#BdgBucketList: Lembang dan sekitarnya

Holaaa, apa kabar semuaa?? Post ini harusnya diberesin 2 bulan lalu. Tapi karena males dan keterbatasan laptop/internet akhirnya baru bisa beresin sekarang. Hahaha

Another edition of #BdgBucketList. Yeayyy \o/ Mungkin pada bertanya-tanya kenapa saya nyebut-nyebut bucket list melulu di beberapa posting terakhir. //pede// Hmm, jadi gini ceritanya… Saya akhirnya nggak tinggal di Bandung lagi… ihiks T.T Karena beberapa pertimbangan, sudah agak lama saya berpikir untuk meninggalkan Bandung. Nggak betah? Bukan pastinya. Kalo nggak betah nggak mungkin saya bisa tahan 7 tahun di Bandung. Mulai makanan, orang-orangnya, tempat, suasana, dll… Semua menyenangkan. Tapi saya merasa butuh petualangan baru //sok iyes// xD Maklum, sebenernya saya orangnya bosenan banget. Waktu saya pertama kali bilang soal bucket list di blog ini, saya belum tau kapan dan kemana saya akan pindah. Tapi saat saya merencanakan eksekusi bucket list ini, saya sudah tahu tanggal kepindahan saya. Dan eksekusi bucket list ini dilakukan 2 hari sebelum saya berangkat. Semacam farewell gitu deh jadinya πŸ˜€

5 Juli 2014

Dusun Bambu

Pernah denger Dusun Bambu? Kalo nggak pernah, plis deh googling dulu.

Dusun Bambu terletak di Lembang. Lembang memang bukan di Kota Bandung, tapi di Kabupaten Bandung Barat. Jadi masih valid kan kalo saya masukin sebagai bagian dari #BdgBucketList. πŸ˜›

Sejak dibuka awal tahun 2014 lalu, Dusun Bambu langsung nge-hits banget. Pengennya sih ikutan ngehits dan dateng kesana dari dulu-dulu. Tapi karena jauh dan kayaknya ribet dan maksa banget kalo kesana sendirian naik kendaraan umum, akhirnya saya baru kesana awal Juli lalu. Kesananya sama siapa? Yak, seperti biasa ada iponk, ananti, gisca, icha, dan apin. Dan sebagai bintang tamu ada bella dan adik saya, lia.

Apa sih sebenernya Dusun Bambu ini? Kalo dari websitenya sih dibilangnya Dusun Bambu ini adalah Family Leisure Park. Konsepnya adalah gabungan budaya sunda dan alam terbuka. Yang menarik dan saya baru tau setelah saya baca websitenya, dulunya lokasi Dusun Bambu ini adalah lahan pertanian yang nggak begitu bagus. Tapi setelah ditanam 100.000 pohon di lokasi ini dan sekitarnya, lalu kemudian dibangun bangunan yang merupakan perpaduan keindahan alam dan arsitektur jadilah Dusun Bambu Family Leisure Park ini.

Ongkos masuk Dusun Bambu adalah 10.000 per orang, dan parkir mobil 10.000. Setelah parkir mobil, kita bisa naik shuttle yang disediakan untuk menuju area utama. Shuttle ini penampilannya mencolok, soalnya dihias kain perca warna warni gitu. Namanya juga lucu: wara wiri. πŸ˜€

wara wiri

wara wiri

Bisa ngapain sih di Dusun Bambu? Salah satu hal yang paling hits disini adalah beberapa restoran yang punya konsep dan bangunan yang unik: Burangrang, Lutung Kasarung, dan Purbasari. Lutung Kasarung terletak di samping walkway di antara pohon-pohon, bentuknya seperti kandang burung yang ditutupi ranting-ranting kayu. //why does it sound bad? it’s actually really unique xD// Sedangkan Purbasari adalah gasebo dengan desain khas sunda yang terletak di pinggir danau. Sayangnya pas kami kesana kami sedang puasa, jadi nggak sempet nyobain makan. Tapi katanya harga makanan disini lumayan mahal juga sih, jadi belum tentu juga makan kalo nggak puasa. xD Selain restoran, ada juga pasar buah-buahan dan sayur organik yang disebut Pasar Khatulisiwa. Desainnya juga unik. Untuk aktivitas, disini kita bisa bersepeda, panen padi, nginep, nyobain egrang, panahan, atau naik hot air balloon! Biaya naik hot air balloon kalo nggak salah 175.000. Egrang, ayunan, enjotan, dll gratis. Panahan dan bersepeda saya nggak inget berapa. Soalnya kami pas kesana nggak main yang berbayar. Jadi, apa yang kami lakukan? Masih tanya? Foto foto! xD

Banyak banget bangunan unik dan pemandangan asri yang bisa jadi objek foto disini. Makanya tempat ini ngehits di kalangan anak muda yang doyan foto-foto. Ini adalah beberapa foto yang saya ambil di Dusun Bambu.

Dan ini foto-foto narsis kami:

Setelah dari Dusun Bambu, kami bingung menentukan tujuan selanjutnya. Tadinya mau ke Curug Cimahi, tapi sayang waktu itu sedang tutup. Akhirnya kami iseng ke Bosscha.

