Oow… Aliran Sessadd…

Bukannya mau bikin heboh lagi aliran sesat yang udah setaun ini buuanyak banget muncul. Apalagi mau ikut-ikutan bikin yang baru atau ngaku jadi nabi. Naudzubillah… Bukan kok… beneran deh…  sumpah…. Cuma mau cerita pengalaman pribadi saya aja yang ada hubungannya dengan aliran sesat, sekaligus ngingetin supaya kita selalu waspada.

Ceritanya berlangsung, kalo saya nggak salah inget, awal bulan Agustus tahun 2007 yang lalu. Waktu itu belum terlalu marak yang namanya aliran sesat. Pada waktu itu saya yang masih mahasiswa baru ITB sedang di masjid Salman. Saya lagi nunggu teman saya sholat. Saya nunggu di selasar masjid dan duduk di salah satu bangku disitu. Di sana saya berkenalan dengan orang yang duduk di sebelah saya. Seorang teteh yang juga berjilbab seperti saya. Jilbabnya biasa aja, nggak lebar-lebar amat. Dia yang lebih dulu menegur saya. Namanya Yuli dari Bogor… bukan mahasiswa ITB, katanya udah kerja di daerah Leuwi Panjang. Katanya lagi, dia sedang nunggu temannya. Dia tanya macem-macem ke saya, dari daerah asal, jurusan apa, angkatan berapa. Karena saya nggak mau dianggap sombong dan senang karena dapet teman ngobrol, saya ladenin pertanyaan-pertanyaannya. Ujung-ujungnya dia tanya alamat kosan saya. Lagi-lagi, karena saya anggap hanya basa-basi saja, saya kasih tahu alamat kosan saya : Jl. Cisitu **** No. **. Saya nggak punya pikiran buruk sama sekali. Dia minta izin, boleh nggak kapan-kapan dia main ke kosan saya. Karena saya anggap itu basa-basi belaka. ya saya bilang. “Boleh kok, maen aja nggak pa-pa.” Persetujuan inilah yang amat suangat saya sesali belakangan hari…

Kira-kira dua minggu kemudian, Teh Yuli ini benar-benar datang ke kosan saya. Saya kaget. Ternyata dia juga kaget, gara-gara melihat penampilan saya yang kucel dan kumel, beda dengan yang pertama kali dia lihat. Necis bo… Hehehe… Maklum, saat itu saya lagi sendirian di kosan. Balik lagi ke Teh Yuli ini… Dia datang bersama seorang temannya. Katanya, mereka pernah dateng sebelumnya, tapi saya lagi nggak ada di kosan. Dan sekarang mereka kebetulan lewat, trus mampir deh. Saya persilakan mereka masuk. Kami ngobrol ngalor-ngidul kulon-wetan kira-kira 15 menitan lamanya. Kemudian dia bilang “Teh, gimana kalo kita belajar ngaji aja?” Saya bengong, tapi kemudian mengiyakan karena saya pikir ‘diajak hal yang baik kok ditolak’. Mungkin memang agak aneh si diajak ngaji sama orang yang baru dikenal, tapi saya coba berpikir positif aja.

Setelah itu, mereka minta izin sholat dulu. Saya mempersilakan. Setelah sholat, dimulailah apa yang mereka sebut dengan belajar ngaji. Teh Yuli menyuruh saya membuka ayat yang dia sebutkan dan membaca artinya aja. Setiap beberapa ayat, dia memberikan penjelasan di kertas yang sebelumya udah dia minta. Di sinilah saya mulai merasakan ada gelagat yang kurang baik. Terlambat memang… Saya kemudian meng-sms teman se-kosan saya, bertanya apa dia ada di kosan dan memintanya ke kamar saya. Berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu dengan saya. Tapi saya nggak menceritakan apa yang sedang terjadi. Tapi ternyata, dia sedang tidak di kosan. Saya agak takut. Teh Yuli masih terus menjelaskan. Sampai akhirnya terjadi perdebatan-perdebatan tentang apa yang dia jelaskan karena tidak sesuai dengan apa yang saya percayai. Perdebatan dan perlawanan saya itu juga sebenarnya adalah upaya penyelamatan diri. Karena saya takut terjebak dalam aliran tertentu. Saya nggak bisa menjelaskan disini apa yang mereka katakan karena saya lupa secara detail apa saja isinya. Yang saya inget, salah satu intinya adalah kalo kita masih punya pemimpin yang ‘salah’ menurut kriteria mereka, kita juga termasuk orang yang salah dan pasti akan masuk neraka sebanyak apapun perbuatan baik yang telah kita lakukan. Jerengjengjeng… Suerem…

