Chuseok Getaway: Deoksugung

SAM_5024

“Lagi apa muk? Ada kuliah nggak?” tanya ibu saya lewat fitur telpon gratisan dari LINE. “Di dorm aja. Libur sampe rabu, lebaran-nya korea” jawab saya. “Libur apa itu? apa namanya?” tanya ibu saya lagi. “Chuseok” “Nggak kemana-mana?” tanya ibu saya yang tau anaknya ini doyan mbolang. “Nggak, takutnya pada tutup”

Demikian penggalan obrolan saya dan ibu saya minggu lalu. Ya, kalau di Indonesia ada lebaran dimana para perantau berbondong-bondong pulang kampung untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Di Korea ada yang namanya Chuseok. Seperti lebaran, para perantau juga pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga dan merayakan Chuseok. Chuseok dirayakan dengan cara memberi penghormatan kepada leluhur, misalnya mengunjungi makam, dan juga makan-makan. Salah satu makanan khas Chuseok adalah songpyeon, kue dari tepung beras ketan yang biasanya diisi kacang merah atau wijen. Kalau diisi kelapa dan gula merah mah namanya bugis ya. #eh Chuseok jatuh pada setiap tanggal 15 Agustus dalam lunar calendar. Tapi seperti libur lebaran, libur Chuseok nggak cuma 1 hari itu saja. Tahun ini, Chuseok jatuh pada tanggal 8 September tapi tanggal merahnya dari tanggal 7 sampai tanggal 10.

Saya dulu sempat mendengar kalau saat Chuseok banyak tempat umum yang tutup. Makanya sampai hari Senin saat ditelpon itu saya di dorm saja, takutnya sudah terlanjur pergi eh tempat yang dituju tutup. Kan sayang ongkosnya. Saat iseng-iseng cek facebook, eh saya baca update dari Korean Tourism Organization ternyata malah ada perayaan Chuseok di beberapa objek wisata. Bahkan di hari-H chuseok, tidak dipungut biaya untuk masuk ke istana. Walah rupanya saya salah info. Saya pun langsung merencanakan untuk mbolang keesokan harinya.

9 September 2014
Saking semangatnya saya berangkat pagi-pagi sekali, setengah 8 saya sudah di Juan Station. Tempat yang saya tuju pertama kali adalah Deoksugung (덕수궁), salah satu dari 5 istana kerajaan di Seoul. Untuk kesana saya cukup naik Line 1, nggak perlu ribet pindah-pindah line. Subway station terdekat ke Deoksugung adalah City Hall Station (시청역) yang jaraknya 24 stasiun dari Juan. Saya keluar melalui exit 1 yang merupakan pintu keluar paling dekat dengan pintu masuk Deoksugung, Daehanmun. Saya sampai di Deoksugung jam setengah 9, padahal bukanya baru jam 9. Haha, kepagian rupanya. Begitu buka, saya langsung antre beli tiket. Harga tiket masuknya 1000 KRW saja.

SAM_5020

papan informasi

Oh iya, sebagai informasi “gung (궁)” itu artinya istana. Inget kan dulu ada drama korea yang dibintangi mbak Yoon Eunhye waktu masih piyik berjudul Goong. Jadi kalau ada yang menyebut Deoksugung dengan Deoksugung Palace, sebenarnya kelebihan kata. Deoksugung atau Deoksu Palace saja sudah cukup. Berlaku juga untuk istana lainnya seperti Gyeongbokgung, Changgyeonggung, Changdeokgung, dan Gyeonghuigung.😀

Begitu masuk gerbang, saya disambut sebuah jembatan kecil yang disebut Geumcheongyo. Menyeberangi jembatan ini merupakan simbol memurnikan diri sebelum masuk ke area istana. Dan menurut penjelasan, ternyata istana-istana lain pun strukturnya begini. Wah, ini pengetahuan baru buat saya.

SAM_5030

Geumcheongyo

SAM_5027

Informasi mengenai Daehanmun Area

Saya pun berjalan mengikuti jalan besar yang kanan kirinya ditanami pohon. Asri banget deh suasananya.