Bosscha

Tau Bosscha kan? Petualangan Sherina? Anak tahun 90an pasti tau. Sebenernya kami sudah tahu kalau Bosscha tutup selama bulan puasa dan lebaran. Tapi kami tetap aja kesana, berharap semoga gerbangnya dibuka walaupun observatoriumnya tutup. Dan untungnya gerbangnya dibuka dan ada beberapa orang juga yang datang kesana meskipun tutup. Kami diperbolehkan untuk mengunjungi bagian luarnya saja. Yeayy!

Jalan menuju ke Bosscha bisa dilihat disini. Sedangkan untuk jadwal buka dan peraturan kunjungan observatorium Bosscha bisa dilihat disini. Jadi ada 2 jenis kunjungan, kunjungan siang dan kunjungan malam. Untuk kunjungan siang rombongan, harus daftar dulu. Untuk yang keluarga/perorangan, bisa langsung datang hari Sabtu jam 9-13. Biayanya 15.000 per orang. Untuk kunjungan malam hanya dibuka pada tanggal-tanggal tertentu pada musim kemarau dari jam 17-20. Untuk bisa melakukan kunjungan malam harus mendaftar dulu. Cepat-cepat daftar karena kuotanya terbatas. Tapi katanya kalau kehabisan, bisa coba-coba tanya ke anak astronomi ITB. Katanya sih mereka dapet jatah tiket lebih πŸ˜‰ Biaya kunjungan malam adalah 20.000.

Di Bosscha, kami foto-foto saja di luar observatorium utama. Itu loh, tempat Sherina & Sadam ngumpet waktu kabur abis diculik anak buahnya Kertarajasa. πŸ˜›

bosscha!

bosscha!

Menurut Ananti yang pernah ikut kunjungan malam, saat kunjungan malam kita akan dibawa berkeliling melihat teleskop-teleskop di ruangan lain. Ahh, jadi pengen ><

Dari Bosscha kami bingung mau kemana lagi. Setelah bingung bingung, kami memutuskan untuk mencari tempat petik stroberi. Saat pak sopir membawa mobil menuju tempat petik stroberi, kami pun pulas tidur. xD Sampai di tempatnya, kalo nggak salah namanya Rumah Stroberi, ternyata stroberinya sudah habis yang bisa dipetik hari itu. Harus pagi-pagi kalau mau petik stroberi. Karena tempat itu sebenarnya adalah rumah makan + kebun stroberi, cukup awkward buat kami yang hampir semuanya berjilbab (kecuali apin tentunya) seliweran disitu. Kami pun pergi dari sana.

Tujuan selanjutnya adalah Green Forest Resort. Karena katanya tempat ini bagus buat foto-foto. Sampai disana sebenarnya kami sudah kecapekan. Maklum, lagi puasa. Akhirnya disana cuma duduk-duduk dan foto di depan kapel berbentuk segitiga mirip seperti yang di Uluwatu.

//Sebenernya dari Lembang masih lanjut ke ITB buat keliling-keliling dan malamnya buka bareng, tapi cukup jadi konsumsi pribadi aja detailnya. πŸ˜‰

Dan akhirnya selesai juga eksekusi #BdgBucketList di hari itu. Sebenernya masih banyak #BdgBucketList yang belum kesampean. Misalnya aja makan keju pake indomie di Madtari. //iya, belom pernah xD// Atau ke Bukit Moko. Atau yang baru-baru ini ngehits, Tebing Keraton. Mudah-mudahan nantinya ada kesempatan untuk main ke Bandung lagi dan mengeksekusi #BdgBucketList lainnya. πŸ™‚

Makasih Bandung untuk 7 tahun ini dan makasih teman-teman yang mau nemenin. Semoga bisa jalan-jalan bareng lagi dalam waktu dekat πŸ˜‰

Menyusuri Pantai di Gunungkidul

Ini merupakan salah satu agenda dari rangkaian liburan akhir tahun di Jogja. Yang ikut adalah saya, ananti, gisca, adik saya: tika dan lia, serta alvin yang baru sampai pagi harinya di jogja. Kami pergi ke Gunungkidul menggunakan mobil ananti. Karena jaraknya cukup jauh, kami menggunakan jasa sopir. Perjalanan ke gunungkidul kalau tidak salah memakan waktu sekitar 2 jam.

