Jelajah Busan Dalam 3 Hari

cover

Di post tentang backpacking ke Jeju, saya sempet bilang kalau saya pengen ke Busan juga. Sebenernya sih udah kesampean pas akhir September tahun lalu, tapi belum sempet nulis ceritanya.๐Ÿ˜›

Berawal dari tawaran transport dan penginapan gratis, saya yang lemah godaan ini pun akhirnya berangkat ke Busan. Karena saat itu adalah musim libur Chuseok yang bisa dibilang lebarannya orang Korea, bus yang saya tumpangi telat sampai di Busan sekitar 1,5 jam dari waktu yang direncanakan. Maklum, banyak yang mudik juga.

Saya sampai sekitar pukul 3 sore di hotel yang lokasinya nggak jauh dari pantai paling ngehits sejagad Busan, Haeundae Beach. Setelah checkin dan istirahat sebentar, saya langsung menuju pantai Haeundae. Sepertinya lebih banyak turis asing yang saya temui daripada turis lokalnya. Mereka asyik berjemur atau main pasir. Anehnya disini, malah jarang banget yang main di air. xD

01. haeundae beach

Haeundae Beach

02. haeundae beach

Pertunjukan Sulap

Sempat ketemu beberapa rombongan pekerja Indonesia disini. Maklum, lagi libur panjang. Dan ada satu yang bikin ngeselin. Nggak ngomong langsung ke saya tapi dengan volume suara yang masih bisa saya dengar bilang “Kok dewean mbak”. Dalam hati saya menjawab “sakkarepku mas”. -__-

Dengan cuek, saya berjalan menyusuri pantai menuju ke arah Dongbaekseom. Dongbaekseom ini dulunya adalah pulau kecil yang terpisah, tapi sekarang nyambung dengan daratan Busan. Lokasinya ada di ujung kanan Haeundae. Ikutin aja jalur di depan Hotel Westin Chosun. Di sekitar Dongbaekseom terdapat patung mermaid, lighthouse, dan Nurimaru APEC House. Karena sudah sore, Nurimaru APEC House sudah tutup. Tapi kata temen saya, isinya kurang menarik juga sih.๐Ÿ˜› Saya sempat menikmati matahari terbenam dari Dongbaekseom. Dari sini juga bisa terlihat jembatan Gwangan-li.

Saya mengelilingi Dongbaekseom dan melewati The Bay 101 yang merupakan salah satu tempat gaul di Busan. Disini terdapat restoran dan yacht club. Dari sini, saya bisa melihat pemandangan apartemen-apartemen mewah di sekitar Haeundae. *pengen*

34. OPS Bakery

OPS Bakery

Tidak jauh dari The Bay 101, terdapat bakery yang cukup terkenal di Busan. Namanya OPS Bakery. Sayangnya hari itu sedang tutup, tapi saya berhasil mampir ke sana di hari berikutnya. Hehe.

08. centum city

Shinsegae Centum City

Malamnya, saya ke Shinsegae Centum City yang katanya merupakan kompleks pusat perbelanjaan terbesar sedunia. Sayangnya karena masih libur Chuseok, Centum City juga tutup. Bisa masuk sih, tapi toko-tokonya pada tutup dan ada security staff di setiap lantai.

09. busan cinema cinter

Busan Cinema Center

Akhirnya saya pun pindah ke Busan Cinema Center yang tepat berada di sebelah Shinsegae Centum City. Busan Cinema Center adalah salah satu venue yang digunakan untuk Busan International Film Festival (BIFF). Saat saya kesana, terlihat persiapan untuk BIFF. Sayangnya saya keburu pulang sebelum BIFF berlangsung. Busan Cinema Center ini mendapat penghargaan Guiness World Record untuk atap cantilever terpanjang. Dan yang unik, di atapnya menyala lampu warna-warni. Cakep banget!

Dari Busan Cinema Center saya menuju pantai hits selanjutnya, Gwangan-li Beach. Walaupun sudah malam, pantai ini masih ramai. Disini saya ketemu temen sekaligus bos saya yang asli Busan. Hehe. Kami berjalan menyusuri pantai, menikmati pemandangan jembatan Gwangan-li yang megah, menonton pengunjung lain yang main kembang api, ataupun menerbangkan lampion. Ada juga beberapa street performance yang bisa dilihat disini. Di sekitar pantai terdapat banyak kafe dan restoran sashimi.

10. gwanganli beach

Gwangalli Beach

11. gwanganli beach

Gwangalli Beach

Belakangan, saya baru tau kalau di dekat Gwanganli Beach ada amusement park kecil. Namanya Gwangan Beach Land. Saya tau dari acara Flower Boy Bromance episode Nam Joohyuk & Jisoo. Haha.

Hari kedua, saya mengunjungi Gamcheon Culture Village yang terkenal denganย  rumah warna-warni dan berbagai instalasi seninya. Dulunya banget kawasan ini adalah kawasan kumuh, tapi dengan adanya proyek culture village kondisinya sekarang jadi jauh lebih baik.

