Visiting Blue House (Cheongwadae) – South Korea’s Presidential House

2015-03-13 16.04.03

Berawal gara-gara nemenin temen yang dateng kesini terus saya sempet ngasih tau mereka kalo ada Blue House (Presidential House) di belakang Gyeongbokgung tapi kalo mau masuk mesti booking minimal 3 minggu sebelumnya. Eh, ujung-ujungnya kok saya yang jadi penasaran mau masuk. Akhirnya saya pun iseng buka situs pendaftarannya disini. Cari-cari jadwal yang masih available dan cocok waktunya, ternyata masih 1 bulan lagi. Nggak masalah sih lagian gratis ini, yaudah saya langsung daftar. Peminatnya lumayan banyak ternyata, dan biasanya rombongan gede padahal kuota terbatas makanya cepet penuh slotnya. Buat yang pengen jalan-jalan ke Korea dan mampir ke Blue House, lebih baik booking dari jauh-jauh hari.

Hari berganti hari. Bulan pun berganti. Akhirnya hari-H pun datang #halah. Karena saya booking yang jam 2, jam setengah 2 kurang saya sudah di meeting pointnya di parkir timur Gyeongbokgung. Disana udah ada rombongan yang nunggu dan mayoritas orang Korea. Saya pun makin khawatir bakal cengok karena sebelum berangkat sempet baca ulang ketentuannya dibilang tur cuma dalam bahasa Korea. Hahaha. Menjelang jam 2, kami disuruh masuk ke ruang tunggu. Yang dateng bareng rombongan, cukup ngasih ID Card atau passport ke ketua rombongan buat dicocokin sama nama peserta yang sudah terdaftar. Saya yang sendirian dapet giliran terakhir, itu pun saya yang nyamperin petugasnya.

Setelah dicek, saya pun antre naik bis shuttle. Lah, ternyata bisnya penuh dong udah nggak cukup lagi. Padahal bisnya ada 2. Pokoknya ada sekitar 10 orang yang nggak keangkut, kebanyakan dari jepang dan cina. Kami pun disuruh masuk ruang tunggu lagi. Saya kira bis bakal langsung balik ngejemput. Eh nggak taunya lamaaa banget baru dateng bisnya. Kayaknya kami dimasukin ke slot yang jam 3. Pffft banget deh, walaupun di Korea kalo urusannya berhubungan sama birokrasi-birokrasi sama aja ternyata. Untung saya emang lagi nggak ada urusan lain. Akhirnya balik antre bis lagi, yang ngecek mas-mas berjas & berdasi rapi bertampang elegan sekelas siwon, tapi sayangnya nggak bisa bahasa inggris. Hahaha. Maap-maap aja, level kegantengan merosot drastis. Pas di bis, ternyata keapesan belum berkurang. Yang duduk di kursi sebelah saya nenek dan cucunya yang hiperaktif banget (+ingusan dan entah neneknya bau minyak apa).

Sampe di gerbang Blue House, entah nunggu apa lagi, kami belum boleh turun. Setelah sekitar 15 menit, baru dipersilakan turun. Di bagian depan, kami dikasih nametag yang wajib dipake. Kemudian diperiksa melewati metal detector. Sebelum lewat metal detector, mbak-mbak yang jaga nanya ke saya boleh buka jilbabnya sebentar nggak. Jengjengjeng. Duh Gusti… Kenapa hari ini kesabaran saya diuji terus. Saya pun jawab nggak. Dia bilang lagi, sebentar aja. Trus saya bilang, kalo di ruang yang cuma ada saya dan mbaknya aja nggak apa-apa tapi nggak disini. Tapi dia masih bersikeras disitu aja cuma sebentar kok, untuk keamanan aja. Matheyy. Ignorance to the max. Saya yang udah bete dalem hati mbatin, kalo nggak boleh yaudah pulang aja. Terus akhirnya dia yang nyerah, trus nanya kalo dipegang aja boleh? Dan akhirnya saya kasih. Peganglah sampe puas mbak. Pas pegang iketan rambut, dia nanya ini apa? rambut bukan? Yah, emang apa lagi mbak? Ikan asin? -_-“

Setelah drama di security check berakhir, ada petugas yang nyamperin pengunjung asing buat ngasih tour guide translation gitu. Yeayy, asik nggak jadi cengok. Jadi alatnya mirip recorder gitu, terus ada pilihan bahasa Inggris, Jepang dan Cina. Petugasnya bahasa inggrisnya cakep, dan bisa dibilang tampangnya juga cakep. Bwahahaha. Walopun yang ini tipe boy next door, beda tipe sama mas-mas yang di bis tadi. Tetep ya ngelaba xD

Abis itu kami masuk ke ruangan semacam teater gitu. Terus diputer video tentang sejarah Blue House, pake bahasa Korea. Tapi nggak masalah karena sudah ada translator. Tinggal pasang headset, pilih nomer tempat, klik play. Dengerin baik-baik. Beres. Setelah dari teater, kami dibawa ke area lain. Dan pas keluar ruangan sempet dikasih souvenir berupa dompet tradisional Korea. Wih, padahal turnya gratis.