Untuk masuk ke pantai-pantai yang ada, cukup bayar sekali saja. Seingat saya bayarnya 4ribu per orang. Pantai yang pertama kali kami kunjungi adalah Pok Tunggal. Lokasinya cukup jauh dibandingkan pantai yang lain. Beberapa kali kami bertanya ke orang, selalu dijawab ‘setunggal kilo malih’ yang artinya ‘1 km lagi’. Disini jauh dekat disebut 1 km mungkin ya. πŸ˜› Dari jalan raya menuju pok tunggal, kami perlu melewati jalan tanah naik turun yang hanya cukup untuk satu mobil dan lumayan jauh. Mungkin sekitar 1 km juga. Melihat kondisi jalan yang begini, saya sarankan jangan ke tempat ini setelah hujan. Jalannya pasti licin banget. Tapi perjalanan yang bikin deg-degan itu pun terbayar setelah sampai di pantainya. Pantai Pok Tunggal ini relatif baru dan mungkin karena cukup jauh juga, makanya saat kami kesana pantai ini sangat sepi pengunjung.Β  Di pinggir pantai ada hamparan pasir yang luas. Disana, banyak payung-payung pantai yang disewakan ke pengunjung. Airnya jernih. Tapi karena banyak karang dan ombaknya besar, tidak bisa berenang disini. Di pantai ini juga ada bukit yang bisa kita naiki. Karena malas capek, kami nggak naik kesana. Haha.

Puas main-main di pok tunggal, kami pindah ke pantai selanjutnya: Pantai Sundak. Pantainya mirip pok tunggal: air jernih, banyak karang, ombak besar, dan diapit tebing. Tapi Pantai Sundak jauh lebih ramai. Meskipun ada papan larangan tidak boleh berenang, tapi nyatanya banyak juga yang nyemplung ke air. Karena cuacanya sangat panas, kami cuma lihat-lihat dari pinggir.

Dari sundak, kami lompat ke Pantai Krakal. Disini tidak seramai di Sundak tapi bisa dibilang cukup ramai. Matahari super menyengat, jadi kami cuma melihat-lihat dari pinggir juga. Banyak yang main-main di pinggir pantai. Banyak yang main layangan juga disini.

Setelah itu, kami lanjut ke Pantai Drini. Nggak terlalu berharap banyak karena pantai-pantai sebelumnya bisa dibilang mirip. Tapi saya justru jatuh cinta sama Pantai Drini. Di Pantai Drini ada kios ikan yang menjual ikan dan hasil laut lain yang masih segar atau sudah diolah. Disini juga banyak perahu nelayan yang sedang diparkir. Pantai Drini juga jernih. Berbeda dengan pantai sebelumnya yang banyak karang disini tidak tampak batu karang di pinggir pantai. Selain itu, ombak yang sampai ke pinggir pantai juga tidak terlalu besar. Tampaknya cukup aman untuk bermain-main. Dibuktikan dengan adanya anak-anak yang berenang di pinggir pantai. Saya jadi tergoda untuk main air juga, sayangnya memang sengaja nggak bawa baju ganti. Jadi nggak bisa main-main air deh. πŸ˜›

Dari Pantai Drini, kami pindah ke Pantai Sepanjang. Sesuai dengan namanya, pantai ini panjangggg sekali. Di pinggir jalan, berderet pondok-pondok yang menjual makanan ataupun yang disewakan. Banyak karang di pinggir pantai, airnya dangkal, dan meskipun di kejauhan ombaknya besar tapi sampai ke pinggir pantai ombaknya sudah mengecil. Ngeliatin ombak disini lumayan bikin rileks. πŸ˜€

Pantai terakhir: Pantai Kukup. Pantainya ramai, banyak kios-kios juga. Karena saat itu pantai mulai pasang, kami malas jalan mendekati pantai. Di Pantai Kukup, kami menikmati kelapa muda. Enak banget di cuaca panas seperti saat itu. Setelah itu kami mampir di kios yang menjual olahan hasil laut. Ada udang goreng, cumi goreng, rempeyek udang, dan yang pasti ada keripik rumput laut. Proses penggorengannya juga langsung di kios itu, jadi bisa kita lihat dan kita bisa memilih yang baru selesai digoreng. Makanan tersebut dijual dengan harga kiloan. Harganya standarlah. Saya beli udang, rempeyek, dan rumput lautnya. Setelah itu kami makan siang disana. Makannya pun hasil laut juga. Setelah makan, kami pun pulang. Capek dan kenyang sukses membuat kami tidur saat perjalanan pulang. xD

Dataran Tinggi Dieng: Sehari di Negeri Kahyangan

Dataran Tinggi Dieng sudah lama ada di daftar wish list traveling saya. Dan akhirnya saya bisa mengunjungi tempat ini saat liburan akhir tahun lalu. Dari agenda 5 hari liburan, 1 hari dialokasikan khusus untuk Dieng. Hal ini berdasarkan pertimbangan perjalanan Jogja-Dieng yang lumayan memakan waktu dan banyaknya situs wisata yang bisa dikunjungi di Dieng. Sebelum berangkat ke Jogja, kami sudah membooking mobil yang akan kami gunakan. Situs yogyes.com sangat membantu kami dalam mencari rental mobil dengan harga dan kapasitas sesuai yang diinginkan. Kami menyewa mobil Avanza berkapasitas 7 orang dengan harga 600ribu/12 jam. Harga normalnya 550ribu tapi karena libur natal jadi nambah 50ribu. Itu sudah termasuk sopir dan bensin. Untuk overtime, dikenakan biaya tambahan 10% per jam. Belum termasuk tips ke supir, kalau mau ngasih. πŸ˜› Itinerary untuk di Dieng saya comot dari agen wisata yang menawarkan paket ke Dataran Tinggi Dieng.