Ada cerita lucu sebelum saya kesana. Saya mau sarapan di Kimbab Cheongguk. Nggak lama setelah saya duduk, tiba-tiba ada yang tanya “Mau makan apa?”. Ternyata yang jaga bisa bahasa Indonesia. Dan memang muka saya Indonesia banget. Haha. Dia bilang sempet tinggal di Indonesia selama 3 tahun. Makanya bisa bahasa Indonesia.๐Ÿ˜€

Supaya nggak nyasar, di Gamcheon Culture Village saya beli peta seharga 2000 KRW. Gamcheon Culture Village ini dikelola mandiri oleh masyarakat sekitar. Peta ini adalah salah satu usaha mereka. Di sepanjang jalan juga terdapat beberapa penduduk yang jadi volunteer, tebar-tebar senyum ramah, ngebantuin ngasih tau jalan, atau ngingetin supaya hati-hati saat naik turun tangga. Di peta, terdapat bagian yang bisa di-stempel di spot-spot tertentu. Di beberapa spot, kita bisa dapat souvenir berupa postcard.

This slideshow requires JavaScript.

Jalan di Gamcheon Culture Village ini lumayan naik turun. Dan cuaca saat itu lagi panas-panasnya. Saya ambisius mau mengunjungi semua spot yang bisa dapet stempel. Tapi ada beberapa spot yang susah banget dicari dan saya udah kecapekan. Jadinya nyerah deh.

25. masjid al fatah busan

Masjid Al-Fatah Busan

Dari Gamcheon Culture Village, tadinya saya pengen ke Busan Tower dan sekitarnya. Tapi karena masih kecapekan, akhirnya saya ngadem ke Masjid Al Fatah Busan yang ada di dekat Dusil Station. Dari Dusil Station, keluar melalui Exit 8. Jalan lurus terus sampai ketemu perempatan yang ada pom bensin, belok kanan. Masjidnya nggak jauh dari situ. Di depan masjid terdapat restoran makanan turki halal, Capadoccia. Ruang sholat untuk perempuan ada di lantai 3. Pengaturannya mirip dengan Masjid Central Seoul di Itaewon. Setelah sholat dan istirahat, saya pun lanjut ke tujuan berikutnya, Taejongdae.

Dari masjid ke Taejongdae ternyata memakan waktu cukup lama. Selain jaraknya yang memang jauh, bus yang saya naiki sempat terjebak macet di beberapa spot. Tujuan utama saya di Taejongdae adalah melihat lighthouse-nya. Sebenarnya saya sudah ada janji makan malam jam 6 dengan teman saya. Dan saat itu sudah jam 5 sore, saya nggak yakin kalau saya bisa sampai tepat waktu. Tapi sayang juga sudah sampai di Taejongdae tapi nggak sempet eksplor tempatnya. Karena antrean untuk Danubi Train cukup panjang, saya pun memutuskan untuk jalan kaki.

Di perjalanan, saya sempat melihat pebble beach dan ada gedung yang berisi pameran foto-foto aktris Choi Jiwoo, pemeran wanita di drama Winter Sonata. Foto-fotonya berlokasi di tempat-tempat wisata di Busan, karena memang tujuannya adalah promosi wisata. Dan saya baru tau kalau Choi Jiwoo berasal dari Busan!

This slideshow requires JavaScript.

Dari gerbang ke lighthouse ternyata jauhhh banget. Dan untuk ke lighthouse, saya perlu menuruni tangga jauhhh ke bawah. Sebenarnya bisa turun lagi ke batu-batu super besar yang keliatan keren banget. Tapi sayangnya saya nggak punya cukup waktu. Dan yang bikin tepar adalah waktu balik naik ke atas lagi. Mau mati rasanya. Haha. Sempat ketemu rombongan pekerja Indonesia lagi di dekat lighthouse. Tapi yang ini cukup sopan. Well, sebenernya karena saya keburu kabur naik ke atas. Haha.

Melihat waktu saat itu, mustahil rasanya saya bisa on time ketemu temen saya. Akhirnya saya kabari kalau saya bakal telat. Saya sampai di stasiun tempat kami janjian jam 7. Kami bakal makan malam di rumahnya. Dan orang Korea punya kebiasaan bawa oleh-oleh kalau berkunjung ke rumah orang. Sedangkan saya nggak bawa apa-apa. Saya pun nggak enakan, apalagi ini pertama kalinya saya kesana. Untungnya di dekat apartemennya ada toko cukup besar. Saya pun mengajak dia mampir untuk beli oleh-oleh. Tadinya dia bilang nggak perlu, tapi setelah saya paksa akhirnya kami beli 1 set jus. Haha.

Begitu sampai di rumahnya, kami disambut mamanya yang dengan senang hati menerima oleh-oleh kecil saya. Hehe. Selain mamanya, saya juga ketemu dengan ponakan dan kakaknya. Bisa dibilang ini pertama kalinya saya main ke rumah orang Korea. Maklum, saya nggak punya banyak teman Korea disini. Program yang saya ambil isinya mayoritas orang asing, dan kalaupun ada orang Korea kami nggak terlalu deket.

