Backpacking Impulsif ke Jeju Island – Part II

beachside road view

Baca Part I disini.

Hari Kedua
Yuhuu, di hari kedua ini (niatnya) saya mau mengeksplor Jeju bagian timur. Niatnya (lagi) sih mau berangkat pagi-pagi banget. Tapi ujung-ujungnya baru berangkat jam 8 karena malemnya tidur telat abis browsing-browsing buat nentuin jalur. Saya sarapan di guesthouse. Mereka nyediain roti, selai, telor, teh, dan jus jeruk. Tinggal pilih mau yang mana. Saya suka guesthouse ini soalnya tempatnya rapi & bersih. Internetnya lancar jaya. Yang jaga juga ramah.

Pas keluar, eh ternyata hujan… Haduhh. Tadinya tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah Manjanggul Cave. Tapi ditunggu sejam lebih, bis yang menuju Manjanggul Cave kok nggak dateng juga. Akhirnya saya mengubah rencana dan langsung ke Woljeongri Beach dengan bis lain. Saya kesini berdasarkan rekomendasi temen saya yang orang Korea. Dia bilang wajib banget ke pantai ini. Kan saya jadi penasaran. Mendekati pemberhentian bis untuk ke Woljeongri Beach, saya baru sadar ternyata bis ini juga melewati pemberhentian bis untuk ke Manjanggul Cave. Jengjengjeng. Tapi melihat jam saat itu dan masih banyak tujuan lain di hari itu, saya pun tetap nggak jadi ke Manjanggul Cave. Nggak mungkin cuma sebentar sih disana, minimal 1 jam. Jadi pass dulu.

Untuk mengeksplor Jeju bagian timur ini saya mengandalkan bis #701. Tarifnya sama seperti bis #702, dan mesti ngasih tahu juga ke sopir mau turun dimana buat nentuin tarifnya. Oh iya, untuk naik bis ini bisa pake uang cash juga sih selain pake T-money. Untuk ke Woljeongri Beach, turun di Woljeongri Bus Stop. Dari sana mesti jalan lagi sekitar 700m.

Ini dia Woljeongri Beach. Sayangnya masih mendung pas sampe sana. Huhuhu.

Di sekitar Woljeongri Beach banyak kafe-kafe lucu.Salah satunya Moraebi. Mereka menyediakan kursi warna warni gitu di deket pantai. Dan akhirnya kursi ini jadi objek foto favorit pengunjung. Hahaha. Saya belagak ikutan foto pake timer. Tapi berkali-kali nyoba timingnya nggak pas juga dan akhirnya nyerah. Wkwkwk.

Selain Moraebi, ada kafe ini juga: 고래가 될 cafe.

고래가 될 카페

고래가 될 카페

Lucu ada piano di atasnya. Dan baru-baru ini saya sadar kalo kafe ini muncul di The Romantic & Idol pas iseng nonton ulang.

Puas main di Woljeongri Beach, saya menuju ke tempat selanjutnya: Haenyeo Museum. Haenyeo adalah penyelam wanita yang mencari hasil laut secara tradisional. Nah, di Jeju ini Haenyeo-nya banyak banget. Bahkan kalo ngomongin Haenyeo, yang kebayang langsung Jeju. Ada yang bilang juga kalo Haenyeo adalah Jeju Mermaid. Kalo mau liat documentary-nya, silakan nonton ini.

Tapi oh tapi, pas saya sampe Museumnya ternyata mereka lagi tutup. Hahaha. Salah saya juga sih nggak ngecek. Mereka tutup tiap tahun baru, Seollal, Chuseok, dan Senin minggu pertama dan ketiga setiap bulannya. Yah, nggak jodoh deh. Akhirnya saya cuma foto-foto di luar museum. 😦

Lanjut ke tujuan berikutnya, Udo Island! Untuk kesini, saya perlu naik kapal dari Seongsan Harbor (성산항). Kalau naik bis 701, turun di Seongsan Harbour Entrance Bus Stop (성산항입구) . Dari sana, jalan kira-kira 700m untuk sampai ke Seongsan Harbour. Begitu sampe sana saya langsung buru-buru beli tiket karena jadwal keberangkatan kapal yang paling cepet tinggal 10 menit lagi. Harga tiket pulang pergi dan tiket masuk untuk ke pulau 5500 KRW. Perlu nulis nama dan kontak kita juga di form khusus. Nanti form ini dikasih ke petugas yang ngecek tiket.

Perjalanan ke Udo memakan waktu sekitar 15-20 menit. Udo adalah pulau kecil di sekitar Jeju. Bentuknya mirip sapi yang sedang berbaring, makanya dinamakan Udo yang artinya literally cow island. Udo ini kadang disebut juga miniaturnya Jeju karena kondisi alam dan budayanya yang persis banget dengan Jeju. Kalo di Jeju ada Seongsan Ilchulbong (Seongsan Sunrise Peak), di Udo ada Udo Peak. Disini juga ada haenyeo, jalan batu, dan makam batu seperti di Jeju. Ada sekitar 700 rumah dan 1800 penduduk di Udo. Mata pencahariannya kebanyakan sebagai petani dan nelayan.