Adem

Adem

Nggak terlalu jauh, ada ruang singgasana utama yang namanya Junghwajeon. Di depan Junghwajeon ini ada gerbang beratap yang disebut Junghwamun. Dan saya pun terkagum-kagum dengan pintu besar gerbangnya, saya otomatis membayangkan gimana jaman dulu para pengawal kerajaan membuka tutup pintu ini. Hihihi. Tadinya Junghwajeon ini punya atap 2 tingkat, sayangnya habis terbakar pada tahun 1904 dan direkonstruksi hanya 1 tingkat seperti yang bisa dilihat sekarang. Di dalam Junghwajeon ada singgasana yang di belakangnya dipasang lukisan matahari, bulan, dan 5 gunung. Matahari melambangkan raja, bulan melambangkan ratu, sedangkan 5 gunung melambangkan daerah yang dipimpin. Gemesnya, saking hijaunya tempat ini di depan junghwajeon saya sempat melihat tupai sedang lompat-lompat. Lucu banget.

Nggak jauh dari Junghwajeon ada Gwangmyeongmun Gate yang sebelumnya merupakan gerbang selatan dari Hamnyeongjeon, bangunan tempat tidurnya raja, tapi kemudian dipindahkan ke lokasinya yang sekarang. Di dalam gerbang ini ada jam air yang disebut Jagyeokru, lonceng dari kuil Heungcheonsa, dan meriam beroda yang bisa menembakkan 100 panah sekaligus menggunakan bubuk mesiu. //Sebenernya mun (문) artinya sudah gate sih, tapi karena ditulisnya Gwangmyeongmun Gate saya ngikut aja deh.😛

Dari Gwangmyeongmun, saya ke Seokjojeon Area. Nah, area ini lain daripada yang lain nih. Kalau bangunan sebelumnya punya arsitektur yang khas tradisional korea, bangunan di area ini berarsitektur bangunan khas barat. Arsiteknya, J.R. Harding, berasal dari Belanda. Disini juga ada taman yang dilengkapi dengan air mancur. Ada 2 bangunan disini. Salah satunya digunakan sebagai National Museum of Art. Saat itu disana sedang ada pameran karya pelukis abstrak Korea yang bernama Jung Yung Yul. Karya-karyanya berupa lukisan di atas kertas korea yang kalau menurut saya orang awam ini teksturnya mirip kertas daur ulang serta lukisan cat minyak di atas kanvas yang kebanyakan berupa pola-pola berulang. Di lantai atas juga ada pameran dengan tema berbeda, yaitu “Three Eyes I do have” yang maksudnya adalah menggambarkan dunia dari mata para seniman yang melihat dunia secara berbeda atau lebih dalam dari orang kebanyakan. Dan, well, seperti biasa saya masih nggak paham seni. Hahaha.

Di belakang Seokjojeon Area ada Seonwonjeon Site, sayangnya bangunan di area ini sudah diratakan untuk dijadikan jalan baru. Area ini sekarang isinya hanya pohon-pohon saja. Adem tapi agak-agak horor ya. //Dasar si saya anaknya penakut.😛

Nah selanjutnya ada Jeukjodang area. Lokasinya berada di samping Seokjojeon dan di belakang Junghwajeon. Ada 3 bangunan di area ini, yaitu Junmyeongdang, Jeukjodang, dan Seogeodang. Jeukjodang adalah bangunan dimana Raja Gwanghaegun dan Raja Injo dinobatkan. Junmyeongdang adalah tempat dimana Raja Gojong melaksanakan tugas negaranya. Jeukjodang dan Junmyeongdang ini dihubungkan oleh sebuah koridor. Di bagian bawah kita bisa melihat lubang-lubang bahan bakar untuk ondol, sistem pemanas tradisional korea. Seogeodang adalah tempat dimana Raja Seonjo tinggal dan meninggal dunia. Berbeda dengan 2 bangunan sebelumnya yang dicat warna-warni dan dihiasi motif tradisional, Seogeodang dibiarkan polos begitu saja seperti rumah biasa.

