Dataran Tinggi Dieng: Sehari di Negeri Kahyangan

SAM_2590

Dataran Tinggi Dieng sudah lama ada di daftar wish list traveling saya. Dan akhirnya saya bisa mengunjungi tempat ini saat liburan akhir tahun lalu. Dari agenda 5 hari liburan, 1 hari dialokasikan khusus untuk Dieng. Hal ini berdasarkan pertimbangan perjalanan Jogja-Dieng yang lumayan memakan waktu dan banyaknya situs wisata yang bisa dikunjungi di Dieng. Sebelum berangkat ke Jogja, kami sudah membooking mobil yang akan kami gunakan. Situs yogyes.com sangat membantu kami dalam mencari rental mobil dengan harga dan kapasitas sesuai yang diinginkan. Kami menyewa mobil Avanza berkapasitas 7 orang dengan harga 600ribu/12 jam. Harga normalnya 550ribu tapi karena libur natal jadi nambah 50ribu. Itu sudah termasuk sopir dan bensin. Untuk overtime, dikenakan biaya tambahan 10% per jam. Belum termasuk tips ke supir, kalau mau ngasih.๐Ÿ˜› Itinerary untuk di Dieng saya comot dari agen wisata yang menawarkan paket ke Dataran Tinggi Dieng.

Kami berangkat dari Jogja sekitar jam 6.30. Yang berangkat adalah saya, ananti, mamanya ananti, jikung, dan 2 adik saya. Perjalanan ke Dieng memakan waktu sekitar 4 jam melalui jalan alternatif yang jalannya tidak semuanya mulus. Lebih baik siapkan receh untuk mas-mas yang membantu mengatur mobil di jalan rusak/tikungan. Selama perjalanan, pak Sopir sempat bercerita mengenai mistisnya Gunung Sindoro dan salah satu resort termahal di dunia di dekat Borobudur yaitu Amanjiwo Resort. Kebetulan, sehari sebelumnya saya membaca artikel mengenai Amangiri Resort di Grand Canyon, Amerika, yang dimiliki oleh orang Indonesia. Nah, kedua resort ini dimiliki orang yang sama. Karena perjalanan masih panjang, pak sopir pun menyuruh kami tidur saja dan nanti akan dibangunkan kalau sudah dekat. Katanya pemandangan saat naik sayang dilewatkan. Ibaratnya, kalau makan sate enaknya pas di mulut bukan pas sudah sampai di perut.๐Ÿ˜€

Saat memasuki kawasan Dieng, kami dimintai retribusi sebesar 2ribu per orang. Tapi, dasar Indonesia, meskipun kami ada 6 orang mereka meminta 10ribu saja dan kemudian hanya memberi beberapa tiket. Tapi setelah dilihat tiketnya, tiket ini ternyata bukan tiket masuk tapi sejenis sumbangan. Tidak semua yang lewat diminta untuk membayar, hanya yang kebagian apes kendaraannya diberhentikan. Zzzz.

Benar kata pak sopir sebelumnya, pemandangan saat naik sangat sayang untuk dilewatkan. Dari kejauhan tampak lahan pegunungan yang digunakan sebagai tempat bercocok tanam. Kebanyakan tanamannya adalah kentang, kubis, dan daun bawang. Lahan pertanian ini bentuknya bertingkat-tingkat. Jika diperhatikan dari dekat, tampak jelas batu-batu yang disusun rapi untuk membuat tingkat-tingkat itu. Di sepanjang jalan juga sering terlihat bunga terompet. Bunga jenis ini juga saya lihat saat di Bromo. Sepertinya tanaman dengan bunga terompet ini memang jenis tanaman yang cocok tumbuh di pegunungan. Karena perjalanan yang menanjak, pak sopir sempat mematikan AC agar mobil kuat naik. Sebagai ganti AC, jendela mobil dibuka dan mulai terasa segar dan dinginnya angin pegunungan.