Ada 2 course untuk mengeksplor Udo. Pertama, hiking trail menuju Udo Peak (2km) : Udo Peak – Deungdae (Lighthouse) Museum – Jiducheongsa – Jeonjingwansan Mountain. Yang kedua, Beachside road mengelilingi Udo (13km). Saya pilih yang kedua.

Untuk mengelilingi Udo ada beberapa cara. Pertama, cara gampang, bisa naik shuttle bus (per 30 menit) atau tour bus (all day ticket 5000 KRW). Kedua, bisa nyewa motor, ATV, atau sepeda. Banyak banget penyewaan di sekitar Udo. Harganya juga rata-rata sama antara satu dan yang lainnya. Saya nyewa sepeda  dengan harga 10000 KRW/3 jam. Kata yang punya, dalam 3 jam itu kita bisa muterin pulau sambil moto-moto, mampir ke restoran buat makan juga cukup. *kecanduan setelah naek sepeda keliling 3 pulau*

Kalo mau nginep di Udo juga bisa. Banyak banget penginapan disini. Oh iya, jadwal kapal dari Seongsan ataupun Udo beda-beda tiap bulan. Jan/Feb/Nov/Dec 08.00-17.00, Mar/Oct 07.30-17.30, Apr/Sep 07.30/18.00 dan May/Jun/Jul/Aug 07.30-18.30. Masing-masing tiap setengah jam sekali. Tapi ada kemungkinan ada jadwal yang diilangin. Pas saya kesana kemaren, kapal jam 14.30 dan 15.30 nggak ada. Jadi pastiin dulu ke petugasnya.

one of hotel in udo

salah satu penginapan di udo

Baru jalan sedikit, saya liat ada batu yang disusun seperti piramid-piramid kecil dan patung kerang besar. Saya pun berhenti untuk foto-foto. Eh ternyata di dekat situ banyak haenyeo. Saya pun asyik memperhatikan mereka bekerja. Ini adalah pengalaman pertama melihat haenyeo secara langsung. \o/ Nggak apa-apa nggak jadi ke Haenyeo Museum xD

haenyeo in action

haenyeo in action

Belakangan, saya baru tahu kalau kerang berbentuk turban itu adalah salah satu produk khas Udo. Selain kerang, kacang dan bawang adalah produk khas udo lainnya.

Setelah itu saya pun lanjut. Seorang pangeran ahjussi berkuda menyapa saya. Oh rupanya kita juga bisa naik kuda disini. Tarifnya mulai 5000-10000 KRW tergantung jalur yang dipilih.

horse riding (승마)

Ini pantai pertama yang saya temui di Udo. Namanya Seobinbaeksa. Pasirnya putih tapi kasar karena banyak koralnya.

Setelah lanjut jalan lagi, saya nemu patung batu khas jeju (dol hareubang – 돌 하르방). Ada tulisan 소원을 말해봐 (sowon-eul malhaebwa) di badan patungnya. Artinya “tell me your wish”. Kkkk. Itu judul asli dari lagunya SNSD yang judul inggrisnya jadi Genie.

dol hareubang (돌 하르방)

dol hareubang (돌 하르방)

Ada lagi Bongsoo (literally smoke beacon), yang merupakan fasilitas komunikasi militer yang digunakan untuk menyampaikan pesan selama Dinasti Joseon. Di Udo sendiri, Bongsoo punya nama lokal yaitu Mangroo. Di dekat bongsoo, ada lighthouse kecil. Ada lagi batu yang disusun menyerupai piramida kecil. Mungkin ada kepercayaan khusus tentang batu-batu ini. Soalnya nggak cuma disini saya menemukan susunan batu seperti ini. Saat saya ke Land of Morning Calm, ada juga susunan batu seperti ini di sungai yang sedang kering. Dan pengunjung lain pun ikut menyusun piramida kecil baru atau menambah batu di susunan yang sudah ada. Entah cuma iseng atau ada maksud tertentu.

Ini pantai selanjutnya yang saya temui. IMHO, pemandangannya lebih cantik dari Seobinbaeksa. Nama pantainya Hagosu-dong Beach. Warna air lautnya cantik, pasirnya putih, dan garis pantainya panjang. Lebih rame juga pengunjungnya.

Setelah jalan lumayan jauh, akhirnya sampe juga di deket Udo Peak. Viewnya cakep banget. Ada lighthouse juga di atasnya. Saya nggak naek ke puncaknya sih. Di deket situ, ada penyewaan speed boat/jetski. Agak serem juga liatnya. Disini saya beli es krim kacang khas udo. Es krimnya rasa jeruk, trus dikasih taburan kacang gitu. Harganya 5000 KRW buat 1 cup kecil. Mahalll. Tapi lumayan enak sih. Haha.

