Twomonthsarry!

Woohoo, tepat hari ini ternyata sudah 2 bulan sejak saya pertama kali tiba di Korea. Kali ini saya nggak cerita soal perbolangan dulu, hihi. Saya mau cerita soal gimana kehidupan disini. Ceilahh.

Sebelum berangkat, saya sudah cari info gimana sih kehidupan disini pada umumnya. Salah satu yang saya takutkan adalah rasisme. Hobi membaca netizenbuzz memperparah ketakutan saya. Dari komentar-komentar yang saya tangkap disana, orang korea itu memuja eropa/amerika dan menganggap rendah negara asia lain, khususnya asia tenggara. Salah satu contoh kasus adalah bagaimana mereka mengomentari mbak sooyoung SNSD itu jelek karena mirip orang asia tenggara. Waduh, mbak sooyoung yang ayunya nemen gitu kok dibilang jelek. Tapi ternyata sampe disini, alhamdulillah saya nggak pernah merasakan yang namanya direndahkan atau sejenisnya. Orang sini baik-baik, ramah banget malahan.

Salah satu contoh ramahnya orang korea terlihat dari banyaknya sapaan dan ucapan terima kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kalau di restoran jepang kita disambut dengan irasshaimase, di korea kita akan mendengar oseo oseyo. Kalau di jepang ada itadakimasu, disini ada jal meokkeseumnida (sebelum makan) dan jal meokkoseumnida (setelah makan). Saking banyaknya istilah-istilah seperti ini, kadang saya takut dianggap kasar kalau ada yang saya lewatkan. Apalagi kemampuan bahasa korea saya sangat kurang dari kata cukup. Sebagai informasi, perkuliahan saya disampaikan dalam bahasa inggris.

Nah, soal bahasa inggris. Ternyata nggak semua bahasa inggris dosen gampang dimengerti. Terutama soal pronounciation. Konglish atau korean english akan terasa sangat aneh buat orang yang native-nya berbahasa inggris, misalnya dalam menyebut juice sebagai juseu. Jurus utama mengatasi ini adalah baca dulu materi sebelum masuk ke kelas.

Untuk kehidupan sehari-hari, cukup sulit kalau nggak bisa berbahasa korea. Karena jarang sekali orang Korea yang bisa berbahasa inggris. Saat ini saya masih belajar bahasa korea. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung kan. Kita yang numpang di tempat orang, masa’ orang lain yang harus belajar ngomong bahasa asing.๐Ÿ˜‰ Kalimat yang paling sering saya gunakan disini adalah “gogi anmeokgo” (saya nggak makan daging) dan “kamsahamnida” (terima kasih). Hahaha.

Selanjutnya, soal makanan. Untungnya saya adalah tipe pemakan segala. Makanan korea, india, barat, saya doyan semuanya. Jadi makan kimchi tiap hari bukan masalah buat saya. Yang jadi masalah adalah susahnya cari makanan halal disini. Cari makanan halal bukan cuma menghindari daging babi yang merupakan daging utama yang dikonsumsi disini. Buat yang belum tau, dalam islam ada aturan sendiri dalam penyembelihan hewan. Selengkapnya bisa dilihat disini. Nah, kalau di korea kan nggak jelas kehalalannya. Makanya disini saya nggak makan daging dan ayam kecuali di tempat yang memang halal. Padahal banyak banget makanan berbahan dasar ayam dan daging yang bikin saya telan ludah pengen nyobain seperti dakochi, dakgangjeong, fried chicken yang beraneka macam rasanya. Kalau beli bahan makanan sendiri, biasanya saya memperhatikan komposisinya apakah mengandung zat dari bahan hewani atau tidak. Tapi kalau di dorm, susah rasanya kalau mau mengecek satu-satu. Mungkin beberapa kali ada hal yang seharusnya nggak boleh saya konsumsi tapi karena nggak tahu tetep aja dilahap. T.T Selain urusan daging, disini minum alkohol itu sudah jadi budaya. Dan ada beberapa makanan yang mungkin mengandung alkohol juga: rhum, mirin, dan sejenisnya. Paling aman ya sebenernya masak sendiri. Ada toko yang menjual daging dan bahan makanan halal di Itaewon.