Gardu Pandang Tieng

Pemandangan dari Gardu Pandang Tieng

Saat mendekati Gardu Pandang Tieng, kami ditanya apa ingin mampir kesana. Di itinerary, sebenarnya ini masuk di agenda terakhir tapi karena langitnya cerah dan belum tentu sore hari juga cerah maka kami pun mampir ke Gardu Pandang Tieng. Dari sini dapat dilihat pemandangan gunung dengan gumpalan awan putih yang cantik. Nggak salah kalau sering disebut sebagai Negeri Di Atas Awan. Di sini, terasa sekali dinginnya cuaca pegunungan.

Tidak lama di Gardu Pandang Tieng, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama, sampailah kami di gerbang pembelian tiket masuk. Kalau tidak salah, harga tiket terusan adalah 18ribu. Tiket ini berlaku untuk Dieng Plateau Theater, Kawah Sikidang, Museum Kailasa, Candi Arjuna dan tidak termasuk tiket tambahan 4ribu untuk di kompleks Telaga Warna. Setelah membeli tiket, beberapa orang menawarkan masker karena katanya bau belerang kawah lumayan menyengat. Kami pun membeli beberapa masker.

Telaga Warna

Goa Pengantin

Goa Sumur

Goa Semar

Lokasi yang pertama kami kunjungi adalah kompleks Telaga Warna. Sebelumnya kami membeli tiket dari booth tiket yang ada di depannya terlebih dahulu. Hanya beberapa puluh meter dari gerbang, Telaga Warna sudah terlihat. Sayangnya saat itu warna hijau dari Telaga Warna ini tidak terlalu nampak. Setelah dari Telaga Warna, kami pun mengikuti petunjuk arah menuju goa-goa dan Telaga Pengilon. Goa yang pertama ditemui adalah Goa Pengantin. Ada dua buah pintu goa yang terlihat sehingga saya menebak-nebak goa tersebut disebut goa pengantin karena berpasangan. Mitosnya, kalau berdoa disini akan cepat ketemu jodohnya. Saya sih memilih untuk nggak percaya.๐Ÿ˜› Tidak jauh dari Goa Pengantin, ada Goa Sumur. Ditandai dengan patung wanita memegang kendi di depan gerbangnya. Ada juga Goa Semar yang ditandai dengan patung semar di depannya. Goa Sumur dan Goa Semar sering digunakan untuk semedi. Siapa saja boleh semedi, asalkan izin dulu kepada juru kuncinya. Dengar-dengar dari guide rombongan lain, mantan presiden Soeharto pernah semedi disini.

Telaga Pengilon

Di dekat goa-goa tersebut ada Telaga Pengilon. Pengilon merupakan bahasa jawa yang berarti cermin. Berbeda dengan telaga warna yang katanya airnya bisa berubah-ubah warna, telaga pengilon airnya jernih. Dari jauh airnya tampak keruh tapi setelah didekati sepertinya itu adalah warna tanah di dasarnya. Kami tidak berlama-lama di telaga pengilon karena suasananya yang sepi. Apalagi itu di dekat goa-goa yang mistis tadi.

Dieng Plateau Theater

Keluar dari kompleks Telaga Warna kami mencari bapak sopir dan mobil yang kami sewa. Setelah membayar parkir 5000 kami pindah ke tujuan berikutnya, Dieng Plateau Theater. Di teater ini diputar video mengenai Dataran Tinggi Dieng. Menunggu pertunjukan selanjutnya, kami jajan dulu. Kebetulan di sekitarnya banyak penduduk yang menjual jamur & kentang crispy. Maknyus rasanya makan jamur & kentang yang baru digoreng di cuaca yang dingin seperti itu. Saat pertunjukan selanjutnya akan dimulai, kami pun masuk ke dalam teater. Video yang diputar menceritakan asal mula terbentuknya dataran tinggi Dieng yang merupakan hasil letusan dahsyat gunung berapi. Letusan ini menghasilkan kompleks gunung berapi dan kerucut-kerucutnya. Disini juga terdapat banyak kawah & danau vulkanik. Salah satu peristiwa penting adalah saat kawah sinila mengeluarkan gas beracun dan menimbulkan banyak korban pada tahun 1979.

