Banyak yang main layangan juga disini.

Setelah itu, kami lanjut ke Pantai Drini. Nggak terlalu berharap banyak karena pantai-pantai sebelumnya bisa dibilang mirip. Tapi saya justru jatuh cinta sama Pantai Drini. Di Pantai Drini ada kios ikan yang menjual ikan dan hasil laut lain yang masih segar atau sudah diolah. Disini juga banyak perahu nelayan yang sedang diparkir. Pantai Drini juga jernih. Berbeda dengan pantai sebelumnya yang banyak karang disini tidak tampak batu karang di pinggir pantai. Selain itu, ombak yang sampai ke pinggir pantai juga tidak terlalu besar. Tampaknya cukup aman untuk bermain-main. Dibuktikan dengan adanya anak-anak yang berenang di pinggir pantai. Saya jadi tergoda untuk main air juga, sayangnya memang sengaja nggak bawa baju ganti. Jadi nggak bisa main-main air deh. πŸ˜›

Dari Pantai Drini, kami pindah ke Pantai Sepanjang. Sesuai dengan namanya, pantai ini panjangggg sekali. Di pinggir jalan, berderet pondok-pondok yang menjual makanan ataupun yang disewakan. Banyak karang di pinggir pantai, airnya dangkal, dan meskipun di kejauhan ombaknya besar tapi sampai ke pinggir pantai ombaknya sudah mengecil. Ngeliatin ombak disini lumayan bikin rileks. πŸ˜€

Pantai terakhir: Pantai Kukup. Pantainya ramai, banyak kios-kios juga. Karena saat itu pantai mulai pasang, kami malas jalan mendekati pantai. Di Pantai Kukup, kami menikmati kelapa muda. Enak banget di cuaca panas seperti saat itu. Setelah itu kami mampir di kios yang menjual olahan hasil laut. Ada udang goreng, cumi goreng, rempeyek udang, dan yang pasti ada keripik rumput laut. Proses penggorengannya juga langsung di kios itu, jadi bisa kita lihat dan kita bisa memilih yang baru selesai digoreng. Makanan tersebut dijual dengan harga kiloan. Harganya standarlah. Saya beli udang, rempeyek, dan rumput lautnya. Setelah itu kami makan siang disana. Makannya pun hasil laut juga. Setelah makan, kami pun pulang. Capek dan kenyang sukses membuat kami tidur saat perjalanan pulang. xD

Dataran Tinggi Dieng: Sehari di Negeri Kahyangan

Dataran Tinggi Dieng sudah lama ada di daftar wish list traveling saya. Dan akhirnya saya bisa mengunjungi tempat ini saat liburan akhir tahun lalu. Dari agenda 5 hari liburan, 1 hari dialokasikan khusus untuk Dieng. Hal ini berdasarkan pertimbangan perjalanan Jogja-Dieng yang lumayan memakan waktu dan banyaknya situs wisata yang bisa dikunjungi di Dieng. Sebelum berangkat ke Jogja, kami sudah membooking mobil yang akan kami gunakan. Situs yogyes.com sangat membantu kami dalam mencari rental mobil dengan harga dan kapasitas sesuai yang diinginkan. Kami menyewa mobil Avanza berkapasitas 7 orang dengan harga 600ribu/12 jam. Harga normalnya 550ribu tapi karena libur natal jadi nambah 50ribu. Itu sudah termasuk sopir dan bensin. Untuk overtime, dikenakan biaya tambahan 10% per jam. Belum termasuk tips ke supir, kalau mau ngasih. πŸ˜› Itinerary untuk di Dieng saya comot dari agen wisata yang menawarkan paket ke Dataran Tinggi Dieng.