Kami berangkat dari Jogja sekitar jam 6.30. Yang berangkat adalah saya, ananti, mamanya ananti, jikung, dan 2 adik saya. Perjalanan ke Dieng memakan waktu sekitar 4 jam melalui jalan alternatif yang jalannya tidak semuanya mulus. Lebih baik siapkan receh untuk mas-mas yang membantu mengatur mobil di jalan rusak/tikungan. Selama perjalanan, pak Sopir sempat bercerita mengenai mistisnya Gunung Sindoro dan salah satu resort termahal di dunia di dekat Borobudur yaitu Amanjiwo Resort. Kebetulan, sehari sebelumnya saya membaca artikel mengenai Amangiri Resort di Grand Canyon, Amerika, yang dimiliki oleh orang Indonesia. Nah, kedua resort ini dimiliki orang yang sama. Karena perjalanan masih panjang, pak sopir pun menyuruh kami tidur saja dan nanti akan dibangunkan kalau sudah dekat. Katanya pemandangan saat naik sayang dilewatkan. Ibaratnya, kalau makan sate enaknya pas di mulut bukan pas sudah sampai di perut. πŸ˜€

Saat memasuki kawasan Dieng, kami dimintai retribusi sebesar 2ribu per orang. Tapi, dasar Indonesia, meskipun kami ada 6 orang mereka meminta 10ribu saja dan kemudian hanya memberi beberapa tiket. Tapi setelah dilihat tiketnya, tiket ini ternyata bukan tiket masuk tapi sejenis sumbangan. Tidak semua yang lewat diminta untuk membayar, hanya yang kebagian apes kendaraannya diberhentikan. Zzzz.

Benar kata pak sopir sebelumnya, pemandangan saat naik sangat sayang untuk dilewatkan. Dari kejauhan tampak lahan pegunungan yang digunakan sebagai tempat bercocok tanam. Kebanyakan tanamannya adalah kentang, kubis, dan daun bawang. Lahan pertanian ini bentuknya bertingkat-tingkat. Jika diperhatikan dari dekat, tampak jelas batu-batu yang disusun rapi untuk membuat tingkat-tingkat itu. Di sepanjang jalan juga sering terlihat bunga terompet. Bunga jenis ini juga saya lihat saat di Bromo. Sepertinya tanaman dengan bunga terompet ini memang jenis tanaman yang cocok tumbuh di pegunungan. Karena perjalanan yang menanjak, pak sopir sempat mematikan AC agar mobil kuat naik. Sebagai ganti AC, jendela mobil dibuka dan mulai terasa segar dan dinginnya angin pegunungan.

Gardu Pandang Tieng

Pemandangan dari Gardu Pandang Tieng

Saat mendekati Gardu Pandang Tieng, kami ditanya apa ingin mampir kesana. Di itinerary, sebenarnya ini masuk di agenda terakhir tapi karena langitnya cerah dan belum tentu sore hari juga cerah maka kami pun mampir ke Gardu Pandang Tieng. Dari sini dapat dilihat pemandangan gunung dengan gumpalan awan putih yang cantik. Nggak salah kalau sering disebut sebagai Negeri Di Atas Awan. Di sini, terasa sekali dinginnya cuaca pegunungan.

Tidak lama di Gardu Pandang Tieng, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama, sampailah kami di gerbang pembelian tiket masuk. Kalau tidak salah, harga tiket terusan adalah 18ribu. Tiket ini berlaku untuk Dieng Plateau Theater, Kawah Sikidang, Museum Kailasa, Candi Arjuna dan tidak termasuk tiket tambahan 4ribu untuk di kompleks Telaga Warna. Setelah membeli tiket, beberapa orang menawarkan masker karena katanya bau belerang kawah lumayan menyengat. Kami pun membeli beberapa masker.

Telaga Warna

Goa Pengantin

Goa Sumur

Goa Semar

Lokasi yang pertama kami kunjungi adalah kompleks Telaga Warna. Sebelumnya kami membeli tiket dari booth tiket yang ada di depannya terlebih dahulu. Hanya beberapa puluh meter dari gerbang, Telaga Warna sudah terlihat. Sayangnya saat itu warna hijau dari Telaga Warna ini tidak terlalu nampak. Setelah dari Telaga Warna, kami pun mengikuti petunjuk arah menuju goa-goa dan Telaga Pengilon. Goa yang pertama ditemui adalah Goa Pengantin. Ada dua buah pintu goa yang terlihat sehingga saya menebak-nebak goa tersebut disebut goa pengantin karena berpasangan. Mitosnya, kalau berdoa disini akan cepat ketemu jodohnya. Saya sih memilih untuk nggak percaya. πŸ˜› Tidak jauh dari Goa Pengantin, ada Goa Sumur. Ditandai dengan patung wanita memegang kendi di depan gerbangnya. Ada juga Goa Semar yang ditandai dengan patung semar di depannya. Goa Sumur dan Goa Semar sering digunakan untuk semedi. Siapa saja boleh semedi, asalkan izin dulu kepada juru kuncinya. Dengar-dengar dari guide rombongan lain, mantan presiden Soeharto pernah semedi disini.

