Backpacking Impulsif ke Jeju Island – Part I

Lighthouse

Busan dan Jeju adalah 2 tujuan wisata Korea yang populer selain Seoul. Mumpung lagi di Korea, saya pengen dong paling nggak mengunjungi kedua kota itu. Dan akhirnya di suatu malam galau, saya iseng-iseng cek harga tiket promo pesawat ke Jeju dan seperti biasa dengan impulsifnya membooking tiket pp ke Jeju dengan keberangkatan…. esok harinya. Hahaha. Ya gimana ya dapet cuma seharga ~61.000 KRW termasuk pajak & fuel surcharge. Itupun sebenernya bisa lebih murah kalo bookingnya dari beberapa hari sebelumnya.

Saya hampir nggak pernah pergi jalan tanpa persiapan dari jauh-jauh hari. Tapi karena minggu depannya saya mesti pulang ke Indonesia dan baru balik ke Korea lagi bulan Agustus sedangkan promo cuma sampe bulan Juli, mau nggak mau saya harus berangkat minggu itu juga. Sebagai orang dengan tipe golongan darah A yang katanya perfeksionis dan rempongan, jadilah malam itu saya nggak tidur karena sibuk cari info tentang tempat yang bisa dikunjungi dan cari-cari penginapan lewat booking.com. Ujung-ujungnya baru bisa tidur setelah subuh dan itupun cuma kurang dari 4 jam karena belum packing sama sekali. xD

Hari Pertama
Flight saya jam 12.40 dari Gimpo Airport, Seoul. Saya berangkat ke airport naik AREX (airport line) dan sampe di bandara sekitar jam 12. Saya langsung check in dan masuk boarding room. Dan flight-nya on time *emangnya di Indonesia delay mulu*

Ini dia pesawat yang saya naiki, Jeju Air.

Jeju Air

Jeju Air

Ada Kim Soohyun, ambassador Jeju Air, di cover majalahnya.

Kim Soohyun, Jeju Air Ambassador

Kim Soohyun, Jeju Air Ambassador

Ada coverage soal Siti Sarah (restoran Indonesia di Itaewon) & rendang di dalam majalah.

Siti Sarah

Siti Sarah

Flight-nya nggak lama, satu jam aja. Jam 13.45 saya sudah sampai di Jeju. Yeayyy, petualangan dimulai!

Di bandara saya dapet hand sanitizer yang dibagikan gratis karena kasus MERS yang lagi merebak di Korea. Saya sih awalnya sempat agak parno soal MERS ini karena di subway banyak yang pake masker, trus katanya penyebarannya cepat dan sudah ada korban meninggal. Tapi setelah tau kalau penyebarannya lebih banyak di rumah sakit dan kebanyakan korban meninggal sudah tua dan memang punya penyakit lain yang bikin daya tahan tubuhnya lemah, sayapun jadi lebih santai. Jaga kebersihan, rajin cuci tangan aja, dan pake masker kalo perlu.

Karena belum makan dari pagi, saya pun menuju lantai 4 bandara. Disana ada beberapa restoran dan foodcourt. Saya pun pergi ke foodcourt dan memesan hoedeopbab (회덮밥) alias nasi campur ikan mentah. Agak-agak serem ya kedengerannya. Saya pun baru pertama kali makan ini.

Ini dia tampilannya sebelum diaduk: nasi + irisan selada + timun + kecambah + irisan ikan mentah + gochujang + gim.

Hoedeopbab

Hoedeopbab

Porsinya standar restoran sini alias porsi super besar. Sempat khawatir kalo ikannya bakal amis, untungnya nggak. Yeayy. Saya sih doyan-doyan aja. Enak kok. Mangkok saya bersih tuntas. *pemakan segala*

Setelah kenyang, sayapun meluncur ke tempat nunggu bis. Tujuan pertama saya adalah Sinchang Windmill Coastal Road yang ada di Jeju bagian barat. Yup, hari pertama ini saya bakal mengeksplor West Jeju. Untungnya karena lagi musim panas, matahari baru terbenam jam 8 malam. Jadi walaupun saya mulai jalan agak sore, masih ada waktu sekitar 5 jam sebelum gelap. Dari bandara ke Sinchang, memakan waktu sekitar 2,5 jam. Termasuk drama salah bis akibat buru-buru naik bis takut kelamaan nunggu bis selanjutnya. Wkwkwk. Selama mengeksplor bagian barat Jeju ini saya mengandalkan bis nomor 702. Kalau naik bis ini, pastikan sudah tau mau turun dimana karena kita perlu ngasih tau ke supir supaya dia bisa menentukan tarif yang perlu kita bayar. Tarif mulai 1300 KRW untuk jarak  < 20km sampai 3300 KRW untuk jarak > 40km.

Ini dia Sinchang Windmill Farm. Wind turbine sih harusnya, bukan windmill.

Sinchang Windmill Farm

Sinchang Windmill Farm

Sebenernya tempat ini bukanlah tempat wisata populer. Dan yang kesini pun biasanya bawa mobil karena tempat ini adalah salah satu recommended driving course. Saya kesini gara-gara jadi korban drama. LOL. Tempat ini, lebih tepatnya lighthouse-nya, muncul di drama yang saya lagi gandrungi, Warm & Cozy (맨도롱 또똣). Drama ini lokasi syutingnya di Jeju dan itinerary perjalanan saya kali ini kurang lebihnya bakal mengunjungi lokasi-lokasi itu. Hahaha.