Kami berangkat dari Jogja sekitar jam 6.30. Yang berangkat adalah saya, ananti, mamanya ananti, jikung, dan 2 adik saya. Perjalanan ke Dieng memakan waktu sekitar 4 jam melalui jalan alternatif yang jalannya tidak semuanya mulus. Lebih baik siapkan receh untuk mas-mas yang membantu mengatur mobil di jalan rusak/tikungan. Selama perjalanan, pak Sopir sempat bercerita mengenai mistisnya Gunung Sindoro dan salah satu resort termahal di dunia di dekat Borobudur yaitu Amanjiwo Resort. Kebetulan, sehari sebelumnya saya membaca artikel mengenai Amangiri Resort di Grand Canyon, Amerika, yang dimiliki oleh orang Indonesia. Nah, kedua resort ini dimiliki orang yang sama. Karena perjalanan masih panjang, pak sopir pun menyuruh kami tidur saja dan nanti akan dibangunkan kalau sudah dekat. Katanya pemandangan saat naik sayang dilewatkan. Ibaratnya, kalau makan sate enaknya pas di mulut bukan pas sudah sampai di perut. πŸ˜€

Saat memasuki kawasan Dieng, kami dimintai retribusi sebesar 2ribu per orang. Tapi, dasar Indonesia, meskipun kami ada 6 orang mereka meminta 10ribu saja dan kemudian hanya memberi beberapa tiket. Tapi setelah dilihat tiketnya, tiket ini ternyata bukan tiket masuk tapi sejenis sumbangan. Tidak semua yang lewat diminta untuk membayar, hanya yang kebagian apes kendaraannya diberhentikan. Zzzz.

Benar kata pak sopir sebelumnya, pemandangan saat naik sangat sayang untuk dilewatkan. Dari kejauhan tampak lahan pegunungan yang digunakan sebagai tempat bercocok tanam. Kebanyakan tanamannya adalah kentang, kubis, dan daun bawang. Lahan pertanian ini bentuknya bertingkat-tingkat. Jika diperhatikan dari dekat, tampak jelas batu-batu yang disusun rapi untuk membuat tingkat-tingkat itu. Di sepanjang jalan juga sering terlihat bunga terompet. Bunga jenis ini juga saya lihat saat di Bromo. Sepertinya tanaman dengan bunga terompet ini memang jenis tanaman yang cocok tumbuh di pegunungan. Karena perjalanan yang menanjak, pak sopir sempat mematikan AC agar mobil kuat naik. Sebagai ganti AC, jendela mobil dibuka dan mulai terasa segar dan dinginnya angin pegunungan.

Gardu Pandang Tieng

Pemandangan dari Gardu Pandang Tieng

Saat mendekati Gardu Pandang Tieng, kami ditanya apa ingin mampir kesana. Di itinerary, sebenarnya ini masuk di agenda terakhir tapi karena langitnya cerah dan belum tentu sore hari juga cerah maka kami pun mampir ke Gardu Pandang Tieng. Dari sini dapat dilihat pemandangan gunung dengan gumpalan awan putih yang cantik. Nggak salah kalau sering disebut sebagai Negeri Di Atas Awan. Di sini, terasa sekali dinginnya cuaca pegunungan.

Tidak lama di Gardu Pandang Tieng, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama, sampailah kami di gerbang pembelian tiket masuk. Kalau tidak salah, harga tiket terusan adalah 18ribu. Tiket ini berlaku untuk Dieng Plateau Theater, Kawah Sikidang, Museum Kailasa, Candi Arjuna dan tidak termasuk tiket tambahan 4ribu untuk di kompleks Telaga Warna. Setelah membeli tiket, beberapa orang menawarkan masker karena katanya bau belerang kawah lumayan menyengat. Kami pun membeli beberapa masker.