Telaga Pengilon

Di dekat goa-goa tersebut ada Telaga Pengilon. Pengilon merupakan bahasa jawa yang berarti cermin. Berbeda dengan telaga warna yang katanya airnya bisa berubah-ubah warna, telaga pengilon airnya jernih. Dari jauh airnya tampak keruh tapi setelah didekati sepertinya itu adalah warna tanah di dasarnya. Kami tidak berlama-lama di telaga pengilon karena suasananya yang sepi. Apalagi itu di dekat goa-goa yang mistis tadi.

Dieng Plateau Theater

Keluar dari kompleks Telaga Warna kami mencari bapak sopir dan mobil yang kami sewa. Setelah membayar parkir 5000 kami pindah ke tujuan berikutnya, Dieng Plateau Theater. Di teater ini diputar video mengenai Dataran Tinggi Dieng. Menunggu pertunjukan selanjutnya, kami jajan dulu. Kebetulan di sekitarnya banyak penduduk yang menjual jamur & kentang crispy. Maknyus rasanya makan jamur & kentang yang baru digoreng di cuaca yang dingin seperti itu. Saat pertunjukan selanjutnya akan dimulai, kami pun masuk ke dalam teater. Video yang diputar menceritakan asal mula terbentuknya dataran tinggi Dieng yang merupakan hasil letusan dahsyat gunung berapi. Letusan ini menghasilkan kompleks gunung berapi dan kerucut-kerucutnya. Disini juga terdapat banyak kawah & danau vulkanik. Salah satu peristiwa penting adalah saat kawah sinila mengeluarkan gas beracun dan menimbulkan banyak korban pada tahun 1979.

Nama Dieng berasal dari kata “di” (tempat) dan “hyang” (dewa) yang jika digabung berarti tempatnya para dewa. Video ini juga membahas penduduk Dieng dan kebudayaannya. Video ini menurut saya cukup informatif, tapi background musiknya agak-agak horor apalagi kalau sudah membahas letusan gunung. Jadi berasa mistis. πŸ˜› Oh iya, katanya di bulan juli-agustus kawasan Dieng bisa menjadi sangat dingin dengan suhu di bawah 0ΒΊ C. Bahkan embun di daun waktu pagi bisa menjadi es. Jadi kalau ingin merasakan winter tanpa ke luar negeri, bisa dicoba ke Dieng pada waktu tersebut. Lebih oke lagi kalau sekalian pas ada festival dieng. πŸ˜€

Setelah selesai pertunjukan, kami sholat dulu di musholla dekat teater. Dan saat wudhu itulah pertama kalinya saya bersentuhan dengan air dieng. Dinginnya luarrrr biasa, seperti air es. Begitu kena air, langsung mati rasa. Haha. Belum dingin yang paling maksimal saja sudah begini apalagi bulan juli-agustus itu ya. Brrrr.

crater hole

Kawah Sikidang

Setelah dari teater, kami menuju Kawah Sikidang. Dari tempat parkir ke kawah, jalannya cukup jauh. Di sepanjang jalan, banyak ditemukan lubang yang mengeluarkan gas ataupun air panas. Sampai di kawah, ternyata kawah ini berbeda dengan kawah yang pernah saya lihat di tangkuban perahu ataupun bromo. Kawah sikidang seperti kolam lumpur hitam yang mendidih. Untuk keselamatan pengunjung, ada pagar bambu di sekitarnya. Di kawah ini ada pula yang menjual telur rebus yang direbus langsung di kawah. Pengen nyobain tapi sayang nggak nemu penjualnya yang mana. Cuma ada tangkai-tangkai bambu yang sedang dipakai merebus telur. πŸ˜€ Menurut saya bau sulfurnya tidak terlalu menyengat, tapi nggak ada salahnya sih kalau pake masker. Selain itu, buat yang pakai kerudung mendingan cari masker yang ikatannya di belakang bukan yang dicantel ke kuping.

Forever Mbak Nar. Sekali Mbak Nar tetap Mbak Nar. Merdeka!

Mie Ongklok

Puas foto-foto di Kawah Sikidang, kami pindah ke lokasi berikutnya: Kompleks Candi Arjuna. Sebelum masuk kompleks candi, kami makan dulu di warung makan di depannya. Kami mencoba mie ongklok, makanan khas wonosobo. Isinya mie dengan kuah kental campuran saus kacang dan entah apa, kemudian ditambahkan sate ayam. Disini kami juga membeli oleh-oleh khas dieng seperti manisan carica, kacang dieng, dan keripik jamur.

Komplek Candi Arjuna

Selesai makan, kami pun masuk kompleks candi. Beberapa candi yang ada disini antara lain candi arjuna, candi semar, dan candi srikandi. Latar belakang pegunungan menjadikan pemandangan disini sangat cantik. Cuma disini ada yang bikin saya cukup kesal, banyak pengunjung yang naik ke sisi candi untuk mendapatkan foto yang mereka anggap bagus. Entah ya sebenarnya naik-naik begitu boleh atau nggak, tapi itu bikin saya greget karena seperti nggak menjaga peninggalan sejarah.