Dan tau apa yang bikin lebih terharu? Mamanya temen saya hari itu masak nggak ada dagingnya sama sekali karena dia tau saya nggak makan daging. Huhuhu. Dan masakannya enak dan rasa rumahan banget. Super terharu jadinya. :”D Setelah makan malam, kakak teman saya mengantar kami keliling-keliling naik mobil. Seinget saya itu pertama kalinya saya naik mobil pribadi di jalanan Korea. Haha. Biasanya naik transportasi umum mulu. Rasanya beda aja kalo naik pribadi. Wkwkwk.

33. hwangnyeongsan

Puncak Hwangnyeongsan dari jauh

Tujuan awal kami adalah Hwangnyeongsan Beacon Fire Station. Dari sini, kita bisa melihat peemandangan lampu malam kota Busan 360ยฐ. Sejenis Dago Pakar gitu kali ya kalo di Bandung. Sayangnya, jalannya macett banget. Akhirnya kami nggak ke puncaknya dan lihat-lihat dari pinggir jalan aja.

Dari sana, kami kemudian menuju Dalmaji-gil dan Songjeong Beach. Sekedar lewat aja sih karena udah malem. Haha. Kalo siang, bisa nyobain surfing disini. Kami sempat mampir ke salah satu kafe tapi ternyata sudah lewat dari last order time. Huhuhu. Akhirnya ke hotel mewah berinisial W yang ada di Haeundae Beach. Duduk-duduk di loungenya yang menghadap pantai. Kakak temen saya cerita kalo dia pernah dibawa mamanya ke Haeundae pas lagi stres mau ujian masuk universitas, trus dibilang kalo mau nangis ato teriak disitu silakan. So sweet banget nggak sih, kayak di drama-drama. Trus temen saya bilang, kok dia nggak pernah kayak gitu. Haha. Kami ngobrol-ngobrol disana dan kemudian saya diantar ke hotel.

Hari ketiga, pagi-pagi banget saya berangkat ke Haedong Yonggungsa Temple. Itu loh, temple yang lokasinya ada di tepi pantai. Temple ini cakep banget. Tapi temen saya bilang dia nggak begitu suka tempat ini karena aneh, patungnya isinya campur-campur beberapa kepercayaan, nggak cuma Buddha aja. Bahkan dia bilang ada rumor kalau kuil ini dikelola gangster buat cari duit. Melihat banyaknya kotak sumbangan dan berbagai jenis patung Buddha yang ada, semacam “supaya dapet anak cowok”, “supaya berprestasi akademik”, dan berbagai macam yang aneh-aneh lagi, saya paham kenapa temen saya bilang kayak gitu. Haha.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah puas mengelilingi Haedong Yonggungsa Temple, saya kembali ke kawasan Haeundae Beach. Tujuan saya adalah menaiki kapal untuk rute ke Oryukdo. Oryukdo adalah sekelompok pulau kecil yang kadang terlihat ada 5 atau 6 pulau tergantung kondisi cuaca (O berarti 5, yuk berarti 6 dalam bahasa Korea). Pulau-pulau ini tidak berpenghuni karena bentuknya cuma sekedar batu-batuan. Di salah satu pulau terdapat lighthouse. Cara lain untuk menikmati Oryukdo adalah dari Oryukdo Skywalk yang memiliki lantai transparan di tebing di atas laut.

Untuk naik Haeundae Cruise, cukup datang ke Mipo Ferry Terminal di bagian ujung kiri pantai Haeundae. Harga cruise ke Oryukdo adalah 22.000 KRW dengan durasi sekitar 1 jam. Saran saya, pakailah pakaian yang cukup tebal karena angin lautnya super kencang dan bisa bikin masuk angin. Naik kapal ini berasa naik roller coaster.ย  Haha.

Tapi pemandangannya memang oke banget. Lagi-lagi saya bisa melihat Gwangalli Bridge. Saya juga bisa melihat Igidae Park yang niatnya pengen saya telusuri tapi nggak memungkinkan karena waktu yang mepet, dan pastinya Oryukdo. Kalau pengen lebih mewah, bisa cobain naik yacht cruise!

This slideshow requires JavaScript.

Cruise ke Oryukdo jadi agenda terakhir saya di Busan. Saya menghabiskan hampir 2 jam menunggu bis berangkat di Seoul dengan duduk-duduk di Haeundae. Sebenernya masih banyak yang belum berhasil saya kunjungi, seperti Jagalchi Market, Busan Tower, BIFF Plaza, dll. Tapi sayangnya waktunya nggak cukup. Seperti yang selalu saya bilang di setiap trip, mudah-mudahan ada kesempatan balik lagi. Next time, Busan. Next time.๐Ÿ˜€

4 thoughts on “Jelajah Busan Dalam 3 Hari

  1. Hi! I’m from Malaysia. I am going to Busan end of this month and is planning to go to the Mosque. I would be glad if you could answer some questions:
    1. Do you know if the mosque is open outside prayer time? I’ve checked that Dzuhur prayer time is around 12.50 pm, and we are planning to go there around 10 am.
    2. What time were you there at the mosque?

    Thank you in advance!๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s