Telaga Warna

Goa Pengantin

Goa Sumur

Goa Semar

Lokasi yang pertama kami kunjungi adalah kompleks Telaga Warna. Sebelumnya kami membeli tiket dari booth tiket yang ada di depannya terlebih dahulu. Hanya beberapa puluh meter dari gerbang, Telaga Warna sudah terlihat. Sayangnya saat itu warna hijau dari Telaga Warna ini tidak terlalu nampak. Setelah dari Telaga Warna, kami pun mengikuti petunjuk arah menuju goa-goa dan Telaga Pengilon. Goa yang pertama ditemui adalah Goa Pengantin. Ada dua buah pintu goa yang terlihat sehingga saya menebak-nebak goa tersebut disebut goa pengantin karena berpasangan. Mitosnya, kalau berdoa disini akan cepat ketemu jodohnya. Saya sih memilih untuk nggak percaya. πŸ˜› Tidak jauh dari Goa Pengantin, ada Goa Sumur. Ditandai dengan patung wanita memegang kendi di depan gerbangnya. Ada juga Goa Semar yang ditandai dengan patung semar di depannya. Goa Sumur dan Goa Semar sering digunakan untuk semedi. Siapa saja boleh semedi, asalkan izin dulu kepada juru kuncinya. Dengar-dengar dari guide rombongan lain, mantan presiden Soeharto pernah semedi disini.

Telaga Pengilon

Di dekat goa-goa tersebut ada Telaga Pengilon. Pengilon merupakan bahasa jawa yang berarti cermin. Berbeda dengan telaga warna yang katanya airnya bisa berubah-ubah warna, telaga pengilon airnya jernih. Dari jauh airnya tampak keruh tapi setelah didekati sepertinya itu adalah warna tanah di dasarnya. Kami tidak berlama-lama di telaga pengilon karena suasananya yang sepi. Apalagi itu di dekat goa-goa yang mistis tadi.

Dieng Plateau Theater

Keluar dari kompleks Telaga Warna kami mencari bapak sopir dan mobil yang kami sewa. Setelah membayar parkir 5000 kami pindah ke tujuan berikutnya, Dieng Plateau Theater. Di teater ini diputar video mengenai Dataran Tinggi Dieng. Menunggu pertunjukan selanjutnya, kami jajan dulu. Kebetulan di sekitarnya banyak penduduk yang menjual jamur & kentang crispy. Maknyus rasanya makan jamur & kentang yang baru digoreng di cuaca yang dingin seperti itu. Saat pertunjukan selanjutnya akan dimulai, kami pun masuk ke dalam teater. Video yang diputar menceritakan asal mula terbentuknya dataran tinggi Dieng yang merupakan hasil letusan dahsyat gunung berapi. Letusan ini menghasilkan kompleks gunung berapi dan kerucut-kerucutnya. Disini juga terdapat banyak kawah & danau vulkanik. Salah satu peristiwa penting adalah saat kawah sinila mengeluarkan gas beracun dan menimbulkan banyak korban pada tahun 1979.

Nama Dieng berasal dari kata “di” (tempat) dan “hyang” (dewa) yang jika digabung berarti tempatnya para dewa. Video ini juga membahas penduduk Dieng dan kebudayaannya. Video ini menurut saya cukup informatif, tapi background musiknya agak-agak horor apalagi kalau sudah membahas letusan gunung. Jadi berasa mistis. πŸ˜› Oh iya, katanya di bulan juli-agustus kawasan Dieng bisa menjadi sangat dingin dengan suhu di bawah 0ΒΊ C. Bahkan embun di daun waktu pagi bisa menjadi es. Jadi kalau ingin merasakan winter tanpa ke luar negeri, bisa dicoba ke Dieng pada waktu tersebut. Lebih oke lagi kalau sekalian pas ada festival dieng. πŸ˜€

Setelah selesai pertunjukan, kami sholat dulu di musholla dekat teater. Dan saat wudhu itulah pertama kalinya saya bersentuhan dengan air dieng. Dinginnya luarrrr biasa, seperti air es. Begitu kena air, langsung mati rasa. Haha. Belum dingin yang paling maksimal saja sudah begini apalagi bulan juli-agustus itu ya. Brrrr.