Kami dipandu petugas berseragam semacam protokoler. Spot pemberhentian pertama adalah Nokjiwon. Ada guide yang menjelaskan tentang Nokjiwon. Dan sayapun kembali mendengarkan lewat translator. Nokjiwon adalah taman yang sering digunakan saat ada acara outdoor. Di tengah-tengahnya terdapat pohon bansong setinggi 17 m. Pohon ini diperkirakan ditanam sekitar tahun 1850. Di dekat pohon ini ada 4 pohon pinus merah (jeoksong) yang tumbuh berdekatan. Di dekat Nokjiwon terdapat Sangchunjae, bangunan tradisional yang terbuat dari kayu pinus merah yang sudah berumur 200 tahun dan didatangkan khusus dari provinsi lain. Secara umum, kita nggak boleh mengambil foto di Blue House, kecuali beberapa spot. Nokjiwon adalah salah satu spot yang diperbolehkan.

Nokjiwon

Nokjiwon

Setelah itu, kami dibawa ke Gyeongmudae, tempat dimana dulunya gedung utama berada. Jadi dulu pas jaman dijajah Jepang, disini ada gedung buat Gubernur Jenderalnya Jepang. Nah, setelah nggak dijajah, gedung ini dipake sama presiden pertama Korea sebagai kantor kepresidenan dan juga kediaman. Hal ini diikuti oleh presiden kedua dan selanjutnya. Eh, tapi ternyata kok lama-lama kerasa kurang luas. Akhirnya pada tahun 1991, dibangunlah gedung lain masih di area yang sama. Gedung lama yang bisa dibilang simbol penjajahan Jepang ini pun dibiarkan kosong. Dan akhirnya pada tahun 1993 gedung ini diratakan dengan tanah dan diberi tanda dengan tugu batu bahwa dulunya disana ada gedung itu. Gitu ceritanya.

Dari Gyeongmudae, kami pun berjalan ke gedung utama. Itu loh gedung beratap biru yang dari luar keliatan mentereng banget. Yang bikin rumah kepresidenan ini disebut sebagai Blue House. Inilah bangunan dimana kantor pribadi presiden berada. Ruang pertemuan, konferensi, jamuan makan, dll juga ada disini. Cuma bisa liat dari jauh sih, tapi lumayanlah. Oiya, disini boleh foto-foto juga.

2015-03-13 16.04.03

Main Building

Habis dari sini, lanjut ke Yeongbingwan. Yeongbingwan adalah guesthouse untuk tamu kenegaraan. Dulunya, sebelum ada ini kan ribet tuh ya setiap ada tamu negara dateng nginepnya kan dimana gitu terus mesti dikawal. Masyarakat juga jadi nggak nyaman, ini kok rempong amat ngurusin tamu negara kita kena getahnya. Makanya dibangunlah guesthouse di dalam kompleks Blue House. Ada 18 pilar granit dengan kualitas terbaik yang menyangga gedung ini. Granitnya didatangkan khusus dari Jeollabuk-do province.

Yengbingwan

Yengbingwan

Setelah itu, kami boleh memilih mau lanjut tur ke Chil Gung atau nggak. Saya pun memilih ikut. Lokasinya sebenarnya di luar kompleks Blue House, tapi pas di sebelahnya. Jadi Chil-Gung, atau Chil-Gung Shrine, ini adalah tempat yang didedikasikan buat 7 ibu raja yang nggak pernah jadi ratu. Chil berarti 7 dalam bahasa Korea. Disini kita boleh foto tapi nggak boleh ke arah Blue House. Disini ada guide yang super detail ngejelasinnya. Sayang saya nggak paham secara keseluruhan, dan batre translator pun sudah habis. Kalau mau cerita lebih panjang bisa liat disini atau disini, atau disini. Dan berakhirlah tur hari itu. Untung adegan bete-betenya cuma di awal. Hahaha xD

2 thoughts on “Visiting Blue House (Cheongwadae) – South Korea’s Presidential House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s