Museum Kailasa

Setelah dari kompleks candi arjuna, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ada 1 tempat lagi yang belum dikunjungi: Museum Kailasa. Museum ini letaknya tepat di depan kompleks candi. Tapi sayangnya waktu itu sudah sore dan kami berusaha agar sewa mobilnya tidak overtime. Selain itu, lebih baik turun sebelum gelap. Tapi ujung-ujungnya kami tetap dihitung overtime 2 jam karena memang sempat macet dan kemudian sopir meminta berhenti sholat maghrib kemudian saat ketemu jalan yang nggak macet lagi sopirnya malah seperti melambat-lambatkan perjalanan. Padahal paginya dia terlambat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Kami pun sempat curiga kalau ini adalah triknya supir dan pihak rental. Tapi ya mau gimana lagi. Pelajaran untuk kalau mau sewa mobil nanti, harus ditanya perhitungan overtime dan tegur saja sopirnya kalau sengaja dilambat-lambatkan. πŸ˜›

Jalan-jalan Jogja (Lagi)

Setelah proyek mangjoso beberapa tahun lalu, saya belum pernah kembali ke jogja. Dan lagi-lagi, karena impulsif, saya memutuskan untuk liburan ke Jogja saat libur natal tahun lalu.

25 Desember 2013

Berangkat dari Bandung pukul 07.00 dengan kereta yang alhamdulillah tepat waktu, saya sampai di Jogja sekitar pukul 15.00. Saya dijemput adik saya, Lia, yang kuliah di Jogja menuju asrama-nya. Disana sudah ada adik saya satu lagi, Tika, yang datang sehari sebelumnya. Karena kami mau pergi menggunakan motor, padahal kami ada 3 orang dan motornya cuma 1, adik saya pun sibuk telpon sana-sini mencari penyewaan motor yang masih available. Dan ujung-ujungnya malah dapet motor dari penyewaan tepat di sebelah asrama yang sebelumnya sudah didatangi tapi habis. Kalau nggak salah, harga sewanya 40ribu per hari. Kami pun segera meluncur ke Raminten, restoran yang cukup terkenal di Jogja. Terkenalnya mulai dari kemistisannya, pelayannya yang katanya banyak pria melambai, dan yang terutama karena menunya yang unik dengan harga murah meriah. Sampai di Raminten, saking ramainya kami pun masuk waiting list dulu. Setelah menunggu lumayan lama, kami akhirnya mendapatkan tempat. Bau menyan langsung tercium saat masuk ke bagian dalam restoran. Karena sudah kelaparan, langsung deh pesan makanannya. Saya pesan nasi liwet (3ribu rupiah saja sodara-sodara) dan susu jahe. Untuk rame-rame, saya pesan tempe mendoan dan ikan wader. Adik saya pesan masing-masing ayam bakar dan ayam rica-rica. Minumnya es jeruk nipis dan es krim bakar. Beginilah penampakan makanan yang kami pesan:

Susu jahe dihidangkan di gelas yang bentuknya seperti itu. Hahaha. Dan karena sudah tahu itulah sebenarnya saya pesan susu jahe. Mau nyicip susu langsung dari tempatnya. #plak Disini, makan bertiga habis 66ribu saja. Murah meriah dan rasanya juga nggak mengecewakan. Sayangnya saat itu banyak menu yang sudah habis. Jadi nggak bisa icip-icip lebih banyak lagi. Dan ternyata, mas-mas pelayannya nggak melambai seperti yang saya bayangkan. Sebelumnya saya membayangkan para pria gemulai menggunakan batik/kembenlah yang akan ditemui, tapi ternyata nggak ada tuh yang seperti itu.

Selesai makan, kami pun meluncur ke arah alun-alun utara. Kami sholat maghrib di Masjid Gedhe Kauman. Suasana alun-alun dan sekitarnya sangat ramai, apalagi saat itu ada sekaten. Saya kemudian ketemuan dengan Ananti & Gisca di sekitaran masjid. Setelah itu kami menyeberang ke area sekaten. Disana, ananti & gisca naik wahana ombak. Saya sih jadi penonton saja. Tapi kemudian setelah dibujuk-bujuk saya pun menyerah untuk ikut naik bianglala. Saya tidak terlalu takut dengan ketinggian, tapi saya sangat takut dengan kecepatan. Dan gara-gara itu setiap bianglala mulai berputar ke arah bawah, saya pun langsung merem untuk mengurangi rasa takut. Hahaha.

Selesai main-main, kami menuju rumah Ananti. Saya menginap di rumah Ananti, sedangkan adik-adik saya kembali ke asrama.

26 Desember 2013

Agenda hari ini adalah “Sehari di Dieng”. Ceritanya akan saya buatkan di post terpisah. πŸ˜›

27 Desember 2013

Karena tepar setelah perjalanan panjang di Dieng, kami pun baru memulai aktivitas menjelang siang hari. Tempat yang pertama dikunjungi adalah Benteng Vredeburg. Saya kesana bersama Ananti, Gisca, dan 2 adik Ananti. Di Vredeburg, ada ruangan khusus yang memutar video mengenai sejarah benteng ini. Ruangan lain, isinya kebanyakan adalah diorama yang menceritakan masa perjuangan.