crater hole

Kawah Sikidang

Setelah dari teater, kami menuju Kawah Sikidang. Dari tempat parkir ke kawah, jalannya cukup jauh. Di sepanjang jalan, banyak ditemukan lubang yang mengeluarkan gas ataupun air panas. Sampai di kawah, ternyata kawah ini berbeda dengan kawah yang pernah saya lihat di tangkuban perahu ataupun bromo. Kawah sikidang seperti kolam lumpur hitam yang mendidih. Untuk keselamatan pengunjung, ada pagar bambu di sekitarnya. Di kawah ini ada pula yang menjual telur rebus yang direbus langsung di kawah. Pengen nyobain tapi sayang nggak nemu penjualnya yang mana. Cuma ada tangkai-tangkai bambu yang sedang dipakai merebus telur. πŸ˜€ Menurut saya bau sulfurnya tidak terlalu menyengat, tapi nggak ada salahnya sih kalau pake masker. Selain itu, buat yang pakai kerudung mendingan cari masker yang ikatannya di belakang bukan yang dicantel ke kuping.

Forever Mbak Nar. Sekali Mbak Nar tetap Mbak Nar. Merdeka!

Mie Ongklok

Puas foto-foto di Kawah Sikidang, kami pindah ke lokasi berikutnya: Kompleks Candi Arjuna. Sebelum masuk kompleks candi, kami makan dulu di warung makan di depannya. Kami mencoba mie ongklok, makanan khas wonosobo. Isinya mie dengan kuah kental campuran saus kacang dan entah apa, kemudian ditambahkan sate ayam. Disini kami juga membeli oleh-oleh khas dieng seperti manisan carica, kacang dieng, dan keripik jamur.

Komplek Candi Arjuna

Selesai makan, kami pun masuk kompleks candi. Beberapa candi yang ada disini antara lain candi arjuna, candi semar, dan candi srikandi. Latar belakang pegunungan menjadikan pemandangan disini sangat cantik. Cuma disini ada yang bikin saya cukup kesal, banyak pengunjung yang naik ke sisi candi untuk mendapatkan foto yang mereka anggap bagus. Entah ya sebenarnya naik-naik begitu boleh atau nggak, tapi itu bikin saya greget karena seperti nggak menjaga peninggalan sejarah.

Museum Kailasa

Setelah dari kompleks candi arjuna, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ada 1 tempat lagi yang belum dikunjungi: Museum Kailasa. Museum ini letaknya tepat di depan kompleks candi. Tapi sayangnya waktu itu sudah sore dan kami berusaha agar sewa mobilnya tidak overtime. Selain itu, lebih baik turun sebelum gelap. Tapi ujung-ujungnya kami tetap dihitung overtime 2 jam karena memang sempat macet dan kemudian sopir meminta berhenti sholat maghrib kemudian saat ketemu jalan yang nggak macet lagi sopirnya malah seperti melambat-lambatkan perjalanan. Padahal paginya dia terlambat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Kami pun sempat curiga kalau ini adalah triknya supir dan pihak rental. Tapi ya mau gimana lagi. Pelajaran untuk kalau mau sewa mobil nanti, harus ditanya perhitungan overtime dan tegur saja sopirnya kalau sengaja dilambat-lambatkan. πŸ˜›

Jalan-jalan Jogja (Lagi)

Setelah proyek mangjoso beberapa tahun lalu, saya belum pernah kembali ke jogja. Dan lagi-lagi, karena impulsif, saya memutuskan untuk liburan ke Jogja saat libur natal tahun lalu.

25 Desember 2013

Berangkat dari Bandung pukul 07.00 dengan kereta yang alhamdulillah tepat waktu, saya sampai di Jogja sekitar pukul 15.00. Saya dijemput adik saya, Lia, yang kuliah di Jogja menuju asrama-nya. Disana sudah ada adik saya satu lagi, Tika, yang datang sehari sebelumnya. Karena kami mau pergi menggunakan motor, padahal kami ada 3 orang dan motornya cuma 1, adik saya pun sibuk telpon sana-sini mencari penyewaan motor yang masih available. Dan ujung-ujungnya malah dapet motor dari penyewaan tepat di sebelah asrama yang sebelumnya sudah didatangi tapi habis. Kalau nggak salah, harga sewanya 40ribu per hari. Kami pun segera meluncur ke Raminten, restoran yang cukup terkenal di Jogja. Terkenalnya mulai dari kemistisannya, pelayannya yang katanya banyak pria melambai, dan yang terutama karena menunya yang unik dengan harga murah meriah. Sampai di Raminten, saking ramainya kami pun masuk waiting list dulu. Setelah menunggu lumayan lama, kami akhirnya mendapatkan tempat. Bau menyan langsung tercium saat masuk ke bagian dalam restoran. Karena sudah kelaparan, langsung deh pesan makanannya. Saya pesan nasi liwet (3ribu rupiah saja sodara-sodara) dan susu jahe. Untuk rame-rame, saya pesan tempe mendoan dan ikan wader. Adik saya pesan masing-masing ayam bakar dan ayam rica-rica. Minumnya es jeruk nipis dan es krim bakar. Beginilah penampakan makanan yang kami pesan:

Susu jahe dihidangkan di gelas yang bentuknya seperti itu. Hahaha. Dan karena sudah tahu itulah sebenarnya saya pesan susu jahe. Mau nyicip susu langsung dari tempatnya. #plak Disini, makan bertiga habis 66ribu saja. Murah meriah dan rasanya juga nggak mengecewakan. Sayangnya saat itu banyak menu yang sudah habis. Jadi nggak bisa icip-icip lebih banyak lagi. Dan ternyata, mas-mas pelayannya nggak melambai seperti yang saya bayangkan. Sebelumnya saya membayangkan para pria gemulai menggunakan batik/kembenlah yang akan ditemui, tapi ternyata nggak ada tuh yang seperti itu.

Selesai makan, kami pun meluncur ke arah alun-alun utara. Kami sholat maghrib di Masjid Gedhe Kauman. Suasana alun-alun dan sekitarnya sangat ramai, apalagi saat itu ada sekaten. Saya kemudian ketemuan dengan Ananti & Gisca di sekitaran masjid. Setelah itu kami menyeberang ke area sekaten. Disana, ananti & gisca naik wahana ombak. Saya sih jadi penonton saja. Tapi kemudian setelah dibujuk-bujuk saya pun menyerah untuk ikut naik bianglala. Saya tidak terlalu takut dengan ketinggian, tapi saya sangat takut dengan kecepatan. Dan gara-gara itu setiap bianglala mulai berputar ke arah bawah, saya pun langsung merem untuk mengurangi rasa takut. Hahaha.

Selesai main-main, kami menuju rumah Ananti. Saya menginap di rumah Ananti, sedangkan adik-adik saya kembali ke asrama.

26 Desember 2013

Agenda hari ini adalah “Sehari di Dieng”. Ceritanya akan saya buatkan di post terpisah. πŸ˜›

27 Desember 2013

Karena tepar setelah perjalanan panjang di Dieng, kami pun baru memulai aktivitas menjelang siang hari. Tempat yang pertama dikunjungi adalah Benteng Vredeburg. Saya kesana bersama Ananti, Gisca, dan 2 adik Ananti. Di Vredeburg, ada ruangan khusus yang memutar video mengenai sejarah benteng ini. Ruangan lain, isinya kebanyakan adalah diorama yang menceritakan masa perjuangan.

Setelah dari Benteng Vredeburg, kami meluncur ke Taman Pintar yang lokasinya tepat di sebelahnya. Di Taman Pintar, saya bertemu dengan adik saya. Sayangnya Taman Pintar hari itu super ramai. Kami pun jadi malas masuk karena antreannya yang panjang. Akhirnya kami langsung pergi ke Jejamuran, rumah makan yang menunya adalah olahan berbagai jenis jamur. Menu di jejamuran sangat beragam sehingga membuat kami bingung saat akan memesan. Hahaha. Rekomendasi saya, jangan melewatkan sate dan sop jamurnya. Jamur goreng penyetnya juga pedas mantap, cocok buat para penggemar pedas seperti saya. Minumannya juga macam-macam sekali. Salah satu yang unik adalah Summer Breeze, di dalam minuman tersebut ada jamur enoki-nya. Menurut saya, Jejamuran sangat memuaskan dari segi rasa, harga, tempat, maupun pelayanannya. Hanya saja lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Naik motor dari Taman Pintar ke Jejamuran cukup bikin tepos, padahal saya cuma dibonceng πŸ˜›