Lighthouse yang muncul di drama

Warm & Cozy

Warm & Cozy

Di sini terdapat Wondam, susunan batu yang digunakan masyarakat setempat untuk menangkap ikan secara tradisional.

Wondam

Wondam

Ada juga jembatan panjang di atas laut dan patung ikan yang bisa nyala kalau malem. Saya sempat naik jembatannya, dan agak-agak horor karena anginnya kenceng banget. Haha.

Sinchang Windmill Coastal Road
Bus stop terdekat: 구 한경의원 앞

Di dekat windmill farm, terdapat pemandian yang disebut Shingaemul. Ada 2 pemandian, masing-masing untuk pria dan wanita yang dibatasi dengan pagar batu khas Jeju. Airnya berasal dari laut, tapi saat saya coba pegang walaupun ada bau asin ternyata airnya nggak amis dan lengket.

Setelah puas keliling-keliling disana, saya pun melanjutkan ke tujuan berikutnya: Wolryeong-ri Cactus Village (월령리 선인장마을). Saya emang doyan kaktus, bahkan dulu sempet pelihara di kosan. Jadi pas saya lihat ada tempat ini di peta wisata yang saya donlot di official website-nya Jeju, saya pun mewajibkan diri untuk ke tempat ini. Bus stop terdekat adalah Wolryeong-ri (월령리). Dari jalan pun sudah mulai keliatan banyak kaktus yang tumbuh di daerah ini.

Wolryeongri Cactus Village

Wolryeongri Cactus Village

Tapi jalan sedikit lagi, dan jengjengjeng ketemulah tempat ini.

Pantai + batu + kaktus yang tumbuh di sekitaran batu + jembatan kayu + matahari yang mulai terbenam. Cakep!

Saya baru tau kalau ternyata kaktus bisa tumbuh di sela-sela batu kayak gitu. Makin terpesonalah saya sama si kaktus. Ada kaktus yang lagi berbuah juga karena lagi musim panas.

buah kaktus

buah kaktus

Kaktus yang tumbuh disini bisa dimanfaatkan sebagai obat anti inflamasi. Penduduk sini juga menanam kaktus di sekitar rumah mereka untuk menghalangi masuknya tikus & ular.

kaktus di rumah penduduk

kaktus di rumah penduduk

Pengennya sih lama-lama ya disini, tapi masih ada tempat lain yang harus saya kunjungi jadi mau nggak mau lanjut jalan lagi deh.

Tujuan selanjutnya adalah Geumneung Euddeum Beach (금능으뜸해변). Nama bus stop-nya sama. Udah lama banget saya nggak ke pantai yang berpasir putih, jadinya seneng banget pas sampe disini. Tapi emang kalo dibandingin dengan pantai di Indonesia, tetep lebih bagus pantai kita sih. xD Karena udah malem, pantainya sepi.

Saya jalan menyusuri pantai ini sampai ketemu lagi pantai lainnya: Hyeopjae Beach (협재해변). Hyeopjae ternyata lebih rame daripada Geumneung Euddeum. Ada anak-anak kecil yang asik berenang. Ada yang lagi pre-wedding. Ada juga yang cuma duduk-duduk pacaran. Pemandangan di Geumneung Euddem lebih oke dari Hyeopjae sih menurut saya. Cuma Hyeopjae lebih ramah pengunjung, fasilitasnya lebih lengkap. Ada penyewaan ban, area main pasir buat anak-anak, dan restoran juga. Ini hampir jam 8 malem.

Dari Hyeopjae Beach, saya kembali naik bis menuju penginapan. Penginapan saya sekitar 15 menit dari bandara, jadi balik lagi ke daerah utara. Sampe di halte terdekat sekitar jam 10 malem. Apesnya batre hape saya habis setelah itu. Padahal selama perjalanan saya selalu mengandalkan aplikasi peta di hp. Akhirnya saya pun minta tolong sama orang yang saya temui di halte bis dan akhirnya ditunjukin jalannya. Untung memang nggak terlalu jauh dari sana. Saya nginep di Yellow Guesthouse. Untuk tipe kamar female dorm 6 orang, harganya 16.000 KRW per malam. Saya nginep 2 malam disana. Malam itu di kamar cuma ada 1 orang lagi selain saya. Dan dia sudah tidur pas saya datang dan besoknya pergi pagi-pagi banget. Ada kejadian lucu pas check in. Begitu saya bayar pake kartu bank Korea, yang jaga langsung tanya “Do you live in Korea?” dan begitu saya jawab iya dia langsung bilang 영어 잘못해요 (saya nggak lancar bahasa inggris). Dan saya pun bilang 한국말 잘못해요 (saya juga nggak lancar ngomong korea) wkwkwk. Dan akhirnya dia terpaksa jelasin soal sarapan, laundry, dll pake bahasa inggris. Lancar kok menurut saya. Cuma abis ngejelasin itu dia kayak kecapekan dan senyum lega. Hahaha. Saya jadi kasian. Padahal kayaknya kalo dia jelasin pake bahasa Korea, 70-80% saya masih bisa paham sih. *kayaknya lho* xD

Cerita hari selanjutnya di post berikutnya ya😉

7 thoughts on “Backpacking Impulsif ke Jeju Island – Part I

  1. Sunsetnya bagus ya, itu tuh yang ada orang nge-campnya. Keren…
    Lah itu kaktus bisa tumbuh di deket air laut gitu? Kok lucu ya? Di sini nggak ada yang kayak begutian deh kayaknya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s