Setelah dari Benteng Vredeburg, kami meluncur ke Taman Pintar yang lokasinya tepat di sebelahnya. Di Taman Pintar, saya bertemu dengan adik saya. Sayangnya Taman Pintar hari itu super ramai. Kami pun jadi malas masuk karena antreannya yang panjang. Akhirnya kami langsung pergi ke Jejamuran, rumah makan yang menunya adalah olahan berbagai jenis jamur. Menu di jejamuran sangat beragam sehingga membuat kami bingung saat akan memesan. Hahaha. Rekomendasi saya, jangan melewatkan sate dan sop jamurnya. Jamur goreng penyetnya juga pedas mantap, cocok buat para penggemar pedas seperti saya. Minumannya juga macam-macam sekali. Salah satu yang unik adalah Summer Breeze, di dalam minuman tersebut ada jamur enoki-nya. Menurut saya, Jejamuran sangat memuaskan dari segi rasa, harga, tempat, maupun pelayanannya. Hanya saja lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Naik motor dari Taman Pintar ke Jejamuran cukup bikin tepos, padahal saya cuma dibonceng πŸ˜›

Setelah kekenyangan di Jejamuran, kami kemudian meluncur ke Taman Pelangi. Taman Pelangi ada di komplek yang sama dengan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Tapi karena sudah sore, Monjali-nya sudah tutup. Kami pun duduk-duduk di sekitaran situ menunggu malam dan lampu-lampu dinyalakan. Taman Pelangi ini isinya lampu hias dengan berbagai bentuk. Bisa dibilang versi mini dari taman lampion yang ada di Batu Night Spectacular (BNS) Malang yang pernah saya kunjungi. Di taman pelangi ada penyewaan mainan seperti sepeda gandeng, becak-becakan, kereta-keretaan, bola air bahkan flying fox. Tapi disana kami cuma foto-foto saja.

Setelah dari Taman Pelangi, kami meluncur ke Kalimilk yang ada di Kaliurang. Kalimilk ini salah satu tempat gaul nge-hits di jogja. Menu utamanya adalah susu dengan berbagai macam rasa. Saking nge-hitsnya, kami pun harus masuk waiting list dulu untuk bisa nyusu disini. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun mendapatkan tempat. Di Kalimilk, ada 2 ukuran gelas yaitu medium dan gajah. Sesuai namanya, ukuran gelas gajah ini sangat besar. Harga susu disini sekitar belasan ribu. Selain susu, ada juga light meal seperti chicken wings, risoles, french fries, macaroni & cheese. Untuk yang agak berat, ada chicken blackpepper & beef teriyaki. Saya pesan kalimilk cookies yang ukuran medium saja karena masih cukup kenyang.

Jujur, menurut saya pribadi sih tempat ini overhyped. xD

28 Desember 2013

Hari ini hari khusus pantai. Akan saya tulis dalam 1 post khusus juga. πŸ˜€ Ceritanya malam harinya aja ya. Jadi, di jogja ada tempat makan hits yang namanya Telap 12 (baca: telap twelep). Kalo bahasa jawa, itu ungkapan buat yang makannya lahap. Nah, si Telap 12 ini menjual mie instan, iya bener mie instan, yang disajikan persis sesuai bungkusnya. Penasaran dong pastinya. Kami kesana bareng orang tuanya ananti juga. Sayangnya karena sudah malam, menu yang tersisa tinggal rasa soto dan rendang. Tapi karena sudah terlanjur kesana, kami pun memesan apa yang ada saja. Ini dia tampilannya:

Rasanya? Ya rasa mie instan. Kok tanya lagi. Hahaha. Kreatif yang bikin tempat ini. Meskipun di tempat lain ada juga yang jual mie instan sesuai dengan bungkusnya, si Telap 12 ini saya kasih nilai lebih buat brandingnya. Selesai makan, kami meluncur ke alun-alun selatan. Kami nggak lama disini. Cuma liat-liat keramaian dan nyobain jalan di antara 2 beringin lagi, tapi saya nyerah di tengah-tengah. Haha.

29 Desember 2013

Hari terakhir liburan. T__T Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Pabrik Cokelat Monggo. Harapannya bisa lihat proses pembuatan coklatnya di workshop, tapi sayangnya saat kami datang mereka belum mulai kerja. Akhirnya cuma beli cokelatnya saja disini.

Dari Monggo, kami meluncur ke Pasar Beringharjo. Cari-cari batik disini, tapi susah cari yang sreg. Dasar picky xD Akhirnya nemu yang lucu di toko seberangnya Beringharjo. Mampir ke Mirota juga tapi nggak beli apa-apa. Setelah itu makan siang dan kembali lagi ke rumah Ananti. Packing karena malamnya mau pulang ke Bandung. Habis maghrib ke stasiun, nunggu kereta Malabar yang ternyata delay. Dan akhirnya liburan resmi berakhir saat kereta berangkat. Liburan yang menyenangkan karena hampir semua tempat yang diinginkan bisa dikunjungi. See you next time, Jogja!