Setelah kekenyangan di Jejamuran, kami kemudian meluncur ke Taman Pelangi. Taman Pelangi ada di komplek yang sama dengan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Tapi karena sudah sore, Monjali-nya sudah tutup. Kami pun duduk-duduk di sekitaran situ menunggu malam dan lampu-lampu dinyalakan. Taman Pelangi ini isinya lampu hias dengan berbagai bentuk. Bisa dibilang versi mini dari taman lampion yang ada di Batu Night Spectacular (BNS) Malang yang pernah saya kunjungi. Di taman pelangi ada penyewaan mainan seperti sepeda gandeng, becak-becakan, kereta-keretaan, bola air bahkan flying fox. Tapi disana kami cuma foto-foto saja.

Setelah dari Taman Pelangi, kami meluncur ke Kalimilk yang ada di Kaliurang. Kalimilk ini salah satu tempat gaul nge-hits di jogja. Menu utamanya adalah susu dengan berbagai macam rasa. Saking nge-hitsnya, kami pun harus masuk waiting list dulu untuk bisa nyusu disini. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun mendapatkan tempat. Di Kalimilk, ada 2 ukuran gelas yaitu medium dan gajah. Sesuai namanya, ukuran gelas gajah ini sangat besar. Harga susu disini sekitar belasan ribu. Selain susu, ada juga light meal seperti chicken wings, risoles, french fries, macaroni & cheese. Untuk yang agak berat, ada chicken blackpepper & beef teriyaki. Saya pesan kalimilk cookies yang ukuran medium saja karena masih cukup kenyang.

Jujur, menurut saya pribadi sih tempat ini overhyped. xD

28 Desember 2013

Hari ini hari khusus pantai. Akan saya tulis dalam 1 post khusus juga. πŸ˜€ Ceritanya malam harinya aja ya. Jadi, di jogja ada tempat makan hits yang namanya Telap 12 (baca: telap twelep). Kalo bahasa jawa, itu ungkapan buat yang makannya lahap. Nah, si Telap 12 ini menjual mie instan, iya bener mie instan, yang disajikan persis sesuai bungkusnya. Penasaran dong pastinya. Kami kesana bareng orang tuanya ananti juga. Sayangnya karena sudah malam, menu yang tersisa tinggal rasa soto dan rendang. Tapi karena sudah terlanjur kesana, kami pun memesan apa yang ada saja. Ini dia tampilannya:

Rasanya? Ya rasa mie instan. Kok tanya lagi. Hahaha. Kreatif yang bikin tempat ini. Meskipun di tempat lain ada juga yang jual mie instan sesuai dengan bungkusnya, si Telap 12 ini saya kasih nilai lebih buat brandingnya. Selesai makan, kami meluncur ke alun-alun selatan. Kami nggak lama disini. Cuma liat-liat keramaian dan nyobain jalan di antara 2 beringin lagi, tapi saya nyerah di tengah-tengah. Haha.

29 Desember 2013

Hari terakhir liburan. T__T Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Pabrik Cokelat Monggo. Harapannya bisa lihat proses pembuatan coklatnya di workshop, tapi sayangnya saat kami datang mereka belum mulai kerja. Akhirnya cuma beli cokelatnya saja disini.

Dari Monggo, kami meluncur ke Pasar Beringharjo. Cari-cari batik disini, tapi susah cari yang sreg. Dasar picky xD Akhirnya nemu yang lucu di toko seberangnya Beringharjo. Mampir ke Mirota juga tapi nggak beli apa-apa. Setelah itu makan siang dan kembali lagi ke rumah Ananti. Packing karena malamnya mau pulang ke Bandung. Habis maghrib ke stasiun, nunggu kereta Malabar yang ternyata delay. Dan akhirnya liburan resmi berakhir saat kereta berangkat. Liburan yang menyenangkan karena hampir semua tempat yang diinginkan bisa dikunjungi. See you next time, Jogja!