Nama Dieng berasal dari kata “di” (tempat) dan “hyang” (dewa) yang jika digabung berarti tempatnya para dewa. Video ini juga membahas penduduk Dieng dan kebudayaannya. Video ini menurut saya cukup informatif, tapi background musiknya agak-agak horor apalagi kalau sudah membahas letusan gunung. Jadi berasa mistis.๐Ÿ˜› Oh iya, katanya di bulan juli-agustus kawasan Dieng bisa menjadi sangat dingin dengan suhu di bawah 0ยบ C. Bahkan embun di daun waktu pagi bisa menjadi es. Jadi kalau ingin merasakan winter tanpa ke luar negeri, bisa dicoba ke Dieng pada waktu tersebut. Lebih oke lagi kalau sekalian pas ada festival dieng.๐Ÿ˜€

Setelah selesai pertunjukan, kami sholat dulu di musholla dekat teater. Dan saat wudhu itulah pertama kalinya saya bersentuhan dengan air dieng. Dinginnya luarrrr biasa, seperti air es. Begitu kena air, langsung mati rasa. Haha. Belum dingin yang paling maksimal saja sudah begini apalagi bulan juli-agustus itu ya. Brrrr.

crater hole

Kawah Sikidang

Setelah dari teater, kami menuju Kawah Sikidang. Dari tempat parkir ke kawah, jalannya cukup jauh. Di sepanjang jalan, banyak ditemukan lubang yang mengeluarkan gas ataupun air panas. Sampai di kawah, ternyata kawah ini berbeda dengan kawah yang pernah saya lihat di tangkuban perahu ataupun bromo. Kawah sikidang seperti kolam lumpur hitam yang mendidih. Untuk keselamatan pengunjung, ada pagar bambu di sekitarnya. Di kawah ini ada pula yang menjual telur rebus yang direbus langsung di kawah. Pengen nyobain tapi sayang nggak nemu penjualnya yang mana. Cuma ada tangkai-tangkai bambu yang sedang dipakai merebus telur.๐Ÿ˜€ Menurut saya bau sulfurnya tidak terlalu menyengat, tapi nggak ada salahnya sih kalau pake masker. Selain itu, buat yang pakai kerudung mendingan cari masker yang ikatannya di belakang bukan yang dicantel ke kuping.

Forever Mbak Nar. Sekali Mbak Nar tetap Mbak Nar. Merdeka!

Mie Ongklok

Puas foto-foto di Kawah Sikidang, kami pindah ke lokasi berikutnya: Kompleks Candi Arjuna. Sebelum masuk kompleks candi, kami makan dulu di warung makan di depannya. Kami mencoba mie ongklok, makanan khas wonosobo. Isinya mie dengan kuah kental campuran saus kacang dan entah apa, kemudian ditambahkan sate ayam. Disini kami juga membeli oleh-oleh khas dieng seperti manisan carica, kacang dieng, dan keripik jamur.

Komplek Candi Arjuna

Selesai makan, kami pun masuk kompleks candi. Beberapa candi yang ada disini antara lain candi arjuna, candi semar, dan candi srikandi. Latar belakang pegunungan menjadikan pemandangan disini sangat cantik. Cuma disini ada yang bikin saya cukup kesal, banyak pengunjung yang naik ke sisi candi untuk mendapatkan foto yang mereka anggap bagus. Entah ya sebenarnya naik-naik begitu boleh atau nggak, tapi itu bikin saya greget karena seperti nggak menjaga peninggalan sejarah.

Museum Kailasa

Setelah dari kompleks candi arjuna, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ada 1 tempat lagi yang belum dikunjungi: Museum Kailasa. Museum ini letaknya tepat di depan kompleks candi. Tapi sayangnya waktu itu sudah sore dan kami berusaha agar sewa mobilnya tidak overtime. Selain itu, lebih baik turun sebelum gelap. Tapi ujung-ujungnya kami tetap dihitung overtime 2 jam karena memang sempat macet dan kemudian sopir meminta berhenti sholat maghrib kemudian saat ketemu jalan yang nggak macet lagi sopirnya malah seperti melambat-lambatkan perjalanan. Padahal paginya dia terlambat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Kami pun sempat curiga kalau ini adalah triknya supir dan pihak rental. Tapi ya mau gimana lagi. Pelajaran untuk kalau mau sewa mobil nanti, harus ditanya perhitungan overtime dan tegur saja sopirnya kalau sengaja dilambat-lambatkan.๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s