Di sebelah Jeukjodang Area, ada Hamnyeongjeon dan Deokhongjeon. Hamnyengjeon merupakan tempat tidur untuk King Gojong. Dan di sekeliling komplek ini terdapat bangunan yang menjadi tempat tidur bagi para pelayan. Dari hasil intip-intip, saya bisa melihat kalau ruangan pada bangunan-bangunan ini dibatasi pintu yang bisa dilipat ke atas. Jadi di bagian atap kita bisa melihat lipatan pintu-pintu pembatas itu. Ngerti? Kalo nggak ngerti ya udah. Saya bingung mau njelasinnya gimana. Haha. Semoga ngerti pas liat fotonya.

Di bukit bagian belakang komplek ini terdapat Jeonggwanheon. Tempat ini dibangun sebagai tempat istirahat dan hiburan. Karena bentuknya yang terbuka, dari sini kita bisa melihat area lain istana. Bangunan ini dirancang oleh arsitek asal Rusia, A.I. Sabatin. Pilar-pilar di sekelilingnya bergaya romawi tapi di atasnya dihias dengan ukiran tradisional korea. Katanya Raja Gojong sering menikmati kopi atau menerima tamu asing disini. Kita juga bisa kok masuk dan duduk-duduk di area ini, tapi lepas sepatu dulu dan ganti dengan sandal yang tersedia disana.

Menjelang jam 11, terdengar suara musik tradisional. Itu tandanya upacara pergantian penjaga istana segera dimulai. Saya pun berjalan menuju Daehanmun, tempat upacara akan dilaksanakan. Upacara berjalan sekitar 20-30 menit. Dan di tengah-tengah acara, ada waktu khusus dimana kita diperbolehkan berfoto dengan penjaga-penjaga itu.

Melihat saya sendirian, ada seorang ahjussi yang menawarkan diri untuk membantu memfoto. Saya mengerti maksud si ahjussi cuma karena saya mendengar kata ‘sajin’ yang berarti gambar atau foto. Hahaha. Karena waktu fotonya sudah hampir selesai, si ahjussi pun agak-agak ngeyel waktu saya disuruh minggir sama petugas istana. Wkwkwk. Selesai moto-moto, dia pun asik ngerekam upacara masih pake hp saya. Padahal saya udah bilang nggak usah (karena takut memori dan batere abis) tapi dia masih maksa mau ngerekam. Karena ahjussi-nya nggak bisa bahasa inggris dan saya juga nggak bisa bahasa korea saya pun bingung mesti ngapain. Saya ikutin aja ahjussi-nya karena takut hp saya dibawa lari. //padahal disini katanya aman banget loh// Saking bingungnya saya hampir bilang “geuman jom” yang setahu saya artinya kalo di bahasa indonesiain mungkin “udah woy”. Hahaha. Saya juga udah bilang kalo saya mau ke Cheonggyecheon, eh dia masih aja ngerekam. Sebentar lagi katanya. Akhirnya upacara selesai dan hp saya pun dibalikin, dia ngerekam buat seonmul (hadiah) katanya. Ya ampun saya udah berburuk sangka aja. Ampun ahjussi. xD

Yang saya senang dari Deoksugung, dan mungkin istana lainnya disini, adalah ada penjelasan yang jelas mengenai bangunan yang ada. Coba keraton-keraton di Indonesia juga detail seperti ini penjelasannya. Selain itu, kita juga bisa menggunakan aplikasi Augmented Reality (AR) untuk mendapatkan informasi lebih banyak.

SAM_5105

salah satu AR zone

Kalau ingin mendapatkan tour guide berbahasa inggris secara gratis, datanglah pada jam-jam berikut ini:

SAM_5031

Free Guiding Service Time

Royal Guard Changing Ceremony selesai, saya pun berjalan menuju tujuan selanjutnya? Kemana? Tunggu part selanjutnya. Semoga saya nggak males nulisnya. Wkwkwk
See you on the next post😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s