Pada akhirnya, mereka berkata “Teh, tadi saya udah ngejelasin. Siap nggak teteh untuk hijrah?” Dengderengdeng… Saya bingung. Apaan tuh hijrah yang mereka maksud. Jangan-jangan dibawa pergi… Jawaban saya jelas nggak mau, tapi gimana cara menyampaikan ke mereka. Saya takut terjadi sesuatu kalo saya nolak. Saya tegang sendiri. Akhirnya saya jawab “Maaf teh, untuk saat ini belum” Sebenernya saya juga nyesel dengan jawaban ini, ada kata ‘belum’ di dalamnya. Mungkin aja mereka bakalan dateng lagi. Untungnya, setelah itu mereka berpamitan. Tapi, saya punya rencana lain. Saya minta kertas yang tadi digunakan untuk menulis penjelasan-penjelasan itu. Tapi mereka sama sekali nggak mau ngasih. Meskipun sambil senyum-senyum, mereka pasti sebel banget karena saya sok ngerayu dengan kata ‘nanti mungkin bakal saya baca lagi’. Mereka bilang kalo itu kan cuma coret-coretan. Akhirnya saya menyerah. Padahal saya berniat memberikan kertas itu ke orang yang mungkin bisa membantu. Dan akhirnya mereka pun pergi. Huff… Lega…

Setelah itu, tanpa saya sadari, badan saya gemetar. Ternyata sebenarnya saya sangat ketakutan terhadap apa yang baru saja saya alami. Saya naik ke lantai atas, mengambil baju-baju yang telah disetrika. Saya berpikir, mungkin jika saya melakukan hal lain, saya akan lebih tenang. Tapi, ternyata nggak berhasil. Masih di lantai atas, saya meng-sms ibu saya, minta ditelpon. Saya bilang disitu, masalahnya penting banget. Akhirnya, saya ditelpon. Ibu saya sempat bingung ada apa. Apalagi sebelumnya susah banget menelpon ke nomor saya itu. Lewat telepon, saya ceritakan  kejadian itu dengan suara masih bergetar ke bapak saya. Saya dinasehati untuk tetap hati-hati. Itu membuat saya menjadi agak lebih tenang.

Hampir sebulan setelah kejadian itu, di TV mulai marak berita tentang aliran sesat. Saya sungguh bersyukur saya berhasil menyelamatkan diri untuk tidak terjebak ke dalamnya. Tapi, saya masih penasaran. Sebenarnya, aliran apa yang dibawa Teh Yuli itu. Karena memang terlalu banyak aliran sesat yang ada. Pada suatu ketika, ada berita tentang anak yang mengikuti aliran sesat dan berhasil mengirim surat ke orang tuanya. Katanya, dia sulit sekali keluar dari aliran itu. Di dalam surat itu juga ada selembar kertas tentang ajaran mereka. Betapa terkejutnya saya ketika membaca itu, isinya benar-benar sama dengan apa yang Teh Yuli waktu itu tuliskan. Ternyata itu adalah aliran Al-Quran Suci.

Kejadian ini benar-benar membuka mata saya. Memang, saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya Teh Yuli dan teman-temannya yang mengikuti aliran sesat. Mungkin saja mereka juga terjebak. Mereka malah seharusnya dikasihani karena telah melenceng dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Ada yang berpendapat kalo sebenarnya ini adalah rencana orang-orang yang tidak suka dengan Islam untuk memecah belah umat Islam. Tapi, kita memang harus selalu waspada dan berhati-hati. Apapun hal yang sebenarnya terjadi di balik itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s