Pulau Kelagian

Salah satu hal yang saya banggakan dari Lampung itu, pantainya masih bagus. :3 Bulan lalu saya memanfaatkan long weekend untuk pulang ke Lampung. Karena kebetulan keluarga besar berkumpul, kami pun berlibur ke pantai. Kali ini kami ke Pulau Kelagian. Lokasinya di seberang Pantai Klara, sekitar daerah Hanura, tidak sampai 1 jam dari pusat kota Bandar Lampung. Kalau mau ke Teluk Kiluan, pasti lewat daerah ini.

Meskipun sudah beberapa kali ke Pantai Klara, baru kali itu saya menyeberang ke Pulau Kelagian. Airnya jernih dan bersih. Pasir pantainya putih dan lembut sekali. Pulaunya pun sepi. Saat kami baru datang, hanya kami pangunjungnya. Sayang, area berenangnya tidak terlalu luas karena berbatasan dengan palung. Tapi justru perbedaan kedalaman itu yang membuat gradasi warna air lautnya tampak sehingga pemandangannya bagus. Yang suka foto-foto pasti senang. πŸ˜›

Ini beberapa foto di Pulau Kelagian, ayo sekali-kali main kesana ^^

Pantai Klara, sebelum menyeberang

di kapal

pulau kelagian

airnya jernihhh

foto narsis adik saya -.-

BagaNite

Bulan November lalu, saya dan keluarga mencoba cara liburan yang lain dari yang lain. πŸ˜› Kami menginap di bagan selama semalam. Entah apa deskripsi yang paling cocok untuk bagan, tapi sepertinya bisa diartikan sebagai kapal penangkap ikan yang menggunakan jaring. Bagan ini milik salah satu saudara kami.

Kami berangkat sabtu sore, tanggal 17 November. Karena bagan ditinggal di tengah laut, kami naik perahu kecil dulu untuk mencapai bagan itu. Selain saya dan keluarga, pemilik bagan dan istri, ada sekitar 5 orang nelayan yang naik ke bagan. Setelah semuanya naik, bagan pun mulai dijalankan. Karena banyak perempuan yang ikut pada sat itu, maka bagan tidak dibawa terlalu jauh ke tengah laut. Padahal biasanya mereka bisa melaut sangat jauh ke tengah dan baru pulang beberapa hari kemudian.

Kira-kira setelah maghrib, jaring-jaring bagan mulai diturunkan. Lampu bagan dinyalakan untuk menarik perhatian ikan. Sambil menunggu ikan terkumpul, kami coba-coba memancing. Kebanyakan hasil pancingan yang didapatkan adalah cumi-cumi. Dan baru kali itu saya melihat cumi-cumi yang masih transparan. Biasanya kan kalau sudah di pasar, warnanya sudah menjadi putih keunguan. Cumi-cumi yang berhasil ditangkap kemudian langsung dimasak untuk makan malam saat itu. Ya, di bagan juga ada dapur. πŸ˜€ Selain ada dapur, ternyata ada tv juga. Adik saya serius nonton tv setelah capek main pancing-pancingan. Hahaha.

Kurang lebih 3-4 jam setelah jaring diturunkan, ikan sudah mulai terkumpul. Jaring ditarik naik dan lampu bagan dimatikan. Saya kaget melihat banyaknya ikan yang berhasil ditangkap. Banyaaak sekali. Tidak lama, kapal sudah penuh dengan ikan-ikan. Sebagian besar ikan yang berhasil ditangkap itu akan dijadikan ikan asin. Dan ternyata, pembeli ikanlah yang mendatangi kapal. Semua ikan yang berhasil diperoleh dibeli sampai habis. Setelah itu, jaring diturunkan lagi untuk batch selanjutnya. Sayang, batch kedua hasilnya tidak sebanyak yang pertama. Memang untung-untungan bisa dapat ikan yang banyak atau tidak. Bahkan bisa saja walau sudah pergi semalaman tapi tidak mendapatkan ikan sama sekali.

Menjelang tengah malam, saya sudah tidak sanggup mengamati proses penangkapan ikan. Saya mulai mabuk laut karena angin laut cukup kencang dan saat itu juga hujan. Saya salut kepada para nelayan seperti mereka yang bisa semalam suntuk bekerja dengan kondisi seperti itu. Malam itu, mereka melakukan penangkapan ikan sebanyak 3 batch, total ikan yang diperoleh sekitar 6 ton. Luar biasa banyaknya. Tapi setelah dikurangi biaya operasional dan bagian untuk pemilik bagan, uang yang bisa dibawa pulang oleh masing-masing nelayan tidak sampai 100ribu atau bahkan 50ribu. 😦

Secara garis besar, apa saja yang saya lakukan di bagan bisa dilihat di video berikut ini:

Pulang dari sana, saya masuk angin. Hahaha. Tapi selain itu, kami dibawakan ikan dan cumi-cumi yang sangat banyak yang akhirnya dibagi-bagi ke saudara dan tetangga. What a great experience πŸ˜€