Puas menikmati view Udo Peak, saya pun kembali ke arah pelabuhan dan mengembalikan sepeda. Tadinya mau makan dulu. Pengen nyicip abalone dan makanan khas lainnya. Tapi udah ada kapal yang dateng. Karena saya males nunggu 1 jam lagi kalo mau naik kapal selanjutnya, saya pun nggak jadi makan dan buru-buru antre kapal.

cheonjin port 우도천진항

cheonjin port 우도천진항

Sesampainya di Seongsan Harbour, saya kembali ke bus stop dan menuju tujuan selanjutnya: Seongsan Ilchulbong (Seongsan Sunrise Peak). Seongsan Ilchulbong merupakan puncak yang terbentuk dari ledakan gunung berapi bawah laut 100.000 tahun yang lalu. Kawahnya memiliki diameter 600m dan tinggi 90m. Bentuknya menyerupain mahkota raksasa. Katanya sunrise view dari kawahnya ini keren banget. Makanya banyak yang pengen liat. Jam bukanya 1 jam sebelum matahari terbit. Saya sempet pengen liat juga sih, tapi karena penginapan saya lumayan jauh dari sini dan pas saya tanya temen saya gimana cara kesana pagi-pagi buta, dia nyaranin naek call taxi akhirnya saya nyerah. Selain mahal, saya juga nggak yakin bisa bangun pagi-pagi banget. Hahaha. Oh iya, Seongsan Ilchulbong ini adalah salah satu UNESCO World Heritage dan juga World New7Wonders of Nature.

seongsan ilchulbong dari gerbang

seongsan ilchulbong dari gerbang

Harga tiket masuk ke Seongsan Ilchulbong adalah 2000 KRW. Yak, mari kita naik ke puncaknya.

naik naikk

naik naikk

Perjalanan naik ke puncak memakan waktu sekitar 40 menit.

Saya nyesel dateng kesini abis dari Udo. Tenaga saya sudah habis buat keliling Udo. Belum makan pula. Naik ke puncak jadi penuh perjuangan, kaki udah gemeteran. Wkwkwkwk. Untung saya nggak jadi kesini buat liat sunrise. Bayangin pagi-pagi buta naik tangga yang kadang terjal banget. Ini adalah view dari puncaknya, padang rumput di bagian kawah:

Bagian lainnya adalah view ke arah pantai. Saya lebih suka view ini xD

Di kompleks Seongsan Ilchulbong juga ada Haenyeo House. Disana ada performance haenyeo 2 kali sehari, jam 13.30 dan 15.00.

Oh iya, kalo ada yang tetep penasaran pengen liat sunrise dari Seongsan Ilchulbong dan nggak nyewa mobil/motor sendiri, saya saranin untuk nginep di sekitar sana. Banyak penginapan (민박) di sekitar sana. Tapi saya kurang tahu soal harga. Foto-foto sunrise dari Seongsan Ilchulbong : 1, 2.

Dari Seongsan Ilchulbong, saya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Saat jalan dari bus stop ke penginapan, saya melewati Dongmoon Market. Saya pun penasaran masuk kesana. Ternyata banyak yang jual oleh-oleh khas jeju disini. Saya akhirnya beli cokelat dan crunch khas Jeju seharga 10000 KRW/6 kotak. Lumayan murah meriah. Dan enak pula. Penjualnya ngasih sample waktu saya tanya crunch itu apa. Ternyata crunch itu snack beras yang dikasih rasa macem-macem. Ada rasa hallabong (jeruk khas jeju), kaktus jeju, green tea, blueberry, dll. Kalo di Indonesia, mirip jipang. Cuma yang di jeju bentuknya bukan panjang-panjang kayak bentuk beras asli, tapi bulet-bulet.

Setelah dari pasar, saya pun cari restoran di dekat penginapan dan akhirnya nemu yang menarik. Saya pesan 해물 뚝배기 (seafood hotpot). Harganya 8000 KRW. Dan pas banchan-nya mulai dikeluarin, saya pun cukup shock. Banyak banget dan itu merupakan banchan termewah yang pernah saya dapet. Haha. Ada telur rebus full, tahu, tumis jamur, kimchi, dan 1 lagi entah apa tapi enak rasanya mirip asinan kedondong. Selain itu porsi seafood hotpotnya pun besar banget. Isinya ada kepiting, udang, dan kerang. Enakkk. Yang punya juga ramah. Ngeliat saya yang kayaknya kecapekan dan kepanasan, dia nawarin kipas anginnya diidupin. Tentu saja dengan senang hati saya terima tawarannya. xD

Setelah kenyang, saya pun akhirnya kembali ke penginapan~

3 thoughts on “Backpacking Impulsif ke Jeju Island – Part II

  1. Kaa boleh, minta kontak line atau email. Ada beberapa hal yg mau ditanyai ka,rencananya nanti oktober aku mau ke jeju bareng temen. Makasih kaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s