Kedua, soal harga makanan. Hmm, kalo setiap makan dikonversi ke rupiah mungkin saya nggak makan disini. Sekali makan sekitar 2500-5000 won kalau di kawasan mahasiswa. Kalau di luar itu ya jelas lebih mahal. Dan untungnya saya tinggal di Incheon yang relatif sedikit lebih murah daripada Seoul.

tong ojingeo sundubu jjigae (big squid and tofu stew). belom pake nasi

tong ojingeo sundubu jjigae (big squid and tofu stew). belom pake nasi

Ketiga, porsi makanan. Pertama kali kesini saya diajak makan di sebuah rumah makan di area gerbang belakang kampus. Yang aman, saya pesan bibimbab. Dan shock lah saya ketika melihat porsinya. Gedee banget. Bahkan mangkoknya tampak seperti baskom buat saya. Dan ternyata di tempat lain pun porsinya sak embuh-embuh. Meskipun porsinya besar, pemilik restoran disini biasanya nggak suka atau nggak memperbolehkan kalau kita cuma pesan 1 untuk barengan. Yang enaknya disini, kita hampir selalu dapet air putih free refill dan banchan (side dish) seperti kimchi, pickle, dan fish cake yang berlimpah. Niat diet dengan cara cuma makan sayur dan seafood pun gagal karena saya orangnya penyayang, nggak tega kalo liat ada makanan yang kebuang.

Lepas dari makanan, lanjut ke transportasi. Saya nggak bisa nyetir mobil ataupun motor, jadi memang dari dulu saya adalah pecinta kendaraan umum. Dan disini kendaraan umumnya sudah teratur banget. Mau kemana-mana bisa pake kendaraan umum. Walaupun nggak bisa seenaknya berhenti kayak di angkot dan mesti jalan dulu ke bus stop atau stasiun subway terdekat. It’s okay, sekalian olahraga biar kurus. Dan salutnya, saya sering banget ketemu halmeoni & harabeoji (nenek & kakek) yang udah sepuh banget bahkan udah bungkuk dan pake tongkat naik subway atau bis. Salut banget sama mereka. Walaupun memang ada lift dan kursi khusus, tetep aja menurut saya keluar masuk subway station ataupun transfer itu bikin capek.

zebra cross antara kampus dan dorm

Mau nyeberang pun gampang karena ada lampu penyeberangan. Dan orang-orang sini mayoritas mau mengikuti rambu-rambu itu. Walaupun jalan kosong melompong, kalo lagi merah ya nggak nyeberang. Saya yang nggak bisa nyeberang ini pun bahagia. Hahaha.

Hal yang saya merasa heran disini adalah mau-maunya mereka antre panjang sekedar untuk makanan atau acara tertentu. Contoh, waktu festival kembang api. Acara mulai jam 7 malem. Saya dateng jam 2 dan area sudah dipenuhi orang yang bawa tenda camping. Entah dari jam berapa mereka cari tempat. Dan entah berapa kali saya menemui restoran, biasanya yang terkenal, dengan antrian super panjang. Contohnya di sinpo market, samcheongdeong, hyehwa, dll. Saya sih ogah kalo makan mesti ngantri super panjang gitu.

Buat orang Indonesia, toilet nggak pake semprotan air pasti jadi masalah. Untungnya di dorm saya ada toilet yang pake selang airnya juga. Jadi nggak terlalu masalah buat saya. Tapi kalo di luar dorm, ya harus dipaksakan bisa pake tisu saja atau bawa botol air.

Promosi wisata disini gencar banget. Dan itu menyenangkan karena fasilitas wisatanya jadi terawat, banyak festival/event/promosi, transportasi gampang. Ugh, bikin iri banget deh pokoknya.

Selain itu banyak taman hijau yang kadang dilengkapi alat olahraga. Seimbang antara gedung-gedung pencakar langit dan area terbuka hijaunya. Saat ini kota di Indonesia yang sedang menuju tahap ini adalah Bandung. Ayo dong kota-kota lain ikutan juga.๐Ÿ˜€

So far sih saya betah-betah aja disini. Yang paling bikin kangen Indonesia adalah makanan-makanannya. Ayam Bakar Padang Talago Biru di Pasar Simpang Dago, I miss you so much. T.T

slurpp. jangan salah, tampang tidak menarik tapi super ngangenin

slurpp. jangan salah, tampang tidak menarik tapi super ngangenin

2 thoughts on “Twomonthsarry!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s